Showing posts with label Fiksi. Show all posts
Showing posts with label Fiksi. Show all posts

Monday, November 14, 2016

Kisah Sang Munyuk

Mungkin agak riskan apabila aku berkata “aku berada di tempat yang tepat”. Em... begini. Aku ingin ceritakan dulu kisah perjalananku selama ini.
Aku lahir di sebuah gudang yang sangat gelap, kata ibuku. Sebenarnya aku tidak tahu secara mendetail bagaimana keadaan ruanganku saat itu. Aku sama sekali tidak ingat. Aku baru bisa mengingat kejadian apapun ketika gigiku sudah mampu untuk mengunyah makanan. 
Aku tinggal bersama ibu saudara kembarku, sebut saja miaw. Aku dan dia saling berebutan setiap kali diberi makan oleh ibu. Hanya saja, ketika aku berhasil mendapat jatah lebih banyak, aku selalu menyisakan untuknya. Begitu pula sikapnya terhadapku. Bahkan dulu kami saling berebutan ketika menyusu untuk dapat puting sebelah kanan karena itu paling deras aliran susunya. Yummy!
Lalu siapa bapakku? Ibu tidak pernah menceritakannya. Setiap kali aku menyinggung ayah, ibu selalu bilang bahwa itu pamali. Ayah mengkhianati ibu? Tanyaku. “Hush! Besok kalau kamu sudah besar, kamu akan tahu bagaimana rasanya jadi ayah! Sudah takdirnya seorang ayah seperti itu,” kata ibu sembari berpamitan untuk mencari makan kami.
Aku pun merenung karena ingin melihat sosok ayah. Apakah ayah tidak menyayangi anaknya? Ah, pamali!
Hari itu, aku dan miaw merasa sangat kelaparan, sementara ibu urung datang membawa makanan. Kami berteriak berkali-kali untuk memanggil ibu. Biasanya, sebelum matahari tenggelam, ibu sudah datang membawa seekor tikus atau makanan lainnya. Tetapi setelah larut pun, ia urung tiba.
Aku pun sangat khawatir. Apakah ibu mati ditabrak manusia? Ibu berkali-kali bercerita soal beberapa temannya yang mati mengenaskan karena ulah manusia. Kepala teman ibu ada yang sampai tidak berbentuk karena dilindas oleh kendaraan mereka.  Apakah ibu mengalami hal yang sama? Ah, tidak! Aku sudah tidak mengenal ayah, jadi jangan sampai kehilangan ibu!
“Kita berpencar mencari ibu, ya?” kataku pada miaw. Ia mengangguk. Kami sangat khawatir khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu yang tidak baik.
Sebelum kami meninggalkan gudang, aku mengingatkan miaw untuk kencing terlebih dahulu. Kata ibu, jika ingin menguasai suatu wilayah, kita harus menandainya dengan kencing. Gudang ini adalah kekuasaan ibu! Dan tentu juga kami...
Aku mencari ibu ke arah sumber suara bising manusia. Sementara miaw aku pinta untuk mencari ke arah yang semakin redup dari suara manusia. Kami pun saling berciuman dan berjanji untuk selalu menjadi saudara sampai kapan pun. “Semoga kita bisa berkumpul lagi seperti sedia kala”.
Aku pun berjalan mengikuti suara kebisingan. Sesekali aku berhenti mengendus bau-bau yang sedap di jalan atau tong sampah. Aku juga mencoba mengendus bau ibu, kali saja tercium dan aku bisa melacak jejaknya. Namun aku sangat kelaparan.
Di sebuah keramaian, aku mencium bau harum makanan. Untuk itulah aku berteriak-teriak. Aku mendekat ke tempat makanan itu, tetapi manusia mencengkramku dan melemparkanku ke luar. Aku sangat kesakitan. Dasar manusia sombong! Berbagi saja tidak mau!
Lalu kulihat seseorang melempar kepala ikan tepat di hadapanku. Aku pun bergegas melahapnya. Ternyata manusia beragam. Ada yang jahat, ada yang baik. Kulihat orang yang memberikanku makan dan aku mengedipkan sebelah mataku, tanda aku berterima kasih.
Aku pun melanjutkan perjalananku mencari ibu karena itulah tujuan utamaku.

Bersambung...

Tuesday, January 26, 2016

Agama Kucing dan Anjing

Seperti halnya musim hujan sebelumnya, pagi masih saja tak merasakan hangatnya mentari
Di sudut-sudut langit yang terjangkau indra mata
Tak jua terlihat seberkas cahaya menembus pekatnya awan
Mungkin saja awan itu isyarat, bukan sekedar sunnah alam
Karena bisa jadi seluruh penghuni bumi tengah kalut menyaksikan betapa kegilaan merusak otak mereka yang waras
Sampai-sampai seekor kucing dan anjing dianggap memiliki agama
Dari tempat antah berantah terdengar suara melengking, seperti ungkapan latah:
"Apakah kau memilih agama kucing atau anjing?"
Sontak seisi bumi terhenyak, siap dengan pedang masing-masing
Tiba-tiba saja mereka menganggap aneh jika ada yang bereda
Harus dicakar
Harus dibunuh
Harus dibasmi
Jiwa mereka dirasuki kucing dan anjing yang tak pernah akur
Agama adalah hal sakral yang harus dibela mati-matian, katanya
Bela agama
Bela Tuhan
Bela kucing
Bela anjing
Entah mengapa agama yang awalnya memberi ruh perdamaian, justru terlihat seperti iblis yang benci kasih sayang
Yk. 27.01.16

Wednesday, February 26, 2014

Puisi untuk Yai

KH MA Sahal Mahfudz (dok.)

Yai...

Malam ini seharusnya dingin
Namun kabar yang berhembus justru membuatku merinding
Kaki seperti tak berjejak di tanah
Hening tiada tanding

Kerongkonganku kehilangan kata
Ruas-ruas jemariku kaku 
Bahkan untuk sekedar menulis namamu
Aku harus berjuang melawan lara

Ya Allah, mengapa kabar ini datang tiba-tiba?

Bagiku jasamu tak terhitung, yai
Kaulah pintu di mana ilmu berada
Hingga aku mengenal banyak kosa kata kehidupan nyata
Bahkan lalu mengenal hakikat pahala dan dosa
Ah, yai...

Siapapun tahu,
Kau seorang sufi sejati
Siapapun tahu,
Kau sufi yang membumi

Teringat perasaan teduh karena mendengar namamu
Perasaan ayem ketika melihat wajahmu
Teringat pula suara sahaja yang mampu menentramkan kalbu
Menusuk, memberi peringatan kepada setiap yang layu

Kehilanganmu bukan hanya kehilangan bagiku
Tapi juga dia, mereka dan kita semua
Aku hanya menggelengkan kepala
Tak percaya

Aku ingin menarik selimut kembali
Berteriak, membantah kata-kata kasar yang beriringan menerobos layar ponselku
"Abah yai kapundut..."
Allah...

Kemarin aku masih melihatmu
Ratusan santri berjamaah membaca surat Ar-Ro'du
Khusyu' dan penuh harap kesehatan
Ikhlas menanti petuah kembali datang

Terlihat kegelisahan menyelimuti muka-muka sang perindu
Mengharap seorang kekasih Tuhan tetap memimpin kaum sarungan
Entah bagaimana langit yang terus menangis sendu
Apakah ia ikut larut dalam kesedihan?

Kulihat air mata mengalir di sudut matamu
Saat itu aku langsung menduga, dalam tidurmu
kau menangisi kami, para santri
yang masih enggan dinasehati
Kami, para santri,
yang selalu pongah dan acuh pada pitutur kiai

Ya Allah...
Betapa perihnya menyaksikan ini semua
Kini aku benar-benar lesu
Pikiranku melayang tak karuan
Terlintas kata-kata yang semakin menenggelamkan emosiku
Kajen... Mathole'... NU... Indonesia...

Siapkah mereka tanpamu?
Sementara durja kian buas menampakkan wajahnya
Ya Rahman... Ya Rahim...
Hanya Allah sang MahaPengasih lagi MahaPenyayang

Selamat jalan, yai...

JP

Kebumen, 24 Januari 2014
02.30 WIB

In Memorian
KH. MA. Sahal Mahfudz Kajen-Margoyoso-Pati
17 Desember 1937 - 24 Januari 2014