Showing posts with label Imajinasi. Show all posts
Showing posts with label Imajinasi. Show all posts

Monday, November 14, 2016

Gus Dur, Monitor, dan Penistaan Agama


Gus Dur bersama Prof Kato (Jepang)
Masyarakat Indonesia pernah beberapa kali dihebohkan oleh kasus penistaan agama.  Salah satu yang cukup menghebohkan adalah kasus Monitor. Pada tahun 1990, tabloid Monitor yang digawangi Arswendo Atmowiloto mengeluarkan laporan ‘tokoh idola’ pembaca tabloid tersebut. Yang mencengangkan adalah Nabi Muhammad SAW berada di nomor sebelas, lebih rendah dari posisi Arswendo di nomor urut sepuluh.
Sontak hal ini menyulut kemarahan sebagian kaum muslimin. Mahasiswa muslim di seantero negeri melakukan demonstrasi. Banyak tokoh muslim yang mengecam dan mengeluarkan komentar keras. Kantor redaksi Monitor diacak-acak. Arswendo  kemudian dipenjara karena ‘melecehkan’ ketokohan Nabi Muhammad.
Di tengah bara api kemarahan, Gus Dur muncul dan mengeluarkan komentar yang membuat banyak orang bertanya-tanya. Ia menganggap Monitor tidak menistakan agama. Lha, kok? Berikut adalah wawancara imajiner penulis dengan Gus Dur, menanggapi soal penistaan agama.

Assalamu’alaikum, Gus
Wa’alaikumsalam. Mari-mari duduk di sini (Gus Dur yang awalnya tiduran, kemudian bangkit dan mempersilakan saya duduk di depannya. Saya mencucup tangannya lalu berbasa-basi sejenak. Setelah itu, saya menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan saya bertamu ke Ciganjur, Jakarta).
Begini, Gus. Jauh-jauh dari Jogja saya hanya ingin tabayun dengan panjenengan soal kasus Monitor tahun 1990 lalu. Di saat banyak kaum muslimin merasa terlecehkan dengan hasil survei Monitor, mengapa Anda justru membela Arswendo?
Lho, siapa yang membela? Saya tidak membela siapa-siapa. Lha wong saya cuma menyampaikan pendapat saja
Tapi... Sebagian kaum muslimin dan para intelektual muslim merasa dilecehkan lho, Gus
Lha itu kan perasaan mereka. Jadi sah-sah saja dong berbeda. Saya justru heran kalau Nabi Muhammad itu jadi tokoh paling populer di tabloid tersebut
Lha kok gitu, Gus?
Salah satu edisi Tabloid Monitor
Ya karena Monitor itu kan tabloid yang segmentasinya kaum sosialita. Pembacanya gak mesti mudeng soal agama. Lagipula salah siapa orang Islam nggak ikut-ikutan terlibat survei. Berbeda kalau yang survei majalah Hidayah atau Sabili (Hidayah dan Sabili adalah majalah berideologi Islam), ya pasti Nabi Muhammad yang jadi tokoh paling populer. Nomor duanya ayo tebak siapa? (Gus Dur bertanya).
Em... Rhoma Irama kali, Gus?
Salah. Ya jelas saya, dong ha ha ha (Gus Dur tertawa lepas. Saya pun tak kuasa menahan tawa)
Kembali ke Monitor, Gus. Tadi panjenengan mengatakan bahwa Anda tidak membela Arswendo. Lalu siapa yang Anda bela?
Mas, saya ini cuma membela akal sehat. Masak gara-gara survei itu, masyarakat menuntut tabloid Monitor dibredel. Bagi saya ini enggak bener caranya. Saat itu Soeharto lagi hobi memberedel pers yang tidak sesuai dengan keinginan pemerintah. Nah, saya lagi berjuang agar pers bisa independen, tidak tertekan siapa-siapa.
Lagi pula bukan survei dong kalau hasilnya bisa didikte... Ini kayak tulisan Hart (Michael H. Hart) yang menulis Nabi Muhammad sebagai tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah umat manusia. Orang Kristen dan Yahudi ya ndak terima. Apalagi Yesus ditaruh di nomor tiga setelah Newton. Bagi mereka ini penistaan. Tapi bagi saya ya sah-sah saja si Hart nulis kayak gitu. Toh, itu menurut pendapat pribadinya. Kalau gak setuju ya tinggal bikin buku tandingan. Gitu aja kok repot.
Kita ini hidup di negara demokrasi yang menjamin kebebasan berpendapat dan berekspresi, lho. Masak hanya karena ketidaksetujuan sebagian orang, kok asal main bredel saja.  Kalau tidak setuju ya tinggal ndak usah beli majalahnya. Gitu aja kok repot! Lagi pula, di edisi selanjutnya, pihak Monitor menyampaikan permohonan maaf mereka.
Baik, Gus. Hanya saja, menariknya orang-orang seperti Nurcholis Majid ikut-ikutan mengecam Monitor. Menurut panjenengan, sebenarnya apa yang membuat Cak Nur begitu sangat bereaksi saat itu?
Ya jangan tanya saya. Tanya Cak Nur saja. Yang jelas pada saat itu suasana hati kaum muslimin sedang panas. Orang kalau lagi marah bawaannya susah menggunakan akal sehat. Bukan berarti saya mengatakan Cak Nur tidak menggunakan akal sehat lho ya. Beliau itu orang yang sangat cerdas. Tetapi dalam menyikapi kasus Monitor, saya punya pandangan dan langkah berbeda dengan beliau.
Waktu itu panjenengan masih berkomunikasi dengan Cak Nur?
Ya jelas dong. Sekeras apapun perbedaan pandangan saya dengan tokoh lain, saya tetap menyambung tali silaturrahmi. Apalagi Cak Nur. Kalau kamu pernah baca tulisan saya berjudul Tiga Pendekar dari Chichago, Cak Nur adalah salah satunya. Dia bersama Amin Rais dan Syafii Maarif saya anggap sebagai tokoh yang membuat bangsa ini menjadi bangsa yang bermartabat. Setelah kasus itu, saya beberapa kali bertukar pikiran dengan beliau. Kesan saya terhadap Cak Nur masih sama. Beliau seorang intelektual yang hebat.
Saya sampaikan pula waktu itu. Cak, lebih baik Undang-undang No 1/PNPS/1965 tentang Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama ini dihapuskan saja. Sebab rentan disalahgunakan oknum tertentu untuk menyerang orang lain yang bersebrangan dengan dirinya. Di beberapa hal beliau setuju. Di beberapa hal lain beliau memiliki pandangan sendiri. Ya tidak apa-apa. Namanya perbedaan kan rahmat. Yang paling penting dalam menyikapi perbedaan adalah kita mencari titik temunya. Bukan melebarkan perbedaan-perbedaan yang ada. Yang beda jangan disama-samakan. Yang sama jangan dibeda-bedakan. Gitu lho...
Baik, Gus. Saya mulai tercerahkan. Satu hal lagi, Gus. Saat ini salah satu pendekar Chichago yang masih hidup Buya Syafii Maarif jadi bulan-bulanan orang yang tidak sependapat dengannya. Komentar panjenengan?
Biarkan sejarah yang menjawab apakah sikap beliau itu benar atau salah. Dulu saya juga mendapat banyak kritikan karena pendapat-pendapat saya yang melawan arus. Saya terima-terima saja. Toh, Gusti Allah tidak pernah tidur.
Tapi para pencela menggunakan perkataan yang tidak patut?
Itu konsekuensi dari masyarakat yang memahami agama sebagai bentuk luar, bukan ruh. Orang beragama kehilangan sisi spiritualnya. Mereka lupa kalau agama diturunkan untuk membenahi akhlak. Namun saat ini hujatan itu memang semakin keras. Banyak orang mengaku membela agama, tapi menggunakan bahasa-bahasa sarkas, bahkan kekerasan. Membela agama menggunakan bahasa kekerasan itu tidak sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran agama.
Celakanya, si penghujat adalah mereka yang membaca satu buku saja tidak selesai. Mereka mendasari kelakuannya dengan hawa nafsu, kebencian dan amarah. Pesan saya, sebagai orang muda kamu tidak boleh berhenti belajar. Silakan berbeda pendapat dengan siapapun. Yang penting jangan berhenti belajar.
Terima kasih Gus atas waktunya. Terakhir, saya mohon didoakan agar bisa menjadi orang yang terjaga dari segala bentuk kebencian dan fitnah akhir zaman.
Setelah meminta doa, saya pun mohon pamit.
(Semua hal dalam dialog imajiner ini adalah tanggung jawab penulis. Gus Dur tidak ikut-ikutan membuatnya)

Monday, November 7, 2016

JADI ORANG GOBLOK ITU LEBIH AMAN

"Gus, mengapa Kiai Soleh kalau memberi contoh Ja'a Zaidan? Seharusnya kan Ja'a zaidun?" tanyaku kebingungan. Waktu baca buku nahwu, contoh ja'a harus rafa'. Alamat rafa' dlommah. Mengapa harus fathah? Bukankah fathah itu alamat nashab?
"Kamu bingung?" tanyanya. "Baguslah kalau bingung. Berarti mau mikir," sambungnya lagi.
"Kalau seperti itu Kiai Soleh salah, Gus? Berarti menyesatkan murid-muridnya?"
"Astagfirullah... Jadi orang kok ceplas-ceplos seperti itu. Mbok ya kalau sinau masih sampai bab i'rob jangan nyalah-nyalahkan yang sudah faham satu kitab. Kiai Soleh itu orang yang 'alim dalam ilmu nahwu."
"Tapi sealim-alimnya ulama masih tetap manusia yang bisa salah, Gus?"
"Setiap ulama punya kode etik, Dia ndak boleh mengatakan sesuatu tanpa pertimbangan ilmu. Kalau ulama asal njeplak, apa bedanya sama koruptor? Korupsi ilmu itu tanggungannya dunia akhirat, lho."
"Tapi mengatakan sesuatu tanpa dasar ilmu, walau pun ulama sepuh, tetap salah, lho, Gus..." Gus yang bobotnya hampir seratus kilo itu menghela nafas.
"Kamu tahu nama ibu penjual dawet itu?"
"Tentu, Gus. Saya langganan di sana. Namanya Hindun."
"Sekarang, coba buat kalimat dalam bahasa Arab, saya berjalan bersama Hindun."
"Gampang, Gus. Marortu bi Hindun."
"Lha, kok Hindun? Dlommah kan alamat rafa'? Mengapa kamu baca untuk Jer? Alamat jer kan kasrah? Di situ ada huruf jer berupa "ba". Berarti kamu membuat kalimat tanpa ilmu!" ucap Gus dengan suara lantang.
"Mbok jangan marah-marah, Gus. Hindun kan nama orang? Mana bisa nama orang dii'robi?"
"Lha kalau Kiai Soleh memberi contoh si Zaidan itu nama orang, apakah kamu akan ngotot menyalahkan dia? Di dunia ini, menjadi goblok lebih aman daripada kamu jadi orang yang ngerti. Orang yang ngerti sering diserang ama orang bodoh yang gak mau belajar, atau belajar setengah-setengah."
Aku pun terdiam. Oh iya, ya...



Postingan ini adalah dialog imajiner. Insyaallah berseri. 

AHOK TAK PERLU DIBELA

Aksi 4 November tak pelak membuat banyak orang saling hujat. Di media sosial, golongan yang membela aksi itu dan yang tidak saling beradu argumen. Saya sebagai pengguna medsos pun merasa ndak nyaman karena kata-kata makian membanjiri beranda saya. Media yang harusnya jadi alat bersosial, malah jadi bibit perpecahan.
"Gus, menurut panjenengan, aksi 4 November itu bagaimana?" tanyaku pada Gus, ingin mengulik. Ia hisap rokok dalam-dalam kemudan menghembuskan sekuat-kuatnya.
"Ya ndak papa. Bagus malahan sebagai pembelajaran masyarakat."
"Tapi bagi Gus sendiri, Ahok menista agama apa enggak?" tanyaku.
"Ya tanya Ahok. Masak tanya saya?" Jawaban Gus membuatku nyengir.
"Ya kan njenengan sudah lihat videonya."
"Lha kamu sudah lihat?"
"Sudah, Gus."
"Menurutmu menistakan apa ndak?"
"Saya ndak berani komentar, Gus. Nunggu hasil keputusan dari polisi."
"Ya saya juga kayak gitu," ujarnya, lalu menghisap rokok dalam-dalam, membuatku kebingungan lagi.
"Tapi orang-orang mempermasalahkan penghilangan kata 'pakai' di transkrip Buni Yani. Menurut njenengan, Buni berniat memecahbelah umat apa enggak?"
"Ya tanya Buni Yani sana," kata Gus membuatku kembali nyengir.
"Lalu sikap kita bagaimana, Gus?"
"Yasudah kita pasrahkan sama yang berkewajiban. Gitu aja kok repot."
"Tapi yang demo kemarin agendanya membela agama Allah, Gus," kataku memburu pernyataan beliau.
"Yang tidak ikut apakah tidak membela agama Allah?" Ia menanya balik. Aku kembali tidak bisa berkata-kata.
"Lalu, menurut njenengan, Ahok perlu dibela apa tidak? Banyak yang menilai dia dizalimi."
"Ahok kok dibela. Dia orang besar dan punya kekuatan lebih untuk bertahan di situasi paling sulit sekali pun. Minimal untuk saat ini."
"Tapi dia dizalimi dengan penghilangan kata 'pakai' itu?"
"Yang harus diperjuangkan ya penegakan hukum itu, bukan pembelaan pada satu sosok. Bahaya kalau yang kamu bela orangnya, bukan keadilannya."
"Tapi bagaimana bisa membela keadilan tanpa membela korban?"
"Dalam menegakkan hukum, kita tidak boleh jadi fans. Kita harus memposisikan diri sebagai advokat," katanya lagi. "Kalau yang kamu bela Ahok, dan suatu saat dia melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan, apa mau terus kamu bela?"
"Ya tidak, Gus."
"Nah, itu..."
Gus menghisap rokok yang sudah sangat pendek, kemudian meninggalkan sisanya di asbak. Ia pun berjalan menuju masjid, lalu menunaikan salat sunah tahajud.

KAFIR!

"Gus, bukannya di Islam jelas disebutkan adanya muslim dan kafir?" tanyaku, mempertegas apa yang aku baca di sebuah buletin Jumat.
"Saya tidak mau jawab kalau arah pertanyaanmu ke politik. Saran saya, silakan kamu baca buku yang banyak, jangan hanya selebaran di masjid. Dunia ini luas. Ilmu tak terlihat batasnya, seperti kau memandang cakrawala."
"Maksudnya, Gus? Saya masih awam soal ini."
"Tapi janji tidak diarahkan ke politik?"
"Iya, saya janji."
"Kamu muslim?"
"Saya meyakini bahwa saya muslim dan insyaallah menjalankan perintah sebagai seorang muslim sebagaimana ketentuan syariat Allah."
"Walau pun kamu muslim, kamu bisa saja kafir jika tidak menyukuri nikmat Allah. Kafir adalah sebutan bagi orang yang kufur."
"Apa itu kufur, Gus? Saya semakin bingung."
"Beruntunglah jika kau bingung karena kau masih berfikir. Silakan cari jawabannya sendiri."
Sosok gempal itu berjalan menuju pengimaman, kemudian bertakbiratul ihram untuk salat sunah. Sementara aku masih terus bertanya-tanya. Tapi saya sudah terlanjur berjanji untuk tidak menyeretnya ke wilayah politik.
Dan setiap janji adalah hutang.


Postingan ini adalah dialog imajiner. Insyaallah berseri.

Thursday, March 6, 2014

KHITTAH YES, POLITIK NO! EPS.6

Sumber gambar: kembalikefitrah.blogspot.com
AKU DAN SANG GURU
Dialog imajiner Aku dan Sang Guru

Beberapa hari yang lalu aku pergi berziarah ke desa Kajen, sebuah desa santri yang terletak di kabupaten Pati Jawa Tengah. Perjalanan dari Yogyakarta dapat ditempuh selama kurang lebih 6 jam via Purwodadi. Biasanya perjalanan hanya memakan waktu 5 jam. Tapi tempo hari kondisi jalan rusak dan banyak yang berlubang. Terlebih di kawasan yang dulunya tergenang banjir.
Di sepanjang jalan menuju desa Kajen, banyak spanduk yang menegaskan bahwa NU tetap pada khittah, tidak terikat dengan partai politik manapun. Itu sesuai keputusan muktamar NU 1984 di Situbondo. Salah seorang yang memegang teguh 'janji politik' NU itu adalah KH MA Sahal Mahfudz. Spanduk tersebut mungkin respon warga nahdliyin Pati atas tayangan yang 'dibintangi' oleh tokoh NU di salah satu iklan partai politik. Saat larut dalam pertanyaan-pertanyaan seputar khittah dan politik, Sang Guru kembali hadir setelah menghilang beberapa hari.
Sang Guru (SG): Assalamu'alaikum
Aku (A): Waalaikumsalam. Dari mana saja, guru?
(Guru tidak menjawab. Ia terbatuk-batuk kecil)
SG: Apa yang tengah kau pikirkan?
A: Ini guru, mengapa banyak spanduk yang isinya NU tetap pada khittah
SG: Lha memang dari dulu demikian?
A: Benar, guru. Tetapi baru kali ini divisualisasikan secara terang-terangan
SG: Itu juga respon dari yang terang-terangan
A: Maksudnya?
SG: Menurutmu, mengapa spanduk-sapnduk itu dibuat?
A: Karena tokoh NU tampil di iklan yang dibuat oleh partai politik
SG: Baru kali ini tokoh NU tampil di iklan bersama partai politik. (Aku menggaruk-garukkan kepala. Benar kata guru).
A: Aku tertarik dengan alasan Kiai Sahal berjuang pada khittah, guru. Bukannya politik itu demi kemaslahatan? Dan apabila warga NU bersatu, apakah itu menjadi lebih baik?
SG: Perbedaan adalah anugerah.
A: Tapi bukankah itu akan memecah suara, guru?
SG: Begini, nak. Kau tahu sejarah panjang politik NU? Pada saat berdirinya, NU merupakan organisasi sosial-keagamaan. Lalu bergabung dengan partai Masyumi. Setelah itu sempat menjadi partai sendiri. Pernah pula bergabung dengan PPP sebelum keputusan khittah 26 di Situbondo dikeluarkan. Pada era reformasi, NU masih teguh pada prinsipnya secara struktural. Namun Gus Dur membangun partai politik sebagai wadah politik warga NU tanpa membawa embel-embel nama NU. Walau dalam kenyataannya warga NU tetap menjadi basis suara partai ini.
A: Artinya?
SG: Artinya, sebagian warga NU masih sangat kental membela Masyumi. Sebagian lagi tetap di PPP. Sebagian lagi menjadi partisipan dan kader PKB. Ingat, warga NU! Bukan NU secara organisasi. Apabila organisasi NU memutuskan membela salah satu partai yang terikat sejarah dengan NU, maka berpotensi terjadi perpecahan.
A: Untuk itu Kiai Sahal mengambil jalan aman dengan tidak memihak partai politik!
SG: Tebakanmu hampir benar. Tapi kata-kata 'jalan aman' kurang sesuai. Lebih tepatnya Kiai Sahal mengambil maslahat yang terbaik untuk umat. Begitulah cara kiai mengayomi masyarakat yang beragam.
A: Dengan kata lain, Kiai Sahal mengajari kita untuk berdemokrasi secara utuh?
SG: Ya, Kiai Sahal mengajari kita berpolitik secara sehat.
A: Lalu bagaimana sikap Kiai Sahal saat Gus Dur mendirikan partai politik?
Aku menoleh ke arah guru. Namun dia sudah menghilang. Namun kehadirannya cukup membuatku mengerti mengapa banyak warga NU menghendaki khittah 1926.
Di acara peringatan 40 hari-an Kiai Sahal, aku tersenyum bahagia. Din Syamsuddin hadir dalam peringatan tersebut. Hadir pula tokoh-tokoh NU seperti Said Aqil Siradj dan lainnya. Ya, persaudaraan NU-Muhammadiyah sangat diperlukan demi mendidik bangsa ini yang walau mayoritas Islam, tapi punya paham-paham yang berbeda. Tidak mungkin menyatukan pemahaman antar satu muslim dengan muslim lainnya. Karena perbedaan adalah anugerah dari Tuhan.
Dalam peringatan itu, dokter Sahal Fattah dan Gus Qayyum menympaikan sambutan yang salah satu isinya NU tetap pada khittah.
Di salah satu sambutannya, diceritakan bagaimana Kiai Sahal menyikapi pergulatan politik warga NU di era Gus Dur. Saat Gus Dur akan maju sebagai presiden, seluruh kiai-kiai dikumpulkan. Tetapi Kiai Sahal tidak hadir di acara tersebut. Saat ditanya mengapa, Kiai Sahal menjawab dengan singkat. NU tidak berpolitik.

Thursday, February 27, 2014

Makna Minoritas Eps.5

Sumber gambar: jejakbangjaok.blogspot.com
AKU DAN SANG GURU
Dialog Imajiner Aku dan Sang Guru

Ada statemen menarik yang dikeluarkan seorang kawan mengenai sebuah ormas yang merasa "iri" dengan dukungan dan pembelaan. Alkisah, sebuah ormas mempertanyakan mengapa kawan-kawan hanya membela orang kristen, Ahmadiyah, Syiah dan lain-lain. Dan mengapa kawan-kawan justru mengutuk aksi mereka yang membela Islam?
Cerita ini bermula saat diskusi buku Tabayun Gus Dur di Perum Gusdurian Yogyakarta. Saat itu, kami tengah memperbincangkan salah satu konsep perjuangan Gus Dur, yaitu kekesatriaan. Kekesatriaan dimaknai keberanian memasang diri melindungi kaum minoritas yang terzalimi. Sang Guru pada malam harinya langsung datang kepadaku, ketika tiba-tiba tubuhku menggigil kedinginan sementara sekujur tubuh terasa panas.
Sang Guru (SG): Assalamu'alaikum
Aku (A): Wa'alaikumsalam... (Cukup berat mulutku berbicara karena rasa sakit yang luar biasa).
SG: Kau habis dari mana saja?
A: Hari ini aku benar-benar lelah, guru. (Aku terbatuk-batuk. Abu vulkanik bertebaran di mana-mana).
SG: Aku tidak menanyakan itu. (Aku diam saja, tidak meresponnya. Aku sedang malas berdebat dengannya). Em... Tadi aku melihatmu tengah membicarakan Gus Dur. 
A: Iya, benar. Kau mengenalnya?
SG: Hahahaha... Pertanyaanmu cukup aneh. Apa yang kalian bicarakan?
A: Kami membicarakan banyak hal, guru. Tapi yang masih menjadi hal menarik bagiku adalah konsep minoritas yang Gus Dur bela.
SG: Apa yang kau pikirkan tentang minoritas
A: Monoritas adalah lawan mayoritas
SG: Bisa kau jelaskan lebih rinci?
A: Kaum minoritas adalah sebuah komunitas yang secara jumlah sedikit dan hidup di tengah-tengah masyarakat mayoritas yang jumlahnya banyak. Ah, sebentar guru. Mengapa jadi kau yang memberi pertanyaan?
SG: Sudahlah. Aku hanya ingin melihat sejauh mana orang-orang muda sepertimu berpikir sehat tentang ini. Apa yang Gus Dur lakukan dalam membela kaum minoritas ini?
(Aku mencoba mengingat-ingat diskusi kami sore harinya).
A: Gus Dur membela Ahmadiyah, Syiah dan mereka yang dizalimi. Yang perlu dugarisbawahi, menurut kami, bahwa term minoritas bukan terbatas digolongkan pada jumlah personal dalam golongan tertentu. Ini lebih dimaknai sebagai akses.
SG: Aku semakin bingung dengan penjelasanmu. Bisa gunakan bahasa yang paling sederhana?
A: Minoritas bukan semata-mata digolongkan berdasar jumlah, tapi akses dalam melakukan sesuatu.
SG: Akses yang bagaimana? (Mendengar pertanyaan-pertanyaan guru, aku serasa menjadi narasumber yang berkompeten. Aku langsung duduk, berlagak seoral-olah aku pakar Golongan Minoritas)
A: Begini, guru. Aku mencontohkan ada orang NU, Muhammadiyah, Syiah, Ahmadiyah dan lain-lain. Ketika NU, Muhammadiyah dan lainnya bebas menjalankan ibadah mereka, mengapa ada golongan lain yang ditutupi aksesnya. Bukankah golongan yang dizalimi ini salah satu bentuk konkret minoritas? Lalu ada TKI di luar negeri. Ketika ia dizalimi majikan, tidak boleh ini itu, diperkosa, disiksa dan dianiaya, maka Gus Dur datang membela. Berbagai lobi politik pernah Gus Dur lakukan demi menyelamatkan nyawa TKI yang dijatuhi hukuman mati!
SG: Untuk contoh kedua aku bisa menerima. Tapi bagaimana jika ada orang yang mengatakan Ahmadiyah dan Syiah sesat?
A: Sesat? Lantas karena dianggap sesat boleh disakiti atau bahkan dibunuh? Lalu apa jadinya jika suatu saat NU atau Muhammadiyah dianggap sesat oleh golongan lain? Apakah orang-orangnya halal untuk dibunuh? Ahmadiyah dan Syiah merupakan produk pikiran. Karena produk pikiran, maka mustahil bisa menghilangkannya. Membunuh atau memerangi orang-orangnya merupakan kejahatan kemanusiaan. Khusus untuk Syiah, mereka bahkan sekte yang sudah sangat mapan. Mereka lebih tua dari sekte Ahlussunah yang kini mengaku sebagai sekte paling benar di hadapan Allah.
SG: Lalu, apa yang Gus Dur bela?
A: Hak-hak kemanusiaannya! Gus Dur pernah berkata di hadapan jemaah Ahmadiyah kurang lebih seperti ini, "Menurut pemahaman saya, kalian salah. Tapi saya tidak akan membiarkan seorang pun mengusir Ahmadiyah dari bumi Indonesia." Ini sebuah pemikiran yang penting ditanamkan dalam setiap individu. Menyalahkan boleh-boleh saja, asal tidak diikuti tindakan kekerasan. Jangan sampai, sesuatu yang kita anggap salah atau sesat boleh diperlakukan sekenanya.
SG: Hmmmm... 
A: Bagaimana menurutmu, guru?
Lama tidak ada jawaban. Lantas aku menoleh ke arah guru. Namun dia sudah menghilang...

Baca juga:
Nyaris Semua Wartawan Masuk Neraka

Tuesday, February 25, 2014

Menyoal Syariat Agama Eps.4

Sumbe gambar: http://www.allah.org/allah.jpg
AKU DAN SANG GURU 
Dialog Imajiner Aku dan Sang guru

Sudah menjadi kebiasaanku untuk membuka situs-situs online yang mengandung unsur informasi dan berita. Aku berusaha untuk tidak alergi dengan media-media tertentu yang dianggap tabu. Mulai media paling kanan (sebut saja VOATENG) hingga paling kiri (sebut saja JIL AMSTRONG).
Dengan membaca berita-berita atau informasi yang ada di dalamnya, aku merasa menjadi orang yang lebih bisa berhati-hati. Karena membaca beberapa media yang berideologi berbeda, mau tidak mau membuatku harus sering mengelus dada apabila melihat ada hal-hal yang meresahkan. Tak apalah, ini konsekuensi.
Saat membuka akun FB berinisial ABHRM, aku benar-benar dibuat terkejut. Situs islamindonesia.co.id memuat berita yang sangat mengejutkan. Sebagai bagian dari menerapkan syariat Islam, Brunei melarang kata ALLAH digunakan oleh agama lain (klik: http://bit.ly/OA0U56). Aku bertanya-tanya, mengapa bisa?
Guru tiba-tiba hadir dengan ucapan salamnya yang merdu.
Aku (A): Guru, mohon baca ini! (Aku menunjukkan berita yang dimaksud)
Sang Guru (SG): Aku sudah tahu sejak lama
A: Lalu, apa pendapat guru tentang hal tersebut? Bayangkan saja, setelah Malaysia, kini Brunei melakukan hal serupa.
SG: Hm... Apa yang kau takutkan?
A: Aku tidak takut, tapi resah...
SG: Resah adalah rasa takut yang berlebihan
A: Apa maksudmu?
SG: Apa yang kau takutkan?
A: Jika paham seperti itu masuk ke negara kita
SG: Dan apa yang kau takutkan dengan itu? (Sejenak aku berpikir. Aku sendiri tidak tahu jawabannya mengapa aku takut)
A: Aku tidak tahu, guru.
SG: Itulah sifat burukmu, takut pada sesuatu yang tidak nyata. Kau boleh takut dan berprasangka ketika pelarangan itu sudah terbukti membuat ketakutan
A: Tapi citra agama ini akan menjadi kurang baik. Hanya sebatas nama
SG: Lalu apa yang kau takutkan? (Aku kembali berpikir. Pertanyaan guru merupakan pertanyaan sederhana yang sama sekali tak bisa kujawab).
A: Entahlah guru, aku menjadi... (sebenarnya ingin mengatakan malu, tapi harus malu pada siapa?)
SG: ....Malu? (Dari mana ia tahu hal tersebut?)
A: Tapi aku tidak tahu harus malu kenapa
SG: Itu yang kukatakan kau terlalu berlebihan. Agama itu suci. Agama itu baik dan benar. Kesalahan yang terjadi bukan karena ajaran agama itu, tapi lebih disebabkan kepentingan manusia yang menganutnya.
A: Tapi mereka mengatakan sebagai syariat Islam?
SG: Kau boleh cari di Alqur'an, bahwa Allah merupakan Tuhan semesta alam. Bukan Tuhan golongan tertentu. Di dalam ajaran yang pernah kau pelajari, coba maknai kata RABBIL ALAMIN dalam surat Alfatihah
A: Kang mengerani alam kabeh... (aku berkata lirih)
SG: Itu sudah jelas! Adapun mereka apabila melarang, hal tersebut tidak akan pernah berpengaruh dalam kehidupan keberagamaan mereka. Sejak zaman Ibrahim, kata ALLAH itu lazim digunakan oleh penganut agama manapun. Kata ALLAH juga digunakan oleh masyarakat jahiliyah untuk menyebut Tuhan mereka. 
A: Lalu, mengapa sekarang hal-hal yang dianggap sebagai bagian dari syariat justru menakutkan?
SG: Syariat itu bahan mentah. Kita ibaratkan sebagai semangka. Agar bisa disajikan kepada manusia, semangka itu harus dikemas. Cara pengemasan ini, mulai dari pemetikan dari pohonnya, diiris-iris dan lain-lain menggunakan metode. Dalam istilah fikih, cara pengemasan (penyajian) itu disebut ushul fikih. Hasil dari penyajian sedemikian rupa ini disebut fikih. Nah, kenapa syariat terkesan menakutkan? Karena banyak yang memaksakan untuk memakan semangka yang masih berada di pohonnya secara bulat-bulat!
A: Oh iya guru. Tapi mengapa setiap ulama memiliki pemahaman yang lain? Padahal....(Kulihat di samping, sosok guru sudah tidak terlihat)

Baca juga: 
NYARIS SEMUA WARTAWAN MASUK NERAKA EPS. 1

Alqur'an Bukan Kitab Primbon Eps.3

AKU DAN SANG GURU
Dialog Imajiner antara Aku dan Sang Guru

Malam itu, tepatnya tanggal 13 Februari 2014 gunung Kelud yang baru beberapa saat ditingkatkan statusnya menjadi AWAS, meletus. Sontak media sosial ramai membicarakan fenomena alam ini. Berbagai analisis mengemuka, mulai dari siklus letusan Kelud hingga mengatakan bahwa itu merupakan azab Allah Swt. Beberapa mengatakan itu azab Tuhan di malam valentine. Na’udzubillaah...
Tepat ketika aku tengah melamun, Sang Guru hadir. Ia datang bersama suara gemuruh yang terdengar dari tempatku berada, di jalan Kaliurang Yogyakarta. Kata banyak tweeps, itu merupakan gemuruh Kelud.
Sang Guru (SG): Mengapa kau tampak gusar?
Aku (A): Ini, guru. Aku membaca tanda-tanda.
SG: Apa yang kau baca?
A: Aku terlebih dulu bertanya kepadamu, apa yang kau pikirkan tentang bencana gunung Kelud ini?
SG: Bencana? Kelud hanya menuntaskan tugasnya menjaga keseimbangan alam.
A: Lho, tapi letusannya membuat banyak warga kesusahan? Bukankan setiap yang membuat susah adalah bencana?
SG: Kau terlalu dangkal dalam menilai sebuah peristiwa. Sekarang aku bertanya, berapa lama mereka kesusahan?
A: Ya, paling tidak satu bulan.
SG: Aku tidak melihat selama itu. Mereka hanya beberapa hari meninggalkan kampung halamannya, dan dengan sedikit kesabaran ladang-ladang mereka akan lebih subur dari sebelumnya.
A: Ah, aku tidak bisa mendebatmu, guru. (Guru mendekat, melihat ke layar leptopku. Aku tengah membaca beberapa tulisan lepas seorang teman yang mengatakan peristiwa gunung Kelud sudah diramalkan di dalam Alqur’an).
SG: Siapa yang menulis itu? (Suara guru agak meninggi. Aku tak tahu, mengapa mereka mendadak bersikap seperti itu).
A: Umm... Ini teman kuliahku. Menurutku tulisannya sangat menarik. Ternyata kejadian Kelud sudah ada di Alqur’an, kitab yang lebih seribu tahun usianya. Subhanallah...
SG: Apa yang kau maksud dengan ucapanmu itu?
A: Begini guru, meletusnya gunung Kelud terjadi pada tanggal 13-02 pukul 22:49 WIB. Banyak yang mengatakan seperti ini: Hari/tanggal 13/02 berarti surat Ar-Ra’du ayat 2 yang artinya: “Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ´Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Tuhanmu”.
(Guru hanya merespon dengan satu kata “HMMM”. Lalu aku melanjutkan tulisan yang baru kubaca). Sementara jam 22:49 menunjukkan surat Al-Hajj ayat 49 yang artinya: “Katakanlah: "Hai manusia, sesungguhnya Aku adalah seorang pemberi peringatan yang nyata kepadamu.”
SG: Memang kau berada di masa yang sulit.
A: Apa yang kau maksudkan dengan masa yang sulit?
SG: Ya, setelah umat Islam pernah berjaya dengan ilmu pengetahuannya, perlahan umat Islam tidak begitu bijak dalam menilai kebijakan Tuhan.
A: Sebentar guru (aku menyela ucapannya). Bukankah mempercayai kitab suci adalah salah satu dari rukun Iman?
SG: Kau benar
A: Lalu apa yang salah ketika semua peristiwa kita kait-kaitkan dengan kitab suci ini?
SG: Semoga saja tidak banyak manusia yang berfikir dangkal sepertimu.
A: Aku tidak paham maksudmu, guru.
SG: Orang-orang yang hanya memahami sesuatu dari kulitnya tanpa diimbangi pengetahuan luas. Kau harus mulai memahami ayat-ayat yang lain. Ayat-ayat Tuhan yang diturunkan berupa kata-kata merupakan sebagian kecil dari ayat-ayat-Nya yang bertebaran di alam ini. Kau tidak akan mampu menemukan ayat tentang bagaimana membangun jembatan yang kokoh, pesawat yang canggih dan menanggulangi banjir di dunia tanpa mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan itu. Yang jelas, Al-Qur’an bukan kitab primbon yang hanya kau buka ketika ada suatu peristiwa dahsyat. Alqur’an itu harus dipelajari dan diresapi maknanya. Maka kau akan menemukan apa yang disebut para ulama’ bertambah keimanannya.
A: Aku tidak mengerti.
SG: Kau akan segera mengerti.
(Dan setelah kata khas itu, guru pergi begitu saja. Sementara aku masih terpaku pada layar leptop yang sibuk dengan pelbagai ramalan Qur’an tentang peristiwa meletusnya Kelud, si tukang sapu).


Baca juga:
NYARIS SEMUA WARTAWAN MASUK NERAKA EPS. 1
NYARIS SEMUA WARTAWAN MASUK NERAKA EPS. 2

Monday, February 24, 2014

Nyaris Semua Wartawan Masuk Neraka Eps. 2

AKU DAN SANG GURU
Wawancara imajiner aku dan Sang Guru

Guru selalu hadir di saat yang tidak dapat dinyana. Kedatangnnya ibarat kehendak hati yang bisa tiba-tiba berbicara. Namun terkadang ia seperti angan yang sulit untuk diwujudkan. Aku memberi istilah ini sebagai takdir. Entahlah! Mungkin tafsirku mengenai takdir kurang tepat. Namun sampai saat ini aku belum bisa menemukan kosakata yang lebih tepat daripada itu. Ia tak segan-segan mendatangiku dalam kondisi paling buruk sekalipun.
Pernah suatu ketika ia datang saat aku tengah memikirkan hal-hal bodoh. Ia membawa gambar orangtuaku dan membisikkan kata-kata yang membuat ngilu hati. Seketika aku hanya bisa meringis, bahkan terisak tenggelam dalam tangis. Itulah Sang Guru, yang hingga kini belum kukenal wajahnya.
Aku (A): Guru, aku masih belum mengerti apa yang kau maksudkan bahwa wartawan nyaris semuanya masuk neraka. Sudikah kau memberiku keterangan?
Sang Guru (SG): Kau akan segera mengerti. (Jawaban ini sudah bisa kutebak sebelumnya)
A: Terimakasih, guru. Jawabanmu sangat diplomatis dan memancing diriku untuk berpikir
SG: Hahahaha...
A: Mengapa guru tertawa?
SG: Hahahaha...
A: Guru? Bisa berikan aku penjelasan? Jangan membuatku semakin bingung
SG: Hahahaha... (Aku berpikir agar guru berbicara dengan jelas. Sebagai orang yang pernah belajar psikologi komunikasi, pengantar jurnalistik, jurnalistik cetak, bahasa Indonesia hingga seabreg teori kewartawanan, aku harus mampu membuat guru berbicara)
Dalam rumus wartawan yang paling sederhana (5 W + 1 H), seharusnya berita bisa tersaji. Okelah, target realistisku bisa membuat minimal berita straight news.
A: (Aku menyiapkan pertanyaan WHAT) Apa yang guru lakukan?
SG: Hahahaha aku tertawa
A: (dilanjutkan dengan WHO) Siapa yang guru tertawakan?
SG: Hahahaha aku menertawakanmu
A: (Fakta baru harus dimunculkan dengan WHY) Mengapa guru menertawakanku?
SG: Hahahaha karena kau aneh
A: (Hah, kapan aku mulai aneh? WHEN) Kapan guru melihatku aneh?
SG: Hahaha...
A: Kapan dan di mana (WHERE) tepatnya aku terlihat aneh?
SG: Hahaha... (Aku merasa pertanyaan-pertanyaan yang kuberikan tidak membuatnya terbuka. Lalu aku mencoba untuk meluncurkan pertanyaan pamungkan, HOW)
A: Bagaimana aku bisa mengerti kalau kau masih sibuk dengan tawamu, guru?
SG: Hahaha kau akan segera mengerti...
AKU TIDAK MENGERTI! Hatiku menjerit karena kedatangan guru justru membuatku semakin bingung. Aku masih bertanya-tanya, mengapa wartawan nyaris semua masuk neraka? Tapi guru tidak memberikan jawaban yang memuaskan.
A: Okelah guru. Aku mencoba untuk memahami isyarat yang kau munculkan. (Ketika aku berkata demikian, guru terdiam. Tawanya yang sejak tadi pecah mendadak hilang). Aku tahu, kau menertawakanmu karena aku tidak bisa membuatmu memberikan fakta kepadaku. Aku tahu kau menertawakan ketidakmampuanku ini.
SG: KAU! (Suaranya meninggi. Seperti biasa, aku menggigil dibuatnya). ITULAH MENGAPA ORANG-ORANG SEPERTIMU MASUK NERAKA! KAU HANYA BISA MENGARANG TANPA ADA FAKTA YANG KAU GALI. TUGAS WARTAWAN SEBENARNYA BUKANLAH MENGARANG, TAPI MENYAMPAIKAN!
Aku terhenyak. Inikah yang dimaksud dosen-dosenku di kelas? Bu Nadhiroh selalu mewanti-wanti agar wartawan tidak beropini. Jangan sampai mengarang berita tanpa didasarkan fakta. Wartawan memang sebuah profesi mulia apabila dilakukan dengan cara-cara mulia. Ibarat tukang pos, ia harus menyampaikan surat apa adanya. Apabila ada alamat yang tidak jelas, seorang tukang pos tidak boleh lantas berijtihad menyampaikan di sembarang tempat. Semua harus berdasar fakta yang ada. Pak Amiruddin pun kurang lebih berkata demikian.
Kini aku paham mengapa guru berkata demikian. Ingin sekali aku meminta maaf karena perbuatanku ini, tapi guru sudah tidak beranjak pergi.


Baca juga:
NYARIS SEMUA WARTAWAN MASUK NERAKA EPS. 1
ALQUR'AN BUKAN KITAB PRIMBON EPS.3

Nyaris Semua Wartawan Masuk Neraka Eps. 1

AKU DAN SANG GURU
Wawancara Imajiner Aku dan Sang Guru

Di satu hari yang aku sendiri tidak hafal persis tanggal dan waktunya, sesosok misterius tiba-tiba muncul di hadapanku. Seorang yang tidak tampak rupa dan bentuknya itu mengucapkan salam. Assalaamu'alaikum. Aku menjawabnya sesuai dengan apa yang pernah aku pelajari dari bapak dan ibuku. Waalaikumsalam... Lalu terdengar batuk-batuk kecil dari ia yang hanya terlihat sebagai cahaya.
Aku (A): Siapa Anda?
Sosok Misterius (SM): Kau tidak perlu tahu siapa aku (suaranya sangat lirih. Aku bahkan nyaris tidak mendengar)
A: Ah, bagaimana mungkin aku tidak perlu mengetahui siapa gerangan Anda?
SM: Hahaha... (suaranya tiba-tiba menggelegar. Aku mundur beberapa langkah karena takut). Kau akan mengetahui siapa aku ketika kau tahu siapa kamu
A: Maaf. Perkataanmu sungguh tidak kumengerti
SM: Kau akan segera mengerti!
A: Bagaimana mungkin aku akan mengerti?
SM: Kau akan segera mengerti!
A: Aku berani bersumpah, aku sama sekali tidak mengerti!
SM: Ya, kau akan segera mengerti!
Setelah percakapan singkat yang justru membuatku semakin bingung, sosok itu menghilang begitu saja. Tanpa pernah aku undang, sosok itu terkadang hadir dan memberi wejangan-wejangan. Banyak hal yang pernah kami diskusikan yang kadang justru membuatku merinding menjalani hidup ini. Terlebih, ketika masa depan dan masa lalu dapat diceritakannya, aku menggigil tak karuan. Ia bisa datang dari masa yang tak pernah kusangka. Kadang ia mengaku habis berjalan-jalan di zaman di mana air sulit didapat. Kadang ia bercerita baru saja bertemu Ibrahim AS dan melihatnya membangun peradaban agama. Lalu aku pernah terhenyak, ia mengaku baru saja sowan di ndalem-ndalem kiai besar di nusantara.
Lalu aku memanggilnya dengan Sang Guru (SG). Ia mulai bertanya tentang kehidupan pribadiku. Aku menjelaskan saja saat ini sedang berpetualang di kota impian. Bagaimana tidak, kota ini selalu menjadi rujukan siapa saja yang mengaku berpendidikan. Lalu aku menjelaskan tengah menempuh pendidikan di jurusan komunikasi yang berkonsentrasi pada jurnalistik.
SG: Hah, kau akan menjadi wartawan?
A: Kenapa, Guru? Bukankah itu pekerjaan yang teramat dan sangat mulia? Bahkan peran wartawan kerap disamakan dengan peran ulama sebagai ahlul 'ilmi?
SG: Itu katanya.
A: Lha, memang sebenarnya bagaimana?
SG: Kau akan segera mengerti. (Jawaban ini merupakan salah satu jawaban paling membosankan. Biasanya setelah itu Sang Guru akan menghilang). Tapi kali ini Sang Guru tidak menghilang. Terdengar batuk kecil yang sangat berat.
SG: Wartawan hampir semu masuk neraka! (Guru mengucapkannya dengan suara berat namun sangat jelas dan tegas. Aku tertegun mendengar ucapannya itu. Namun aku tidak bisa berlama-lama berkutat pada ketakutan. Aku harus mengetahui alasan Guru mengatakan demikian).
Namun sebelum aku bertanya lebih jauh, sosok Guru menghilang. Jika seperti ini, aku perlu beberapa waktu untuk dapat bertemu lagi dengannya. Ya, semoga ia cepat datang dan memberiku jawaban.


Baca juga:
NYARIS SEMUA WARTAWAN MASUK NERAKA EPS. 2
ALQUR'AN BUKAN KITAB PRIMBON EPS.3