Showing posts with label Buku Harian. Show all posts
Showing posts with label Buku Harian. Show all posts

Wednesday, May 31, 2017

Selamat Jalan, Bupati Bersahaja

Tak banyak persinggungan yang kualami dengan Bapak Mahsun Zain, bupati Purworejo (2008-2015). Paling sering tentu melihat fotonya di beberapa baliho di kota itu yang saban tahun hampir selalu aku lewati, baik ketika masih mondok di Pati atau kuliah di Jogja. Namun pada seminggu terakhir, aku mengunjungi kediamannya dua kali.

Kamis (25 Mei 2017) adalah pertama kalinya aku bertemu beliau. Ia mengenakan kaos oblong putih dan bersarung layaknya santri, menunggu aku dan beberapa teman yang ingin menginap di kediamannya seusai melihat acara Among-Among Pancasila di Kebumen. Salah satu rekan kami adalah anak beliau. 

Beliau berada di teras depan rumah dan mempersilakan kami segera masuk. 


"Nanti tidur di kamar saya, ya?" ujarnya sembari menunjuk sebuah kamar. Ia sendiri, setelah berbincang-bincang ringan dengan kami dan mempersilakan kami segera istirahat, langsung menuju ruang depan. Mungkin beliau tidur di sofa.


Pagi harinya, ketika kami hendak pamit ke Jogja, beliau berada di teras rumah. Saat itu, dengan masih mengenakan kaos oblong sederhananya, beliau tengah memotong kacang panjang. Aku dan teman-teman yang lain menyucup tangannya dan mengucap salam. Tak dinyana, itulah salam terakhir yang kami ucapkan pada pria hebat kelahiran 1959 itu. 


Kesehatan beliau belakangan memang kurang baik. Mungkin karena aktivitas padatnya selama menjabat sebagai orang nomor 2 dan 1 di Purworejo. Bapak Mahsun kabarnya sudah melakukan cuci darah sejak beberapa tahun terakhir. Selasa malam (30 Mei 2017) pukul 19.10 WIB beliau menghembuskan nafas terakhir di RS Tjitrowardoyo, Purworejo. 


Dini hari tadi, di jam yang hampir sama saat aku pertama ke sana, aku kembali mengucap salam. Berbeda dengan seminggu lalu yang suasananya sangat sepi, malam tadi berdiri terop/tarub dengan puluhan pelayat yang masih terus berdatangan. Ah, 


Kematian memang sebuah misteri.... 


Sebuah pertemuan singkat dengan bapak bupati ini sangat bermakna bagiku. Ya, karena aku menemukan kata sederhana yang tak selalu kutemukan pada para pejabat yang pernah kutemui. 


Ada sebuah kisah bahwa beliau sebenarnya masih diminta warga Purworejo maju di pemilihan bupati 2015 lalu. Tapi beliau menolak. Padahal, sebagai petahana, seharusnya mudah baginya untuk memenangkan kursi pemilihan. Tapi beliau bukanlah sosok yang gila jabatan. Ya, karena jabatan adalah amanah sekaligus ujian. Tak perlu diburu. Tak perlu dipertahankan mati-matian. 


Aku jadi ingat sesi wawancara Gus Dur dengan Andi F. Noya. Di salah satu sesi, Gus Dur lantang mengatakan "saya jadi presiden itu karena diminta oleh 5 guru saya." Jika tidak diminta, ya tidak usah ngotot memburunya. Bisa jadi, bapak Mahsun pun demikian. 


Selamat jalan, pak...
 

Lahul fatihah...

Yogyakarta, 31 Mei 2017

Friday, February 24, 2017

Catatan Kecil Harian

Bab Pekerjaan
Senyum sesaat sebelum menyandang gelar S.P (sarjana pengangguran)


Guru realitaku adalah spiritualitas.
Guru spiritualku adalah realitas (kata Gus Dur).

Seringkali, di saat ngepoin akun instagram dan media sosial teman yang lain, hatiku gundah gulana. Betapa tidak. Di akun yang dibuat untuk riya itu, mereka menampilkan banyak hal yang membuatku murung meratapi nasib.
Salah satunya adalah soal pekerjaan. Oh, man! Kini usiaku 24 tahun. Ketika di jalan ditanya, 'Kerja di mana, mas?' Saat itulah kebingungan melanda. Aku harus jawab bagaimana? Sementara di akun-akun medsos itu, banyak teman yang memperlihatkan kesuksesan di usia muda. Mereka memberi banyak tips sukses yang membuatku (jujur saja) sangat stres. Kok aku ra iso?
Mungkin ini dialami banyak wisudawan, terutama wisudawan galau sepertiku yang belum tahu prioritas. Hidup rasanya diombang-ambing gak karuan.
Ketika pikiran hampir mengutuk nasib, ada bisikan yang sering kudengar dari petuah-petuah semasa nyantri beberapa tahun silam.
"Bekerja itu diniati untuk ibadah, bukan cari sejumlah uang. Jika uang yang kamu cari dan suatu saat kau tidak mendapatkan sejumlah yang kau inginkan, kau bisa-bisa tidak mau lagi untuk bekerja."
Memang. Ada orang yang gajinya 1 juta perbulan tapi bisa menghidupi 5 orang anaknya. Ada yang gajinya 10 juta tapi masih saja hidupnya kurang sampai seringkali merampok uang orang lain: korupsi!
Ya, itulah rahasia rejeki. Ia tidak semata-mata kalkulasi. Banyak hal yang jadi misteri. Untuk itu selalu bersyukur dan ingat ilahi. Dan tulisan ini sebenarnya adalah buah kegalauan hati yang coba diobati...

Yogyakarta, 25 Februari 2017
Dini hari

Monday, August 22, 2016

Dialog Tanpa Senjata

“Maaf, boleh saya minta air putih saja?” kata Felip Karma, saat diberi segelas teh hangat untuk menemani diskusi. “Saya bernazar untuk tidak meminum selain air putih, sampai Papua merdeka,” sambungnya lagi. Sebuah nazar yang menunjukkan betapa kuat dan gigihnya ia dalam berjuang.

Sebelum 22 Agustus kemarin, nama Filep Karma sangat asing di telinga saya. Beberapa kali mengikuti berita soal penangkapan pejuang OPM, saya tidak menghafal nama-nama tokohnya. Bahkan saya tidak menyadari bahwa Filep Karma adalah salah satu dari lima tahanan politik yang dibebaskan oleh Jokowi tahun 2015 lalu. Ia ditahan karena turut mengibarkan bendera kejora di Jayapura tahun 2004. “Setelah saya dibebaskan, saya tetap akan berjuang. Selama Papua belum merdeka, berarti perjuangan saya belum selesai!” tegasnya.
Ia menceritakan latar belakang gerakan yang diperjuangkannya ini. Menurutnya, mengapa Papua ingin merdeka dari Indonesia adalah karena keadilan belum mereka terima sepenuhnya. Banyak sekali diskriminasi, pelanggaran hak-hak asasi manusia, serta pemberangusan hak-hak kebebasan berpendapat, yang keseluruhannya membuat warga Papua merasa terkurung dalam negaranya sendiri. “Sikap yang kami terima di sana membuat kami merasa masih terkurung di negara Indonesia.”
Perjuangan Non-Violence
            Perjuangan OPM selama ini dianggap sebagai perjuangan kaum sparatis yang merongrong kedaulatan NKRI. Namun Filep mempertanyakan sikap pemerintah kepada wilayah lain seperti Aceh yang berbeda dengan apa yang diperlakukan kepada Papua. Katanya, di Aceh, komandan GAM bisa jadi wakil gubernur. Tetapi mengapa di Papua berbeda? Bahkan untuk menyuarakan keadilan saja dianggap sebagai pemberontak dan seringkali harga yang harus dibayarkan adalah nyawa.
            Suatu ketika, Filep pernah berada dalam situasi aksi yang panas. Ia kaget karena tepat di samping wajahnya terdapat lubang yang masih memercikkan api. Ia yakin bahwa itu adalah peluru tembak yang hampir saja menembus kepalanya. Ia menanyakan kepada temannya yang seorang anggota BRIMOB. Apakah peluru itu hanyalah untuk menakut-nakuti? Temannya menjawab, “Kalau sudah seperti itu, Anda adalah sasaran tembak.” Filep tersenyum dan berujar, “Berkat Tuhan, hari ini saya masih hidup.”
            Baginya, kepercayaan terhadap perlindungan Tuhan adalah kunci dari perjuangannya. Karena ajaran kasih Tuhan pula, ia tidak menggunakan cara-cara kekerasan dalam melakukan perjuangan. Dalam ajaran yang dianutnya, membunuh orang adalah dosa besar. “Sudah di dunia kami tidak mendapat kebahagiaan, masak di alam sana kami tidak masuk surga lagi. Ruginya dobel,” ujarnya bercanda. Ia mendapatkan banyak inspirasi perjuangan tanpa kekerasan saat melakukan studi di Manila, Filipina. Inilah yang ia suarakan kepada rakyat Papua.
            Ia mengakui, perjuangannya tidak akan pernah mudah karena sebagian besar warga Papua merasa terancam apabila menyuarakan pendapatnya. Sebagian lagi masih terlalu dini berdebat soal pimpinan dan rebutan kekuasaan. Namun apapun itu, ia siap menjadi martir sejarah demi kesejahteraan masyarakat Papua.
Gus Dur dan Papua
            “Dulu, kami mengaku orang Papua saja sudah dianggap sebagai pemberontak,” kenang Filep. Ya, sejak era presiden Sukarno, nama wilayah tersebut diganti menjadi Irian Jaya. Kata IRIAN sendiri konon merupakan singkatan dari  Ikut Republik Indonesia Anti Netherland. Namun saat presiden Abdurrahman Wahid memimpin, nama Irian Jaya dikembalikan lagi ke nama awalnya, Papua. Gus Dur sekaligus membentuk Presidium Dewan Papua (PDP) yang mewadahi ratusan suku di Papua. Pembentukan ini merupakan perwujudan pemerintahan Gus Dur untuk memberikan hak otonomi penuh terhadap wilayah Papua.
            Ada kisah saat Gus Dur diberi laporan bahwa warga Papua mengibarkan bendera bintang kejora. Ia bertanya pada sang jendral. “Lha, ada bendera merah putihnya ndak?” Sang jendral mengatakan ada. “Masih tinggi yang merah putih atau bintang kejora?” Sang jendral mengatakan merah putih. “Ya, sudah tidak ada masalah. Gitu aja kok repot,” cetus Gus Dur. Ia bahkan berujar jikalau masih menganggap itu masalah, anggap saja seperti bendera-bendera di dalam stadion. Bagi banyak kalangan, presiden Gus Dur adalah satu-satunya presiden yang memahami cara berkomunikasi dengan warga Papua.
            Filep sendiri memiliki kenangan bersama Gus Dur. Suatu ketika, ia bertemu Gus Dur di sebuah kampus di Jakarta. Filep bertanya, “Gus, kalau saya dan teman-teman melakukan aksi kemerdekaan Papua bagaimana?” Gus Dur menjawab, “Saya ini seorang humanis dan pluralis. Di sisi lain, saya seorang presiden yang terikat konstitusi. Kalau kalian melakukan aksi tersebut, kewajiban saya adalah menaati konstitusi. Saya akan meminta Anda ditangkap.”
Menurut Filep, perkataan Gus Dur mencerminkan sikap kenegarawanan seorang presiden, sekaligus sisi humanisme karena perintahnya hanya tangkap, bukan bunuh. Penangkapan akan mendapat reaksi dari dunia internasional, dan inilah yang akan membebaskan mereka kembali. Sayangnya pemerintahan Gus Dur hanya sesaat karena ia kemudian dilengserkan.
Saya mengutip sebuah artikel hasil wawancara dengan Thaha Alhamid. Tom Beanal bilang, “Bapak Presiden, selama bergabung dengan Indonesia, kita pernah diatur oleh tiga presiden. Semua mereka memiliki mata fisik yang bagus, sehingga begitu mereka datang di Papua, mereka silau melihat kemilau emas, gas bumi, hamparan hutan, dan lainnya. Mereka lupa bahwa di sana ada manusia. Mereka tidak peduli kami orang Papua. Mereka lihat kami seperti binatang. Mereka terus menerus membantai kami. Syukur bahwa saat ini Tuhan mengutus Bapak Gus Dur sebagai anugerah untuk Indonesia. Bapak memiliki kemuliaan mata nurani, sehingga mau melihat kami sebagai manusia. Kami senang Bapak memimpin kami…”.
Gus Dur pernah mengatakan, perdamaian tanpa keadilan adalah ilusi. Ketidakadilanlah yang melahirkan pergerakan-pergerakan berbagai kelompok di berbagai wilayah di Indonesia. Filep sendiri mengakui, faktor utama perjuangan dirinya adalah terjadinya ketimpangan dan ketidakadilan. Apalagi saat ia melihat kenyataan bahwa di Papua, warganya mengalami berbagai penindasan. Ia juga menyayangkan sikap ‘orang Indonesia’ yang selalu main senjata dalam menyelesaikan persoalan di Papua. Padahal, ia mengharapkan adanya solusi dalam bentuk dialog yang tidak saling menyakiti antara Indonesia dan Papua.

Semoga ke depan ada solusi terbaik dalam penyelesaian konflik di Papua. Jalan seperti apapun yang akan ditempuh, haruslah menempatkan kemanusiaan pada posisi paling puncak. Kata Gus Dur, yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan. Syukur-syukur ada jalan tengah yang membuat Pak Filep bisa kembali merasakan nikmatnya teh hangat dan seduhan kopi sembari menyanyikan lagu ‘Dari Sabang Sampai Merauke.’ (Tulisan ini disusun dari dinamika diskusi bertema Indonesia dan Papua bersama Filep Karma. Timoho, Senin, 22 Agustus 2016).

Thursday, June 30, 2016

Mudiknya Calon Sarjana Kampus Digital

sumber gambar
Sengaja tidak saya umbar nama lembaganya di sini, demi kemaslahatan bersama. 
Sebut saja namanya si Dul. Mahasiswa asal Sumatra itu hanya bisa tertunduk lesu sesaat setelah menerima telfon dari keluarganya. Kapan pulang? Begitu tanya keluarganya via telfon. Ia hanya bisa menjawab secepatnya. Kapan? Tidak tahu.
Ceritanya panjang. Si Dul merupakan mahasiswa akhir di sebuah kampus ternama. Ia baru saja mengikuti pendadaran skripsi beberapa hari yang lalu. Setelah pendadaran, masih banyak prosedur lain yang harus dilaluinya demi menghadiri wisuda beberapa bulan lagi. Selain revisi yang masya Allah muter-muter, ia juga harus melalui tahap administratif, mulai menggandakan skripsi beserta 'bonus-bonus' lampiran, hingga mendaftar yudisium sebagai pintu awal masuk ke gedung wisuda.
Untung baginya, di kampusnya itu, sistem yang digunakan menggunakan online alias berbasis internet. Jadi, ia bisa mengakses kapan pun dan di mana pun berada. Asal gak fakir kuota, urusan selesai. Tapi yang membuat dirinya tertunduk lesu justru sistem digital yang menundanya untuk mudik. Lha kok bisa? Syarat mendaftar yudisium di kampusnya itu ribet. Terutama syarat memberikan bundelan skripsi ke perpustakaan utama yang harus melewati prosedur pengunggahan file skripsi dalam bentuk bookmark ke laman perpustakaannya.
Nah, di sinilah titiknya. Ia sudah tiga hari berusaha mengupload skripsinya ke laman yang dimaksud. Tapi selalu gagal karena sistemnya error bin down bin troble. Sementara itu, di situs trapeloca dan agen tiket, harga pesawat kian membumbung tinggi layaknya Apollo trayek Jakarta - Bekasi yang penuh bahan bakarnya. Padahal, lebaran sebentar lagi, dan Si Dul sejatinya belum beli baju lebaran untuk dipakai di hari raya. Hari-harinya dihabiskan di emperan jurusan, sembari menanti sistem segera beres. Yang bikin sedih, Dul selalu ditanya kapan balik? Ya, kapan? Aku juga belum tahu! Begitu kira-kira jawaban si Dul.
Saat saya temui, Dul tampak masih otak-atik smartphonenya untuk mengecek harga pesawat ke rumahnya di sebrang pulau sana. Waktu saya tanya, Dul, apa sebaiknya kamu gak pulang dulu terus besok syawal ke sini lagi? Dul hanya menjawab dengan senyuman. Ia kemudian menjelaskan bahwa di kampusnya itu, batas akhir yudisium sekitar H plus seminggu setelah lebaran. Aku tanya lagi, njuk kenapa? Pada akhirnya, jawaban si Dul membuat saya hanya bisa mengiba.
Dul menjelaskan, di tanggal tersebut, tiket pesawat mahal, tiket bis mahal, jalanan padat, bandara penuh, dan segala kesulitan lainnya. Kalau pun naik bis, itu tidak menjamin berkasnya bisa didaftarkan secara offline karena masih menunggu sistem onlinenya bisa berjalan benar atau tidak. Ya, kampusnya kali ini dirasa tak ramah pada mahasiswa luar pulau.
Saya ikut membatin, ketika digitalisasi justru memperlambat, lalu kenapa terus dibela?
Ah, embuh. Aku gak mau ikut-ikut komentar soal kampus digitalnya si Dul. Semoga kisah si Dul gak nular di kampusku yang sama-sama menggunakan sistem digital.

Monday, May 9, 2016

Surat Cinta untuk Adikku Calon Mahasiswa

sumber gambar: rumahukm
Tabik!
Beberapa saat lagi kampus-kampus akan disibukkan dengan beragam agenda yang berhubungan dengan anak didik baru: SNMPTN, SMBPTN, seleksi mandiri, Ospek dll. Seperti biasa, para calon mahasiswa akan datang dengan segenggam asa, sepercik harapan untuk menjadi manusia yang lebih baik. Salah satu orang yang berada di kerumunan itu mungkin kau, adikku. Seperti katamu dahulu, kau ingin membanggakan orang tua. Masuk kuliah tentu menjadi salah satu caramu, bukan? Tapi aku ingin menyampaikan beberapa hal padamu, adikku.
Kau pasti melihat, ada berita demonstrasi beberapa waktu yang lalu, bukan? Ya, demo di salah satu perguruan tinggi terkenal di kota kakakmu ini menimba pengalaman. Ada banyak tuntutan yang hampir seluruhnya berhubungan dengan uang. Uang. Iya, uang. Banyak yang menilai, biaya pendidikan di negara kita sangat mahal. Apalagi setelah diberlakukannya sistem pembayaran bernama uang kuliah tunggal (UKT). Kelak, jika kau jadi masuk ke perguruan tinggi negeri akan mengetahuinya. Saat ini, simak surat kakakmu ini terlebih dahulu.
Terkait dengan uang, sampaikan kepada orang tua kita jika biayanya memang tidak sedikit. Untuk itu, tidak semua orang bisa masuk perguruan tinggi. Apakah pendidikan hanya dikhususkan bagi orang kaya? Ah, sama sekali tidak, adikku. Ini tinggal bagaimana cara kita memaknai pendidikan. Jika kau memaknai pendidikan sebagai sebuah interaksi antara guru-murid atau mahasiswa-dosen dalam satu ruang kelas, maka pemaknaanmu terlalu sempit. Sangat sempit.
Sedikit bocoran, adikku. Kakakmu ini adalah salah seorang mahasiswa yang ogah-ogahan masuk kelas. Ya, seringkali kakakmu merasa bosan berada di ruang kelas, mendengar presentasi kelompok lain dan tak jarang presentasinya membuat kakak menjadi jenuh. Walhasil, kakak lebih sering piknik. Lihat saja akun instagram kakakmu ini. Mulai gunung, laut, sampai dinding rumah orang jadi latar menarik. Walau pun begitu, nilai kakakmu tidaklah buruk. Masih di atas 3.5 IPK-nya dari nilai maksimal 4.0.
Kakakmu ini lebih sering berkegiatan di luar, berinteraksi langsung dengan masalah yang sepele. Mungkin sebagian besar mahasiswa ogah mengurus hal-hal sepele karena namanya "maha". Jadi kakakmu tidak seidealis mahasiswa yang saban hari bergelut dengan Plato dan Marx serta tokoh lainnya. Kakakmu tidak secanggih mahasiswa pada umumnya yang ngobrol ngalor ngidul soal wujud negara ideal, kapitalisasi global, hingga revolusi total yang membuat otak ingin meledak. Kakakmu lebih suka ngobrol soal kiai kampung atau pol mentok sedikit-sedikit ngutip Ibnu Sina yang gak masuk radar bacaan mahasiswa pada umumnya.
Kembali lagi ke soal biaya, adikku. Kakak ingin mengutip perkataan salah seorang teman kakak yang menuntut pendidikan murah dan inklusif alias terbuka bagi siapa saja. Pendidikan saat ini disebutnya masih sangat eksklusif karena hanya bisa diakses oleh sebagian kecil orang dan biayanya sangat mahal. Ia bercerita jika demi kuliahnya, orang tuanya sampai menjual 4 ekor kambing dan sebidang tanah. Ia tidak ingin hal yang sama terjadi pada orang lain. Nah, perkataan teman kakak inilah yang mendorong kakak menulis surat ini. Kakak perlu menyampaikannya sebelum kau benar-benar memutuskan untuk masuk ke perguruan tinggi.
Pertama, ruang kelas sangat terbatas. Kau harus berpikir realistis peluang masuk perguruan tinggi, lebih-lebih negeri, sangat tipis. Kakak pernah mendengar ceramah rektor jika dari 90.000 pendaftar di kampus kakak, hanya 3000 orang yang berhak masuk ke universitas. Jumlah tersebut dari tahun ke tahun semakin dibatasi karena jumlah anak didik yang masuk tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa yang keluar. Ya, kampus bukan seperti SMA yang dibatasi waktu 3 tahun harus selesai. Di kampus kakak banyak sekali mahasiswa yang sudah sangat lama kuliah. Tapi kakak tidak mengatakan gara-gara mereka, kuota masuk perguruan tinggi jadi dibatasi. Mahasiswa boleh-boleh saja dong mau lulus kapan. Toh, yang penting sudah bayar. Mahal lagi. Soal peluang adik-adiknya makin kecil ya bukan urusan mahasiswa. Di sini perjuanganmu akan sangat berat.
Kedua, soal biaya mahal, jangan khawatir. Di kampus kakak dan juga kampus lainnya ada banyak tawaran beasiswa. Modelnya pun beragam, ada yang seleksinya sangat mudah, sampai yang sulit. Kakak juga pernah merasakan dapat tunjangan dari perusahaan berupa beasiswa selama satu tahun dengan perjuangan yang warbyasah. Dari puluhan ribu yang mendaftar, hanya 500an orang yang menerima. Ya, inilah persaingan, dik. Kelak, jika kau jadi masuk perguruan tinggi dan mendapat beasiswa, gunakan biaya dari pemerintah atau perusahaan itu untuk mendukung belajarmu. Jangan seperti teman kakak yang dapat beasiswa malah digunakan untuk beli gadget. Padahal itu jenis beasiswa miskin yang diambil dari pembayaran pajak masyarakat. Bahkan seorang pemulung juga membayar pajak untuk rumahnya. Masak kau tega, jika bayaran mereka digunakan untuk foya-foya?
Tak kalah penting, jika kelak kau masuk perguruan tinggi, bergabunglah di organisasi. Apapun organisasi itu, yang penting tidak melupakan tujuan awalmu masuk kuliah. Biarkan jika ada yang bertanya, "lulus cepat buat apa?". Kalau berani, tanya balik, "Lulus lama buat apa?". Bukannya kakak melarangmu untuk mengikuti jejak Pak Seno yang sekarang jadi gubernur dan mengatakan kalau dulunya ia kuliah 10 tahun. Lha wong dulu belum ada S2 dan minat masuk kampus belum seramai sekarang.
Sekarang kalkulasi saja berapa biaya yang harus dibayar orang tua jika kau menunda kelulusanmu. Katakanlah dalam satu bulan kau habis 1,5 juta untuk bayar kost, listrik, bensin, dan jatah makan. Satu bulan menunda kelulusan, sama dengan menambah biaya 1,5 juta. Bagaimana jika setahun? Kau bisa beli motor. Ya, aneh saja kalau kau akan protes biaya semester mahal. Di kampus kakak, biaya semester paling mahal 2 juta. Satu tahun berarti 4 juta. Nah, 4 juta dengan 18 juta mahal mana? Padahal biaya semester kakak 'cuma' 600 ribu. Tidak sampai separuhnya kebutuhan hidup kakak di sini.
Jika kelak kau masuk ke perguruan tinggi negeri dan bergabung di organisasi, berjuanglah untuk jadi leader. Berjuanglah untuk menjadi pemimpin yang amanah. Ingat, seluruh biaya berasal dari kita sendiri. Biaya mahal adalah karena kebutuhan kita meningkat. Jika dana untuk organisasi tidak digunakan sebagaimana mestinya, sama saja kita mengkhianati diri sendiri. Tuhan sangat benci pada pengkhianat. Jangan ragu-ragu turun ke jalan untuk berdemonstrasi jika memang perlu. Tapi jadilah demonstran yang cerdas. Jadilah demonstran yang tidak merugikan orang lain demi eksistensi diri sendiri. Tak perlu memasang wajah serius, berorasi, mengutuk pemerintah tapi minta difoto oleh temanmu menggunakan iPhone yang dibeli dari dana beasiswa, untuk diupload di media sosial. Karena hal itu bisa bikin riya' dan mereduksi nilai-nilai perjuanganmu.
Ah, surat kakak malah ngelantur ngalor ngidul. Yang jelas, ini pesan kakak padamu, jangan sekali-kali merelakan sebidang tanah dijual untuk biaya kuliah. Jika itu dilakukan, sungguh besar tanggung jawab yang kau emban pada orang tua. Mengecewakan mereka adalah dosa yang sangat besar. Kau tentu ingat bahwa doa orang tua sangat tajam. Kalau merasa biaya kuliah sangat mahal, cari beasiswa yang bisa membayar penuh. Kalau tak mampu menembus beasiswa karena gagal seleksi dan tidak mau bayar mahal, tak perlu kuliah. Beli saja buku di toko-toko. Soal peluang kerja? Ah, kuliah sama sekali tak menjamin. Banyak kok sarjana yang menganggur sampai-sampai Iwan Fals pernah membuat lagu sarjana muda yang bagian liriknya berbunyi:
Engkau sarjana muda
Resah mencari kerja
Tak berguna ijasahmu
Empat tahun lamanya
Bergelut dengan buku
Sia-sia semuanya
Setengah putus asa dia berucap
"maaf ibu..."
Toh, di bangku kuliah, kau akan banyak menemukan orang-orang yang berkata bahwa kuliah tidak penting. Saking enggak pentingnya, mereka menganggap tabu orang yang rajin ngampus. Tapi pada akhirnya jika hidayah datang, semua mahasiswa akan menyelesaikan 144 SKSnya. So, daripada menunda-nunda, lebih baik penuhi segala kewajiban.
Kuliahlah pada bidang yang kau inginkan. Jika gagal, dan kau mau mengambil bidang lain, jangan gengsi untuk mengubah rencana hidupmu. Tak perlu menjadi orang yang idealis untuk urusan pekerjaan. Asal halal dan mampu kau kerjakan, lakukan! Kakak dulu juga ingin jadi pilot.
Sekian dulu, ya adikku. Kapan-kapan kakak sambung lagi.
Wassalam...

Saturday, January 30, 2016

Kapan Jadi Teknisi UIN, Mark?

leadinvestor.com
Melihat beranda facebook beberapa terakhir ini membuatku ingin protes sama si empunya, Kang Mas Mark Zuckerberg. Lha gimana enggak? Situs jejaring yang dibangunnya itu berisi spam-spam yang berasal dari wilayah yang sama: Yogyakarta. Mau nulis UIN Jogja gak enak, takut nanti jadi masalah di belakangnya.
Aslinya aku pengen report as spam pada status-status yang isinya mengkritik sistem Online KRS-an. You know KRS? KRS itu akronim dari Kartu Rencana Studi yang wajib ada di setiap kampus. Kalo nggak ada KRS ya nggak bisa kuliah. Penerapan input KRS ini bisa secara Online ataupun offline.
Sejak pertama kali aku kuliah di kampus yang disebut termurah sedunia ini, sistem input KRS-annya Online. Sangar, tho? Kuliah gak sampek sejuta (belum UKT) udah bisa nggaya input via leptop atau smartphone. Waktu itu aku sempet ngece temanku yang kuliah di salah satu kampus swasta. Kalo masa KRS-an, temanku itu harus pergi ke kampus. Ngantri beberapa jam, baru kemudian dapat jadwal kuliah. Oh pity...
Waktu itu aku sampe nanya, berapaan sih semesteranmu? Dia jawab 80ribu satu SKS. Kalo satu semester ngambil 20 SKS, biayanya 1,6 juta. Itu belum termasuk biaya-biaya lain jika ditotal jumlahnya sampe 3 juta persemester. Lha duit segitu di kampusku bisa bayar 5 semester. Nyaris wisuda! Biaya setahun di kampusnya bisa buat bayar kuliah di kampusku sampe lulus, sekaligus wisudanya. Pantes di kampusku banyak banget anak yang ogah lulus. Lha murahe pol...
Temenku langsung tanya soal sistem Online yang diterapkan di kampusku. “Enak, ya. Gak harus capek-capek ngantri. Bisa disambi udud dan ngopi.” Dengan bangga aku praktekkan gimana cara input yang asyik. Satu leptop dibuat ngakses laman Sistem Informasi Akademik (SIA), satu leptop lagi dipake main PS.
Ya perlulah disambi PS soalnya loadingnya lumayan lama. Input satu matakuliah bisa 15-30 menit. Bayangin kalo nginput 8 mata kuliah. Bisa berapa lama? Setelah satu matakuliah terinput, ngikutin gaya Damian, aku bilang ‘sempurna...’
Temanku itu iri. Sangat iri. Ia bercerita ngalor ngidul mengenai susahnya input KRS secara offline. Katanya jadi gak bisa garap hal-hal produktif selama 3-4 jam gara-gara ngantri. “Terus kenapa SPP mahalnya gitu tapi pelayanannya kacau?’ gerutu temanku. Ia mengungkit SPP di kampusku yang cuma 600ribu, tapi pelayanannya oke. ‘Ya agak lelet dikit ndak apa-apa wong bayarnya juga segitu.’ Justru malah temanku yang memaklumi keleletan ini.
Namun semua berubah setelah negara api menyerang. Keleletan dalam input sudah menjadi-jadi. Kalo dulu masalahnya hanya lola alias loading lama, sekarang sistem mulai doyan fitnah.
Aku sendiri jadi korban fitnah sistem yang pernah membanggakanku itu. Mulai dari difitnah belum bayar SPP, sampe dibilang NIM enggak valid. Hellow... Sakit tahu difitnah gitu!
Salah satu meme yang beredar

Tapi aku gak mau nyalahin sistem. Mereka hanyalah robot yang hidup dari perawatan empunya. Aku juga gak mau nyalahin teknisi. Karena mereka hanyalah manusia yang tak luput dari khilaf. Apalagi tim teknisi sudah melakukan segala daya dan upaya agar sistem input gak down. Mulai dari membagi jadwal input perfakultas sampai membuat sistem tandingan. Namanya pun keren, balance. Teknisi ini sampe membagi secara rinci waktunya. Fakultas A dari jam 07.00-12.00. Fakultas B dari jam 13.00-16.00 dan seterusnya. Mungkin harapannya agar bisa mengurangi beban server.
Ya, nyatanya lelet ini gak terobati justru menjadi-jadi. Di spam beranda facebook ada yang curhat habis uang nyaris 100ribu untuk ngenet dan hasilnya nihil. Ada lagi yang misuh-misuh gak jelas. Tapi gak enak nulis salinan pisuhannya di sini. Wong dia nulis kata BAJINGAN. Kan gak etis.
Aku juga gak bisa nyalahin temen yang misuh-misuh. Lha aku sendiri ngalamin betapa waktuku terkuras habis untuk nginput satu mata kuliah aja. Cuma satu mata kuliah, lho! Gimana perasaan teman-teman yang nginput sampe 6-8 mata kuliah.
Yang patut disalahkan adalah kenapa Mark Zuckerberg gak jadi teknisi sistem KRS online UIN. Aku membayangkan jika sistem input online ala UIN anti lelet kayak facebook. Betapa tujuan onlinenisasi sistem benar-benar bisa membantu orang banyak. Ibaratnya facebook itu untuk gantiin model pacaran anak UIN dari surat-suratan ke chat-chatan.
Semoga Mark di sana membaca keluhan anak UIN yang singgah ke dinding ratapan miliknya. Syukur-syukur karena anak UIN tidak lagi hobi curhat di laboratorium agama, tetapi malah di wall facebook, membuat si Mark tergugah dan mau jadi sukarelawan teknisi sistem online UIN. Atau aku perlu buat petisi di change.org untuk meminta Kang Mark mau jadi teknisi sistem UIN?
Asal Kang Mark tahu, facebook itu masih ada dan hits karena anak-anak UIN! Anak-anak UGM udah pada hijrah ke Path yang punya Bakrie itu, Snapchat dll yang anak UIN belum banyak punya. Buktinya yang ngelove ama ngelaugh statusku di Path anak-anak luar kampus semua. Sedih gak, Mark? Eh, ada beberapa ding yang mulai kenal Path. Karena anak UIN, facebook masih tenar sampe sekarang. Ini fakta lho, Mark!

Kapan mendengar ratapan kami dan datang ke Indonesia untuk jadi teknisi UIN, Mark? 

Thursday, January 28, 2016

Menristek, Turing, dan Sikap Kita


Alan Turing/bbc

Beberapa hari lalu menteri riset dan teknologi (Menristek) M Nasir membuat pernyataan yang menghebohkan publik. Ia melarang lesbi, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) masuk kampus! Alasannya karena LGBT tidak sesuai dengan nilai-nilai asusila bangsa. Pernyataan itu menanggapi adanya sebuah lembaga kajian di kampus Universitas Indonesia bernama Support Group and Resource Center on Sexuality Studies (SGRC) yang didirikan sejak tahun 2014 lalu. Lembaga kajian itu salah satunya membahas soal LGBT.
Pernyataan menteri tersebut mendapat tanggapan beragam dari berbagai kalangan. Sebagian menganggap pernyataan menteri tersebut sudah tepat, sebagian lagi menyayangkan dan bahkan menghujatnya. Bagi yang mendukung menteri, mereka membenarkan bahwa LGBT bukanlah budaya bangsa ini. LGBT disebut sebagai penyakit moral yang harus disembuhkan. Sebaliknya, bagi yang menentang pernyataan sang menteri, ucapan tersebut dianggap melecehkan. Karena bagaimana pun, LGBT adalah orientasi seksual yang muncul dari alam bawah sadar. Seseorang tidak pernah memilih dirinya untuk menjadi LGBT.
Pernyataan kontroversial sang menteri kemudian diklarifikasi beberapa saat kemudian. M Nasir menyebut yang dilarang di kampus adalah perilaku seksualnya, misalnya mengumbar kemesraan di depan umum. Sementara kegiatan lainnya, M Nasir memperbolehkan dengan dalih berserikat dan berkumpul adalah hak seluruh warga negara Indonesia.
LGBT memang menjadi topik sensitif karena melibatkan banyak hal, termasuk ajaran agama dan hak asasi manusia. Namun pernyataan M Nasir yang spesifik menyebut LGBT dilarang masuk kampus, atau pun LGBT dilarang bermesraan di kampus, hal ini perlu dikaji ulang.
Jika benar LGBT dilarang masuk kampus, jelas saja sang menteri mencederai kebebasan di ruang akademik. Ruang akademik adalah ruang yang sangat bebas, tidak dibatasi pada persoalan pribadi. Terlebih jika melibatkan hal pribadi yang menjadi hak privasi, atau malah persoalan yang sifatnya intim seperti orientasi seksual.
Kalau pun Menristek sudah melakukan klarifikasi bahwa yang dilarang adalah perilaku yang mengarah pada kegiatan seksual, seperti bercumbu, bermesraan dan lain sebagainya, apakah yang dilarang hanya LGBT? Bagaimana pernyataan sang menteri terhadap prilaku mengarah pada kegiatan seksual yang dialami pasangan non-LGBT? Apakah dilegalkan? Saya rasa klarifikasi dari sang menteri membuat pernyataannya semakin absurd. Jika sudah wilayahnya adalah tindakan mengarah pada perilaku seksual, maka seruan tersebut etisnya disampaikan kepada seluruh orang, bukan hanya LGBT. Sebab hal tersebut sudah masuk wilayah kesopanan umum, tidak hanya golongan tertentu.
Kalau pun Menristek sudah melakukan klarifikasi bahwa yang dilarang adalah perilaku yang mengarah pada kegiatan seksual, seperti bercumbu, bermesraan dan lain sebagainya, apakah yang dilarang hanya LGBT? Bagaimana pernyataan sang menteri terhadap prilaku mengarah pada kegiatan seksual yang dialami pasangan non-LGBT? Apakah dilegalkan?
Dalam konteks pelarangan LGBT masuk kampus, apakah sosok yang sama, atau siapa pun yang menentang keberadaan LGBT di kampus, berani mengatakan ‘seluruh produksi yang melibatkan LGBT dilarang masuk kampus!’? Jika berani maka tinggalkan saja perangkat komputer! Karena sejarah awal komputer diciptakan oleh sosok yang masuk dalam kategori dihinakan itu.
Alan Mathison Turing, penemu mesin komputer, adalah seorang gay. Karena statusnya itu, Alan dikebiri oleh otoritas Inggris, kemudian mati bunuh diri karena depresi, menggunakan racun sianida. Inggris saat itu masih menganggap LGBT sebagai kriminal. Namun dari kerja kerasnya, seluruh aktivitas manusia modern saat ini menjadi lebih ringan dengan keberadaan mesin komputer. Apakah ada teks yang menjelaskan Alan Turing pernah bermesraan di depan umum saat kuliah? Sepertinya tidak. Pada 2009 lalu, otoritas Inggris meminta maaf secara terbuka dan mencabut dakwaan kriminal seksual yang dialamatkan kepada Turing.
Sosok Alan Turing hanyalah satu dari sekian orang yang memiliki orientasi seksual berbeda, tetapi jasa mereka bisa dinikmati oleh seluruh orang di dunia. Belakangan Paus Fransiskus, pemimpin katolik Roma, tengah menggodok aturan agar LGBT diterima sebagai jemaat, walau pun pilihan hidupnya tidak perlu didukung. Sebab banyak kaum LGBT yang telah memberi jasa bagi peradaban. Alan Turing adalah contoh yang paling nyata.
Sebagai seorang yang belajar agama, seseorang boleh saja tidak setuju dengan perilaku LGBT. Tetapi hal tersebut tidak lantas menjadi alasan melakukan tindakan diskriminasi yang melanggar prinsip kebebasan, keadilan, dan hak asasi manusia. Utamanya bagi agamawan, yang bisa dilakukan ialah memberi edukasi kepada masyarakat. Bukan malah memberikan sentimen terhadap pelaku LGBT dengan dalil-dalil, atau bahkan menghukumi sesat. Menggunakan dalil agama sebagai penguat klaim sesat justru melegalkan perbuatan diskriminasi kepada mereka.

Sebagai seorang akademis, maka wajib bagi kita mempertahankan kebebasan berpendapat dan berpikir di ruang akademik. Jangan sampai ada pihak yang mengebiri kebebasan dengan alasan tidak sesuai dengan standar pihak tertentu. Sebab pada dasarnya ruang akademik akan terus hidup jika asas kebeasan ini dijamin. Tentu saja bebas yang bertanggung jawab. Wallahua'lam.

Friday, May 22, 2015

Belajar dari Amex


Pertemuan saya dengan Slamet Thohari atau Amex terjadi di iklim yang normal sebagaimana kebanyakan mahasiswa, dalam forum diskusi. Salah satu poin keunggulan menjadi mahasiswa ya di situ, bisa bertemu siapa saja. Dan pertemuan bisa terselenggara jika kita kenal siapa yang ingin ditemui.
Awalnya saya tidak kenal siapa itu Slamet Thohari. Dalam undangan yang saya terima, dijelaskan bahwa pria yang akrab disapa Amex itu merupakan tokoh disabilitas (atau difabilitas. Amex menjelaskan betapa kurang esensinya perdebatan istilah). Sebagaimana tertera dalam cv-nya, ia merupakan jebolan University iof Hawaii dan kini mengajar di salah satu universitas terkemuka di tanah air, Universitas Brawijaya. Karena ketertarikan saya terhadap isu-isu difabilitas (atau disabilitas), maka saya antusias menghadiri diskusi agak tertutup ini.
Saya tidak akan merangkum semua poin diskusi pada Kamis malam tadi. Namun saya akan mengulas beberapa hal yang menurut saya menjadi hal paling menarik dan mengena.
Saya tercengang dengan salah satu wacana yang dilemparkan ke forum tentang fasilitas umum untuk kalangan difabel. Halte Trans Jogja, misalnya. Secara kasat mata, halte tersebut sangat tidak ramah bagi penyandang difabel. Hal ini berbeda dengan fasilitas yang tersedia di Barat sana. Di sana, fasilitas-fasilitas umum sudah didesain menjadi ramah bagi semua kalangan, termasuk orang difabel. Alih-alih menuntut pembangunan sarana umum yang sensitif difabel, Amex justru memahaminya secara filosofis. Bahwa dalam etika orang Jawa (dan kebanyakan orang Indonesia), sikap saling membantu itu masih melekat erat. Ketika ada orang kesusahan, maka saudaranya akan membantu dengan senang hati. Maka fasilitas umum seperti sarana trasportasi yang didesain untuk kalangan difabel masih belum begitu menuntut. Berbeda dengan kondisi di Barat yang menekankan kemandirian. Di jalan-jalan biasa ditemui orang difabel yang menggunakan fasilitas transportasi umum. Namun ia tetap merekomendasikan adanya pembangunan fasilitas umum yang ramah difabel.
Isu difabel memang menarik. Menurut data Amex, sekitar 36 juta warga negara Indonesia adalah penyandang difabel. Namun mengapa kita jarang menjumpai? Karena banyak sekali lingkungan yang masih memasung, memingit, atau memenjarakan orang-orang difabel ini di rumah. Banyak orang tua yang masih merasa malu jika anaknya difabel. Sementara institusi lembaga pendidikan juga masih banyak yang menolak kalangan difabel. Hanya beberapa kampus saja yang sudah terbuka dengan isu-isu semacam ini. Di lapangan pekerjaan juga demikian. Orang difabel selalu dikaitkan dengan orang yang lemah. Maka kebanyakan pekerjaan yang ditawarkan kepada penyandang difabel adalah menjadi operator telefon.
Ada satu kisah menarik yang saya dengar tadi malam. Seorang mahasiswa Universitas Brawijaya bernama Husein sempat ditolak masuk ke UGM di fakultas teknik. Alasannya karena dia difabel. Padahal Husein tidak memiliki kelainan dengan orang-orang lainnya. Hanya saja ia menderita sebuah penyakit yang mengharuskannya duduk di kursi roda. Di Brawijaya, ia masuk ke jurusan Ilmu Komputer. Super! IPK-nya mencapai 3.9! Dan ia sudah menjalin kerjasama dengan UNESCO dalam bidang tertentu! Dan ternyata, keberadaan Husein di UB memang sedikit banyak karena program bang Amex ini merintis kampus inklusi di sana.
Kebanyakan orang berlomba-lomba menjadi terkenal untuk menunjukkan eksistensinya. Namun tidak bagi Amex. Berkali-kali ia ditawari ke berbagai program talkshow seperti Hitam Putih dan sejenisnya, berkali-kali ia belum memenuhi panggilan itu. Ketenaran bukanlah hal yang dicari. Untuk menyampaikan pandangan terkait dengan isu-isu disabilitas juga tidak melulu harus lewat program tivi.
“Sudah banyak mahasiswa saya yang tampil di acara seperti itu,” kisahnya.
Amex pernah mendapat inklusi award pada 2013 lalu. Baginya, pencapaian itu bukanlah sebagai sesuatu yang istimewa. Perjuangan mendapatkan hak-hak keadilan bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakannya. Karena, menurutnya, perjuangan itu ibarat makan dan minum. Makan dan minum adalah sesuatu yang pasti dan harus dilakukan oleh manusia.
Luar bisa memang. Tampilan sederhananya membuat saya hampir-hampir tidak percaya jika Amex menjadi kandidat menteri di kabinet kerja versi tim transisi Jokowi-JK. Dia diproyeksikan menjadi mentri Sosial yang kini dijabat oleh kawannya Khofifah Indar Parawansa. Pertemuan ide kedua orang ini tengah merintis sebuah kampung inklusi di sebuah daerah di Jawa Timur. Kalau tidak salah di Banyuwangi. Konsep yang digunakan adalah social capital, urunan, gotong royong dan makna sejenisnya.
Amex menegaskan, sebenarnya orang cacat itu tidak ada. Istilah cacat hanyalah konstruksi sosial yang terbangun di tengah-tengah masyarakat dan sayangnya diamini kebenarannya. Saya akan menuliskan contoh yang disampaikan Amex terkait persamaan ini melalui tunanetra. Jika boleh fair, yang membedakan orang tunanetra denga nontunanetra, misalnya, hanyalah alat. Orang tunanetra membutuhkan tonjolan untuk membaca. Sementara yang bukan tunanetra membutuhkan cahaya untuk melihat bacaan. Sama-sama membutuhkan alat, bukan?

Monday, April 20, 2015

Tentang Sujud, Tuhan, dan Rasa

sumber gambar: suarakita.org
Sujud. Saya rasa kata ini yang menginspirasi bangunan tempat orang Islam beribadah dinamakan masjid. Huruf ‘mim’ pada kata ‘sajada’ lalu di baca ‘masjidun’ merupakanisim makan, kata keterangan tempat.
Sujud merupakan simbol kepasrahan sebenar-benarnya pasrah. Seorang ustadz pernah menerangkan bagaimana posisi sujud dalam shalat memiliki makna filosofi yang luar biasa.Namun hal tersebut jarang disadari, atau tidak pernah berusaha dicari maknanya. Posisi sujud yang benar—kata ustadz—adalah posisi pantat berada di atas semua anggota tubuh yang lain. Sementara kepala berada di posisi paling bawah.
Pantat selama ini identik dengan sesuatu yang rendah. Yang berhubungan dengan pantat—selain suntik bu bidan—adalah kentut dan veses. Kentut dan veses merupakan kotoran fisik paling hina yang keluar dari manusia. Di salah satu gerakan shalat, pantat mendapat porsi untuk menjadi paling tinggi di antara anggota tubuh lainnya. Sementara kepala adalah kebalikan dari pantat. Di kepala terdapat dua lobang mata, dua lobang hidung, satu lobang mulut, dan dua lobang telinga. Total ada tujuh macam lobang yang seluruhnya merupakan ‘kunci’ dari kehidupan. Di dalam kepala terdapat akal yang menurut banyak orang adalah hal yang membedakan antara manusia dengan hewan. Di dalam shalat, hal paling berharga bagi manusia tersebut harus berada pada posisi paling di bawah.
Dari pantat dan kepala, saya memaknai bahwa kehidupan ini bukanlah suatu hal yang statis. Hidup ini dinamis. Ada kalanya, sesuatu yang buruk berada pada posisi puncak. Sementara kebaikan kadang kala harus tersungkur. Makna lainnya adalah bahwa seorang manusia dilarang untuk menyombongkan diri, juga dilarang untuk berputus asa. Tuhan bisa saja memberikan si X suatu kenikmatan. Namun Tuhan juga memberinya sesuatu yang dalam hitungan manusia merupakan suatu kehinaan. Sebaliknya Tuhan bisa saja memberi cobaan berupa kehinaan. Namun Tuhan mungkin memberinya posisi puncak. Pada akhirnya manusia harus mengakui kebesaran-Nya. Tidak ada yang lebih berkuasa selain-Nya.
Berbicara mengenai sujud, saya baru saja mendapatkan pengalaman menarik. Kemarin (19/04/2015) saya dan kawan-kawan GUSDURian baru saja melakukan kunjungan ke Sapta Darma (aksen Jawa: Sapto Darmo). Sapta Darma merupakan salah satu kepercayaan lokal (pengkhayat) yang dianut oleh sebagian masyarakat Indonesia. Diperkirakan warga Sapta Darma berjumlah 10 juta jiwa.
Saya tidak akan membahas panjang lebar mengenai apa itu Sapta Darma, di mana kemunculannya dan bagian-bagian sejarah lain. Yang ingin saya tuliskan di sini adalah perihal ritual ibadah Sapta Darma yang gerakannya seperti ritual agama semit khususnya Islam. Sujud. Ya, sujud. Di Sapta Darma, ritula ibadah ya sujud itu. Sujud dilakukan sekali dalam sehari. Namun sujud yang dilkukan bukan sembarang sujud. Warga Sapta Darma harus melakukan sujud tersebut dengan penghayatan sejati. Dalam bahasa Arab disebut khusyu’.
Walau terkesan mudah karena hanya dilakukan sekali, ibadah Sapta Darma itu ternyata tidak mudah dilakukan. Sapta Darma memang tidak memberi batasan waktu berapa lama durasi sujud. Namun warga melakukannya dengan penuh perasaan. Karena itu satu-satunya waktu untuk menghadap Allah Hyang maha Rakhim (Allah merupakan sebutan Tuhan di Sapta Darma), warga menjalankannya dengan penghayatan penuh. Saya menyaksikan sendiri bagaimana dua warga Sapta Darma melakukan ritual tersebut.
Dua warga melakukan sujud dengan kaki bersimpuh. Mereka mengenakan sarung dan beralaskan kain putih yang digelar menyerupai gambar wajik. Bagi warga perempuan posisi kaki memang bersimpuh. Berbeda dengan pria di mana posisi kakinya bersila. Tangan mereka bersedekap, tangan kanan memegang lengan kiri, begitu juga sebaliknya. Beberapa kali warga itu sujud, duduk, lalu sujud lagi. Karena penasaran, saya bertanya kepada salah seorang rekan di sana. Sebut saja Mawar.
“Gerakannya memang kayak gitu?” Ia mengiyakan. “Lha, berapa kali harus sujud, duduk, lalu sujud lagi, kemudian duduk lagi?”
“Kalau itu otomatis sendiri, mas. Ketika seseorang melakukan sujud sesuai dengan ajaran yang kami anut, maka rasanya seperti ada yang menggerakkan,” jelasnya. Mawar  mengaku awalnya ia penganut agama Islam. Namun karena suatu sebab, dara asal kota di Jawa Tengah itu kini melakukan sujud. Dalam bahasa sederhananya, ia beralih keyakinan.
“Beda, mas, antara sujud saat saya lakukan sewaktu shalat dengan sujud yang seperti ini. Orang shalat terkadang kurang khusyu’, tetapi kalau ini kita bisa merasakan sebuah ketentraman”. Deg. Jantungku seakan berhenti bergerak. Sebuah sindiran luar biasa kutangkap lewat indra pendengarku. Saya mendadak ingat bagaimana shalatku, sujudku, saat ini tidak dilakukan dengan penghayatan penuh, bahkan terkesan untuk menggugurkan kewajiban semata. Lalu di mana posisi Tuhan pada saat saya ibadah? Astaghfirullah. Bukankah shalat merupakan ritual seorang saya sowan kepada-Nya? Saya juga teringat bagaimana ketika bulan puasa datang, saya cenderung mencari mushala atau masjid yang shalat tarawihnya ‘PATAS’, alias cepat. Padahal shalat tarawih, walau hukumnya sunah, merupakan ritual menghadap-Nya. Kenapa saya justru terburu-buru? Jika memang dilakukan dengan penuh rasa cinta, mengapa ingin segera undur diri?
Rasa. Rasa tentram membuat Mawar memiliki kepercayaan yang baru. Bahwa dengan melakukan sujud itu, ia lebih bisa menjadi pribadi yang—menurutnya—lebih baik.  Ia yakin, di setiap aliran darahnya, di setiap pujian agung yang dipanjatkannya untuk Allah yang maha Rakhim, Tuhan selalu hadir memberinya kekuatan. “Saya dulu sakit berat, mas. Setiap beberapa menit, saya amnesia. Lalu saya dibawa ke sini dan diajari sujud. Saya lakukan itu. Luar biasa, kini saya sudah sembuh,” akunya. Ia buru-buru menjelaskan bahwa ketika orang melakukan sujud seperti apa yang dilakukan oleh warga Sapta Darma, bukan berarti lantas membuat seseorang mengikuti keyakinan Sapta Darma. Sujud itu bisa dilakukan siapa saja dan tidak mengikat. Anggap saja seperti terapi.
Saya jadi sadar bahwa tujuan manusia hidup adalah untuk ketentraman. Walau sujud saya belum bisa khusyu’, tetapi ada rasa tentram ketika saya sudah shalat. Jika belum shalat, ada kegelisahan luar biasa yang saya rasakan. Mungkin hal ini dirasakan oleh orang muslim lainnya.
Orang Islam merasa tentram ketika ia sudah melakukan kewajiban-kewajiban yang diberikan Tuhan secara ikhlas, pasrah, tawakkal. Orang Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan sebagainya juga tak jauh berbeda. Tentu saja dengan caranya masing-masing. Ritual yang digunakan untuk mengekspresikan kecintaan, kepatuhannya pada pencipta pun beragam yang pada intinya sama, berbakti pada-Nya. Dan sujud  merupakan satu di antara sekian cara untuk mengekspresikan rasa itu. Wallahua’lam.

Griya GUSDURian Timoho
Yogyakarta, 20 April 2015
16:24 WIB