Showing posts with label Resensi. Show all posts
Showing posts with label Resensi. Show all posts

Tuesday, August 18, 2020

Cara Menikmati Film Bumi Manusia bagi Kamu yang Anti-Hanung

Gambar: akurat.co
Malam kemerdekaan, salah satu film yang diadaptasi dari novel tetralogi legendaris Pramoedya Ananta Toer ditayangkan di sebuah stasiun TV nasional. Di Twitter, kata kunci “Bumi Manusia” sempat trending beberapa jam. Ketika di klik, ternyata terkait dengan film atau pun novel tersebut.

Maaf maaf nih ya Mas Hanung Rais Bramantyo. Saya harus jujur. Dulu, saat film ini dirilis, ada banyak teman saya yang meragukan akan mendulang sukses, baik secara kualitas atau pun kuantitas. Mengapa demikian?

Paling utama dan substansil adalah soal pemilihan pemeran karakter Minke. Minke ini tokoh muda berbahaya nan sangar dengan upaya yang begitu heroik dalam membangun pers perjuangan di Hindia Belanda. Ia berasal dari Blora. Terinspirasi dari tokoh pers bernama Tirto Adhie Soerjo.

Nah, pertanyaannya, mengapa tokoh sesangar Minke diperankan oleh Dilan alias Iqbaal? Iqbaal ini sudah sangat lekat dengan ‘rindu itu berat’ yang ala-ala. Lha kok malah diminta memerankan tokoh dari novel wajib para social justice warrior atau SJW?

Orang kemudian membandingkan dengan Bunga Penutup Abad, sebuah pementasan teater yang diperankan artis sejuta film, Reza Rahardian. Drama tersebut juga diangkat dari novel Bumi Manusia (plus Anak Semua Bangsa). Tokoh utama dalam teater tersebut diisi oleh pemeran kelas kakap lain seperti Happy Salma (Nyai Ontosoroh), Chelsea Islan (Annelies), dan Lukman Sardi (Jean Marais).

Tentu sebuah pekerjaan berat bagi penikmat novel dan teater untuk menerima nama-nama baru yang muncul di casting ‘Bumi Manusia’. Annelies diperankan oleh artis pendatang baru Mawar Eva de Jongh. Nyai Ontosoroh diperankan oleh Sha Inne Febriyanti. Apakah film ini bisa se-epik novel dan versi teaternya?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang membuat saya kesulitan mendapat teman menonton. Beberapa teman yang saya tahu pernah membaca pun meletakkan ekspektasi yang kelewat rendah dari film ini. Mereka merasa beberapa film bio epik yang digarap oleh Hanung Bramantyo mengecewakan. Misalnya film Soekarno dan Kartini.

‘Halah paling gitu juga. Merusak imajinasi saya.’ Begitu kata salah seorang kawan.

Beberapa hari menjelang pemutaran perdana 15 Agustus 2019, komentar-komentar negatif pun bermunculan di timeline. Banyak sekali yang menghujat trailer, mulai dari kurang geregetnya Iqbaal hingga aspek bahasa yang ‘tidak 1910-an’. Namun, karena saya ingat pesan Pramoedya untuk ‘adil sejak dalam pikiran’, saya abaikan suara-suara sumbang tersebut. Hasilnya?

Pertama, saya mengapresiasi Hanung yang akhirnya berhasil memvisualkan novel yang pernah dilarang beredar di masa Orde Baru tersebut. Dulu novel yang memiliki kisah yang kompleks dengan isu percintaan, kemanusiaan, kolonialisme, nasionalisme itu disebut mengandung ajaran Marxisme-Lenninisme. Bayangkan, dari yang dilarang oleh negara sampai jadi tontonan bebas di bioskop.

Ide untuk memvisualkan novel sudah dimulai sejak 2004, saat Pram masih hidup. Saat itu Pram ingin sineas Indonesia yang menggarapnya. Karenanya, ia menolak tawaran 1,5 juta dollar AS dari sineas Hollywood Oliver Stone. Hak adaptasi pun jatuh ke tangan Hatoek Subroto, bos PT Elang Perkasa.

Nah, perjalanan film ini sangat panjang. Beberapa nama besar sineas Indonesia seperti Mira Lesmana dan Riri Reza, Anggy Umbara, hingga Garin Nugroho pernah mencoba menggarak proyek film tersebut. Namun semua gagal, mulai dari keterbatasan dana, beda visi dengan produser, dan lain sebagainya. Padahal, penggarapannya sudah melalui riset yang cukup panjang. Garin misalnya sudah menggarap skenario hingga 80 persen.

Hanung sendiri mengaku sudah pernah mendapat tawaran pada tahun 2006. Entah mengapa proyek itu batal. Padahal, menurut pengakuannya, ia rela tidak dibayar demi menggarap film yang diadaptasi dari salah satu novel favoritnya. Beruntung, ia mendapat amanah itu 12 tahun kemudian.

Kedua, film ini menyampaikan pesan perjuangan yang cukup kuat. Beberapa kutipan dan adegan epik tidak dilewatkan oleh Hanung. Misalnya saat Nyai Ontosoroh melakukan pembelaan di persidangan Annelies. Inne yang memerankan Nyai Ontosoroh berhasil membuat saya mbrebes mili. Bagi saya, adegan ngamuknya Nyai Ontosoroh menjadi adegan terbaik di film ini.

Ketiga, totalitas. Pemeran dalam film Bumi Manusia sangat banyak dan kompleks seperti novelnya. Hanung membawa beberapa pemeran teater untuk berperan di film ini. Selain Inne, ada nama Whani Darmawan yang secara apik memerankan karakter Darsam. Juga ada Ayu Laksmi yang memerankan ibunya Rini Minke.

Sementara dari Belanda, Hanung menggunakan artis mancanegara seperti Angelica Reitsma (Magda Peters), Peter Sterk (Herman Mellema), Jeroen Lezer (dr. Martinet), Salome van Grunsven (Miriam de la Croix), dan Hans de Kraker (Jean Marais). Semuanya artis dari Belanda.

Meski demikian, tak ada gading yang tak retak. Film ini tentu tidak akan mampu memuaskan semua pembaca tetralogi, apalagi yang sangat ingin terlihat real detil seperti 1910-an seperti aspek bahasa dan bahan pakaian yang diimpor dari mana.

Satu lagi, film ini memang digarap untuk kebutuhan industri. Tak perlu demo apabila menemukan beberapa adegan yang memang tidak terbayang saat membaca novelnya. Namanya saja adaptasi. Jika tidak puas, berkarirlah sebagai sutradara. Buat versi rebootnya di masa depan.

Bagaimana sentimen publik? Film itu ditonton sebanyak 1,4 juta di bioskop. Sebuah angka yang tidak terlalu mengecewakan. Saya bisa kutip beberapa twit secara utuh dari keyword ‘Bumi Manusia’ saat trending.

Second time crying Bumi Manusia

Bumi manusia adlh film terbaik Indonesia menurutku. Durasi 3 jam tapi berasa singkat sekali. Paling suka dgn karakter Nyai Ontosoroh, beliau perempuan yang tangguh, berani, & penuh optimisme. Pada zaman itu 'nyai' dianggap hal yg rendah tp dia membuktikan bahwa dirinya berbeda.

Pada film bumi manusia, kamu bisa tau bahwa, tidak direstuinya sebuah hubungan bukan karena masalah weton atau beda agama saja, tapi status sosial juga. Namun, dari kisah itu kamu bisa belajar bahwa, sebaik baiknya mencintai adalah berjuang bersama.

Apa kabar kamu yang pernah nonton bioskop Bumi Manusia bersamaku kala itu? Masih ku simpan foto ini di galeriku, meski kau sudah menghapus diriku dari ingatanmu.

Selebihnya, silakan nilai setelah menontonnya.

Tuesday, August 8, 2017

Memahami Kehidupan dari 'Orang-Orang Proyek'

“Mas Kabul, dulu Ki Hajar Dewantara bilang begini. Pilih mana dari dua kondisi ini: Numpak motor sinambi sawan tangis atau mikul dhawet sinambi rengeng-rengeng...” (hlm. 22).

Kalimat yang diutarakan Pak Tarya, seorang mantan wartawan dan pegawai yang sehari-hari menghabiskan waktunya untuk memancing, kepada Kabul, seorang pengawas proyek, adalah  inti dari novel ini. Ahmad Tohari memotret secara alami kondisi dunia pembangunan di masa Orde Baru di mana dana untuk pembangunan banyak dijadikan bancakan.

Seorang Kabul yang sangat idealis; mantan aktivis kampus penentang Orba, dihadapkan pada situasi serba sulit. Ia yang tengah terlibat sebuah pembangunan jembatan terjepit pada satu sistem korup yang menganggap rekayasa dana proyek sebagai hal biasa. Hati nuraninya berontak karena merekayasa pembangunan berarti mengabaikan mutu bangunan. Namun Dalkijo, atasan sekaligus seniornya, menganggap hal tersebut tak perlu dirisaukan. Sudah sewajarnya sebuah proyek mendatangkan untung kepada pemborong. Dalkijo yang akrab disapa Koboi menggambarkan bagaimana ia bisa mengganti motor Harley Davidsonnya ketika merampungkan satu proyek.

Dalkijo adalah sosok yang mewakili sikap kemaruk. Ia yang memiliki masa lalu tercekik kemiskinan ingin membalas dendam dengan perilaku jor-joran. Apalagi saat ini ia berada di situasi yang cukup baik, sebagai pemborong proyek dan bendahara di partai penguasa. Untuk apa hidup kalau bukan dinikmati? Begitu pikirnya. Ia pun ingin menularkan pemahamannya tentang hidup kepada Kabul.

Kabul si insinyur muda yang masih bujangan itu kebalikan dari Dalkijo. Baginya, proyek adalah sepenuhnya hak rakyat. Karenanya akan sangat tidak adil jika pembangunan hanya mementingkan golongan penguasa. Sikap demikian timbul karena Kabul dididik dengan cara yang sangat bersahaja. Ia dibesarkan dengan makan nasi inthil dan lauk seadanya. Tirakat yang dilakukan ibunya membuat ia dan adik-adiknya bisa bersekolah hingga ke jenjang yang tinggi.

Di benak saya, kedua tokoh ini mewakili dua situasi yang ditawarkan oleh Ki Hajar Dewantara. Dalkijo adalah orang yang naik motor tapi menahan beban di hidupnya, beban untuk membalas dendam kemiskinan masa lalunya. Ia memilih hidup penuh gaya walau dikejar-kejar tuntutan daripada hidup sederhana dan dianggap ketinggalan zaman. Sementara Kabul ingin segala sesuatu berjalan sesuai rencana. Ia memilih untuk menjamin keberhasilan suatu proyek jangka panjang daripada memperkaya diri dengan mengorbankan banyak hal.

Hidup banyak harta tapi gelisah, atau hidup sederhana tapi bermakna? Pilihan yang disodorkan Ki Hajar adalah pilihan yang sulit dijawab. Jika ada pilihan alternatif, tentu orang akan memilih hidup banyak harta tapi bermakna. Tapi Ki Hajar tidak salah dengan memberi pilihan yang hitam putih itu. Ia ingin menjangkau hal paling fundamental dalam diri manusia untuk memilih pilihan yang paling ekstrem.

Apalagi kaya harta dan kaya rasa merupakan pondasi cara hidup seseorang. Jika ia memilih kaya harta dan mengabaikan rasa, ia akan mengejar harta tanpa memedulikan bagian lain dalam hidup, termasuk agama. Inilah yang menyebabkan banyak rayap di setiap proyek khususnya pemerintah. Rayap-rayap ini sangat ganas karena tidak hanya doyan aspal, semen, dan besi, tapi juga nggragas nyimiti kitab suci. Ironisnya, sebgaimana digambarkan Tohari, mereka sangat sadar jika perbuatan mereka keliru. Tapi mau bagaimana lagi?

Sementara kaya rasa membuat orang mempertimbangkan keseimbangan dalam hidup. Ia bisa tersenyum dalam kondisi paling terbatas sekali pun. Namun seringkali orang semacam ini sulit untuk melejit karirnya karena akan terbentur dengan nilai-nilai pragmatisme yang sudah jadi wabah di tengah masyarakat. Inilah pilihan sulit yang dialami Kabul.

Saya menikmati karya-karya Ahmad Tohari yang selalu memotret realitas hidup tanpa menghakimi. Di novel ini ia memberi gambaran kehidupan para tukang, pemilik warung, waria penghibur, hingga percintaan dengan sewajarnya. Tanpa drama berlebihan. Lihat bagaimana situasi kejiwaan seorang Kabul yang terus mendapat perhatian dari seorang karyawati bernama Wati yang sudah punya pacar. Sebaliknya betapa tidak naifnya seorang Wati yang menaruh perhatian pada atasannya di proyek sekali pun ia punya pacar. Tapi pacarnya kan masih seorang mahasiswa. Di sini pertarungan antara rasa dan rasionalisme menjadi bumbu yang mak nyuk-nyuk.

Selain dialog yang menyatir perkataan Ki Hajar Dewantara, bagian yang paling saya suka adalah tembang yang dikumandangkan oleh Pak Tarya berjudul Asmaradana.

Nora gampang wong ngaurip
Yen tan weruh uripira
Uripe padha lan kebo

Hidup tidaklah mudah bila kita tidak tahu makna kehidupan. Hidupnya akan sama seperti kerbau. Sebuah ungkapan filosofis yang ditulis oleh Pakubuwana IV, seperti meramalkan akan datang suatu masa di mana banyak orang bekerja hanya untuk perut tanpa peduli bagaimana cara mendapatkannya.
Orde Baru yang disebut korup sudah berlalu. Agaknya kerbau-kerbau ini belum lagi berevolusi jadi manusia. Bahkan virus kerbau sepertinya semakin ganas menjangkiti generasi muda. Selaras dengan Kidung Sinom Ranggawarsita:

Amenangi zaman edan // Ewuh aya ing pambudi // Melu edan ora tahan // Yen tan melu anglakoni // Boya keduman milik // Kaliren wekasanipun // Ndilalah kersaning Allah // Begja begjaning kang lali // Luwih begja kang eling lan waspada. (Menyaksikan zaman edan // Tidaklah mudah untuk dimengerti // Ikut edan tidak sampai hati // Bila tidak ikut // Tidak kebagian harta // Akhirnya kelaparan // Namun kehendak Tuhan // Seberapapun keberuntungan orang yang lupa // Masih untung (bahagia) orang yang (ingat) sadar dan waspada).

Akhir kata, selamat menyelami novel gurih-gurih nyoi ini.

Wallahua’lam.

Thursday, January 28, 2016

Bajrangi Bhaijaan: Kekuatan Cinta dan Ketulusan


Pertama-tama aku harus ucapin KAMFRED kepada Kabir Khan, sutradara film berjudul Bajrangi Bhaijaan. Film tersebut mampu membuatku mewek. Padahal daku bukanlah orang yang mudah untuk menangis. Bahkan saat teman-teman menuduh aku sebagai jomblo (akut lagi), aku cuek dan berusaha bersikap biasa. Padahal pelabelan jomblo adalah fitnah yang kejam. Lebih baik aku dibunuh daripada difitnah sebegitu kejinya.
Kembali ke topik.
Film yang dibintangi Salman Khan ini dirilis pada tahun 2015 lalu, tepatnya tanggal 17 Juli, seminggu setelah perayaan Idul Fitri. Sambutan penonton luar biasa. Pada Minggu pertama setelah dirilis, film ini meraup pemasukan hampir 700 milyar rupiah! Film ini memecahkan rekor box office di India dan luar negeri. Tentu ada alasan mengapa film ini begitu luar biasa. Dalam tulisan ini, saya tidak akan mengulas alur ceritanya. Karena bagi penikmat film, spoiler lebih kejam daripada kehilangan sandal di masjid. Silakan tonton film tersebut di sini.
Pertama kali aku mendengar film ini dari tetangga kamar. Saat berbincang-bincang mengenai film, ia mengatakan ada satu film yang membuatnya terisak-isak. Aku hampir tidak percaya kalau teman yang satu ini menangis. Sebab wajahnya terlihat seperti tampang kriminal, lebih kriminal dari sosok Joker sekali pun. Namun aku adalah orang yang mudah penasaran. Karena terus ditekan untuk menonton, walhasil malam ini aku buka youtube dan mencari judul filmnya. Alhamdulillah, dapat!
Seperti kebanyakan film India, durasi film ini cukup panjang, sekitar 2,5 jam. Tetapi durasi lama itu tidak terbebani karena alur film ini mengalir seperti kali code saat hujan turun. Beberapa scene nyanyi dan joget yang menjadi khas film bollywood semakin menyegarkan mata karena aksi Kareena Kapoor (sebagai Rasika), pujaan alam fantasi.
Sedikit ulasan mengenai film ini (dan bukan spoiler, loh!). Film ini mengambil setting India dan Pakistan, dua negara yang berseteru secara politik. Sentimen kedua negara begitu melekat pada diri masing-masing warganya. Sejarah masa lalu kedua negara membuat hubungan antar warga juga kurang harmonis, bahkan hingga sekarang. Di tengah ketidakharmonisan hubungan kedua negara, seorang gadis bisu Pakistan berusia 6 tahun bernama Shahida (diperankan Harshaali Malhotra)  tersesat di India.
Pada awalnya ia dan ibunya tengah melakukan perjalanan pulang dari India menuju ke Pakistan setelah mengobati bisunya. Ia turun dari kereta api ketika kereta berhenti sejenak karena melihat anak domba. Sial baginya karena kereta tak lama kemudian bergerak. Saat kereta jalan, ia tidak bisa mengejar kereta tersebut. Takdir dari penulis skenario kemudian membawanya bertemu dengan Pawan atau Bajrangi (diperankan Salman Khan).
Bajrangi adalah seorang yatim yang tengah berusaha menebus syarat untuk menikahi mbak Rasika di Delhi. Saat ia membawa anak kecil itu ke rumah orang tua Rasika yang Hindu, permasalahan mulai muncul. Terlebih saat ayah Rasika mengetahui bocah cilik itu warga negara Pakistan dan beragama Islam. Ia pun menuntut Bajrangi untuk mengembalikan gadis cilik ke negara asalnya. Bajrangi menyanggupi. Tapi sial baginya, seluruh agen gas tidak ada yang mau membuatkan paspor Pakistan! Tetapi ia berjanji pada dewa Hanoman untuk mengantarkan bocah cilik itu ke orang tuanya. Bagaimana pun caranya!
Karena janji pada dewa Hanoman, Bajrangi nekat memasuki Pakistan tanpa menggunakan paspor dan visa. Karena Bajrangi adalah seorang pengikut dewa Hanoman yang menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, ia memasuki kawasan berbahaya itu dengan modal kejujuran pula. Kejujuran inilah yang membuatnya nyaris terbunuh. Tetapi cinta membuatnya tetap setrong. Lika liku perjalanan Bajrangi menuju rumah orang tua Shahida inilah yang sangat menarik dan membuat kedua bola mata dihiasi air mata.
Permusuhan pemerintah India dan Pakistan digambarkan begitu menyengsarakan warga kedua negara. Bagaimana pun, rakyatlah yang menjadi korban. Agaknya film ini memberi pesan kepada warga India dan Pakistan untuk berdamai. Layaknya sejoli yang sepakat untuk berpisah, lebih baik berteman daripada terus memendam kebencian, apalagi saling teror. Lebih-lebih memposting gambar senonoh atau membuat status sadis via facebook mantan sebagai ekspresi kekecewaan. Jika tak bisa bersama, lebih baik bersahabat daripada terus bermusuhan.
Duh, malah gak jelas...
Selain aku, beberapa artis lainnya juga mengalami nasib yang sama, banjir air mata. Sebut saja kakak kelasku Amir Khan. Bahkan beredar gambar jika Kakak Amir matanya berkaca-kaca saat keluar dari gedung bioskop setelah menonton film ini.
NDTV.com
Memang KAMFRED sih. Adu akting Salman Khan dengan Harshaali Malhotra begitu natural. Aku sampai gemas melihat bagaimana sosok Shahida diperankan secara ciamik dan yahud oleh bocah enam tahun itu. Kutunggu dewasamu, dek!
Film ini mengemas kisah percintaan yang tidak biasa. Bumbu isu politik dan agama membuat film ini menjadi lebih kuat nilainya dan membuat aku berani menggaransi uang kembali seratus persen jika ada yang kecewa. Insya Allah waktu 2,5 jam untuk menonton film ini tidak akan sia-sia, minimal tidak sesia-sia nonton film bokep feminisme yang diperankan Miyabi. Bagi yang jomblo (dalam arti sebenarnya), film ini mengajarkan bahwa cinta tidak sesempit memberi bunga seseorang yang disukainya. Ada banyak cara untuk mengekspresikan cinta kita, terlebih jika cinta itu melibatkan nilai religiusitas dan humanisme.
Overall, okelah... Jika diangkakan, aku kasih nilai 8.5 untuk film ini.

Akhirnya aku ucapkan selamat menonton. Siapkan tisu yang banyak. 

Friday, December 18, 2015

Interaksi sebagai Kata Kunci

gambar: annida-online.com
Sekian banyak orang menentang proyek yang digagas oleh Dr. Eleanor Ann Alloway untuk menyelami alam raya dalam rangka menemukan makhluk hidup di luar bumi.  Proyek itu dilakukan karena adanya ‘kode’ dari ‘makhluk’ luar angkasa yang sempat ditangkap radio penelitian sang doktor. Ia berhipotesa bahwa ada makhluk tertentu yang ingin menghubungi manusia di bumi dan menyampaikan sebuah pesan melalui bunyi berpola. Penolakan proyek yang menelan biaya ratusan triliun dolar AS itu disebabkan karena proyek 'gila' itu bertentangan dengan nilai-nilai agama yang diyakini oleh pemeluk agama. Dalam berbagai agama disebutkan hanya bumilah satu-satunya tempat di mana makhluk hidup diciptakan. Tapi atas nama pencarian kebenaran, Dr. Eleanor yang ateis terus berjuang merealisasikan proyek luar angkasa tersebut.
Penggalan kisah dalam film Contact garapan sutradara Robert Zameckis yang diadaptasi dari novel karya Carl Sagan itu membuka mata saya tentang melihat kebenaran dari berbagai sudut pandang. Bagi seorang beragama, tentu menjadi pertimbangan utama untuk meletakkan dasar doktrin agama sebagai acuan utama. Tetapi apakah saya yang muslim harus memaksakan seorang Eleanor yang ateis untuk sama-sama memahami kebenaran dari sudut pandang Islam? Tentu saja memaksakan kebenaran semacam ini kurang arif. Terlebih jika melihat bagaimana realitas kebenaran memiliki tolak ukur yang beragam.
Sehari setelah menonton film Contact yang kata Joko Anwar merupakan film paling religius baginya, saya berkesempatan mengikuti sebuah kajian menarik bersama seorang teologis dari Universitas Notre Dame Amerika. Ia bernama Mun’im Sirry yang membuat heboh karena ‘berani’ menulis sebuah renungan panjangnya berjudul Kontroversi Islam Awal. Buku tersebut heboh karena memuat banyak literatur yang bagi kebanyakan orang muslim dianggap tabu, saru, pamali, bid’ah, sesat dan istilah-istilah lain yang sepadan. Dan berikut saya akan mengulas beberapa poin yang saya tangkap dari kajian malam ini.
“Jika ingin melihat Alqur’an maka lihatlah kitab-kitab lain yang berinteraksi dengannya. Jika ingin melihat Alqur’an dari sudut pandang muslim, bacalah tafsir-tafsirnya.” Kurang lebih itu kalimat kunci dari Mun’im Sirry (selanjutnya saya sebut Cak Mun) yang menjadi pengantar NGOPI (Ngobrol Pintar) bertema ‘Alqur’an dan Sejarah Islam’ di griya Gusdurian, Timoho, Yogyakarta.  Dari kalimat pengantar itu, tampak sebuah ajakan dari Cak Mun bagi peserta diskusi untuk mau membuka pikiran selebar dan seluas-luasnya. Ia mencontohkan para akademisi Barat tidak melakukan pembacaan terhadap Alquran melalui tafsir-tafsir yang ditulis oleh ilmuwan muslim, tetapi mereka membaca Alquran dari berbagai literatur yang memiliki interaksi dengan Alquran.
Pernah dalam sebuah kelas, seorang ustad saya mengatakan bahwa Islam memiliki kesinambungan dengan agama-agama lain sebelumnya. Ia menyebut bahwa Islam adalah agama yang menghapus agama sebelumnya karena dianggap telah menyimpang dari ajaran tauhid. Begitu pula dengan Alquran yang jika dipahami akan memiliki banyak kemiripan kisah dengan kitab-kitab suci lain di dunia. Karena Alquran diturunkan sebagai kitab penyempurna dari kitab-kitab lain yang sudah diturunkan berabad-abad sebelum era Nabi Muhammad SAW. Pendapat ini memiliki perbedaan dengan sudut pandang yang ditawarkan cak Mun, bahwa ia lebih memilih menggunakan redaksi interaksi Alquran dengan kitab-kitab lain dibanding menyebutnya sebagai pengganti kitab-kitab terdahulu. Ia juga kurang sreg jika ada yang mengatakan Alquran dipengaruhi Bibel, dan atau sebaliknya. Sekali lagi ia lebih oke menggunakan redaksi interaksi.

Injil dan Nasrani
Sebelumnya, saya menekankan bahwa apa yang saya tulis berikut ini merupakan penangkapan saya terhadap materi yang disampaikan oleh Cak Mun. Mungkin subjektivitas saya membuat konten tulisan berikut ini menjadi tidak sesuai. Namun saya menjamin tidak ada usaha dari saya untuk mengubah substansi dari diskusi malam ini. Untuk itu bila ada kesalahan, mohon agar diluruskan.
Di dalam Alquran sering disinggung mengenai kitab-kitab suci yang diturunkan sebelum Alquran. Kitab-kitab tersebut merujuk pada Injil, Taurat, dan Zabur. Sering kali pula para akademisi muslim menyebut kitab-kitab sebelum Alquran sudah tidak berlaku karena digantikan oleh Alquran. Alasannya adalah karena kitab-kitab tersebut tidak lagi otentik. Logika ini dipertanyakan oleh Cak Mun. Ia bertanya, “Bagaimana bisa mengatakan bibel yang ada saat ini salah jika tidak pernah ditemukan yang asli?”
Ia menyebut ada cara pandang yang berbeda dari muslim dan kristen pada umumnya mengenai Injil. Perlu diketahui pula bahwa Injil merupakan sejarah hidup Yesus yang ditulis oleh beberapa orang muridnya. Maka ditemukanlah berbagai versi Injil yang ditulis oleh murid Isa AS yang berbeda-beda. Perlu diketahui pula bahwa munculnya ajaran kristen tidak terekam baik sebagaimana kemunculan agama Islam awal. Untuk itu banyak istilah-istilah yang masih rancu dipahami oleh banyak orang. Bahkan untuk menyebut orang yang mengikuti ajaran Yesus, terdapat berbagai pendapat. Di Indonesia dikenal ada dua pengikut Yesus, yaitu Kristen dan Katolik.
Cak Mun menjelaskan bahwa dalam budaya dan kitab suci mana pun, seseorang yang mengimani Yesus disebut sebagai kristen/ kristiani/ Christian dan bahasa lain yang secara redaksional tidak jauh berbeda. Dalam budaya Arab, orang yang mengimani agama Isa Al-Masih disebut sebagai al-masihiyun. Ia kemudian melontarkan sebuah pertanyaan, mengapa di dalam Alquran kebanyakan kata yang digunakan untuk menyebut pengikut Isa AS adalah kaum Nasrani? Dan inilah pentingnya melakukan pembacaan dengan kitab-kitab suci lain yang memiliki interaksi dengan Alquran.
Kata Cak Mun, dalam Bibel, tercatat hanya satu kali kata Nasrani ditulis yakni saat Tertulus menghakimi Paulus. Saat itu Tertulus mengatakan bahwa Paulus membuat kekacauan orang-orang Yahudi seluruh dunia dan ia disebut sebagai ketua sekte Nasrani. Paulus pada mulanya merupakan orang Yahudi bernama Saulus yang memerangi orang Kristen. Ia kemudian mengimani kristus karena sebuah sebab di Damaskus. Namun banyak yang mengatakan bahwa ajaran Paulus ditentang oleh kebanyakan orang kristen. Itu berarti satu-satunya redaksi Nasrani di dalam Bibel membahas mengenai sosok yang ditentang oleh mayoritas pengikut ajaran kristus tersebut. Lalu apakah Nasrani dalam Alquran (yang kerap ditentang) merujuk pada sekte yang dianggap sesat oleh orang Kristen itu? Wallahua’lam. Tetapi saya pernah mendengar jika kata Nasrani diambil dari kata Nazareth, tempat asal Nabi Isa As. Maka pengikutnya disebut Nasrani.
Selama ini saya pribadi mendapat informasi melalui website-website (yang kadang ekstrim) jika yang masih dibenarkan dalam Alquran adalah Nasrani, sedangkan kristen adalah sebuah sekte yang dibentuk belakangan, kongkritnya saat peristiwa Saulus menjadi Paulus. Tetapi penjabaran panjang lebar dalam diskusi ini mengubah segalanya. Perjumpaan saya dengan Cak Mun memancing saya untuk kembali mengkaji definisi yang sudah ada dalam benak saya sebelumnya. Ia juga menyinggung istilah mu’minum dan muslimun. Menurut Cak Mun, yang digunakan Alquran dalam menyebut pengikut Nabi Muhammad SAW adalah mu’minun, yang berarti mengimani kerasulan Muhammad. Bagi yang belum mengimani kerasulan Nabi Muhammad, mereka masih digolongkan muslimun. Pendapat ini sangat berbeda dari pelajaran agama yang pernah saya terima di bangku sekolah dulu. Mu’minun justru digunakan untuk semua komunitas yang beriman pada Tuhan yang Esa. Sementara muslimun hanya untuk menyebut komunitas muslim belaka. Wallahua’lam.

Halaman Belakang
Jika kebenaran adalah hal yang pasti, maka tidak ada pencarian-pencarian yang dilakukan untuk mengungkapnya. Jika tidak ada pencarian-pencarian, maka kebenaran telah menuntun sebuah peradaban untuk menjadi jumud. Barangkali ada hikmah mengapa kebenaran tidak pernah mewujudkan dirinya sebagai sebuah bentuk yang absolut. Jika saya berbicara dengan bahasa jurnalistik, kebenaran adalah bagaimana cara kita mengonstruksi sebuah realita. Angle atau sudut pandang menentukan bagaimana sebuah kebenaran itu dipilih.
Berbicara mengenai lintas agama dan lintas keyakinan memang tidak ada habisnya. Namun sangat disayangkan jika seseorang beriman hanya karena faktor kepasrahan. “Imannya seorang yang historis cenderung lebih kuat,” kata Cak Mun. “Saya tidak pernah takut apabila pencarian saya membuat iman saya berkurang,” sambungnya lagi. Justru pembacaan interaksi kitab suci Alquran dengan kitab-kitab suci lain membuatnya semakin memahami betapa romantisnya sang pencipta. Bukankah Ia yang Maha Benar tak pernah menampakkan wujudnya yang absolut?
Tema diskusi ini memang cukup berat. Dan bahkan beberapa orang yang hadir akan merasa panas dingin mendengar pernyataan-pernyataan lugas dan vulgar dari Cak Mun. Bagi saya pribadi, diskusi malam ini memantik rasa ingin tahu saya mengenai kajian lintas agama semakin terpacu. Tentu saja, banyak poin-poin tak terduga yang baru saya ketahui. “Oh, ternyata ada yang demikian, ya?” Batin saya tersebut mengemuka saat Cak Mun menceritakan seorang ilmuwan Barat bernama John W Brow mempertanyakan, benarkan Alquran turun di jazirah Arab yang primitif? Mas Brow sangsi jika Alquran yang sangat filosofis turun di tengah masyarakat yang menurut buku-buku sejarah Islam awal gemar membunuh bayi perempuan? Menurutnya, Alquran harusnya turun di sebuah peradaban yang sangat maju dan memiliki kajian-kajian intelektual. Mas Brow bahkan memiliki tesis jika Alquran turun di dataran Mesopotamia!
Akhirnya saya akan menutup tulisan ini dengan salah satu kajian yang sangat kontroversial dari Cak Mun. Di dalam forum NGOPI, sampai ada dua orang yang mempertanyakan mengenai ‘tafsir’ dari Cak Mun terkait surat Al-Kafirun. Konon pernyataan Cak Mun sampai memanaskan ruang diskusi di kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
“Saya heran, mengapa banyak orang hanya mengutip ayat terakhir dari surat Al-Kafirun untuk mengatakan bahwa Alquran adalah kitab toleransi?” ujarnya memberi pertanyaan. Ia sendiri menilai jika ayat yang berbunyi lakum dinukum waliyadin tidak bisa dimaknai sebagai ayat toleransi jika menyambungkannya dengan ayat-ayat sebelumnya. Misalnya saja redaksi ayat kedua laa a’budu maa ta’budun yang artinya saya tidak menyembah apa yang kamu sembah. Bagi Cak Mun, hal itu menunjukkan adanya eksklusivitas karena adanya penafian terhadap kepercayaan orang lain. “Di mana toleransinya?” ujarnya.
Berangkat dari kegelisahan karena tidak adanya ‘sambungan’ ayat lakum dinukum waliyadin dengan ayat-ayat sebelumnya, Cak Mun lalu melakukan penelitian. Ia mencari manuskrip-manuskrip kuno mengenai ayat-ayat tersebut di tujuh perpustakaan besar di dunia. Dari situ ia menemukan adanya problem terkait huruf alif yang ada di belakang huruf lam. Beberapa literatur awal menunjukkan adanya potensi perbedaan bacaan dari yang kita kenal saat ini (Alquran pada awal ditulis tanpa titik dan harakat, juga tanpa penambahan huruf alif untuk tanda panjang). Karena dalam bahasa Arab beda satu huruf bisa membuat makna yang sangat berbeda. Dalam ayat laa a’budu maa ta’budun (huruf lam disambung alif) berarti saya tidak menyembah apa yang kamu sembah. Tetapi jika tanpa alif, maka dibaca laa'budu maa ta'budun berarti saya sesungguhnya menyembah apa yang kamu sembah. Posisi huruf lam sebelum huruf alif berfungsi sebagai lam ta'kid, atau penegas. Ini, bagi Cak Mun, menunjukkan adanya sinergitas antara ayat lakum dinukum waliyadin dengan ayat-ayat sebelumnya. Dengan pendekatan ini pula menjadi semakin tegas jika Tuhan yang disembah oleh seluruh umat manusia adalah satu zat yang sama. “Dan semakin nyata jika surat Al-Kafirun memang mengandung ayat-ayat toleransi.”
Yang jelas, semua pendapat yang dikemukakan oleh Cak Mun tidak harus dibenarkan seluruhnya. Bagi orang yang setuju dengan gagasannya, silakan. Jika tidak pun tidak masalah. Toh, kebenaran hanyalah soal dari sudut mana sesuatu itu dilihat. Seperti Dr. Eleanor Ann Alloway pada akhirnya merasakan sebuah perjalanan misterius. Ia mengaku telah menembus lubang cacing dan masuk ke galaxy antah berantah. Padahal dari sudut pandang manusia yang hadir di acara peluncuran Dr. Eleanor ke luar angkasa, mesin yang akan mengantarkan Eleanor ke penjelajahan mengalami masalah dan akhirnya terjatuh ke laut. Namun dalam waktu yang sangat singkat, Dr. Eleanor mengaku menembus beberapa tempat di luar angkasa dan kemudian bertemu ayahnya di sebuah tempat. Ini, bagi Eleanor, merupakan pembuktian dari teori relativitas Einstein, bahwa waktu beberapa detik di Bumi bisa berarti beberapa jam atau hari di luar sana. Tetapi bagi orang yang tidak setuju dengan penjelasannya, maka dengan mudah Eleanor disebut berhalusinasi. Wallahua’lam.

Yogyakarta, 19 Desember 2015

Saturday, March 15, 2014

Dahsyatnya Propaganda Media dan Rekonsiliasi

Catatan Kecil Nonton Bareng Film Sometimes in April di Griya Gusdurian


Secara umum film ini membuat aku merinding. Peristiwa genosida di tahun matinya Kurt Cobain ini luput dari pengamatanku. Padahal, pembantaian yang terjadi selama 100 hari ini memakan korban 800.000 ribu jiwa! Di kurun waktu tersebut, dunia barat yang konon sebagai penjaga keamanan dunia mati kutu tak berdaya. Bahkan sekutu diyakini terlibat di dalam peristiwa mengerikan itu.
Sebuah negara di Afrika yang menjadi latar sejarah kemanusiaan ini bernama Rwanda. Di sana ada tiga suku yang tinggal, Hutu, Tutsi dan Twa. Hutu merupakan suku mayoritas sedang Twa paling sedikit jumlahnya. Di film itu, suku Hutu menginginkan adanya kekuasaan tunggal. Mereka menuntut pemerintahan diisi oleh orang sukunya. Karena presiden Juvenal Habyarimana merencana pembagian kekuasaan, militant Hutu tidak terima. Apalagi presiden mau mengangkat orang Tutsi sebagai wapresnya. Mereka menembak pesawat presiden hingga hancur. Mulai saat itulah pembantaian dimulai.
Para elit politik dan militer yang loyal kepada pemerintah dihabisi. Warga suku Tutsi yang tidak berdosa sekalipun dibunuh. Di hari pertama jumlah korban 8000. Hari ketiga 30.000. Hari ke-65 mencapai 620.000 jiwa. Yang menyedihkan, pasukan United Nation (UN, PBB) hanya menyelamatkan warga yang berkulit putih. Yang paling mengerikan adalah aksi pembantaian masal di sekolah St Maria. Seluruh murid ditembak secara keji di sebuah ruangan.
Menurutku wajar saja Barat tidak berusaha menengahi konflik yang terjadi antar suku itu. Alasannya tak lain dan tak bukan adalah karena Rwanda bukan negara yang punya nilai ekonomis. Dalam adegan film, Kapten Bagosora sebagai pemimpin pemberontak sampai mengatakan, “Kami tidak punya minyak. Lalu mengapa kalian kemari?” Beda sikapnya ketika Mesir atau negara penghasil minyak lainnya bergejolak, mereka segera ikut campur.
Hal yang menjadi fokus perhatianku adalah propaganda yang dilakukan oleh tokoh Honore Bartra. Ia merupakan pendukung gerakan pemberontak dan melakukan propaganda melalui saluran Radio Télévision Libre des Mille Collines (RTLM). Setiap waktu, radio tersebut tiada henti-hentinya menebar kebencian terhadap suku Tutsi sehingga membuat orang Hutu tersulut.
Dalam menyampaikan pesan propagandanya, suku Tutsi dianggap sebagai kecoa. Ada satu adegan di mana penyiar radio mengatakan, “Kecoa tetap melahirkan kecoa. Kecoa tidak bisa melahirkan kupu-kupu.” Bisa dikatakan, pekerjaan utama masyarakat Rwanda suku Hutu saat itu adalah memburu dan membunuh suku Tutsi.
Itulah hebatnya media. Secara tidak langsung film tersebut menyampaikan pesan bahwa media sangat berpengaruh terhadap aksi pembantaian itu. Dengan radio yang tiada henti menebarkan kebencian, masyarakat bisa langsung terpengaruh. Asumsi ini jika kita menganut teori peluru atau jarum hipodermik.
Menurut Katz teori ini berasumsi:
1. Media massa sangat ampuh dan mampu memasukkan ide-ide pada benak komunikan yang tak berdaya.
2. Khalayak yang tersebar diikat oleh media massa, tetapi di antara khalayak tidak saling berhubungan.

Rekonsiliasi ala Gus Dur
Saat sesi diskusi berlangsung, ada seorang peserta yang membandingkan konflik antar suku itu seperti konflik yang terjadi di Indonesia. Contoh yang belum lama terjadi adalah kasus Sampit-Madura, Sunni-Syiah dan komunisme. Beberapa kasus itu terjadi karena sikap sektarian yang kuat dan tidak mau menyelesaikan masalah lewat dialog.
Tragedi Rwanda juga disamakan dengan pembantaian 1965 dan 1998 yang menelan banyak korban jiwa. Persis seperti film ini, beberapa jendral yang terlibat berkilah bahwa mereka tidak melakukan pembantaian. Di film tersebut dikatakan, pemimpin bertanggung jawab atas apa yang dilakukan oleh anak buahnya. Jadi sangat tidak etis jika seorang pimpinan mengatakan “Bukan saya!”
Pembantaian Rwanda terjadi pada tahun 1994 dan diadili pada tahun 2004. Sementara di Indonesia, kasus 1965 atau 1998 belum juga dapat diselesaikan dan ditetapkan siapa yang bertanggung jawab atas pembunuhan besar-besaran itu. Kasusnya hampir sama. Di Rwanda siapa yang Tutsi dibunuh, di Indonesia siapa yang dianggap PKI dihabisi.
Karena acara nobar bertema Gus Dur, maka pertanyaannya adalah bagaimana Gus Dur merekonsiliasi peristiwa genosida di Indonesia itu? Untuk menjawab pertanyaan itu, aku mengutip penjelasan Mbak Tata. Pada tanggal 15 Maret 2000 (14 tahun silam), Gus Dur meminta maaf kepada korban 65 dan 98, baik sebagai presiden atau elit NU. Dia mengakui adanya keterlibatan oknum NU dan mengakui peristiwa itu benar-benar terjadi di Indonesia. Tidak ada yang perlu ditutup-tutupi.
Begitulah. Dalam menyelesaikan sebuah masalah harus diawali keterbukaan bersama. Seseorang bisa berkilah, namun sejarah yang benar selalu membuktikan. Di film yang luar biasa ini, sikap gentle diperlihatkan oleh Honore dengan mengakui keterlibatannya mengobarkan propaganda lewat media.
Saat ini peran media dalam mengangkat isu-isu perdamaian sangat dibutuhkan. Banyaknya kasus intoleran merupakan bukti bahaya yang mengancam keamanan negara. Sudah sewajarnya media ikut berperan dalam menjaga rasa aman dan nyaman. Jadi media tidak hanya mencari profit dari iklan apalagi menjadi agen politik.
Kini media sangat rajin mengiklankan banyak tokoh politik. Banyak yang menebar janji-janji masa depan lebih baik, tapi masa lalunya urung diungkap ke publik. Bahkan beberapa yang berambisi jadi pemimpin terlibat langsung aksi pelanggaran HAM. Di tahun politik ini, semoga masyarakat bisa menilai dengan baik calon pemimpinnya. Jangan sekali-kali lupakan sejarah, kata Soekarno.

Plosokuning, 16 Maret 2014
01:23 WIB

Untuk review filmnya, saya kopas dari Wikipedia saja:
Sometimes in April is a 2005 historical drama television film about the Rwandan Genocide of 1994, written and directed by the Haitian filmmaker Raoul Peck. The ensemble cast includes Idris Elba, Oris Erhuero, Carole Karemera, and Debra Winger.
The story centers on two brothers: Honoré Butera, working for Radio Télévision Libre des Mille Collines, and Augustin Muganza, a captain in the Rwandan army (who was married to a Tutsi woman, Jeanne, and had three children with her: Anne-Marie, Yves-André, and Marcus), who bear witness to the killing of close to 800,000 people in 100 days while becoming divided by politics and losing some of their own family. The film depicts the attitudes and circumstances leading up to the outbreak of brutal violence, the intertwining stories of people struggling to survive the genocide, and the aftermath as the people try to find justice and reconciliation.



Sunday, June 16, 2013

Manusia Bumi dan Langit

Lamunan 8

Setelah membaca novel JA Sonjaya berjudul Manusia Langit, ternyata keprimitifan sebuah pulau itu tidak dapat disalahkan begitu saja. Apalagi ketika memasukkan dogma agama yang bersebrangan dengan tradisi adat, maka perlu pendekatan yang tidak mudah. Namun tidak perlu membahas terlalu jauh isi buku luar biasa yang membuka mata lebih lebar bahwa di sana masih ada kehidupan yang berbeda. "Bumi itu satu, tapi dunia banyak," kata Fiqoh, tokoh perempuan yang muncul belakangan dalam novel tersebut.
Istilah manusia langit dan manusia bumi sebenarnya hanya kiasan. Ini memiliki benang merah dengan apa yang pernah dikatakan seorang kiai mengenai keoptimisan. Ya, optimisme yang tak jarang salah kaprah sehingga jika terjatuh akan luar biasa sakitnya. Seorang kiai pernah berkata, di atas optimis ada khayalan. Di bawahnya ada pesimis. Jadi optimis adalah pertengahan antara dua kutub yang bersebrangan.
Seorang siswa ingin jadi pilot dan optimis bisa mencapainya. Tapi ia justru bergelut dengan dunia presenter. Ya tidak akan nemu titiknya. Inilah yang disebut khayalan. Seorang memiliki kecerdasan intelektual luar biasa tapi takut menghitung 2 x 2 karena takut salah. Ini namanya pesimis. Sikap psimis membuahkan keraguan sedang optimisme yang berlebihan berakibat arogan. So, semua musti berada di jalur masing-masing.
Apa hubungannya dengan manusia bumi dan langit? Saya ingat seorang sahabat bertanya dalam suatu forum kepada narasumber. Ia merasa ironis karena teman-temannya memiliki sikap apatis terhadap persoalan struktural (baik negara, kampus dll). Mungkin, jika saya garis bawahi, kegundahan sahabat saya itu karena implikasi dari sikap apatis membuat mahasiswa menjadi bebek yang mudah dikendalikan oleh tuannya. Ketika suruh ke sana, ikut ke sana. Akibatnya tidak ada perlawanan jika suatu kebijakan melanggar hukum dan norma. Okelah, bisa diterima jika demikian.
Namun saya lebih mengelus dada apabila melihat orang sudah apatis terhadap hal-hal kecil. Misalnya saja mengenai isu-isu kemasyarakatan. Banyak yang sibuk menatap langit tapi lupa bahwa kaki masih di bumi. Sementara di sekelilingnya, orang-orang termenung karena tidak tahu apa yang akan diperbuat. Makanya ketika suatu ideologi masuk dan diterima, itu menjadi suatu kewajaran. Masuknya ideologi yang merongrong keutuhan NKRI salah satunya karena sikap elit negara ini yang terlalu memikirkan persoalan langit. Pesantren sibuk mikir akhirat. Siswa sibuk mikir SNMBPTN. Mahasiswa sibuk menatap gelar. Magister sibuk menulis syarat doktor. Doktor sibuk merubah nama menjadi profesor. Profesor? Ah, entahlah! Pendidikan sekarang lebih menanamkan nilai fly to sky, bukan back to village.
Ironis ketika masyarakat bumi masih belum mengerti cara bertani, orang langit berlomba-lomba memberi makan. Dan ketika orang langit kehabisan bahan makanan, orang bumi harus bagaimana? Sementara mereka urung mampu untuk bertani. Satu-satunya jalan ialah memakan temannya sendiri. KANIBAL! Ya, saling tikam. Biarlah jutaan orang menatap langit. Aku cukup melihat bumi sebagai sarana menjemput langit.