Showing posts with label Opini media. Show all posts
Showing posts with label Opini media. Show all posts

Wednesday, May 6, 2020

Obituari: Berpulangnya Didi Kempot & Nasihat Rasulullah untuk Mencintai dengan Sederhana

Hari ini muncul kabar duka tentang wafatnya seorang maestro Musik campursari Indonesia, Didi Kempot. Tentu hal tersebut mengagetkan mengingat beberapa minggu yang lalu Lord Didi masih manggung di sebuah acara amal.

Wafatnya The Godfather of Brokenheart, julukan Didi Kempot, mengingatkan saya pada percakapan setengah tahun silam. Di sebuah acara nasional pada bulan November, saya berkesempatan ngobrol dengan salah seorang teman tentang fenomena Didi Kempot. Ya, maestro campur sari itu sedang mendulang kejayaannya lagi setelah sekian lama tidak terdengar.

Seorang teman bernama Yusuf berujar, “Saya khawatir, lho.”

“Kenapa, Pak Dhe?” tanyaku. Pak Dhe adalah sebutan akrabnya.

“Habis menghilang kok tiba-tiba naik ke puncak,” ujar Pak Dhe dengan logat ngapaknya yang kental. Pak Dhe adalah orang yang mendalami spiritual Jawa. Ada banyak ajaran kebajikan yang biasa digunakan untuk membaca tanda.

“Bisa jadi waktunya tidak lama lagi.”

Ia mengibaratkan seperti ada orang yang punya riwayat sakit kronis tiba-tiba sembuh dan ceria. Biasanya itu tanda orang akan menghadap pada Yang Maha Kuasa.

Jadwal manggung Didi Kempot sangat padat. Di Jogja saja sepanjang Januari-Februari lebih dari lima titik. Ini yang saya ketahui.

Kebangkitan Didi Kempot ini luar biasa karena bisa masuk ke segmen urban millennials yang bahkan gak kenal bahasa Jawa. Ia sudah manggung di hampir semua televisi besar di Indonesia. Dan setiap Lord tampil, suasana selalu pecah. Penonton dan semua kru tidak segan untuk sama-sama bernyanyi dalam nada-nada kepedihan.

Pemandangan ini tentu sulit dibayangkan apabila melihat masa lalu musik campur sari Indonesia yang lebih banyak diputar di radio dan toko-toko penjual kaset bajakan. Atau lagu-lagunya diaransemen sebagai pengiring pertunjukan kuda lumping dan reog Ponorogo.

Namun Didi Kempot berhasil mengangkat pamor lagu-lagunya dan menjadikannya sebagai musik yang bisa dinimkati semua kalangan. Ia menjadikan campursari bisa didengar di hotel berbintang dan klab malam. Di acara pengajian akbar, ketika check-sound juga biasa mendendangkan lagu-lagunya.

Singkat kata, hampir setiap pertemuan yang menyediakan fasilitas sound system selalu diiringi lagu-lagu Didi Kempot. Seolah mustahil orang Indonesia tidak mengenal Didi Kempot yang setahun terakhir memiliki basis fans bernama Sobat Ambyar.

Hampir semua genre musik memainkan lagu Didi Kempot. Mulai dangdut pantura hingga Isyana Saraswati. Mungkin sebentar lagi ada seniman lagu islami yang mengaransemen lagu-lagu Didi Kempot dengan rebana. Atau mungkin sudah ada?

Dudu klambi anyar sing nang njero lemariku
Nanging bojo anyar sing mbok pamerke neng aku
Dudu wangi mawar sing tak sawang neng mripatku
Nanging kowe lali nglarani wong koyo aku
Neng opo seneng aku yen mung gawe laraku
Pamer bojo anyar neng ngarepku

Lagu-lagu Didi Kempot memang kebanyakan berisi tema patah hati. Tetapi lagu-lagu ini tidak absen untuk meramaikan resepsi pernikahan. Agak aneh memang. Tetapi musik Didi Kempot sudah melampaui kata-kata. Ia bisa mengalahkan arti patah hati meyakinkan menjadi sesuatu yang bisa untuk dirayakan.

Mungkin Didi Kempot mengamalkan sabda Nabi Muhammad SAW bahwa jangan berlebihan dalam mencintai seseorang dan jangan pula terlalu berlebihan dalam membenci. Cinta dan benci bisa bertemu dalam satu arus bernama patah hati. Ya, karena merupakan arus pertemuan, sudah sewajarnya patah hati pun tidak berlebihan.

Jika patah hati, enggak sekalian dijogeti? Merayakan kepedihan adalah bagian dari upaya menetralisir dari berbagai pengaruh di tengah keambyaran.

Wabah adalah diksi yang digunakan untuk menggambarkan pesona Didi Kempot. Bersamaan dengan hilangnya keramaian, kata wabah mulai digunakan untuk menyebut merebaknya virus bernama Corona yang membuat manusia harus banyak berdiam sepi. Meski demikian, Didi Kempot terus berupaya menebar bahagia. Konser di rumah aja Didi Kempot bahkan mendulang lebih dari 7 milyar rupiah untuk donasi!

Sebagai manusia wajar jika berkabung. Tetapi ingat apa pesan dari Didi Kempot tentang patah hati.
“Patah hati itu enggak usah dibawa terlalu jauh-jauh, jangan ngelamun terlalu panjang. Dibawa untuk hal-hal positif”.

Selamat jalan, legenda… Terima kasih telah memberikan secercah harapan pada umat yang merana dan nestapa akibat patah hati.

Artikel ini dimuat di Islami.co tepat di hari wafatnya sang legenda, 05/05/2020

Wednesday, April 22, 2015

Inovasi Ujian Digital*


sumber gambar: bestar.id
Mulai tahun ini, pemerintah melalui kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyelenggarakan ujian nasional (UN) model computer based test (CBT). Sistem ini mulai diujicoba di 585 sekolah dari total 70 ribu sekolahan di Indonesia. Walau baru di sebagian kecil sekolahan, inovasi pemerintah dalam menyelenggarakan UN ini patut diapresiasi.
Penggunaan teknologi IT memang harus diterapkan di segala lini kehidupan. Selain memudahkan, penyelenggaraan UN berbasis komputer menghemat biaya distribusi dan penggunaan kertas dalam jangka waktu yang panjang. CBT juga dapat mengatasi berbagai problem yang kerap menjadi kendala dalam penyelenggaraan ujian nasional selama ini.
Kendala yang kerap dialami pemerintah selama ini adalah soal distribusi. Dari tahun ke tahun, berbagai upaya telah dilakukan agar UN diselenggarakan tepat waktu. Namun kejadian keterlambatan distribusi, kekurangan soal, hingga soal-soal yang rusak masih saja terjadi. Peristiwa ini berimbas pada penundaan UN di beberapa sekolah. Kedua, ujian manual atau paper based test memerlukan penjagaan yang super ketat. Di beberapa daerah, pengawalan soal UN harus diperketat karena melewati medan yang cukup jauh. Jika tidak dikawal, dikhawatirkan terjadi banyak kecurangan. Toh, walau sudah dikawal sedemikian rupa, soal UN masih saja banyak yang bocor.
Ketiga, ujian manual kerap merugikan peserta dengan alasan-alasan nonteknis, misalnya penggunaan pensil yang palsu. Standar yang biasa digunakan dalam mengikuti ujian nasional adalah pensil jenis 2B. Kata 2B merupakan kode pensil yang memiliki kecerahan yang bagus. Sehingga ketika digunakan saat ujian hasilnya sangat terang. Penggunaan pensil yang palsu mengakibatkan hasilnya tidak terbaca oleh komputer. Imbasnya adalah peserta tersebut tidak lulus UN.
Bagaimana CBT mengatasi berbagai problema di atas? CBT bisa dikatakan sebagai inovasi yang sangat jitu dalam menjawab problema yang dialami pemerintah selama ini. Dengan menggunakan sistem komputer, pemerintah tidak perlu repot-repot mendistribusikan soal ujian. Pemerintah cukup mengirim file soal ke petugas yang telah disiapkan, lalu petugas tersebut mendownloadnya untuk kemudian diinstal pada sebuah aplikasi yang telah dibuat. Setelah selesai, jawaban yang sudah terkumpul di operator tinggal diupload ke server pusat. Keterlambatan distribusi tentu tidak terjadi lagi. Hal ini sekaligus meminimalisir resiko kecurangan pasca-UN. Penggunaan komputer sebagai basis ujian juga membuat resiko kegagalan karena faktor nonteknis seperti penggunaan pensil 2B palsu teratasi.  
Selain merencanakan berbagai persiapan CBT, pemerintah dan sekolah juga harus mengantisipasi terjadinya pemadaman listrik mendadak. Jika listrik padam, otomatis proses ujian sangat terganggu. Ada baiknya selama UN pihak sekolah menggunakan mesin genset atau pun diesel demi mengurangi resiko listrik padam ini. Setelah itu, pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap efektivitas UN computer based test ini. jika terbukti lebih baik, tidak ada alasan bagi pemerintah untuk tidak menerapkannya di sekolah-sekolah lainnya.
Yang perlu dilakukan pemerintah ke depannya adalah memastikan pemerataan UN CBT ke seluruh sekolah-sekolah di negara ini. Peer besar pemerintah adalah bagaimana sesegera mungkin daerah-daerah yang belum teraliri listrik dapat merasakan manfaat listrik tersebut. Bagaimana mungkin menggunakan perangkat komputer tanpa listrik? Selain itu penyediaan layanan jaringan internet perlu dilakukan di seluruh pelosok tanah air. Sebab internet sangat penting dalam rangka mengirim dan menerima data dari pusat ke daerah atau pun sebaliknya.
Semoga penyelenggaraan ujian nasional berbasis komputer ini membuat pendidikan di Indonesia semakin maju. Semoga.

*Tulisan ini pernah dimuat di rubrik 'Pojok Digital' Kedaulatan Rakyat edisi Senin, 20 April 2015

Friday, April 17, 2015

Medsos dan Nalar Kritis Mahasiswa

Kehidupan kawula muda termasuk mahasiswa dewasa ini tak bisa dilepaskan dari perangkat gadget. Perangkat ini memberikan berbagai fasilitas yang menunjang aktivitas cah enom, baik dari sisi akademis ataupun gaya hidupnya. Di bidang akademis, perangkat gadget berguna sebagai alat pencari informasi. Berbagai fitur yang tersedia bahkan bisa digunakan sebagai penyimpan file yang aman dan mudah.
Sebagai gaya hidup, gadget kebanyakan digunakan untuk berinteraksi lewat media sosial (medsos), selain juga digunakan untuk bermain game. Di Indonesia, jumlah medsos jumlahnya mencapai puluhan. Penduduk Indonesia yang jumlahnya ratusan juta tentu menjadi sasaran strategis untuk mempopulerkan berbagai jenis medsos berikut keunggulan fitur-fiturnya. Situs techinasia melansir jumlah pengguna medsos di Indonesia pada 2015 ini berjumlah 72 juta orang. Dari jumlah tersebut, 62 juta pengguna mengakses medsos lewat perangkat mobile. Hal ini yang membuat gadget dan medsos diibaratkan sebagai saudara kembar yang saling berhubungan.
Kemudahan serta murahnya biaya berkomunikasi lewat medsos membuat kawula muda mulai meninggalkan cara lama dengan berkirim short massanger service (SMS). Lewat medsos, seseorang bisa saling berkirim gambar dan file-file yang tidak disediakan lewat layanan SMS. Salah satu yang menarik bagi kawula muda khususnya mahasiswa adalah adanya fitur broadcast massanger (BM). Dengan BM, seseorang bisa mengirim informasi berantai ke banyak orang dengan sekali klik saja.
Bagi mahasiswa, era gadget dan medsos seperti saat ini merupakan sebuah tantangan yang nyata. Di satu sisi mahasiswa lebih mudah mendapat informasi dan melakukan interaksi tidak langsung secara lebih efektif, di sisi lain kekritisan seorang mahasiswa diuji. Banyaknya pesan-pesan broadcast yang masuk membuat seorang mahasiswa harus lebih cerdas dalam menyikapinya.
Akhir-akhir ini beredar sebuah BM yang mengajak seluruh elemen mahasiswa bersatu untuk melakukan demonstrasi besar-besaran pada tanggal 20 Mei 2015. Dalam pesan tersebut tertulis sebuah tuntutan agar presiden dan wakil presiden Indonesia turun dari jabatan politiknya sebagi kepala dan wakil kepala negara RI. Di pesan tersebut tertera nama Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) sebagai pihak penyelenggara. Berbagai reaksi muncul untuk menyikapi pesan tersebut. Ada yang bersemangat karena menganggap gerakan mahasiswa ‘bangun dari tidurnya’, ada yang menelusuri kebenaran isi pesan tersebut, dan ada yang acuh karena menganggap pesan tersebut merupakan spam.
Sebagai agen kontrol sosial, mahasiswa tentu harus bijak dalam menyikapi sebuah informasi yang diterima lewat medsos. Jangan sampai sebuah gerakan justru menjadi gerakan parsial dan hanya merupakan tunggangan kepentingan pihak-pihak tertentu. Terlebih jika pesan tersebut tidak didasarkan pada sebuah keputusan bersama yang mengikat, misalnya lewat agenda musyawarah besar.
Kemunculan BM tersebut memang tengah ramai diperbincangkan di kalangan mahasiswa. Saat penulis menelusuri informasi tersebut di website resmi BEM-SI, penulis tidak menemukan artikel yang berisi tuntutan serupa. Bahkan di akun twitter resminya, BEM-SI melalui retweet akun twitter koordinatornya membantah BM tersebut. Hal ini yang perlu dicermati agar mahasiswa tidak terjebak pada informasi yang tidak jelas kebenarannya.
Di era digital semacam ini, semua orang bisa dengan mudah membuat sebuah pesan berantai dan mengatasnamakan sebuah institusi tertentu. Kekritisan dan kejelian mahasiswa dalam menelusuri kebenaran informasi sangat diperlukan agar tidak menimbulkan keresahan-keresahan yang merugikan banyak pihak. 

*Tulisan ini pernah dimuat Swara Kampus Kedaulatan Rakyat,  Selasa 14 April 2015

Sunday, February 2, 2014

Menjadi Pemilih Ideal

Tahun 2014 disebut-sebut sebagai tahun pertikaian politik. Pada tahun ini, dipastikan persaingan antar partai kian memanas.  Hal ini sekaligus menjadi ujian bagi masyarakat untuk tidak terjebak dalam politik pragmatis. Masyarakat diharapkan memilih berdasar kapasitas seorang calon pemimpin.
Mahasiswa sebagai kaum intelektual harus memberi contoh kepada masyarakat dalam rangka memerangi politik pragmatis. Bagaimana caranya? Tentu bukan dengan menjadi golongan putih (golput). Mahasiswa diharapkan menjadi agen sosial yang menuntun bangsa ini menjadi pemilih yang ideal. Salah satu caranya dengan mengkampanyekan anti politik uang (money politic).
Politik uang ialah awal dari segala bencana bangsa. Seorang calon yang melakukan politik uang, ketika ia terpilih dan menjabat sebagai wakil rakyat, dipastikan ia akan mencari ganti uang yang telah dihabiskannya saat kampanye. Ini yang memicu terjadinya kasus korupsi. Untuk itulah, perlu diadakan pendampingan masyarakat dalam meminimalisir terjadinya politik uang. Bila perlu, adakan sayembara untuk melaporkan pelakunya.
Politik merupakan cara merebut kekuasaan. Dalam bahasa Arab, politik disebut siyasah yang artinya strategi. Dalam pertarungan politik, segala cara dihalalkan selama tidak melanggar konstitusi. Salah satu bentuk pelanggaran politik, selain politik uang, ialah kampanye hitam (black campaign). Banyak modus yang digunakan dalam melakukan kampanye hitam, di antaranya dengan menjatuhkan lawan politiknya dengan isu-isu SARA.
Banyak masyarakat yang memilih berdasarkan saran tokoh yang berpengaruh di lingkungannya. Hal ini sah-sah saja dilakukan. Namun, masyarakat yang seperti itu rawan dijadikan alat untuk kepentingan sesaat.  Sikap pragmatisme sangat berpotensi menjadi lahan subur kampanye hitam. Di Jakarta misalnya, modus kampanye hitam berbingkai agama pernah dilakukan terhadap pasangan Jokowi-Ahok. Seorang tokoh menghimbau agar warga tidak memilih pasangan tersebut karena berkeyakinan berbeda.
Masalah terbesar bangsa ini ialah masih berkutatnya masyarakat terhadap paham sekterian. Bagi masyarakat pragmatis, memilih bukanlah dari visi dan misi serta semangat yang ditunjukan calon pemimpin, tapi dilihat dari kesamaan dan penampilan luar. Masyarakat pragmatis juga memilih berdasarkan timbal balik yang diterimanya dari masing-masing calon. Siapa yang berani bayar lebih, maka medapat suara. Pemahaman politik semacam ini harus diluruskan sampai akar-akarnya.
Dalam sejarah Politik Islam, kemajuan dinasti Abasiyah merupakan buah dari sikap terbuka dengan budaya dan agama lain. Sikap sekterian Arabsentris yang menjadi praktik dinasti sebelumnya ditinggalkan. Bahkan khalifah, pemimpin tertinggi, memasukkan orang-orang yang berbeda agama ke dalam struktur pemerintahan. Sejarah inilah yang harus dipahami agar tidak terjebak pada pragmatisme.
Sebagai pemilih pemula, mahasiswa diharapkan tidak apatis terhadap politik. Ketika merasa panggung politik di Indonesia sudah tidak sehat, maka tugas dan kewajiban bersama bagaimana memperbaiki itu semua. Karena pada dasarnya, semua permasalahan bangsa berasal dari permasalahan politik.
Pesta demokrasi ada di depan mata. Saat-saat seperti ini, aksi sikut-sikutan antarpartai akan menghiasi kehidupan bangsa Indonesia. Idealnya, mahasiswa sebagai agen kontrol sosial turut berpartisipasi, bahkan mengawal prosesnya sejak masa kampanye hingga hari pemilihan kelak. Jangan sampai dengan apatisnya mahasiswa akan melahirkan pemimpin-pemimpin bangsa yang tidak berkompeten.