Showing posts with label Keislaman. Show all posts
Showing posts with label Keislaman. Show all posts

Wednesday, May 6, 2020

Obituari: Berpulangnya Didi Kempot & Nasihat Rasulullah untuk Mencintai dengan Sederhana

Hari ini muncul kabar duka tentang wafatnya seorang maestro Musik campursari Indonesia, Didi Kempot. Tentu hal tersebut mengagetkan mengingat beberapa minggu yang lalu Lord Didi masih manggung di sebuah acara amal.

Wafatnya The Godfather of Brokenheart, julukan Didi Kempot, mengingatkan saya pada percakapan setengah tahun silam. Di sebuah acara nasional pada bulan November, saya berkesempatan ngobrol dengan salah seorang teman tentang fenomena Didi Kempot. Ya, maestro campur sari itu sedang mendulang kejayaannya lagi setelah sekian lama tidak terdengar.

Seorang teman bernama Yusuf berujar, “Saya khawatir, lho.”

“Kenapa, Pak Dhe?” tanyaku. Pak Dhe adalah sebutan akrabnya.

“Habis menghilang kok tiba-tiba naik ke puncak,” ujar Pak Dhe dengan logat ngapaknya yang kental. Pak Dhe adalah orang yang mendalami spiritual Jawa. Ada banyak ajaran kebajikan yang biasa digunakan untuk membaca tanda.

“Bisa jadi waktunya tidak lama lagi.”

Ia mengibaratkan seperti ada orang yang punya riwayat sakit kronis tiba-tiba sembuh dan ceria. Biasanya itu tanda orang akan menghadap pada Yang Maha Kuasa.

Jadwal manggung Didi Kempot sangat padat. Di Jogja saja sepanjang Januari-Februari lebih dari lima titik. Ini yang saya ketahui.

Kebangkitan Didi Kempot ini luar biasa karena bisa masuk ke segmen urban millennials yang bahkan gak kenal bahasa Jawa. Ia sudah manggung di hampir semua televisi besar di Indonesia. Dan setiap Lord tampil, suasana selalu pecah. Penonton dan semua kru tidak segan untuk sama-sama bernyanyi dalam nada-nada kepedihan.

Pemandangan ini tentu sulit dibayangkan apabila melihat masa lalu musik campur sari Indonesia yang lebih banyak diputar di radio dan toko-toko penjual kaset bajakan. Atau lagu-lagunya diaransemen sebagai pengiring pertunjukan kuda lumping dan reog Ponorogo.

Namun Didi Kempot berhasil mengangkat pamor lagu-lagunya dan menjadikannya sebagai musik yang bisa dinimkati semua kalangan. Ia menjadikan campursari bisa didengar di hotel berbintang dan klab malam. Di acara pengajian akbar, ketika check-sound juga biasa mendendangkan lagu-lagunya.

Singkat kata, hampir setiap pertemuan yang menyediakan fasilitas sound system selalu diiringi lagu-lagu Didi Kempot. Seolah mustahil orang Indonesia tidak mengenal Didi Kempot yang setahun terakhir memiliki basis fans bernama Sobat Ambyar.

Hampir semua genre musik memainkan lagu Didi Kempot. Mulai dangdut pantura hingga Isyana Saraswati. Mungkin sebentar lagi ada seniman lagu islami yang mengaransemen lagu-lagu Didi Kempot dengan rebana. Atau mungkin sudah ada?

Dudu klambi anyar sing nang njero lemariku
Nanging bojo anyar sing mbok pamerke neng aku
Dudu wangi mawar sing tak sawang neng mripatku
Nanging kowe lali nglarani wong koyo aku
Neng opo seneng aku yen mung gawe laraku
Pamer bojo anyar neng ngarepku

Lagu-lagu Didi Kempot memang kebanyakan berisi tema patah hati. Tetapi lagu-lagu ini tidak absen untuk meramaikan resepsi pernikahan. Agak aneh memang. Tetapi musik Didi Kempot sudah melampaui kata-kata. Ia bisa mengalahkan arti patah hati meyakinkan menjadi sesuatu yang bisa untuk dirayakan.

Mungkin Didi Kempot mengamalkan sabda Nabi Muhammad SAW bahwa jangan berlebihan dalam mencintai seseorang dan jangan pula terlalu berlebihan dalam membenci. Cinta dan benci bisa bertemu dalam satu arus bernama patah hati. Ya, karena merupakan arus pertemuan, sudah sewajarnya patah hati pun tidak berlebihan.

Jika patah hati, enggak sekalian dijogeti? Merayakan kepedihan adalah bagian dari upaya menetralisir dari berbagai pengaruh di tengah keambyaran.

Wabah adalah diksi yang digunakan untuk menggambarkan pesona Didi Kempot. Bersamaan dengan hilangnya keramaian, kata wabah mulai digunakan untuk menyebut merebaknya virus bernama Corona yang membuat manusia harus banyak berdiam sepi. Meski demikian, Didi Kempot terus berupaya menebar bahagia. Konser di rumah aja Didi Kempot bahkan mendulang lebih dari 7 milyar rupiah untuk donasi!

Sebagai manusia wajar jika berkabung. Tetapi ingat apa pesan dari Didi Kempot tentang patah hati.
“Patah hati itu enggak usah dibawa terlalu jauh-jauh, jangan ngelamun terlalu panjang. Dibawa untuk hal-hal positif”.

Selamat jalan, legenda… Terima kasih telah memberikan secercah harapan pada umat yang merana dan nestapa akibat patah hati.

Artikel ini dimuat di Islami.co tepat di hari wafatnya sang legenda, 05/05/2020

Thursday, April 27, 2017

Lelaki Hijrah dan Jahiliyah



Carilah pasangan yang berkeadilan gender, begitu salah seorang dosen. Ia mewanti-wanti agar mahasiswanya tidak salah dalam memilih pasangan hidup. Salah pilih gubernur waktu Pilkada hanya menyesal lima tahun. Tetapi salah memilih pasangan? Bisa panjang urusannya.
Pesan ini secara eksplisit memang ditujukan kepada kaum muda, terutama mahasiswi di kelas sang dosen. Akan tetapi, pesan yang disampaikan ini sangat relevan ditujukan kepada semua kalangan. Bagi penulis, pesan ini menjadi titik awal ketertarikan penulis terhadap isu-isu feminisme yang sempat menguat beberapa tahun yang lalu, tetapi kemudian melemah beberapa waktu belakangan.
Mengapa dikatakan melemah? Munculnya banyak tokoh seleb agama yang mengampanyekan semangat patriarki adalah salah satu sebabnya. Ironisnya, pemikiran mereka yang menggiring perempuan kembali ke bilik dapur dan rumah tangga ini sangat digandrungi. Forum-forumnya selalu ramai. Tak jarang, forum tersebut dijadikan ajang menghabisi konsep keadilan gender yang sudah disuarakan sejak lama. Singkat kata, perempuan dianggap cukup untuk mengurus keperluan domestik rumah tangga, alih-alih turut beraktivitas dan berkarya di kehidupan.
Munculnya pemikiran semacam ini membuat dunia seakan mundur 1500 tahun ke belakang. Sebelum Islam datang, perempuan merupakan manusia kelas dua yang tidak memiliki hak bersuara. Perempuan bahkan dianggap aib oleh masyarakat. Hal ini bisa dilihat dari perilaku jahiliyah bangsa Arab yang mengubur hidup-hidup anak perempuannya karena merasa malu. Bangsa jahiliyah pun memperbolehkan seorang lelaki mengawini puluhan atau bahkan ratusan perempuan sekaligus. Setelah Rasulullah SAW mendakwahkan Islam, perempuan memiliki kehormatan yang sama dengan lelaki.
Hal ini dirasakan pula oleh sahabat Umar ibn Khattab RA. Khalifah kedua umat Islam ini berkata, “Pada masa jahiliyah, kami tidak pernah  memperhitungkan perempuan. Hingga Islam datang dan Allah SWT menyebut-nyebut mereka, barulah kami sadar bahwa mereka punya hak yang tidak bisa kami intervensi sama sekali.” (Fath al-Bari).
Islam datang untuk mendobrak tradisi patriarkis bangsa jahiliyah Arab yang menempatkan perempuan hanya sebagai objek. Pada perjalanan waktunya, banyak tokoh-tokoh perempuan Islam yang menjadi tokoh perubahan. Di Indonesia, kita mengenal banyak perempuan muslim yang dikenang sebagai tokoh emansipasi dan revolusi seperti Kartini, Dewi Sartika, Cut Nyak Dien, Cut Meutia dan lain sebagainya. Jika masih ada orang yang berpikir perempuan sebagai manusia kelas dua, patut dicurigai ia manusia yang seharusnya lahir 15 abad yang lalu.
Jika ingin menilik umat Islam yang ideal, lihatlah Islam pasca hijrah ke Madinah. Hijrah adalah titik balik perjalanan umat Islam dari masa kegelapan menuju sebuah era yang terang benderang. Di periode inilah diturunkan banyak ayat Al-Qur’an terkait akhlak, muamalah, yang termasuk juga di dalamnya tentang ayat-ayat keadilan gender.
Di masa kini, hijrah bisa dimaknai sebagai sebuah paradigma atau pola pikir masyarakat. Hijrah adalah simbol sebuah perubahan paradigma masyarakat dari konservatif menuju progresif. Bagaimana bisa melihat seseorang itu konservatif dan progresif? Lihatlah caranya memandang keterlibatan perempuan dalam segala aspek kehidupan.
Orang konservatif cenderung menolak keterlibatan perempuan dalam pembangunan sosial. Ia menilai tugas seorang perempuan hanya manak (melahirkan), macak (berias), dan masak. Perempuan yang sempurna adalah yang bisa menguasai ketiga hal tersebut. Perempuan yang berkenan untuk tidak keluar dari rumah barang sejengkal adalah favoritnya.
Sementara lelaki progresif memandang perempuan memiliki kesempatan dan peran serta tanggung jawab yang sama dalam pembangunan sosial. Ia memberi keleluasaan bagi pasangannya untuk melakukan hal-hal baik yang bermanfaat bagi sesama. Sebagaimana firman Allah SWT, sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.
Wallahua’lam.

Kongres Para Perempuan yang Bangkit



Saya dan Tim Pencari Jajan di KUPI


Hatoon Al-Fassi memberikan penjabaran tentang kondisi perempuan di negaranya, Arab Saudi. Di hadapan ratusan peserta seminar internasional, aktivis yang identik dengan pakaian tradisional Arab itu mengatakan perempuan di Indonesia jauh lebih beruntung. Terselenggaranya Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) yang didukung banyak kalangan, termasuk pemerintah, adalah bukti suara perempuan sangat dihargai di sini.
Hal senada disuarakan Zainah. Perempuan asal negeri jiran Malaysia itu mengungkapkan kekagumannya pada gerakan perempuan di Indonesia. “Mengumpulkan lebih dari 400 perempuan ulama di sebuah forum adalah hal yang luar biasa,” pujinya. Ya, gaung suara perempuan kembali meletup setelah sekian lama tak terlalu terdengar. Ribut-ribut Pilkada DKI beberapa waktu silam membuat negeri ini seolah-olah sesempit Jakarta saja. Kongres ini mengawali bangsa Indonesia untuk memikirkan sesuatu yang jauh lebih kongkrit daripada pesta politik lima tahunan.
Badriyah Fayumi, tokoh agama, mengatakan kongres ini sebagai panggilan iman dan sejarah. Kongres ini bukan saja melantangkan suara perempuan untuk memperjuangkan keadilan baginya, tapi juga mengingatkan kepada banyak orang betapa Islam sangat menjunjung tinggi martabat perempuan. Di masa lampau pun sudah banyak perempuan yang menjadi ulama.
Masriyah Amva, pengasuh Pesantren Al-Islamy Kebon Jambu tempat diselenggarakannya KUPI, menambahi bahwa perempuan bukan makhluk terbelakang. Baik lelaki dan perempuan diciptakan dengan derajat yang sama. Masriyah sekaligus menjadi contoh betapa pesantren yang dikenal sangat patriarkis bisa dipimpin oleh seorang perempuan. Lebih dari 1000 santri berada di bawah naungan Bu Nyai yang puitis itu.

Ulama Perempuan
Banyak yang bertanya-tanya, mengapa nama kongresnya ulama perempuan? Kok, ada lelakinya? Bukankah ulama, secara etimologi, sudah mencakup laki-laki dan perempuan? Hal ini tidak lain adalah sebagai penegasan. Istilah ulama perempuan itu pun bukan berarti ulama berjenis kelamin perempuan, tetapi ulama, baik laki-laki atau perempuan, yang memiliki pandangan yang berpihak pada perjuangan hak-hak perempuan. Jika  ulama itu perempuan maka disebut sebagai perempuan ulama.
Masriyah menjelaskan bahwa kongres ini terselenggara berkat perjuangan yang cukup melelahkan. Banyak pihak yang tidak menghendaki adanya kegiatan ini karena dianggap kebablasan. Padahal, acara ini murni untuk menyamakan persepsi banyak tokoh terkait pandangan Islam terhadap perempuan. Juga untuk merumuskan strategi besar peran perempuan dalam kehidupan.
Direktur Fahmina Institute KH Husein Muhammad mengatakan bahwa kongres ini adalah yang pertama diselenggarakan di dunia. Ia belum pernah mengetahui ada kongres serupa yang pernah diadakan di belahan dunia lain. Kata Kiai, Cirebon dipilih sebagai titik awal dan ia berharap akan ada kongres-kongres perempuan lain di kemudian hari. Tidak hanya Indonesia, tapi juga seluruh dunia.
Umi, salah satu peserta dari Aceh, mengaku mendapat banyak manfaat dari kegiatan ini. Perempuan bercadar yang memiliki majlis pengajian itu menyadari bahwa banyak hal bisa dilakukan oleh perempuan. ‘Kita tidak hanya bekerja di dapur dan kasur, tapi bisa jauh lebih dari itu,’ ujarnya. Ia menilai KUPI patut diselenggarakan di berbagai wilayah agar menimbulkan kesadaran bersama terkait peran perempuan. Terlebih bagi orang sepertinya yang juga bekerja di LBH bagian kekerasan seksual dan perlindungan anak.
Perempuan seringkali dipersepsikan sebagai kaum yang lemah dan dipersalahkan. Padahal kenyataannya perempuan itu memiliki kekuatan yang sangat besar.  Di kongres ini, dibahas pula peran perempuan dalam meningkatkan mutu pendidikan hingga menyoal ekologi, bukti bahwa perempuan bukanlah makhluk domestik yang hanya akrab dengan kasur, dapur, dan sumur.

Poligami Menurut Perempuan Sedunia
Acara ini bernama Kongres Ulama Perempuan Indonesia. Walau secara nama skalanya nasional, tapi peserta kongres berasal dari berbagai negara. Tercatat ada 16 negara yang berpartisipasi di kegiatan ini.
Salah satu bahasan lama yang masih menarik ialah poligami. Beberapa orang menganggap poligami diperbolehkan karena di Al-Qur’an teksnya memperbolehkan seorang lelaki menikahi hingga empat istri. Tetapi banyak pula yang mengatakan tidak diperbolehkan, sebab di Al-Qur’an ada syarat khusus bagi seseorang yang menghendaki poligami: adil.
Ulfat H Masibo, seorang perempuan ulama dari Nigeria menegaskan diperbolehkannya poligami hanya dalam satu kondisi, yaitu seorang suami bisa adil. Jika tidak, maka poligami tidak diperbolehkan. Sementara Rafatu Abdul Hamid (Kenya) menilai poligami acap kali melanggar hak-hak perempuan. Pun, bagaimana bisa berbuat adil kepada lebih dari satu orang?
Penolakan poligami pun disuarakan ulama asal Pakistan Bushra Qadeem Hyder. Ia mengkritik dalih diperbolehkannya poligami berdasar ayat suci. Tetapi para pelaku tidak mengetahui syarat dan kondisi diperbolehkannya poligami ini sehingga yang terjadi adalah eksploitasi pada perempuan. Kongres ini mengingatkan saya suatu kali disodori pertanyaan, bolehkah poligami? Dengan sedikit guyon saya pun menjawab, "Halah, satu saja belum berani kok mikir poligami." Ketika diburu dengan pertanyaan yang sama, jawabanku hanya, "Jika kau tanyakan padaku, maka jawabannya sama dengan lubuk hatimu. Bisakah adil kepada lebih dari satu orang?"
Bagi saya yang mengikuti kongres ini sejak hari pertama, saya terkesan dengan cara perempuan mendobrak stigma negatif yang ditujukan kepadanya. Tidak berlebihan jika Nyai Umdah (Jombang) mengatakan kongres ini lebih tepatnya sebagai hari kebangkitan yang menyejarah. Mereka menggunakan cara elegan untuk berteriak melalui KUPI.
Kongres yang awalnya banyak diragukan hingga dicibir perlahan mendapat tempat di hati banyak orang. Di hari penutupan, GKR Hemas dan Menteri agama Lukman Hakim Saifuddin memberikan apresiasi luar biasa atas terselenggaranya kongres ini. Lukman sampai menyatakan kesiapannya mendirikan sebuah Ma’had Aliy yang diperuntukkan untuk mengader ulama perempuan.
Salah satu yang luar biasa di KUPI adalah ketiadaan batas peserta yang ikut di kongres ini. Mereka datang dari berbagai lintas organisasi dan mazhab. Perbedaan cara pandang fikih disingkirkan demi mengkaji hal-hal pokok yang bertujuan menghadirkan keadilan bagi perempuan.
Di kongres ini saya menjumpai keragaman, mulai yang mengenakan kerudung, jilbab, cadar, hingga tanpa tudung. Mereka sama-sama berada di satu forum, saling berbincang terkait isu perempuan, KDRT, penyakit, dan lain sebagainya. Umi, peserta dari Aceh itu salah satu peserta yang membuat saya terkesan. Di balik cadarnya, ia adalah pribadi yang sangat bersahabat, jauh dari stigma negatif pengguna cadar sebagaimana sering saya dengar.
Sesaat setelah diwawancara, Umi menepuk pundak saya dan mendoakan, “Semoga sukses!”. Sebuah doa yang langsung saya amini. Ketika akan pulang, saya sempat bertemu dengan Umi. Ia menghampiri saya dan menyodorkan tangannya di balik kain hijabnya. Aku pun langsung menyambut dan menyalami sembari mengecup tangannya, seperti budaya pedesaan pada umumnya.[]

Tuesday, March 28, 2017

Bincang Santai tentang Wilayah yang Memerah


Bersama Mbak Dina Y. Sulaeman, penulis buku Salju di Aleppo
Kang Abad adalah teman saya yang pernah mengenyam bangku pendidikan di Libya, sebuah negara di Timur Tengah. Ia merasakan bagaimana mencekamnya situasi negara tersebut pada tahun 2011, yang membuatnya harus meninggalkan bangku kuliah lebih cepat demi alasan keamanan. Di tahun itu, Moammar Khadafi, sang presiden yang berkuasa puluhan tahun, tewas dikeroyok massa.
Libya bukan satu-satunya negara yang bergejolak. Sebelumnya, Tunisia lebih dulu memanas yang berujung pada jatuhnya pemerintahan Zine El-Abidine Ben Ali. Dalam waktu yang tidak berselang lama, Mesir, Kuwait, Lebanon, Yaman, Suriah dan banyak negara lainnya ketularan hobi demo. Mereka menuntut demokratisasi yang mengatur batas maksimum periode kekuasaan seorang presiden.
Arab Springs (the great middle east)
Di banyak negara itu, sebagian besar pemimpinnya berhasil ditumbangkan oleh gelombang aksi massa. Jika beruntung, para pemimpin itu bisa melarikan diri dengan selamat ke nagara lain. Jika tidak, nasibnya seperti Moammar Khadafi. Namun ada satu negara yang cukup kuat dalam menghadapi huru hara di negaranya, yakni Suriah yang dipimpin oleh Bashar Al-As’ad. Saat ini, di negara yang pernah jadi mercusuar kerajaan Islam itu masih terjadi perang saudara.

Konflik di Suriah
Saya secara pribadi kurang mengikuti isu Arab Spring, sampai pada kemunculan Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) di beranda media sosial saya. Ketika saya klik di google, muncul banyak berita mengenai gerakan masyarakat sipil bersenjata itu.
Ketertarikan saya semakin bertambah saat banyak teman saya mengutuk keras Bashar Al-As’ad karena dianggap melakukan genosida di negaranya sendiri. Bashar yang konon Syiah Dinaggap membantai warga Sunni yang menjadi mayoritas. Sampai-sampai muncul narasi seperti ini: waspadai Syiah karena mereka tega membantai muslim Sunni di Timur Tengah.
Kutukan pada Bashar semakin menguat di penghujung 2016 saat pemerintah membombardir kota Aleppo. Di banyak tempat muncul spanduk-spanduk bertagar #SaveAleppo. Teman saya yang sejak beberapa waktu anti dengan Bashar langsung menulis status makian terhadap pemimpin Suriah itu.
Sejak saat itulah, saya mencari tahu apa itu Aleppo, siapa sebenarnya Bashar Al-As’ad dan mengapa di Suriah terjadi konflik berdarah. Dan beruntung saya membaca ulasan konflik di Suriah ini dari Mbak Dina Y. Sulaeman melalui blognya. Semakin beruntung karena saya bisa bertemu langsung dengannya di malam hari ini. Tulisan ini adalah refleksi saya terkait ngobrol santai dengan Mbak Dina.
Sebelum krisis, Suriah termasuk negara dengan tingkat kriminalitas terendah di dunia. Kota-kotanya tidak begitu besar, tapi cukup indah. Di negara ini banyak peninggalan kuno yang menjadi salah satu daya tarik wisata para pelancong. Hingga pada satu waktu, terjadi demonstrasi untuk menuntut adanya maksimum periode kekuasaan. Permintaan ini pun direspon dengan dihapusnya state emergency law dan diadakannya referendum UUD baru Suriah yang membuat seorang presiden memiliki batas waktu berkuasa (26 Februari 2012).
Aleppo before the war (Huffington Post)
Pada tahun 2014, negara sosialis sekuler ini mengadakan pemilihan umum. Bashar Al-As’ad yang telah berkuasa sejak tahun 2000 terpilih dengan prosentase suara 88,7%. Sebuah angka yang fantastis. Di sisi lain, sebagian warga bergabung dengan kelompok milisi bersenjata untuk menentang kekuasaan Bashar Al-As’ad. Mereka menuntut ditegakkannya sebuah negara berdasarkan sistem khilafah.
Beberapa wilayah berhasil mereka kuasai, salah satunya adalah kota Aleppo Timur. “Para milisi bersenjata inilah yang diperangi oleh Bashar,” ujar Mbak Dina menjelaskan. Sebelum menggempur Aleppo, Bashar lebih dulu memberi waktu agar penduduk sipil bisa meninggalkan medan pertempuran itu. Namun setelah beberapa waktu, tidak ada penduduk yang meninggalkan kota. Ternyata, mereka diancam akan ditembak oleh milisi bersenjata jika berusaha meninggalkan Aleppo. Hal ini terkonfirmasi dengan adanya laporan dari PBB yang menyebut adanya puluhan warga yang mati ditembak.
“Ada yang bilang ini ulah tentara Suriah. Tapi coba dipikir dengan jernih. Saat itu tentara Suriah belum masuk ke Aleppo karena menunggu warga dievakuasi. Bagaimana mungkin para tentara negara yang menembaki para warga?” tanya Mbak Dina. Pernyataan ini saya konfirmasi dengan laporan dari akun twitter centang biru Yusha Yuseef @MIG29_, reporter The Arab Sources, selama krisis Suriah memuncak.
Dari akun ini pula, saya mengetahui adanya kiriman puluhan bus dari pemerintah yang mengangkut para milisi bersenjata untuk meninggalkan Aleppo. Para milisi itu pindah ke Idlib, sebuah kota yang mereka kuasai. Pada malam natal, Aleppo berpesta karena berhasil mengusir para pemberontak. Menurut Mbak Dina, sikap pemerintah Bashar yang sedemikian menunjukkan pemerintah tidak semena-mena dalam menyikapi konflik di negaranya.

Beberapa Alasan Konflik
Suriah adalah negara gurun. Tentu banyak sumber energi tak terbarukan di sana, utamanya sektor migas. Inilah kepentingan negara-negara kuat untuk memperebutkannya.
Dalam upaya memerangi milisi, militer Suriah dibantu oleh negara sahabat mereka yaitu Iran, Tiongkok, dan Russia. Negara-negara ini tentu saja mempunyai kepentingan di Suriah, utamanya Russia yang sudah melakukan investasi besar-besaran di sektor migas. Karenanya, tidak mengherankan jika Putin membela mati-matian Bashar.
Lalu mengapa ada konflik? Ada puluhan ribu pasukan yang datang dari 100 negara untuk menduduki kota-kota di Suriah. Para milisi ini bergabung dengan bermacam-macam organisasi, mulai ISIS hingga Al-Nushra. Tujuan mereka sama, mendirikan sebuah negara khilafah. Inilah yang dilawan oleh rezim Bashar Al-As’ad dan aliansinya.
Yang mengejutkan, dari bocoran WikiLeaks, disebut bahwa AS merupakan donatur gerakan ISIS. Mereka menyuplai senjata dan mengadakan pelatihan militer.

Media Sosial dalam Konflik
Selama konflik berlangsung, media sosial menjadi penggerak mesin perdebatan yang sangat sengit. Situasi itu merembet ke Indonesia. Di Indonesia, narasi kekejaman Bashar menjadi pembicaraan yang banyak dibincangkan. Terlebih saat seorang bocah bernama Bana Alabed (@AlabedBana) rajin ngetwit tentang ‘kondisi’ Aleppo. Gadis cilik berusia 7 tahun itu kerap menulis ‘situasi’ menggunakan bahasa Inggris yang sangat sempurna.
Twit-twit Bana ini sempat dicapture oleh beberapa teman saya yang anti Bashar sebagai ‘bukti’ kekejaman pemerintah Suriah. Walau belakangan diketahui akun itu dikelola oleh ibu bocah itu yang di akun pribadinya terdapat foto dirinya menenteng senjata laras panjang. Sementara ayahnya sering mengunggah foto-foto bersama milisi bersenjata. Lha kok?
Akun Bana ini tidak sendiri. Banyak akun lain yang turut memberitakan hal-hal yang diada-adakan. Dalam bahasa gaulnya, akun-akun tersebut menyebar berita HOAX. Saat evakuasi berlangsung, mereka membuat video yang intinya berpamitan, mengatakan mungkin hari itu adalah hari terakhir mereka karena sebentar lagi rezim Bashar akan membantainya. Ajaibnya, sehari kemudian wajah mereka nongol di beberapa stasiun televisi.
Tetapi apa boleh buat. Keberadaan akun-akun ini terlanjur dianggap sebagai saluran informasi para ‘mujahidin’ yang ‘membela agama’ di negara sekuler Suriah. Teori jarum hipodermik yang ketika saya kuliah dianggap sudah usang, justru menjadi relevan di saat manusia modern sudah berkenalan dengan istilah literasi media.  
Saking gregetannya, untuk menantang tuduhan genosida, Mbak Dina meminta untuk ditunjukkan satu foto saja terkait kejahatan Bashar. Ia telah melakukan analisis beberapa foto propaganda yang beredar, dan semuanya tidak terkait dengan  konflik Suriah.
Lalu apa tujuan dari berita HOAX itu? Salah satunya tentu memenangkan pertarungan wacana di dunia maya. Tapi yang tidak banyak disadari, mereka tengah mengaduk emosi banyak orang di dunia supaya tergerak berdonasi melalui saluran-saluran yang telah mereka persiapkan. Yah, namanya juga perjuangan membutuhkan dana yang tidak sedikit. Maka tidak mengejutkan apabila ditemukan kardus bantuan yang berasal dari Indonesia masuk ke markas milisi bersenjata di Aleppo.

Indonesia dan Suriah
Konflik Suriah bukan tidak mungkin terjadi di Indonesia, ujar Mbak Dina. Pendapat ini pernah saya dengar di beberapa forum, termasuk yang diselenggarakan oleh BNPT. Di Indonesia narasi-narasi yang digunakan untuk mengguncang Suriah mulai diterapkan kepada pemerintahan saat ini.
Beberapa narasi seperti pemerintah menzalimi umat Islam, demokrasi sistem gagal, pemerintah bersekutu dengan komunis dan lain sebagainya sudah berseliweran di media sosial. Ajakan untuk melakukan penggulingan terhadap pemerintah yang sah pun mulai digaungkan. Untungnya pembelian senjata di Indonesia sangat ketat prosedurnya. Jika mereka bisa mendapat akses senjata, bukan tidak mungkin negara ini memanas. Na’udzubillah.
Satu hal yang mengejutkan adalah tuduhan penistaan Al-Quran yang menjadi salah satu pemicu konflik Suriah. Bashar dituduh menistakan surat Al-Ikhlas karena ‘menganggap’ dirinya sebagai Tuhan. Padahal, tuduhan itu adalah HOAX. Tapi jutaan orang terlanjur percaya dan marah pada rezim yang menentang kesewenang-wenangan Israel di Palestina itu.  
Saya sendiri masih perlu membaca literatur untuk memahami secara utuh persoalan di Suriah. Namun diskusi dengan Mbak Dina, yang sudah melakukan banyak pengamatan dan riset, menambah banyak wawasan terkait krisis di negara itu. Walau karena pendapatnya, Mbak Dina kerap mendapat tantangan dari pihak-pihak tertentu. Ia dianggap mengada-ada hingga dilabeli Syiah. Tapi kebenaran harus disuarakan walau itu pahit.
Mbak Dina kemudian menjelaskan rasa syukurnya karena saat ini banyak alumni Suriah yang mulai berani buka suara untuk menjelaskan keadaan sebenarnya. Ia menilai muncul kesadaran di benak para alumni untuk mencegah Indonesia tercinta ini mengalami situasi pilu seperti Suriah. Wallahua’lam.

Berikut link pernyataan para alumni Suriah membantah HOAX seputar krisis Suriah sebagaimana dimuat situs NU Online