Sunday, June 30, 2013

Komunikasi Ukhuwwah Insaniyah; Menyambangi Vihara Mendut dan Candi Borobudur (2)

Meneropong Sejarah Bangsa; Mengamati Relief Candi Borobudur

Candi Borobudur merupakan salah satu candi Buddha terbesar di dunia. Candi ini pernah masuk sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Pada saat ditemukan pada awal abad ke-19 kondisi candi sudah rusak akibat tertimbun tanah selama bertahun-tahun. Penemuan candi tersebut membuat orang bertanya-tanya, sejak kapan bangunan itu ada dan kapan tertimbun dan oleh sebab apa bangunan sebesar itu terkubur, masih menjadi misteri. Dipercaya, Borobudur tertimbun oleh dampak letusan Merapi.
            Penamaan ‘Borobudur’ saja masih menjadi kontroversi. Ahli sejarah mengemukakan nama Borobudur pertama kali ditulis oleh Sir Thommas Stamford Raffles dalam bukunya “Sejarah Pulau Jawa”. Di masa pendudukannya, tepatnya pada tahun 1819 Borobudur mulai digali dan dikenal oleh dunia (wikipedia).
Kini buku-buku sejarah menerangkan bahwa candi tersebut dibangun oleh wangsa Syailendra yang beragama Buddha. Pencetus sejarah ini ialah J. G de Casparis, seorang sejarawan yang memperoleh gelar doktor (1950) atas desertasinya tentang Borobudur. Ia menggunakan prasasti Karangtengah dan Tritepusan untuk mendukungnya. Akan tetapi hal tersebut tidak didukung banyak bukti-bukti sejarah yang bisa menguatkannya. Segalanya hanya berupa dugaan-dugaan. Relief yang terdapat di dinding candi pun tidak bisa menggambarkan secara jelas.
Namun melihat bangunan Borobudur yang demikian, besar kemungkinan Borobudur merupakan peninggalan Buddha Mahayana. Karena dalam Mahayana memiliki filosofi semakin ke atas semakin dekat dengan pencerahan. Untuk itu bangunan Borobudur diberi tingkat-tingkat. Jika mengacu pada pendapat para ahli sejarah, bentuk relief itu merupakan penggambaran kehidupan masyarakat sekitar saat candi dibangun. Relief tersebut sekaligus menggambarkan bahwa nenek moyang Indonesia merupakan orang-orang yang berperadaban maju. Mereka menceritakan sejarah lewat huruf –huruf simbol dan dipahat secara apik di batu-batu candi. Hingga kini warisan kebudayaan itu masih dilestarikan oleh para pemahat di sekitar Muntilan.
Lalu ada yang mengatakan bahwa Borobudur merupakan jejak kerajaan Sulaiman yang hilang. Salah satu dasar hipotesis tersebut ialah adanya relief yang menggambarkan seekor burung membawa gulungan kertas. Di gambar lainnya ada gambar pak tua yang memberikan tongkat kepada seorang yang lebih muda. Menurut Fahmi Basya, gulungan tersebut ialah bacaan basmalah yang dikirimkan Nabi Sulaiman kepada Ratu Saba’ melalui perantara burung Hud Hud. Sementara tongkat ialah kepemimpinan Nabi Daud yang diteruskan oleh puteranya, Sulaiman.

Wallahua’lam.

Komunikasi Ukhuwwah Insaniyah; Menyambangi Vihara Mendut dan Candi Borobudur (1)


Buddha, Patung dan Ritual

Dalam ajaran Buddha terkenal sebuah kalimat yang bernilai filosofi tinggi, berisi itu kosong, kosong itu berisi. Bhikkhu Jotidhammo, ketua umum Sangha Theravada Indonesia menanggapi pertanyaan tentang makna kalimat tersebut dengan kata “sulit”. Ia menjelaskan bahwa untuk memahami kalimat itu harus menggunakan filsafat metafisik. Sebagai gambaran, ia mencontohkan sufisme dalam Islam. Menurutnya ajaran sufisme sangat dekat dengan Budhis. Bahwa ketiadaan itulah hakikat segalanya. “Hakikat dari segala sesuatu itu kosong.” Filsafat ini disebut filsafat sunyata kekosongan.
Patung, lilin dan dupa merupakan alat ritual yang tidak bisa dilepaskan dari agama Buddha. Paling tidak ini bayangan sebagian besar orang ketika mendengar tentang Buddha. Di tayangan-tayangan televisi dan film-film yang mengangkat latar belakang penganut Buddha adegan ini memang selalu ada. Bhikkhu memberi penjelasan bahwa semua itu hanya alat pendukung, bukan inti penyembahan. Bahkan patung Buddha yang kerap dikaitkan dengan penyembahan sebenarnya hanya ornamen, karya seni biasa.
Alat-alat “ritual” tersebut digunakan sekedar untuk pengikat emosional keagamaan para pemula yang ingin mendalami kebuddhaan. Bagi yang sudah menapaki tingkat lanjut (meditasi), terlebih yang sudah tinggi, alat-alat tersebut tidak lagi diperlukan. Karena meditasi sebagai bentuk ibadah mereka memang hanya membutuhkan konsentrasi. Sementara penggunaan sarana hanya akan mengganggu jalannya meditasi.
Patung Buddha ada salah satunya terpengaruh kebudayaan Hindu dan Yunani. Di banyak tempat patung digambarkan berbeda-beda. Khas patung Buddha di India berbeda bentuk wajah dengan Buddha di Thailand, Jepang, Sri Langka ataupun Indonesia. Itu karena patung Buddha selalu dibuat berdasar “wajah lokal”. Keaslian wajah sang Buddha sendiri tidak diketahui secara pasti.
Banyaknya patung yang terdapat di vihara-vihara dengan bermacam fungsi, yaitu fungsi ornamen dan ritual, menimbulkan pertanyaan. Apakah ada perbedaan mendasar dari kedua patung tersebut? Bhikkhu menjawab tidak ada beda antara patung ritual dengan ornamen. Semua hanya ditempatkan pada posisi masing-masing. Dalam agama Buddha patung sendiri merupakan hal baru. Sejarah patung dalam agama Buddha itu sendiri muncul 500 tahun setelah Buddha Gaotama meninggal. Hal tersebut terpengaruh oleh agama Hindu yang menyembah dewa-dewanya melalui patung. Sewaktu sang Buddha masih hidup, patung Buddha belum dibuat. Bahkan Buddha tidak menganjurkan umat-umatnya menghormat karena patung. Penggunaan patung sebagai media ibadah itu adalah pengaruh belakangan. Karena Budha tidak ada, maka patung dibuat dan dianggap simbol dalam agama Buddha.
Pembuatan patung ini seperti halnya pembangunan candi Prambanan dan Borobudur. Kedua tempat ibadah itu dibangun dalam masa yang sama dan dibuat sebatas menunjukkan eksistensi kedua aliran agama yang pada saat itu menjadi paham kekuasaan. Prambanan dibangun oleh wangsa Sanjaya dan Buddha dibangun oleh wangsa Syailendra. Artinya, patung sebagaimana disebut di atas hanyalah simbolisme dari Buddha.
Peletakan patung-patung di Vihara sebenarnya murni faktor estetika. Bagaimana umat Buddha ingin tempat ibadahnya terlihat indah dengan bermacam bentuk patung-patung. Di Vihara Mendut, patung-patung yang ada banyak yang merupakan kiriman dari luar. Apakah semua vihara memasang patung sebagai ornamen? Ternyata tidak. Vihara tidak melulu berbentuk sebuah bangunan sebagaimana Vihara mendut.
Ada dua macam vihara yang ada. Vihara umum (biasa) adalah vihara sebagaimana yang banyak dijumpai, dan digunakan sebagai sarana pendidikan dan penerimaan tamu. Sementara vihara khusus ibadah suasananya lebih sunyi. Vihara ini disebut pula vihara meditasi atau vihara hutan. Vihara tersebut dikelilingi pohon-pohon dan berada di tempat sunyi seperti hutan. Di sana sama sekali tidak ada ornamen sebagaimana vihara biasa. Karena vihara meditasi dikhususkan untuk melatih mencapai pencerahan.
Untuk menjadi bhikkhu/bhikkhuni, seseorang harus menghindari segala bentuk hawa nafsu keduniawiyan, seperti menjalani apa yang disebut dengan sarebetan. Yaitu meninggalkan dunia rumah tangga, yang dalam bahasa sederhananya tidak boleh menikah. Lalu bagaimana cara meninggalkan hawa nafsu? Jawabannya, menurut Bikhu Jothidammo dengan meditasi. Dengan meditasi segala bentuk hawa nafsu dapat ditaklukkan. Karena meditasi dapat menurunkan gelombang hawa nafsu.  Maka semua bhikkhu/bhikkhuni dalam sehari lebih banyak melakukan meditasi.
Dalam kebiasaan umat Buddha, setiap orang yang sudah menjadi bhikkhu/bhikkhuni diberi nama keagamaan oleh gurunya. Akan tetapi nama tersebut bukan merupakan nama yang harus dipakai dalam keseharian sebagai warga. Dalam guyonan yang dilontarkan Bhikkhu Jotidhammo, “Tidak terlu merubah KTP.”
Dalam ibadah, umat Buddha yang masih mendalami kebuddhaan pada tingkat dasar menggunakan bermacam sarana dan ritual. Tapi kalau sudah meditasi tidak lagi memerlukan sarana-sarana sebagaimana orang yang baru di tingkat dasar. Kalau meningkat ke meditasi tidak lagi memerlukan upacara-upacara. Karena pada dasarnya meditasi hanya mengendalikan pikiran. Kalau meditasi menggunakan sarana malah mengganggu. Lampu dan wewangian misalnya. Jika ada seseorang melakukan meditasi menggunakan sarana lampu atau wewangian, maka konsentrasinya bisa terpecah akibat pendar cahaya dan baunya tersebut. Dalam tatacara beribadah, agama Buddha memandang dari tingkat religiusitasnya.

Perkembangan Aliran Buddha

Agama Buddha yang muncul di abad ke-6 sebelum masehi mengalami perkembangan yang sangat pesat dalam penafsiran ajaran yang memunculkan banyak aliran. Perkembangan aliran dalam Buddha tidak berbeda dengan Islam. Semua perbedaan muncul akibat perbedaan penafsiran ajaran. Akan tetapi di dalam agama Buddha ketidakadanya rambu-rambu perbedaan pendapat yang ada kemudian memunculkan banyaknya aliran tidak terkendali. Umat bebas menafsirkan apapun mengenai ajaran Sidharta. Saking bebasnya menafsirkan ajaran Buddha, ada umat yang tidak “mengakui” Buddha Gaotama. Selain itu muncul pula aliran yang mengatakan adanya Buddha baru. Di Jepang ada aliran Buddha bernama Nichiran. Buddha tersebut disebut sebagai Buddha mutakhir karena muncul belakangan. Munculnya aliran ini ialah karena sang bhikkhu yang mengajarkan ajaran Buddha sangat pintar dan dikagumi. Setelah ia wafat, pengikutnya menganggapnya sebagai Buddha mutakhir.
Walau perkembangan aliran tidak terkendali, para pemuka agama Buddha memiliki kualifikasi tersendiri mengenai aliran yang memang bisa disebut Buddhist. Mereka memiliki organisasi internasional World Federation of Buddhist yang “mengkualifikasi” aliran “resmi” dan tidak. dalam organisasi tersebut hanya aliran Theravada dan Mahayana yang bisa masuk. Berarti, WFB secara tidak langsung mengatakan bahwa Theravada dan Mahayana adalah aliran yang benar-benar Buddha.
Dalam praktiknya, para pemuka agama Buddha memang tidak bisa leluasa memberi pemahaman yang sama terhadap penganut Buddha aliran lain yang “menyimpang” dari ajaran Buddha. Akan tetapi, bhikkhu Jotidhammo berpendapat, Sulit!

Tentang Waisak

Salah satu hari terpenting dalam agama Buddha adalah hari raya Waisak. Hari tersebut merupakan peringatan kelahiran, pencerahan serta kematian Buddha Gaotama yang semua terjadi di bulan Mei. Dalam penanggalan Buddha bulan Mei disebut Waisak. Karena memperingati tiga peristiwa besar dan penting, maka hari raya Waisak disebut pula Trisuci Waisak. Kelahiran Buddha (Sidharta Gaotama) pada tahun 623 SM, pencerahan pada 588 SM hingga kematiannya pada 543 SM sama-sama terjadi pada saat purnama sidi di bulan Mei.
Dalam sejarahnya, Sidharta merupakan putra mahkota kerajaaan Kapilavatthu di wilayah perbatasan India-Nepal. Karena tidak cocok dengan kehidupan mewah istana, ia akhirnya pergi ke hutan dan melakukan meditasi dalam kesunyian. Akhirnya ia mendapat pencerahan, lalu mengajarkan perihal pencerahan itu kepada para pengikutnya.

Kitab Suci

Kitab suci umat Buddha ialah Tripitaka. Apakah kitab-kitab itu memang terpisah sejak dulu? Ternyata tidak. Awalnya ajaran Buddha ditulis di atas daun lontar menggunakan pisau yang disayatkan lalu diberi jelaga. Untuk membedakan maka dipisahlah tulisan-tulisan itu atas Winaya Pitaka yang berisi peraturan Bikhhu, Suta Pitaka ajaran Buddha dan Dharma Pitaka berupa ajaran metafisik. Kitab tersebut awalnya ditulis ke dalam bahasa Pali, serumpun dengan sansekerta. Kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai maca bahasa di dunia ini.
            Di Indonesia sendiri kitab Tripitaka menggunakan terjemahan bahasa Inggris. Itu sebagaimana diungkapkan oleh Bhikkhu Jotidhammo bahwa di Vihara Mendut ada Tripitaka berbahasa Inggris. Mengapa tidak mengatakan berbahasa Indonesia? Mungkin memang tidak ada kitab Tripitaka berbahasa Indonesia. Hal ini sedikit banyak menimbulkan pertanyaan sebab melihat sejarahnya Buddha pernah menjadi agama besar di nusantara. Di Indonesia pula terdapat banyak benda sejarah yang diyakini sebagai peninggalan agama Buddha.
Di agama Buddha, Theravada merupakan aliran yang masih menggunakan bahasa Pali dalam ritual.

Strukturalisasi Kepemimpinan

Sebagai sebuah agama yang dianut oleh banyak orang yang tersebar ke seluruh penjuru dunia, apakah dalam Buddha terdapat strukturalisasi kepemimpinan seperti halnya Paus dalam Katholik? Bhikkhu Jothidammo mengatakan tidak. Kalau pun ada tokoh Buddha yang dianggap sebagai pemimpin umat, maka wilayahnya hanya pemimpin suatu negara. Seperti di negara Tibet ada salah satu tokoh Buddha yang berpengaruh yaitu Dalay Lama. Akan tetapi dia bukanlah “paus”. Ia merupakan pemimpin agama (semacam ulama’) Buddha di Tibet. Dalay dianggap sebagai pemimpin umat Buddha sebab ia tokoh beragama Buddha yang vokal. Secara struktur, tidak ada ke-paus-an sebagaimana umat Katholik.

Agama Buddha di Indonesia Kini

Agama Buddha kini menjadi salah satu agama minoritas di Indonesia. Di sekitar Vihara Mendut saja dikelilingi oleh masyarakat muslim. Walau pun demikian, relasi antara masyarakat muslim dengan vihara sangat baik. Mereka mampu hidup rukun berdampingan walau beda keyakinan.
Di vihara-vihara yang tersebar tidak semua dipimpin oleh seorang bhikkhu. Selain banyaknya vihara, jumlah bhikkhu pun sangat terbatas. Di Jawa Tengah sendiri hanya ada 10 bhikkhu. Untuk itu, peran  bhikkhu sebagai pemuka agama Buddha di vihara digantikan seorang pemimpin vihara yang disebut Dharmaduta. Dharmaduta ini diberi pengajaran oleh para bhikkhu untuk mendalami ajaran kebuddhaan.
Dewasa ini, dan sejak awal tumbuhnya agama Buddha yang diawali “pencerahan” Sidharta Gaotama, agama Buddha tidak melakukan bermacam kegiatan dakwah. Karena pada dasarnya seseorang memeluk agama Buddha diawali dari kesadaran. Mereka, para Bhikkhu hanya melakukan pembinaan-pembinaan terhadap umat agama Buddha yang ada. Bukan mengajak orang lain mengikuti ajaran Buddha sebagai sebuah institusi agama.

Mengunjungi "Musium" yang "Pernah" Digemari


Dirangkum dari perjalanan Studi Lapangan KPI 2012/2013
ke TVRI Senin, 20 Mei 2013 (1)

Nama Kegiatan:
Studi Lapangan “Komunikasi Ukhuwwah Insaniyah” Matakuliah Studi Agama Kontemporer
Tanggal:
20 Mei 2013
Penyelenggara:
Panitia studi lapangan matakuliah Studi Agama Kontemporer
Lokasi Kegiatan:
Stasiun TVRI Yogyakarta, Vihara Mendut, Candi Borobudur
Jumlah Peserta:
125 mahasiswa dan 1 dosen

TVRI dan Eksistensinya dalam Dunia Pertelevisian

Televisi Republik Indonesia (TVRI) menjadi televisi paling berpengaruh di Indonesia. Jutaan rakyat mengeluk-elukkan pelopor televisi di Indonesia tersebut. Bahkan siapapun yang menjadi “orang” TVRI, selalu diberi penghormatan lebih. Namun itu dulu, ketika televisi swasta belum bemunculan. Setelah stasiun televisi swasta dengan program-programnya yang luar biasa menjamur, televisi kebanggaan Indonesia itu pun tenggelam. Bahkan kini khalayak, terutama kawula muda merasa malu atau canggung untuk melihat program tayangan di TVRI.
Anang Wiharyanto selaku Humas TVRI Yogyakarta menjelaskan sedikitnya ada 3 hal yang menyebabkan TVRI kesulitan bersaing dengan televisi swasta. Pertama, TVRI tidak memiliki sumber daya manusia (SDM) yang memadai. Ia mencontohkan, di TVRI Yogyakarta kini tersisa 130-an pegawai. Padahal dulu ada sekitar 300-an. Pegawai TVRI itu pun dibatasi usia sebagaimana pegawai negeri sipil. Data tersebut menunjukkan bahwa jumlah SDM yang keluar tidak diimbangi dengan SDM yang masuk.
Pegawai di TVRI pun bisa dikatakan angkatan lampau, karena kenyataannya memang demikian. Rata-rata usia pegawai sudah menapaki usia 45-an ke atas. Mereka merupakan angkatan muda tahun 80-90’an yang secara alami memiliki taste berbeda dengan anak muda jaman sekarang. Untuk itu Anang memaklumi apabila kawula muda tidak tertarik menonton siaran di TVRI.  Dan semakin legawa apabila TVRI disebut sebagai TV-nya orang tua.
Kedua, TVRI kesulitan dana. Karena sumber dana adalah APBN, maka jumlahnya sangat terbatas. Di TVRI Yogyakarta misalnya, pada 2010 silam disuntik dana sejumlah 14 milyar. Sekilas jumlah tersebut fatastis. Namun setelah dikalkulasi, sebanyak 11 milyar digunakan untuk membayar pegawai. Jadi tersisa 3 milyar untuk membuat program tayangan hingga 52 jam tayang. Itu belum dihitung penggunaan alat-alat kantor seperti kertas, tinta dan lain sebagainya. Hal itu tentu menyulitkan pihak TVRI Yogyakarta untuk menghadirkan tayangan yang berkualitas.
“Hanya 800-ribu bujet yang kami anggarkan untuk satu tayangan,” jelas Anang.   “Bahkan band juara kompetisi tingkat kecamatan sering kami undang untuk tampil,” lanjutnya untuk menunjukkan betapa mereka kesulitan dalam masalah pendanaan. Ia menjelaskan bahwa tidak mungkin menghadirkan band-band besar seperti Noah karena keterbatasan dana. Bahkan tidak jarang tokoh-tokoh yang tampil tidak dibayar. Untuk mengajukan iklan ke perusahaan-perusahaan besar, hal tersebut tidak mungkin dilakukan. Karena perusahaan besar pasti lebih memilih stasiun TV di Jakarta. Maka iklan di TVRI Yogyakarta sebatas perusahaan-perusahaan lokal yang jumlahnya tidak banyak.
Terakhir, TVRI khususnya TVRI Yogyakarta memiliki keterbatasan alat dan tempat. Mereka harus memaksimalkan apa yang ada dengan target tayangan yang baik dan berkualitas. Anang bercerita bahwa ia sampai dirubung semut karena melakukan reportase siaran di pabrik gula.
Namun semua itu didasari niat mulia untuk mengabdi pada negara. TVRI, bagaimana pun keadaannya harus tetap memperjuangkan idealisme yang sejak dahulu dibangun. Salah satunya dengan menghindari tayangan berunsur pornografi yang kini banyak digemari. Mereka berkomitmen untuk menayangkan program yang mengandung unsur pendidikan, baik pendidikan akademik, pendidikan moral maupun kebudayaan. Atas komitmen itu, seratus dua puluh mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam memberi aplaus.
“Ya, seperti inilah,” tukas Anang di ruang studio bernuansakan ‘ketoprakan’. Mereka berupaya melestarikan tradisi budaya yang mulai asing di telinga masyarakat. Dengan keadaan serba terbatas, TVRI terus berupaya menunjukkan eksistensinya di tengah terpaan tayangan-tayangan stasiun lain yang lebih banyak digemari. Mulai 2011 lalu, dana untuk TVRI daerah mulai ditambah sejumlah total 17 milyar.
Selain menceritakan keadaan TVRI Yogyakarta, Anang mengulas beberapa strategi yang dilakukan TVRI Yogyakarta untuk menarik minat pemirsa. Salah satunya dengan menayangkan berbagai hal mengenai kesitimewaan Yogyakarta. Ia menjabarkan bagaimana rating TVRI Yogyakarta sempat menanjak pada saat geger keistimewaan Yogyakarta. Grafik penayangan TVRI secara umum, baik nasional maupun daerah akhir-akhir ini pun mengalami perkembangan dibanding tahun-tahun sebelumnya. TVRI Yogyakarta menjadi yang teristimewa karena memiliki statistik lebih baik dari TVRI daerah lainnya.
“Saat saya membaca laporan BPS, ternyata data menunjukkan banyak lansia yang tinggal di Yogyakarta. Wajar ratingnya tinggi,” celetuk Anang yang disambut gerr seluruh isi ruangan.
Program-program yang sifatnya “ngenomi” kini mulai ditayangkan TVRI. Contohnya ialah Serie A Liga Italia. Banyak penduduk Indonesia yang hobi menonton bola. Hal tersebut sangat baik untuk membangun kembali citra stasiun televisi nasional yang pernah mengalami masa-masa kejayaan. TVRI menjadi stasiun televisi pemerintah yang tidak merakyat, dalam artian banyak rakyat yang merasa tidak menjadi bagian TVRI. Padahal sejatinya stasiun TVRI itulah milik rakyat karena sumber dananya dari pajak rakyat. Pamor TVRI tidak seperti TV negara BBC, CNN atau Jazeera yang dicintai rakyatnya di negara masing-masing. Ironis!

Setelah membicarakan banyak hal, Anang memandu rombongan melihat beberapa ruang studio yang dimiliki TVRI Yogyakarta. Beberapa mahasiswa berkomentar peralatan yang dimiliki sudah canggih. Studionya pun megah. Namun jika dibandingkan dengan stasiun tv kampus. Bagaimana jika dibandingkan dengan tv swasta seperti Transcorp, MNCmedia atau Metro TV? Semoga TVRI segera menapaki masa kejayaannya lagi.

Wednesday, June 19, 2013

Kenaikan BBM Harga Mati (?)


Orang di Jurusan Hukum Islam mengatakan seperti ini, "Masih mending BBM dinaikkan. Kalo menurut saya mending dihilangkan saja subsidinya." Awalnya saya berontak, bagaimana dengan nasib orang yang berada di level ekonomi kurang? Ia menjelaskan bahwa ternyata 70-80% subsidi dinikmati oleh orang kaya. Selain itu, permainan tengkulak di atasan sangat mungkit terjadi. Dengan subsidi, tengkulak membeli sebanyak-banyaknya lalu diselundupkan di negara lain dengan harga yang wah. Jelas keuntungannya luar biasa. Lalu apakah kenaikan tersebut tidak justru menimbulkan inflasi yang tidak terkendali? Ia menggarisi ada baiknya daripada dibuat subsidi uang disalurkan saja dalam bentuk pembangunan infrastuktur dan transportasi. Sebagai contoh, Monorel di Jakarta rencana anggarannya 100 Triliyun. Sedang subsidi BBM mencapai 300 Triliyun pertahun. Dengan membangun monorel kemacetan bisa terurai dan konsumsi BBM berkurang sebab pengendara banyak yang beralih ke kendaraan umum.
Salah satu yang menyebabkan tidak terkendalinya harga BBM adalah konsumsi masyarakat yang tidak menekankan aspek hemat. Untuk bepergian banyak yang memilih menggunakan kendaraan pribadi. Di Yogya tepatnya di jalan Gejayan memang  banyak terlihat mobil yang hanya berisi supir. Meski peraturannya mobil harus PERTAMAX, tetapi masih banyak yang melanggar itu. Beberapa saat yang lalu ditemukan pula pembangunan swalayan menggunakan BBM subsidi. "Inilah yang sebenar-benarnya pengkhianat rakyat, bukan pemerintah sebagai pelaksana kebijakan," kata teman saya.
Entahlah, kontroversi BBM memang tidak pernah bisa disepakati. Begitupun saya yang sulit menerima karena tidak memiliki banyak dana hidup (curhat). Paling tidak sebagai warga negara ada tuntutan menyelamatkan keuangan negara dengan menghemat sebisa mungkin. Menghemat bukan berarti tidak menggunakan. Menghemat adalah menggunakan seperlunya. Kalo teman2 IPA menyebut sebagai penyelamatan global karena penggunaan kendaraan motor mendukung membumbungnya gas yang mengancam lapisan Ozon. Lain daripada itu, harus memaklumi pula bahwa BBM merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui. Orang ekonomi lebih tahu. Orang dakwah awam seperti saya cukup mendengar dan mencoba cari tahu dari banyak perspektif.
Tuntutan kenaikan ini adalah bagaimana pemerintah dapat memberi pelayanan terbaik ke seluruh warga negara. Jangan sampai saudara kita di Papua membeli dengan harga 70.000/liter  dan diam saja, sementara dengan harga yang lebih terjangkau kita menafikan kondisi yang jauh di sana. Pemerataan subsidi harga mati!!! Semoga keputusan ini murni kemaslahatan, bukan politisi jabatan. Hidup Rakyat!!!

Sunday, June 16, 2013

Manusia Bumi dan Langit

Lamunan 8

Setelah membaca novel JA Sonjaya berjudul Manusia Langit, ternyata keprimitifan sebuah pulau itu tidak dapat disalahkan begitu saja. Apalagi ketika memasukkan dogma agama yang bersebrangan dengan tradisi adat, maka perlu pendekatan yang tidak mudah. Namun tidak perlu membahas terlalu jauh isi buku luar biasa yang membuka mata lebih lebar bahwa di sana masih ada kehidupan yang berbeda. "Bumi itu satu, tapi dunia banyak," kata Fiqoh, tokoh perempuan yang muncul belakangan dalam novel tersebut.
Istilah manusia langit dan manusia bumi sebenarnya hanya kiasan. Ini memiliki benang merah dengan apa yang pernah dikatakan seorang kiai mengenai keoptimisan. Ya, optimisme yang tak jarang salah kaprah sehingga jika terjatuh akan luar biasa sakitnya. Seorang kiai pernah berkata, di atas optimis ada khayalan. Di bawahnya ada pesimis. Jadi optimis adalah pertengahan antara dua kutub yang bersebrangan.
Seorang siswa ingin jadi pilot dan optimis bisa mencapainya. Tapi ia justru bergelut dengan dunia presenter. Ya tidak akan nemu titiknya. Inilah yang disebut khayalan. Seorang memiliki kecerdasan intelektual luar biasa tapi takut menghitung 2 x 2 karena takut salah. Ini namanya pesimis. Sikap psimis membuahkan keraguan sedang optimisme yang berlebihan berakibat arogan. So, semua musti berada di jalur masing-masing.
Apa hubungannya dengan manusia bumi dan langit? Saya ingat seorang sahabat bertanya dalam suatu forum kepada narasumber. Ia merasa ironis karena teman-temannya memiliki sikap apatis terhadap persoalan struktural (baik negara, kampus dll). Mungkin, jika saya garis bawahi, kegundahan sahabat saya itu karena implikasi dari sikap apatis membuat mahasiswa menjadi bebek yang mudah dikendalikan oleh tuannya. Ketika suruh ke sana, ikut ke sana. Akibatnya tidak ada perlawanan jika suatu kebijakan melanggar hukum dan norma. Okelah, bisa diterima jika demikian.
Namun saya lebih mengelus dada apabila melihat orang sudah apatis terhadap hal-hal kecil. Misalnya saja mengenai isu-isu kemasyarakatan. Banyak yang sibuk menatap langit tapi lupa bahwa kaki masih di bumi. Sementara di sekelilingnya, orang-orang termenung karena tidak tahu apa yang akan diperbuat. Makanya ketika suatu ideologi masuk dan diterima, itu menjadi suatu kewajaran. Masuknya ideologi yang merongrong keutuhan NKRI salah satunya karena sikap elit negara ini yang terlalu memikirkan persoalan langit. Pesantren sibuk mikir akhirat. Siswa sibuk mikir SNMBPTN. Mahasiswa sibuk menatap gelar. Magister sibuk menulis syarat doktor. Doktor sibuk merubah nama menjadi profesor. Profesor? Ah, entahlah! Pendidikan sekarang lebih menanamkan nilai fly to sky, bukan back to village.
Ironis ketika masyarakat bumi masih belum mengerti cara bertani, orang langit berlomba-lomba memberi makan. Dan ketika orang langit kehabisan bahan makanan, orang bumi harus bagaimana? Sementara mereka urung mampu untuk bertani. Satu-satunya jalan ialah memakan temannya sendiri. KANIBAL! Ya, saling tikam. Biarlah jutaan orang menatap langit. Aku cukup melihat bumi sebagai sarana menjemput langit. 

Tuesday, June 4, 2013

Jejak: Tren Salaf dan Modern

Lamunan 7

Mendengar kata modern orang akan berlomba-lomba mengatakan hal itu sebagai tolak ukur jaman sekarang. Selain hal-hal yang berlabel modern dianggap kuno dan tidak relevan. Modernisasi ini menjalar bukan hanya sebatas di tingkat fisik seperti bentuk bangunan, mobil, motor dan lainnya. Akan tetapi meliputi metode pemikiran. Sehingga terbentuk suatu sistem pemikiran bernama modernis dan tradisionalis.
Dulu, cerita kiai saya, muncul bermacam label modernis. Bahkan banyak berdiri pondok pesantren modern akibat ngetrennya istilah ini
Dulu, cerita kiai saya, muncul bermacam label modernis. Bahkan banyak berdiri pondok pesantren modern akibat ngetrennya istilah ini. Pengelolaannya pun dilakukan sedemikian rupa, bertolak belakang dengan apa yang biasa disebut sebagai pendidikan pesantren. Di desa-desa, orang-orang akan takjub ketika melihat penampilan tetangganya yang disebut modern. Virus modern memang mewabah karena membawa misi yang banyak diharapkan masyarakat luas.
Dalam sektor bahasa, bahasa Inggris merupakan tolak ukur seberapa modern seseorang. Sehingga muncul anggapan bahwa bahasa Inggris secara hirarkis unggul dibanding bahasa lainnya. Ada seorang ustadz saya sampai “protes” kepada santri yang lebih paham bahasa Inggris daripada bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an. Wajar saja karena setiap hari santri berjibaku dengan kitab-kitab berbahasa Arab. Kenapa malah bahasa Inggrisnya yang bagus?
Kaum modernis cenderung menggunakan rasio sebagai tolak ukur kebenaran. Berbeda dengan kaum tradisionalis yang lebih mendahulukan tradisi (namanya juga tradisi). Kaum modernis juga cenderung meninggalkan sesuatu yang dianggapnya tabu, misal tradisi yang tidak lagi dianggap baik. Akan tetapi tradisi-tradisi tersebut tidak dijalankan secara ngawur. Ada pertimbangan khusus dan dasar hukum yang digunakan sehingga sampai saat ini kuantitas tradisionalis lebih banyak dibanding modernis.
Lepas dari permasalahan di atas, ada keunikan yang terjadi dewasa ini. Di saat orang-orang beramai-ramai melabeli diri dengan kata modern, ternyata banyak yang mendengungkan menjadi orang salaf (kuno). Saya ingat ketika di pondok Pati, kiai saya meminta untuk mencantumkan nama “pondok pesantren salaf”. Dalam bahasa Arab pun harus menggunakan “al-ma’had al-salafiy”, tidak seperti pondok kebanyakan yang menggunakan “al-ma’had al-islami”. Usut punya usut, kata salaf memang tengah diperebutkan. Pondok yang bermazhab sejak dulu menamai sebagai pondok salaf, merujuk definisi salaf sebagai pemikiran abad di bawah kelima hijriyah. Di sumber lain defini salaf ialah pemikiran Islam di abad sebelum ketiga hijriyah.
Mazhab empat memang muncul di abad kedua dan ketiga hijriyah. Maka definisi pondok pesantren salaf tepat dalam konteks ini. Namun berbeda pandangan dengan kelompok tertentu yang mengatakan bahwa salaf adalah masa awal Islam, yaitu periode Nabi dan sahabat. Maka salafi adalah orang yang mengikuti apa-apa yang ada di jaman awal Islam. Sehingga secara otoritatif menganggap bahwa itulah yang paling benar.

Entah bagaimana kisah episode selanjutnya dari perebutan nama ini. Apakah pemikiran agama seperti pakaian yang mengalami sirkulasi tren?

Saturday, June 1, 2013

STUDI ISLAM DI MASA RASULULLAH SAW DAN SAHABAT



P
eriode Rosul dan para sahabat merupakan tonggak di mana peradaban umat Islam terbentuk. Perlu diketahui bahwa ada tiga fase dalam Islam, terutama dalam perjalanan hukumnya. Fase tersebut terjadi di masa yang berurutan. Yang pertama terbentuk, kemudian tumbuh menjadi masak (dewasa), kemudian berhenti dan membeku.
Fase pertama meliputi dua periode yaitu periode Rasul dan sahabat. Periode Rasul disebut sebagai periode insya’ dan takwin (pertumbuhan dan pembentukan), yang berlangsung selama kurang lebih 23 tahun. Yaitu semenjak diangkatnya Rasul pada 610 M sampai wafatnya pada 672 M/11 H. Periode sahabat disebut sebagai periode tafsir dan takmil (penafsiran dan penyempurnaan) yang berlangsung selama 90 tahun. Yaitu semenjak wafatnya Rasul pada 11 H sampai akhir abad pertama hijriyah. Fase kedua disebut fase tadwin (pembukuan dan munculnya imam mujtahid) yang berlangsung selama 250 tahun dari 100 H sampai 350 H sementara fase terakhir yaitu periode taqlid disebut sebagai periode jumud dan wuquf (beku dan berhenti) yang berlangsung mulai pertengahan abad hingga kini.
Periode Rasul terdiri dari dua fase berlainan:
1.      Fase Rasul di Makkah (sekitar 13 tahun) dimulai masa kerasulan hingga hijrah. Dalam masa ini umat muslim masih sedikit dan lemah.
2.      Fase Rasul berada di Madinah (sekitar 10 tahun) dimulai masa hijrah hingga wafatnya. Di fase ini Islam telah terbina menjadi umat, membentuk pemerintahan dan dakwah berjalan lancar. Tasyri’ atau undang-undang mulai diberlakukan untuk mengatur kehidupan umat.
Pada periode ini Rasul menjadi pengendali hukum tasyri’ yang bersumber dari Al Qur’an  dan ijtihad Rasul berdasar ilham dari Allah yang kemudian dikenal sebagai hadits. Walau Rasul merupakan pengendali hukum tasyri’, tidak menutup kemungkinan selain Rasul (dalam konteks ini sahabat) diperbolehkan berijtihad. Para sahabat diperbolehkan berijtihad dalam situasi khusus yang sangat mendesak.
Periode sahabat dimulai sejak 11 H yang ditandai dengan penafsiran undang-undang dan terbukanya pintu istimbath hukum dalam kejadian-kejadian yang tidak ada nash hukumnya. Dari para sahabat banyak keluar fatwa hukum mengenai kejadian yang tidak ada nashnya, dan dipandang sebagai dasar dalam berijtihad dan beristimbath. Di periode ini ada tiga sumber tasyri’ yaitu Al Qur’an, As Sunnah dan ijtihad sahabat.
Pemikiran untuk membukukan Al Qur’an muncul atas inisiatif Umar bin Khattab. Ia mengajukan pendapatnya kepada khalifah Abu Bakar. Awalnya khalifah menolak karena hal ini memunculkan bid’ah. Namun argumen Umar yang mengatakan banyaknya huffadz yang meninggal di medan Yamamah membuat khalifah setuju. Al Qur’an semasa nabi hidup dihafal oleh para sahabat dan ditulis di berbagai media seperti daun, batu dan pelepah kurma. Tulisan-tulisan itu dihimpun dan diteliti oleh para huffadz yang dipilih sebagai tim pemushafan agar memperoleh keabsahan yang tinggi. Zaid bin Tsabit merupakan salah satu tokoh terpenting dalam pemushafan ini. Mushaf pertama disimpan oleh Abu Bakar kemudian Umar lalu kepada putri Umar, Hafshah. Di masa khalifah Utsman mushaf Al Qur’an ditulis kembali dengan mengcopinya menjadi beberapa mushaf (6 mushaf) yang disebar di berbagai negara. Mushaf ini disusun karena perbedaan bacaan di kalangan umat telah berada dalam taraf membahayakan, sehingga perlu adanya Al Qur’an ‘resmi’ yang menyatukan seluruh bacaan yang berbeda, baik dialek maupun i’rab dan lainnya.
Di periode ini dipikirkan pula bagaimana cara membukukan Al Hadits, tepatnya oleh khalifah pengganti Abu Bakar, Umar bin Khattab. Namun setelah bermusyawarah kepada para sahabat beliau khawatir karena saat itu hanya dikenal satu versi As Sunnah dari Abdullah ibn Amr ibn Al Ash yang mempunyai sebuah lembaran bernama As Shadiq, yang menghimpun hadits-hadits yang didengar dari Rasulullah. Lagipula Rasul melarang sahabat mencatat Al Hadits untuk dipublikasikan. Walau usaha-usaha para sahabat untuk membukukan hadits dimaksimalkan, namun hal ini belum mencapai hasil. Sehingga umat muslim belum memiliki buku hadits yang dikumpulkan seperti Al Qur’an.
Perkembangan Islam yang pesat dan meluasnya daerah kekuasaan mengharuskan dikirimnya sahabat-sahabat di tempat yang berlainan. Karena tidak mungkin apabila pengendali tasyri’ dari khalifah saja, maka ijtihad sahabat berupa fatwa dilakukan oleh tokoh di wilayah-wilayah tertentu. Tak jarang perbedaan pendapat terjadi. Akan tetapi inti dari ijtihad itu sama, menjelaskan nash dan mewujudkan kemaslahatan, serta memelihara kemudahan serta keringanan umat Islam.
Pengaruh yang ditimbulkan oleh periode sahabat ada tiga.
1.      Pensyarahan perundang-undangan bagi nash-nash hukum dalam Al Qur’an dan As Sunnah
2.      Bermacam-macamnya ijtihad sahabat pada kejadian-kejadian yang tidak ada nash hukumnya

3.      Mulai terjadi perpecahan pada berbagai fraksi politik karena masalah kekhalifahan dan masalah khalifah, kemudian perpecahan merembet ke masalah agama yang membawa pengaruh bahaya terhadap perundang-undangan Islam. Seperti perpecahan antara khalifah Ali dan Muawiyyah, juga lahirnya golongan khawarij dan syi’ah.(esjo)