Tuesday, March 28, 2017

Bincang Santai tentang Wilayah yang Memerah


Bersama Mbak Dina Y. Sulaeman, penulis buku Salju di Aleppo
Kang Abad adalah teman saya yang pernah mengenyam bangku pendidikan di Libya, sebuah negara di Timur Tengah. Ia merasakan bagaimana mencekamnya situasi negara tersebut pada tahun 2011, yang membuatnya harus meninggalkan bangku kuliah lebih cepat demi alasan keamanan. Di tahun itu, Moammar Khadafi, sang presiden yang berkuasa puluhan tahun, tewas dikeroyok massa.
Libya bukan satu-satunya negara yang bergejolak. Sebelumnya, Tunisia lebih dulu memanas yang berujung pada jatuhnya pemerintahan Zine El-Abidine Ben Ali. Dalam waktu yang tidak berselang lama, Mesir, Kuwait, Lebanon, Yaman, Suriah dan banyak negara lainnya ketularan hobi demo. Mereka menuntut demokratisasi yang mengatur batas maksimum periode kekuasaan seorang presiden.
Arab Springs (the great middle east)
Di banyak negara itu, sebagian besar pemimpinnya berhasil ditumbangkan oleh gelombang aksi massa. Jika beruntung, para pemimpin itu bisa melarikan diri dengan selamat ke nagara lain. Jika tidak, nasibnya seperti Moammar Khadafi. Namun ada satu negara yang cukup kuat dalam menghadapi huru hara di negaranya, yakni Suriah yang dipimpin oleh Bashar Al-As’ad. Saat ini, di negara yang pernah jadi mercusuar kerajaan Islam itu masih terjadi perang saudara.

Konflik di Suriah
Saya secara pribadi kurang mengikuti isu Arab Spring, sampai pada kemunculan Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) di beranda media sosial saya. Ketika saya klik di google, muncul banyak berita mengenai gerakan masyarakat sipil bersenjata itu.
Ketertarikan saya semakin bertambah saat banyak teman saya mengutuk keras Bashar Al-As’ad karena dianggap melakukan genosida di negaranya sendiri. Bashar yang konon Syiah Dinaggap membantai warga Sunni yang menjadi mayoritas. Sampai-sampai muncul narasi seperti ini: waspadai Syiah karena mereka tega membantai muslim Sunni di Timur Tengah.
Kutukan pada Bashar semakin menguat di penghujung 2016 saat pemerintah membombardir kota Aleppo. Di banyak tempat muncul spanduk-spanduk bertagar #SaveAleppo. Teman saya yang sejak beberapa waktu anti dengan Bashar langsung menulis status makian terhadap pemimpin Suriah itu.
Sejak saat itulah, saya mencari tahu apa itu Aleppo, siapa sebenarnya Bashar Al-As’ad dan mengapa di Suriah terjadi konflik berdarah. Dan beruntung saya membaca ulasan konflik di Suriah ini dari Mbak Dina Y. Sulaeman melalui blognya. Semakin beruntung karena saya bisa bertemu langsung dengannya di malam hari ini. Tulisan ini adalah refleksi saya terkait ngobrol santai dengan Mbak Dina.
Sebelum krisis, Suriah termasuk negara dengan tingkat kriminalitas terendah di dunia. Kota-kotanya tidak begitu besar, tapi cukup indah. Di negara ini banyak peninggalan kuno yang menjadi salah satu daya tarik wisata para pelancong. Hingga pada satu waktu, terjadi demonstrasi untuk menuntut adanya maksimum periode kekuasaan. Permintaan ini pun direspon dengan dihapusnya state emergency law dan diadakannya referendum UUD baru Suriah yang membuat seorang presiden memiliki batas waktu berkuasa (26 Februari 2012).
Aleppo before the war (Huffington Post)
Pada tahun 2014, negara sosialis sekuler ini mengadakan pemilihan umum. Bashar Al-As’ad yang telah berkuasa sejak tahun 2000 terpilih dengan prosentase suara 88,7%. Sebuah angka yang fantastis. Di sisi lain, sebagian warga bergabung dengan kelompok milisi bersenjata untuk menentang kekuasaan Bashar Al-As’ad. Mereka menuntut ditegakkannya sebuah negara berdasarkan sistem khilafah.
Beberapa wilayah berhasil mereka kuasai, salah satunya adalah kota Aleppo Timur. “Para milisi bersenjata inilah yang diperangi oleh Bashar,” ujar Mbak Dina menjelaskan. Sebelum menggempur Aleppo, Bashar lebih dulu memberi waktu agar penduduk sipil bisa meninggalkan medan pertempuran itu. Namun setelah beberapa waktu, tidak ada penduduk yang meninggalkan kota. Ternyata, mereka diancam akan ditembak oleh milisi bersenjata jika berusaha meninggalkan Aleppo. Hal ini terkonfirmasi dengan adanya laporan dari PBB yang menyebut adanya puluhan warga yang mati ditembak.
“Ada yang bilang ini ulah tentara Suriah. Tapi coba dipikir dengan jernih. Saat itu tentara Suriah belum masuk ke Aleppo karena menunggu warga dievakuasi. Bagaimana mungkin para tentara negara yang menembaki para warga?” tanya Mbak Dina. Pernyataan ini saya konfirmasi dengan laporan dari akun twitter centang biru Yusha Yuseef @MIG29_, reporter The Arab Sources, selama krisis Suriah memuncak.
Dari akun ini pula, saya mengetahui adanya kiriman puluhan bus dari pemerintah yang mengangkut para milisi bersenjata untuk meninggalkan Aleppo. Para milisi itu pindah ke Idlib, sebuah kota yang mereka kuasai. Pada malam natal, Aleppo berpesta karena berhasil mengusir para pemberontak. Menurut Mbak Dina, sikap pemerintah Bashar yang sedemikian menunjukkan pemerintah tidak semena-mena dalam menyikapi konflik di negaranya.

Beberapa Alasan Konflik
Suriah adalah negara gurun. Tentu banyak sumber energi tak terbarukan di sana, utamanya sektor migas. Inilah kepentingan negara-negara kuat untuk memperebutkannya.
Dalam upaya memerangi milisi, militer Suriah dibantu oleh negara sahabat mereka yaitu Iran, Tiongkok, dan Russia. Negara-negara ini tentu saja mempunyai kepentingan di Suriah, utamanya Russia yang sudah melakukan investasi besar-besaran di sektor migas. Karenanya, tidak mengherankan jika Putin membela mati-matian Bashar.
Lalu mengapa ada konflik? Ada puluhan ribu pasukan yang datang dari 100 negara untuk menduduki kota-kota di Suriah. Para milisi ini bergabung dengan bermacam-macam organisasi, mulai ISIS hingga Al-Nushra. Tujuan mereka sama, mendirikan sebuah negara khilafah. Inilah yang dilawan oleh rezim Bashar Al-As’ad dan aliansinya.
Yang mengejutkan, dari bocoran WikiLeaks, disebut bahwa AS merupakan donatur gerakan ISIS. Mereka menyuplai senjata dan mengadakan pelatihan militer.

Media Sosial dalam Konflik
Selama konflik berlangsung, media sosial menjadi penggerak mesin perdebatan yang sangat sengit. Situasi itu merembet ke Indonesia. Di Indonesia, narasi kekejaman Bashar menjadi pembicaraan yang banyak dibincangkan. Terlebih saat seorang bocah bernama Bana Alabed (@AlabedBana) rajin ngetwit tentang ‘kondisi’ Aleppo. Gadis cilik berusia 7 tahun itu kerap menulis ‘situasi’ menggunakan bahasa Inggris yang sangat sempurna.
Twit-twit Bana ini sempat dicapture oleh beberapa teman saya yang anti Bashar sebagai ‘bukti’ kekejaman pemerintah Suriah. Walau belakangan diketahui akun itu dikelola oleh ibu bocah itu yang di akun pribadinya terdapat foto dirinya menenteng senjata laras panjang. Sementara ayahnya sering mengunggah foto-foto bersama milisi bersenjata. Lha kok?
Akun Bana ini tidak sendiri. Banyak akun lain yang turut memberitakan hal-hal yang diada-adakan. Dalam bahasa gaulnya, akun-akun tersebut menyebar berita HOAX. Saat evakuasi berlangsung, mereka membuat video yang intinya berpamitan, mengatakan mungkin hari itu adalah hari terakhir mereka karena sebentar lagi rezim Bashar akan membantainya. Ajaibnya, sehari kemudian wajah mereka nongol di beberapa stasiun televisi.
Tetapi apa boleh buat. Keberadaan akun-akun ini terlanjur dianggap sebagai saluran informasi para ‘mujahidin’ yang ‘membela agama’ di negara sekuler Suriah. Teori jarum hipodermik yang ketika saya kuliah dianggap sudah usang, justru menjadi relevan di saat manusia modern sudah berkenalan dengan istilah literasi media.  
Saking gregetannya, untuk menantang tuduhan genosida, Mbak Dina meminta untuk ditunjukkan satu foto saja terkait kejahatan Bashar. Ia telah melakukan analisis beberapa foto propaganda yang beredar, dan semuanya tidak terkait dengan  konflik Suriah.
Lalu apa tujuan dari berita HOAX itu? Salah satunya tentu memenangkan pertarungan wacana di dunia maya. Tapi yang tidak banyak disadari, mereka tengah mengaduk emosi banyak orang di dunia supaya tergerak berdonasi melalui saluran-saluran yang telah mereka persiapkan. Yah, namanya juga perjuangan membutuhkan dana yang tidak sedikit. Maka tidak mengejutkan apabila ditemukan kardus bantuan yang berasal dari Indonesia masuk ke markas milisi bersenjata di Aleppo.

Indonesia dan Suriah
Konflik Suriah bukan tidak mungkin terjadi di Indonesia, ujar Mbak Dina. Pendapat ini pernah saya dengar di beberapa forum, termasuk yang diselenggarakan oleh BNPT. Di Indonesia narasi-narasi yang digunakan untuk mengguncang Suriah mulai diterapkan kepada pemerintahan saat ini.
Beberapa narasi seperti pemerintah menzalimi umat Islam, demokrasi sistem gagal, pemerintah bersekutu dengan komunis dan lain sebagainya sudah berseliweran di media sosial. Ajakan untuk melakukan penggulingan terhadap pemerintah yang sah pun mulai digaungkan. Untungnya pembelian senjata di Indonesia sangat ketat prosedurnya. Jika mereka bisa mendapat akses senjata, bukan tidak mungkin negara ini memanas. Na’udzubillah.
Satu hal yang mengejutkan adalah tuduhan penistaan Al-Quran yang menjadi salah satu pemicu konflik Suriah. Bashar dituduh menistakan surat Al-Ikhlas karena ‘menganggap’ dirinya sebagai Tuhan. Padahal, tuduhan itu adalah HOAX. Tapi jutaan orang terlanjur percaya dan marah pada rezim yang menentang kesewenang-wenangan Israel di Palestina itu.  
Saya sendiri masih perlu membaca literatur untuk memahami secara utuh persoalan di Suriah. Namun diskusi dengan Mbak Dina, yang sudah melakukan banyak pengamatan dan riset, menambah banyak wawasan terkait krisis di negara itu. Walau karena pendapatnya, Mbak Dina kerap mendapat tantangan dari pihak-pihak tertentu. Ia dianggap mengada-ada hingga dilabeli Syiah. Tapi kebenaran harus disuarakan walau itu pahit.
Mbak Dina kemudian menjelaskan rasa syukurnya karena saat ini banyak alumni Suriah yang mulai berani buka suara untuk menjelaskan keadaan sebenarnya. Ia menilai muncul kesadaran di benak para alumni untuk mencegah Indonesia tercinta ini mengalami situasi pilu seperti Suriah. Wallahua’lam.

Berikut link pernyataan para alumni Suriah membantah HOAX seputar krisis Suriah sebagaimana dimuat situs NU Online

Wednesday, March 1, 2017

Gagal Fokus Tuan Putri Arab Saudi

lensakita
Indonesia memiliki tokoh sejarah bernama Kartini, seorang anak bangsawan yang mendobrak tabu kebudayaan. Ia yang konon merupakan santriwatinya Kiai Soleh Darat, salah seorang ulama nusantara, melakukan perlawanan terhadap kondisi perempuan di Indonesia yang termarjinalkan. Saat itu perempuan dianggap sebagai orang kelas dua. Jika kini para perempuan sudah merasa memiliki hak setara, itu disebabkan salah satunya karena perjuangan Kartini.
Bertolak ke budaya negara lain, beberapa tahun yang lalu dunia sempat digemparkan berita tentang dilarangnya wanita di Arab Saudi untuk menyetir mobil. Di negara kerajaan itu, kehidupan perempuan masih sangat jauh dari kata setara alias sangat dibatasi.
Adalah Ameera Al-Taweel yang berperan sebagai ‘Kartininya’ Arab Saudi. Ia yang berada di lingkaran kerajaan memperlihatkan kehidupan yang sama sekali kontras dengan kebanyakan perempuan di wilayahnya. Di saat hak-hak perempuan sangat dibatasi, ia justru melenggang berkarir dengan menjadi CEO di sebuah perusahaan media dan teknologi. Ia sekaligus mengkritik praktik subordinatif terhadap perempuan dan menggelorakan semangat perjuangan keadilan bagi kaum hawa di kerajaannya. Dan uniknya, sang tuan putri tidak berhijab!
Terkhusus soal hijab, di Indonesia sendiri narasi hijab syar’i sedang menguat. Terlebih saat banyak selebriti ibu kota turut menyerukan penggunaan model hijab lebar yang menurutnya paling sesuai dengan ajaran Islam. Kampanye berhijab syar’i pun luar biasa, sampai-sampai memvonis neraka bagi yang tidak mengenakannya.
Apakah mengenakan ‘hijab syar’i’ salah? Tentu tidak. Yang tidak tepat adalah memvonis neraka bagi yang tidak mengikuti penafsirannya. Sebab, perintah  berhijab dalam surat An-Nuur 24:31 itu sendiri memiliki banyak tafsir dilihat dari perspektif bahasa dan asbabun nuzulnya.
Apa itu hijab syar’i? Di akun-akun media sosial penyeru hijab syar’i, banyak pendapat dari para aktivis dakwah yang dikemas dalam bentuk meme dan video yang sangat menarik. Setidaknya ada dua pengertian hijab syar’i yang didengungkan sebagaimana saya amati.
Pertama, pakaian lebar yang tidak memperlihatkan aurat dan lekuk tubuh. Pengertian ini lazim diikuti oleh sebagian besar muslimah. Kedua, pakaian yang menutupi seluruh bagian aurat perempuan.
Aurat yang dimaksud di sini adalah batas-batas sahnya salat perempuan, yaitu seluruh bagian tubuh kecuali telapak tangan dan muka. Ada pula yang mengatakan wajah dan telapak tangan pun aurat sehingga hanya kedua bola mata yang boleh terlihat. Bahkan suara pun termasuk aurat sehingga perempuan dilarang mengucap sepatah kata pun di hadapan lelaki bukan mahromnya.
Lalu pendapat mana yang paling benar dan harus diikuti? Wallahua’lam. Inilah indahnya Islam yang menerima berbagai perbedaan pandangan. Sabda Rasul, perbedaan adalah rahmat.
Melihat sejarah pun, kerudung atau jilbab mulai populer di kalangan muslimah Indonesia pada tahun 80-an. Sebelum itu, kerudung atau jilbab hanya dikenakan oleh kalangan santri sebagaimana sarung.
Beberapa kesaksian yang saya dapatkan, mengenakan jilbab pada masa itu ibarat seorang muslimah berjilbab di negara Barat. Banyak mata yang mengawasi dan menaruh curiga. Salah seorang dosen saya misalnya, ia bercerita hanya ada 3 orang di SMA seluruh Yogyakarta yang berjilbab. “Dan salah satunya saya,” ujarnya.
Perdebatan mengenai hijab ini pun saya rasa tidak akan ada habisnya, sebagaimana perdebatan apakah basmalah itu termasuk ayat dalam surat Al-Fatihah atau bukan. Jika iya, wajib dibaca ketika salat. Meninggalkannya berarti salatnya tidak sah. Sementara jika bukan termasuk ayat, membaca ketika salat berarti menambahi ayat. Dan ini tidak sah. Bagaimana menyikapinya? Hormati perbedaan pendapat.
Hari ini adalah hari kedua raja Arab Saudi menikmati cuaca tropis Indonesia. Tak perlu mengolok-olok pakaian sang raja sebagai daster karena itu merupakan bagian dari budaya negaranya. Tak perlu pula menuduh perempuan Arab Saudi sebagai orang yang terbelakang karena sosok tuan putri Ameera sendiri cukup untuk membungkam pendapat tersebut.
Perlu dicatat bahwa tuan putri yang menyeru keadilan pada perempuan itu memiliki total kekayaan 300-an trilyun. Sementara orang terkaya di negeri ini ‘hanya’ memiliki 200-an trilyun.
Aku padamu lah tuan putri...

Friday, February 24, 2017

Catatan Kecil Harian

Bab Pekerjaan
Senyum sesaat sebelum menyandang gelar S.P (sarjana pengangguran)


Guru realitaku adalah spiritualitas.
Guru spiritualku adalah realitas (kata Gus Dur).

Seringkali, di saat ngepoin akun instagram dan media sosial teman yang lain, hatiku gundah gulana. Betapa tidak. Di akun yang dibuat untuk riya itu, mereka menampilkan banyak hal yang membuatku murung meratapi nasib.
Salah satunya adalah soal pekerjaan. Oh, man! Kini usiaku 24 tahun. Ketika di jalan ditanya, 'Kerja di mana, mas?' Saat itulah kebingungan melanda. Aku harus jawab bagaimana? Sementara di akun-akun medsos itu, banyak teman yang memperlihatkan kesuksesan di usia muda. Mereka memberi banyak tips sukses yang membuatku (jujur saja) sangat stres. Kok aku ra iso?
Mungkin ini dialami banyak wisudawan, terutama wisudawan galau sepertiku yang belum tahu prioritas. Hidup rasanya diombang-ambing gak karuan.
Ketika pikiran hampir mengutuk nasib, ada bisikan yang sering kudengar dari petuah-petuah semasa nyantri beberapa tahun silam.
"Bekerja itu diniati untuk ibadah, bukan cari sejumlah uang. Jika uang yang kamu cari dan suatu saat kau tidak mendapatkan sejumlah yang kau inginkan, kau bisa-bisa tidak mau lagi untuk bekerja."
Memang. Ada orang yang gajinya 1 juta perbulan tapi bisa menghidupi 5 orang anaknya. Ada yang gajinya 10 juta tapi masih saja hidupnya kurang sampai seringkali merampok uang orang lain: korupsi!
Ya, itulah rahasia rejeki. Ia tidak semata-mata kalkulasi. Banyak hal yang jadi misteri. Untuk itu selalu bersyukur dan ingat ilahi. Dan tulisan ini sebenarnya adalah buah kegalauan hati yang coba diobati...

Yogyakarta, 25 Februari 2017
Dini hari

Tuesday, January 3, 2017

Menyoal Sholat Jumat di Tengah Jalan Raya

sumber gambar: suara muhammadiyah
Saya ingat petuah kiai saya semasa nyantri. Dalam melakukan apapun, selalu ingat dua pokok ajaran utama Islam. Pertama, semua hal yang bukan ibadah pada dasarnya adalah boleh dilakukan, kecuali ada dalil yang melarang. Kedua, pada dasarnya semua ibadah adalah haram dilakukan, kecuali ada dalil yang memperbolehkan.
Kiai saya memberi contoh tentang shalat. Shalat adalah ibadah yang memiliki dalil untuk dilakukan. Shalat adalah ibadah yang sangat sakral dan merupakan bentuk komunikasi transenden antara manusia dengan penciptanya. Karena ibadah, maka ada tata cara yang diatur.
Nabi bersabda, “shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat”. Para sahabat kemudian meriwayatkan tata cara nabi shalat, lalu para ulama fikih membuat kitab panduan berisi tata cara melakukan ibadah mulai bersuci, shalat, beserta ibadah-ibadah lainnya. Kitab itu disebut sebagai kitab fikih.
Di pesantren saya ada beberapa kitab fikih dan ushul fikih yang diajarkan mulai yang paling dasar hingga yang dianggap sebagai kitab babon. Sebut saja safinatun najah, fathul qorib, tuhfatuth thullab,qawaidu al-fiqhiyah, lubbul ushul dan lain sebagainya. Kitab-kitab tersebut membahas berbagai hal, mulai sesuci, shalat, hingga jihad.
Di Indonesia, saat ini terdapat pro-kontra mengenai rencana aksi demonstrasi 02 Desember 2016 (212) berupa shalat Jumat di jalan protokol Thamrin-Sudirman, Jakarta. Aksi tersebut, dalam poster yang beredar, disebut sebagai aksi ‘super damai’ untuk menuntut pemerintah segera menahan tersangka kasus penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).
Ada beberapa hal yang perlu dicatat dalam rencana aksi ini. Pertama, rencana aksi ini dilakukan dalam bentuk shalat Jumat di tengah jalan protokol. Hal inilah yang membuat Polri, MUI, para tokoh agama, serta sebagian besar masyarakat menolak aksi tersebut karena mengganggu ketertiban umum. Polri dan para ulama meminta agar shalat Jumat tetap dilaksanakan di masjid. Karenanya, Polri mengeluarkan maklumat pelarangan aksi 212 jika dilakukan dengan cara tersebut.
Kedua, shalat Jumat adalah ibadah yang memiliki aturan main. Semasa hidupnya, tidak ada satu pun riwayat yang menceritakan Nabi Muhammad melakukan shalat Jumat di tempat lain selain masjid. Jika mengikuti sunnah Nabi, maka dalil memperbolehkan ibadah sholat Jumat di jalan raya ini tertolak. Lalu bagaimana dengan para imam Mazhab?
Salah satu syarat shalat Jumat menurut Imam Malik adalah diselenggarakan di masjid. Sementara beberapa imam Mazhab lainnya seperti Abu Hanifah, Imam Syafi’i, dan Imam Hambali, tidak menyaratkan di masjid, tapi boleh juga di lapangan. Imam Syafii, misalnya, hanya menyaratkan shalat Jumat dilaksanakan di satu forum dalam satu desa. Akan tetapi, tidak ada pendapat yang memperbolehkan shalat Jumat di jalan raya.
Ketiga, fatwa Majlis Ulama Indonesia (MUI) yang dikeluarkan pada tahun 2013 lalu menyebutkan haramnya aktivitas keagamaan yang mengganggu fasilitas publik. Sebagai umat Islam yang patuh pada ulama, sudah selayaknya kita kawal fatwa MUI ini agar terjaga situasi yang kondusif, aman, dan tertib.
Sejak era Nabi Muhammad hingga hari ini, belum pernah ada shalat Jumat yang dilakukan di tengah jalan raya. Jikalau banyak jemaah shalat meluber hingga bagian jalan, hal ini pun karena ada kondisi khusus seperti tidak muatnya kapasitas masjid. Itu pun dengan catatan keselamatan jiwa para jemaat terjamin.
Aksi 212 tentu merupakan persoalan lain karena menyelenggarakan ibadah shalat Jumat di jalan, sedangkan di Jakarta terdapat ribuan masjid. Sebagian besar masyarakat menilai aksi tersebut justru membawa banyak madharat daripada manfaat/maslahah.
Pada dasarnya, menyuarakan pendapat di muka umum adalah hak bagi setiap warga negara dan dijamin undang-undang. Akan tetapi, dalam hal mengganggu ketertiban umum, sebaiknya kaum muslimin mengikuti fatwa MUI DKI Jakarta yang dikeluarkan pada 2013 lalu.
Lagi pula, dalam hukum Islam, terdapat sebuah kaidah ‘mencegah kemadharatan lebih diutamakan daripada mengambil maslahat’.Wallahhu a’lam.

Artikel ini pernah dimuat di islami.co http://islami.co/menyoal-sholat-jumat-di-tengah-jalan-raya/

Monday, November 14, 2016

Gus Dur, Monitor, dan Penistaan Agama


Gus Dur bersama Prof Kato (Jepang)
Masyarakat Indonesia pernah beberapa kali dihebohkan oleh kasus penistaan agama.  Salah satu yang cukup menghebohkan adalah kasus Monitor. Pada tahun 1990, tabloid Monitor yang digawangi Arswendo Atmowiloto mengeluarkan laporan ‘tokoh idola’ pembaca tabloid tersebut. Yang mencengangkan adalah Nabi Muhammad SAW berada di nomor sebelas, lebih rendah dari posisi Arswendo di nomor urut sepuluh.
Sontak hal ini menyulut kemarahan sebagian kaum muslimin. Mahasiswa muslim di seantero negeri melakukan demonstrasi. Banyak tokoh muslim yang mengecam dan mengeluarkan komentar keras. Kantor redaksi Monitor diacak-acak. Arswendo  kemudian dipenjara karena ‘melecehkan’ ketokohan Nabi Muhammad.
Di tengah bara api kemarahan, Gus Dur muncul dan mengeluarkan komentar yang membuat banyak orang bertanya-tanya. Ia menganggap Monitor tidak menistakan agama. Lha, kok? Berikut adalah wawancara imajiner penulis dengan Gus Dur, menanggapi soal penistaan agama.

Assalamu’alaikum, Gus
Wa’alaikumsalam. Mari-mari duduk di sini (Gus Dur yang awalnya tiduran, kemudian bangkit dan mempersilakan saya duduk di depannya. Saya mencucup tangannya lalu berbasa-basi sejenak. Setelah itu, saya menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan saya bertamu ke Ciganjur, Jakarta).
Begini, Gus. Jauh-jauh dari Jogja saya hanya ingin tabayun dengan panjenengan soal kasus Monitor tahun 1990 lalu. Di saat banyak kaum muslimin merasa terlecehkan dengan hasil survei Monitor, mengapa Anda justru membela Arswendo?
Lho, siapa yang membela? Saya tidak membela siapa-siapa. Lha wong saya cuma menyampaikan pendapat saja
Tapi... Sebagian kaum muslimin dan para intelektual muslim merasa dilecehkan lho, Gus
Lha itu kan perasaan mereka. Jadi sah-sah saja dong berbeda. Saya justru heran kalau Nabi Muhammad itu jadi tokoh paling populer di tabloid tersebut
Lha kok gitu, Gus?
Salah satu edisi Tabloid Monitor
Ya karena Monitor itu kan tabloid yang segmentasinya kaum sosialita. Pembacanya gak mesti mudeng soal agama. Lagipula salah siapa orang Islam nggak ikut-ikutan terlibat survei. Berbeda kalau yang survei majalah Hidayah atau Sabili (Hidayah dan Sabili adalah majalah berideologi Islam), ya pasti Nabi Muhammad yang jadi tokoh paling populer. Nomor duanya ayo tebak siapa? (Gus Dur bertanya).
Em... Rhoma Irama kali, Gus?
Salah. Ya jelas saya, dong ha ha ha (Gus Dur tertawa lepas. Saya pun tak kuasa menahan tawa)
Kembali ke Monitor, Gus. Tadi panjenengan mengatakan bahwa Anda tidak membela Arswendo. Lalu siapa yang Anda bela?
Mas, saya ini cuma membela akal sehat. Masak gara-gara survei itu, masyarakat menuntut tabloid Monitor dibredel. Bagi saya ini enggak bener caranya. Saat itu Soeharto lagi hobi memberedel pers yang tidak sesuai dengan keinginan pemerintah. Nah, saya lagi berjuang agar pers bisa independen, tidak tertekan siapa-siapa.
Lagi pula bukan survei dong kalau hasilnya bisa didikte... Ini kayak tulisan Hart (Michael H. Hart) yang menulis Nabi Muhammad sebagai tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah umat manusia. Orang Kristen dan Yahudi ya ndak terima. Apalagi Yesus ditaruh di nomor tiga setelah Newton. Bagi mereka ini penistaan. Tapi bagi saya ya sah-sah saja si Hart nulis kayak gitu. Toh, itu menurut pendapat pribadinya. Kalau gak setuju ya tinggal bikin buku tandingan. Gitu aja kok repot.
Kita ini hidup di negara demokrasi yang menjamin kebebasan berpendapat dan berekspresi, lho. Masak hanya karena ketidaksetujuan sebagian orang, kok asal main bredel saja.  Kalau tidak setuju ya tinggal ndak usah beli majalahnya. Gitu aja kok repot! Lagi pula, di edisi selanjutnya, pihak Monitor menyampaikan permohonan maaf mereka.
Baik, Gus. Hanya saja, menariknya orang-orang seperti Nurcholis Majid ikut-ikutan mengecam Monitor. Menurut panjenengan, sebenarnya apa yang membuat Cak Nur begitu sangat bereaksi saat itu?
Ya jangan tanya saya. Tanya Cak Nur saja. Yang jelas pada saat itu suasana hati kaum muslimin sedang panas. Orang kalau lagi marah bawaannya susah menggunakan akal sehat. Bukan berarti saya mengatakan Cak Nur tidak menggunakan akal sehat lho ya. Beliau itu orang yang sangat cerdas. Tetapi dalam menyikapi kasus Monitor, saya punya pandangan dan langkah berbeda dengan beliau.
Waktu itu panjenengan masih berkomunikasi dengan Cak Nur?
Ya jelas dong. Sekeras apapun perbedaan pandangan saya dengan tokoh lain, saya tetap menyambung tali silaturrahmi. Apalagi Cak Nur. Kalau kamu pernah baca tulisan saya berjudul Tiga Pendekar dari Chichago, Cak Nur adalah salah satunya. Dia bersama Amin Rais dan Syafii Maarif saya anggap sebagai tokoh yang membuat bangsa ini menjadi bangsa yang bermartabat. Setelah kasus itu, saya beberapa kali bertukar pikiran dengan beliau. Kesan saya terhadap Cak Nur masih sama. Beliau seorang intelektual yang hebat.
Saya sampaikan pula waktu itu. Cak, lebih baik Undang-undang No 1/PNPS/1965 tentang Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama ini dihapuskan saja. Sebab rentan disalahgunakan oknum tertentu untuk menyerang orang lain yang bersebrangan dengan dirinya. Di beberapa hal beliau setuju. Di beberapa hal lain beliau memiliki pandangan sendiri. Ya tidak apa-apa. Namanya perbedaan kan rahmat. Yang paling penting dalam menyikapi perbedaan adalah kita mencari titik temunya. Bukan melebarkan perbedaan-perbedaan yang ada. Yang beda jangan disama-samakan. Yang sama jangan dibeda-bedakan. Gitu lho...
Baik, Gus. Saya mulai tercerahkan. Satu hal lagi, Gus. Saat ini salah satu pendekar Chichago yang masih hidup Buya Syafii Maarif jadi bulan-bulanan orang yang tidak sependapat dengannya. Komentar panjenengan?
Biarkan sejarah yang menjawab apakah sikap beliau itu benar atau salah. Dulu saya juga mendapat banyak kritikan karena pendapat-pendapat saya yang melawan arus. Saya terima-terima saja. Toh, Gusti Allah tidak pernah tidur.
Tapi para pencela menggunakan perkataan yang tidak patut?
Itu konsekuensi dari masyarakat yang memahami agama sebagai bentuk luar, bukan ruh. Orang beragama kehilangan sisi spiritualnya. Mereka lupa kalau agama diturunkan untuk membenahi akhlak. Namun saat ini hujatan itu memang semakin keras. Banyak orang mengaku membela agama, tapi menggunakan bahasa-bahasa sarkas, bahkan kekerasan. Membela agama menggunakan bahasa kekerasan itu tidak sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran agama.
Celakanya, si penghujat adalah mereka yang membaca satu buku saja tidak selesai. Mereka mendasari kelakuannya dengan hawa nafsu, kebencian dan amarah. Pesan saya, sebagai orang muda kamu tidak boleh berhenti belajar. Silakan berbeda pendapat dengan siapapun. Yang penting jangan berhenti belajar.
Terima kasih Gus atas waktunya. Terakhir, saya mohon didoakan agar bisa menjadi orang yang terjaga dari segala bentuk kebencian dan fitnah akhir zaman.
Setelah meminta doa, saya pun mohon pamit.
(Semua hal dalam dialog imajiner ini adalah tanggung jawab penulis. Gus Dur tidak ikut-ikutan membuatnya)