Wednesday, November 5, 2014

Sekedar Cerita (1)

Tulisan ini semata-mata untuk mengenang persahabatan kita, kawan...
 
Aku bersama Juwanda, Sami, dan Naufal (kostum kera) 
Sebuah Permulaan
Di: Bus Grand Aston Tiga
Luar biasa... Fantastis... Yes yes yes Beswan Beswan Djarum yes...
Pekik koor itu masih sangat terngiang di telingaku, kawan. Perlahan-lahan teringat pula suara-suara menggetarkan kita kala menyanyikan hymne Beswan Djarum. Beberapa kali air mataku ingin tumpah karena mengingat itu semua.
Sebagian orang mengatakan bahwa meratapi perpisahan adalah sikap yang lebai, berlebihan. Oke, aku siap menjadi orang lebai kali ini. Bertemu dan bercengkrama dengan sahabat-sahabat dari berbagai wilayah di Indonesia merupakan hal yang sangat istimewa. Wajar, sebagai manusia dadaku terasa sakit ketika mendengar ucapan perpisahan dan lambaian tangan. Selamat jalan, semoga bisa bertemu lagi. Ini yang selalu kita ucapkan. Kita selalu mencoba menghibur diri bahwa suatu saat kita akan bertemu kembali. Ya, suatu saat. Entah saat kapan itu.
Hari ini belum genap waktu memisah jarak kita dalam hitungan hari. Kala menulis ini, aku teringat dua sahabatku, Sami dan Naufal. Sami orang Kendari, kuliah di universitas Hallui leo dan Naufal orang Lampung kuliah di universitas Lampung. Sementara aku? Aku lahir di Kebumen. Menurut cerita orang tua, saat aku berusia dua tahun, aku dibawa ke Riau untuk transmigrasi. Saat lulus SD, aku meneruskan studi tingkat SMP dan SMA di kabupaten Pati, Jawa Tengah. Lalu aku kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Benar-benar latar belakang gado-gado.
Di dalam program beasiswa Djarum, ada empat regional yang membawahi beberapa distrik. Jakarta, Bandung, Semarang dan Surabaya. Sam berasal dari RSO Surabaya, Naufal RSO Jakarta dan aku RSO Semarang. Kami dikenalkan dalam satu kamar, kamar nomor 807 hotel Grand Aston Semarang. Di hotel inilah aku pertama kalinya merasakan enaknya berendam di air hangat hahaha.
Beswan Jogja sampai ke Grand Aston pukul 22.00-an. Aku langsung check-in dan masuk ke kamar di lantai 8. Saat pertama kali masuk, kamar hotelnya bersih. Ada tiga spring bed yang tersedia. Aku ingat, pak Aryo, pembina kami mengatakan kalau kamar di hotel hanya ada dua kasur yang bagus. Sementara satu lainnya kasur tambahan. Kasur tambahan tidak enak dan slimutnya tipis. Makanya kami harus segera sampai jika tidak ingin mendapat bagian yang kurang bagus.
Di atas springbed, masing-masing tersedia goody bag. Aku mencari goody bag yang tertulis namaku. Ketemu! Syukurlah, aku ditempatkan di springbed yang ‘sempurna’. Di kamar memang springbednya macam-macam. Yang satunya lagi tertulis nama Sami tidak terlalu tinggi, tapi selimutnya tebal. Sementara Naufal mendapat jatah spring bed yang cukup tinggi tapi selimutnya tipisnya maxi.
Aku membuka goody bag-ku. Di sana terdapat bermacam-macam barang perlengkapan. Ada satu kemeja, satu kaos oblong dan satu kaos polo. Ada juga satu gantungan kunci, satu gantungan guide book, satu pin dan dua lembar surat. Surat pertama berisi tata tertib hotel. Yang kedua adalah surat 'langsung' dari program director bakti pendidikan, bapak Primadi H. Serad. Isi surat kedua adalah menyampaikan ucapan selamat dan penjelasan beberapa softskill yang bisa kami dapatkan.
Sam datang sekitar jam 1 malam.  Saat itu aku tengah tidur. Kedatangannya membuatku terbangun. Setelah berkenalan ala kadarnya, karena masih mengantuk, aku langsung tidur lagi. Jam 3 dinihari Naufal datang. Ia masuk dengan mengucapkan salam. Lagi-lagi aku terbangun. Sam juga terbangun. Setelah berkenalan ala kadarnya lagi, kami tertidur. Sewaktu bangun, jam sarapan sudah tiba. Kami, dalam kekikukan, bersama-sama turun.
Alhamdulillah... Makan prasmanan. Kami mencari tempat yang masih kosong. Karena datang agak belakangan, agak sulit menemukan tempat makan. Setelah menempatkan diri, seorang pramusaji menawarkan minuman, teh atau kopi. Aku memilih kopi dengan tujuan agar tidak mengantuk.
Setelah kami makan, ada dua orang datang. Mereka bernama Andreas dan Tegar, mahasiswa asal Jakarta dan Bandung. Setelah mengobrol berbasa-basi ria dan mencicipi berbagai jenis makanan, aku dan teman sekamar kembali ke kamar untuk mengambil barang-barang. Dan bus pun berjalan...
Aku berada di bus Grand Aston 3 (GA 3). Kami mendapati LO yang awalnya terkesan cukup membosankan. LO kami bernama Dirga Makassar dan Angela Jambi. Mereka belum mampu mengeluarkan potensinya untuk membuat suasana bus menjadi hidup. Aku duduk di sampung Oji, teman dari UIN. Saat menoleh ke kiri dan kanan, depan belakang, semua terlihat asing.
Hari pertama diisi dengan perkenalan. Beberapa nama mulai kuingat seperti orang Bali Wintara dan Indra. Lalu ada orang Papua Grace. Ada orang Lampung Juwanda dan lain sebagainya. Di bus tersebut juga ada beberapa anggota beswan Jogja seperti Rifka, Helen, Dina dan Kilana. Setelah melewati pelabuhan Tanjung Emas, kami sampai di kompleks gedung PRPP, tempat latihan.
Di PRPP, ada beberapa gedung yang semuanya diberikan nama-nama gunung yang ada di Jawa Tengah. Merapi, Merbabu, Perahu, Dieng, Ungaran dll menjadi nama-nama gedung. Kami ditempatkan di gedung Merapi. Hari pertama kami berkenalan dengan para pelatih, baik tim teater atau pun choir. Pelatih teater paling top tentu saja Denny Malik. Sementara choir dipimpin oleh seorang musisi Brigitta. Setelah dipisah antara teater dan choir, tim choir diposisikan menjadi beberapa kriteria, mulai sopran, alto, tenor dan bas. Aku dan teman sekamarku, Sam, sama-sama di bas. Latihan pertama kami adalah sakato (aku gak tahu tulisannya gimana. Buta musik). Intinya kami harus mendesis-desis yang suaranya ditumpukan pada dorongan diafragma.
Kami dipisah. Perempuan di gedung utama, sementara laki-laki di gedung sebelahnya yang lebih kecil. Gus Yogi yang memimpin latihan pertama kami. Di hari pertama kami langsung dihajar dengan latihan ekstra. Tujuh lagu dipelajari sekaligus, beserta not-nya. Untung saja makanan tidak telat. Aku pernah mendengar dari Fahmi, beswan 29 asal UIN Jogja yang mengatakan bahwa setelah NB biasanya kita akan alergi dengan yang namanya roti dan makanan. Namun di hari pertama ini, aku cukup menikmatinya. Bayangkan saja, pukul 07.00 sarapan, 10.00 snack, 12.00 makan siang. Pukul 15.00 snack serta pocari sweat, 18.00 makan malam. Betapa gendutnya diriku jika ini selalu terjadi setiap hari.
Dari latihan ini aku baru mengenal pembagian nada-nada. Ternyata nada untuk alto beda dengan bas dan lainnya. Makanya paduan suara kalau menyanyi terdengar bersahut-sahutan. Eh, ternyata ada teorinya. Di lirik hymne beswan pun, nada untuk bas berbeda dengan alto dan sopran. Di sopran dan alto, untuk lirik “ikrarkan tekad kebersamaa..” tapi di tenor dan bas ‘ikrar’nya hilang. Tapi kata ‘tekad’nya dipanjangkan. ‘Te....kad’.
Dari sekian lagu, aku paling suka dengan lagu janger. Lagu daerah Bali ini memang sangat susah untuk dihapal. Namun nadanya enak sekali didengar. Apalagi kalau tentornya mbak-mbak kacamata yang nyanyi. Wah... Semangat sekali kami. Ehm... ehm...

Saat perjalanan pulang, aku serasa menghitung jangkrik. Krik... krik... krik... Orangnya pada pendiem semua. Sesampainya di kamar hotel, Naufal langsung berendam. Pakaiannya sangat kotor. Ia bercerita, di tim teater, ia mendapat kesempatan belajar tari kera. Latihannya cukup keras. Makanya badannya pegel semua. Bersambung...

Episode selanjutnya klik di sini

Monday, June 16, 2014

Cinta adalah Keindahan (Bagian 1)

Catatan ini aku tulis untuk kalian para sahabat pendakian: Ubaidillah F, Roihan Asyrofi, Suhairi, Lafzee, Faradilla, Kiki, Laras dan Via

Negeri ini sangat indah. Aku bersumpah atas nama Tuhanku yang menciptakan. Kau tak akan percaya apabila belum sekali pun kau menginjakkan kaki di tanah yang menjulang tinggi di atas awan.

Hari ini tubuhku masih diselimuti pegal-pegal, terlebih di sekitar betis. Aku bersyukur karena engkelku baik-baik saja. Padahal tiga kali aku merintih karena keseleo. Namun bibirku terasa sangat perih karena pecah-pecah. Sementara rasa kantuk masih mengurung diri dalam kemalasan. Ya, semua ini adalah hadiah dari sang Lawu yang telah mengajarkanku pada salah satu keindahan yang dicipta oleh Tuhan.
Setelah membayangkan keindahan yang lalu, aku langsung berpikir untuk segera menuliskan apa-apa yang aku ingat dan rasakan ketika berada di gunung Lawu, 13-15 Juni 2014 lalu.

Edelweis dan Para Penyamun
Edelweis... (Gambar Batikimono)


Pernahkah kau melihat edelweis?
Siapapun yang pernah, kau adalah pecinta sejati (seharusnya)

Salah satu yang diburu oleh pendaki adalah bunga edelweis, bunga keabadian. Pada pemuncakan pertamaku di Merbabu (16 Januari 2014), edelweis tidak mekar karena musim penghujan. Konon, edelweis hanya mekar di musim kemarau saat dinginnya gunung sedang hebat-hebatnya. Aku sendiri kurang paham dengan gejala alam itu. Setahuku, edelweis hanya tumbuh di gunung yang tinggi.
Aku mendapat penjelasan dari Dilla bahwa edelweis tumbuh di atas batas vegetasi. Aku sendiri kurang mengerti dengan penjelasan ini. Yang jelas, edelweis memiliki batasan tertentu untuk dapat tumbuh dan memekarkan bunga-bunga ajaib.
Pertama kali aku melihat edelweis adalah di Lawu ini. Setelah berjalan dari pos 3, aku menceletuk, “Itu edelweis?” Dilla kurang yakin dengan apa yang kulihat. Tapi setelah kutunjukkan letaknya, ia kemudian menjelaskan bahwa edelweis bisa saja tumbuh di pos 3 ini. Tapi kemungkinan mekarnya sangat sedikit. Dan memang aku hanya melihat edelweis yang malu untuk mekar. Hanya saja di kejauhan terlihat banyak edelweis yang tampak mekar bagus. Sayangnya posisinya sangat jauh, tidak mudah didekati. Mungkin edelweis mengerti bahwa keserakahan manusia bisa membuatnya menjadi tumbuhan mitos.
Saat aku berjalan menuju pos 4, aku melihat seorang pria menggenggam bunga edelweis dan membawanya seakan tidak memiliki dosa. Bagi pecinta alam, memetik edelweis sama saja merusak alam. Itu salah satu dosa terberat bagi pendaki selain membuang sampah seenaknya. Dalam batin aku merasa sakit. Aku mencoba merangkai kata-kata yang tepat untuk pelanggar HAT (Hak Asasi Tumbuhan) seperti itu. Sehari kemudian tercipta puisi sederhana ini:

Demi bunga edelweis yang sungkan untuk bermekaran
Demi para pecinta sejati sang alam yang agung
Demi Tuhanku yang menciptakan keharmonisan Lawu
Demi semua yang terluka atas pengkhiatan kata cinta alam
TERKUTUK kau para pemetik bunga keabadian!

POS 3 Gunung Lawu,
-Karanganyar-Magetan (15 Juni 2014)

Di Lawu memang tidak ada penjagaan khusus. Tidak ada polisi alam yang memeriksa barang bawaan pendaki. Tapi memetik edelweis memang sebuah perusakan yang nyata. Memetik edelweis adalah bukti sebuah keserakahan. Dan pecinta alam tidak akan merusak apa yang dicintainya. Bahkan seorang Rahwana yang dicap antagonis tidak pernah menyentuh Shinta walau dia menculiknya dari Rama yang kurang memberi kebahagiaan batin kepada sang Dewi. Karena cinta sejati bukanlah untuk dimiliki, tapi untuk dirasakan sebagai sebuah KEINDAHAN.

Friday, May 16, 2014

Wartawan Profesional Islami


Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
(QS. Al-Hujurat: 6)

Tugas utama seorang wartawan adalah membuat berita. Karena pada dasarnya, inti dari kegiatan jurnalisme ialah menyampaikan berita. Dari wartawan, informasi penting dan menarik yang ada di belahan dunia dapat diketahui. Sebab wartawan, berbagai fakta yang awalnya tertutup bisa terungkap dengan jelas.
Dalam jurnalisme, membuat berita yang jujur, aktual dan faktual merupakan kewajiban yang tidak boleh ditawar oleh seorang jurnalis. Seorang wartawan tidak boleh membuat berita tanpa fakta. Namun, kegiatan membuat berita yang seperti itu tidak semudah yang dibayangkan banyak orang. Seorang wartawan harus dibekali skill dan teknik yang memadai. Bukan hanya itu, wartawan juga harus memiliki mental baja agar tetap independen.
Wartawan yang dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan sesuai dengan kode etik disebut wartawan profesional. Ployd G. Arpam menyebut sedikitnya lima ciri-ciri wartawan profesional.
1.      Menguasai bahasa;
2.      Mengetahui jiwa kemanusiaan;
3.      Berpengetahuan luas;
4.      Punya kematangan pikiran; dan
5.      Punya ketajaman pikiran.
Kelima karakteristik tersebut bisa saja bertambah, tergantung persepsi orang memandang bagaimana wartawan yang profesional itu. John Honhenbero juga berpendapat ada lima ciri-ciri wartawan profesional, tetapi berbeda dengan apa yang disbutkan oleh Ployd di atas. Akan tetapi secara umum pendapat Ployd bisa dijadikan pedoman dalam melihat ciri-ciri wartawan profesional.
Pertama, menguasai bahasa. Namun bukan berarti wartawan harus menguasai semua bahasa yang ada di dunia seperti bahasa-bahasa daerah yang tidak terhitung jumlahnya. Menguasai bahasa ini lebih dimaknai sebagai bisa berbahasa sampai ke akar-akarnya (grammar, tata bahasa dll).. Selain itu, seorang wartawan paling tidak menguasai bahasa internasional, minimal bahasa Inggris.
Kedua, mengetahui jiwa kemanusiaan. Dalam melakukan peliputan, seorang wartawan harus memahami kondisi kejiwaan narasumber. Memahami jiwa berarti bisa membedakan pertanyaan yang diajukan kepada narasumber-narasumber tertentu. Misalnya dalam mewawancarai korban pemerkosaan, tentu pertanyaan yang diajukan berbeda dengan mewawancarai juara turnamen.
Ketiga, berpengetahuan luas. Artinya adalah seorang wartawan yang profesional mengerti secara menyeluruh apa yang menjadi objek beritanya. Jangan sampai, seorang wartawan menyajikan berita sekenanya. Contohnya, ketika meliput kasus kriminal maka yang layak diwawancarai tentu adalah kepolisian, bukan polisi lalu lintas. Seorang wartawan yang profesional semestinya bisa mengetahui banyak disiplin ilmu. Ini agar wartawan tersebut bisa ditempatkan di segala bidang, mulai olahraga, hiburan dsb-nya.
Keempat, punya kematangan pikiran. Kematangan pikiran merupakan hal yang sangat penting bagi seorang wartawan profesional. Dengan kematangan pikiran, seorang wartawan dapat memilah fakta-fakta yang akan digunakan untuk menyusun berita. Seorang wartawan tidak boleh terburu-buru dalam menyajikan sebuah berita, terlebih jika berita tersebut bisa menjatuhkan satu pihak. Dalam memberitakan kasus Cebongan di DIY misalnya, seorang wartawan profesional harus mampu memikirkan bagaimana agar beritanya tidak memihak dan tetap sesuai dengan hukum yang berlaku di negara.
Kelima, punya ketajaman pikiran. Wartawan profesional dituntut menjadi orang yang cerdas. Artinya, wartawan tersebut mampu mengetahui mana yang layak dijadikan berita dan mana yang tidak. Selain itu, wartawan harus bisa menganalisa suatu berita agar berita itu  bisa diterima akal sehat dan berisi.
Penjabaran di atas merupakan penjabaran yang masih sangat umum. Selain hal-hal di atas, wartawan juga perlu dibekali dengan aspek religiusitas dalam menjalankan tugasnya. Hal ini dimaksudkan agar pekerjaan wartawan bisa menjadi ibadah. Dalam Islam, pekerjaan apapun yang disandarkan pada niat lillahi ta’ala bisa disebut sebagai ibadah. Semua itu tergantung niatnya. Innamal a’malu bin niyaati.
Wartawan bukan tanpa tuntunan dalam agama Islam. Islam menjadi agama yang begitu peduli terhadap profesi ini. Dalam sebuah firman, Allah Swt memperingatkan agar hamba-Nya senantiasa menjalankan amanah yang diembannya.
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepada kamu, sedang kamu mengetahui.”(QS. Al-Anfal: 27)
Perintah di atas memuat perintah nayata untuk menjalankan amanat yang diberikan. Wartawan merupakan profesi yang bertugas menyampaikan berita yang benar, faktual dan aktual. Maka jangan sekali-kali melanggar amanat tersebut.
Dalam menerima fakta atau informasi dari narasumber, seorang wartawan juga tidak boleh percaya begitu saja. Apalagi jika yang menyampaikan informasi itu pelaku kejahatan, koruptor dan sejenisnya. Wartawan harus melakukan check and re-check agar beritanya benar. Dalam surat Al-Hujurat ayat 6, Allah Swt sudah memperingatkannya.
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
Peringatan itu benar-benar terjadi di dunia jurnalistik. Banyak wartawan yang harus kehilangan pekerjaannya karena membuat berita bohong atau didasari fakta yang keliru. Seorang wartawan profesional selalu menggunakan kode etik sebagai kendaraan kerjanya. Di dalam kode etik jurnalistik segala aturan main wartawan sudah diatur. Wartawan tinggal menjalankan kode etik itu agar sesuai dengan rambu-rambu kewartawanan.

Secara garis besar, wartawan profesional islami adalah wartawan yang memperhatikan etika, estetika dan religiusitas kewartawanan. Wallahua’lam.

Tulisan ini dibuat untuk melengkapi tugas Manajemen Media Massa KPI UIN Suka Yogyakarta yang diampu oleh Sutirman Eka Ardhana

Gunung Andong (1726 Mdpl)

Gunung tak pernah mengingkari janjinya (lagi). Bersama kawan-kawan Mahobpala (Mahasiswa Hobi Pecinta Alam), kami tuntaskan pendakian gunung Andong 1726 mdpl Kamis, 15 Mei 2014. Pendakian ini untuk mensyukuri segala karunia yang Allah berikan. Lewat alam, rasa syukur itu dapat dirasakan lebih.
"Berhari-hari kita hanya lihat mobil-mobil angkuh kota, di sini kita benar-benar merasakan hidup bahagia".

Lokasi: Gunung Andong (1726 mdpl) Magelang, Jawa Tengah
Model: Roihan, Ubed, Joko
Kameramen: Joko, Ubed






























Friday, May 9, 2014

Galauku pada Agama dan Jurnalistik (1)

sumber: sorotgunungkidul.com
Oleh Sarjoko 

Perkenalkan, nama saya Bambang. Saya seorang wartawan media gurem di sebuah daerah terpencil. Orang biasa menyebutnya Yogyakarta. Namun kampungku sangat jauh dari pusat kerajaan Mataram Islam itu. Kampungku lebih dikenal sebagai ladang emas para perampas hak rakyat. Pantai-pantai indah menghampar di sepanjang kampungku. Bukit-bukit menjulang, mengandung berbagai kekayaan alam yang bisa dieksploitasi sepenuhnya oleh mereka. Aku menyebutnya para bandit!
Lupakan tentang bandit perampas itu. Aku ingin kau punya jawaban yang memuaskan untukku. Saat ini aku benar-benar bingung, atau bahkan linglung. Ada sebuah kasus besar yang tengah kuhadapi. Aku sudah mencoba membuka obrolan dengan beberapa rekan. Namun pilihannya selalu sulit.
Beberapa waktu yang lalu aku tengah berhenti di sebuah lampu merah. Beberapa saat kemudian, datang segerombolan massa mengerubungi mobil sedan yang tengah berhenti menunggu nyala lampu hijau. Tanpa sebab yang jelas, ba bi bu... Mobil tersebut dirusak oleh kawanan orang tak kukenal itu. Saat si pengemudi keluar, aku tersentak. Itu Udin! Teman baikku di berbagai forum diskusi ilmiah!
Peristiwa tersebut segera kurekam dan kutulis menjadi sebuah berita. Seorang Pengemudi dikeroyok kawanan tidak dikenal. Begitu isi beritaku. Berita tersebut segera menyebar luas. Udin meminta perlindungan ke kantor polisi. Di sana ia memang lebih aman.
Aku mencari alasan mengapa orang sebaik Udin dikeroyok. Usut punya usut, pengeroyok melakukan tindakan tersebut karena tidak suka dengan kegiatan Udin sebagai ketua forum lintas Iman di daerahku. Menurutnya, itu melanggar agama. Aku langsung bertanya, agama mana yang dilanggar? Maaf, aku sangat awam dengan ilmu agama. Maka aku bertanya demikian. Bukankah kelompok pengeroyok yang melanggar agama? Mereka menyegel gereja, tempat ibadah orang lain. Mereka juga beberapa kali melakukan perusakan. Aku pernah mendengar dari seorang guru ngaji bahwa Nabi Muhammad sebagai panutan tidak pernah merusak tempat ibadah orang lain. Bahkan dosenku pernah bercerita bahwa Muhammad mengumpulkan orang Yahudi dan Nasrani untuk diajak bermusyawarah dalam merumuskan UU pertama di dunia bernama Piagam Madinah.
Aku bingung!
Sekarang hatiku terketuk untuk membela temanku. Namun aku terkendala aturan bahwa seorang jurnalis harus indepen. Aku tidak boleh memihak siapa-siapa. Baik pelaku atau korban hanya menjadi objek penggalian fakta. Tidak lebih! Aku hanya boleh membuat berita. Netral. Aih... Hati ini perih sekali. Harus seperti inikah seorang jurnalis?
Saat aku ke kantor, pemred menyarankan agar aku diam. Saat aku bercerita kepada ahli hukum, dia hanya berbelasungkawa atas segala kesaksian yang kualami. Saat aku berdiskusi dengan sesama jurnalis, mereka hanya mengatakan, "Kalau aku jadi kamu, aku juga pasti bingung!"
Ah... Apakah seorang jurnalis selalu begini?

Bersambung....

Catatan ini kutulis teruntuk temanku yang tengah menghadapi sebuah kegalauan. Semoga kau lekas mendapat jawaban, kawan!

Yogyakarta, 08 Mei 2014

Monday, April 14, 2014

HIDUP ITU PENDAKIAN

Catatan seorang pendaki pemula

"Kita menantang impian..
Di atas awan kita kan menang...
Kita menakluk dunia
Di atas awan... Kita kan menang-menang..."

(Nidji, Di Atas Awan)


Aku memang belum banyak mendaki seperti teman-teman lain, sebut saja Roihan yang sudah menjamah puncak Sindoro, Sumbing, Merapi dan entah berapa puncak lainnya. Juga belum seperti Faradilla yang sudah menyaksikan Jawa dari puncak tertinggi Jawa, Mahameru. Namun aku selalu menemukan kesan setiap kali kaki ini menapakkan jejaknya di puncak gunung. Kesan kehidupan...
Ya, pernahkan kawan sadari, semasa kecil kita selalu membayangkan gunung sebagai bukit mulus yang berdiri angkuh begitu saja? Gunung selalu terlihat indah, dan kita merasa mudah untuk mencapai puncaknya. Wong mung ngono thok! Begitu kira-kira pikiran yang terbangun semasa kecil. Gunung merupakan aksesoris tak terpisahkan jika guru member tugas menggambar pemandangan.
Semasa kecil, kita juga selalu membayangkan hidup ini indah, serba senang. Kita selalu membayangkan hidup itu perjalanan singkat yang goalnya adalah perjumpaan kita dengan Dzat yang Mahadirindu. Sampai-sampai kita, terkadang,menafikan kehidupan di dunia demi kehidupan yang sebenarnya.
Kesan pertama selalu membekas selamanya. Begitu pula riwayat pendakianku, seorang pendaki pemula yang minim jam terbang. Bukit (masyarakat sekitar menyebutnya gunung) Pranji (sekitar 400 mdpl) merupakan "gunung" yang pertama kali menyuguhkan pemandangan menakjubkan. Pengalaman ini terjadi 2005 silam, saat aku memulai petualanganku di pulau Jawa. Gn Sindoro, Sumbing, Merapi dan Slamet membentuk satu kesatuan diiringi bukit-bukit yang membentang.
Awal 2014 lalu menjadi pengalaman keduaku menaklukkan gunung. Kali ini gn Merbabu, puncak Syarif (sekitar 3085 mdpl). Perjuangan hebat selama berjam-jam melawan dingin dan ngilu udara puncak, tertebus sebuah lukisan hidup bernama cakrawala fajar. Kami di atas awan! Lawu, Sindoro, Sumbing, Andong, Telomoyo dan Ungaran membius diriku yang selalu sombong. Aku merasakan diriku begitu kerdil dengan semua karya-Nya yang agung. Ini lebih hebat dari Pranji.
Kemarin, belum lama ini, sudut keindahan gunung menawarkan pesona yang lain. Saat teman mengabarkan akan mendaki gunung Andong, aku sempat bertanya-tanya, di mana letak gunung bernama aneh itu? Ternyata tak jauh dari Merbabu. Berdampingan mesra dengan bukit Telomoyo.Wah sangat kerdil sekali! Pikirku saat itu.
Allah! Perjalanan yang kuprediksikan mudah ternyata cukup menantang. Gunung itu memang 'hanya' menjulang setinggi 1726 mdpl. Akan tetapi jalan terjal dan menyusuri tebing menjadi cerita lain yang menarik. Jalur benar-benar menanjak dan menanjak, tak kenal medan untuk sekedar bersantai ria.
Dan inilah sisi lain dari keindahan yang ditawarkan itu! Kadang sesuatu yang kita sepelekan, justru itu yang lebih baik. Seperti Andong yang menurutku menawarkan keindahan lebih dari Merbabu dan Pranji. Atau ketiganya sama-sama indah hanya menawarkan dari sudut pandang berbeda. Atau aku yang masih terbius menyaksikan betapa negaraku begitu hebat keindahan alamnya. Entahlah...
Suatu ketika aku merasa lebih besar dari seseorang yang memang tidak kelihatan besar. Dan maafkan Tuhan, aku telah sombong dan menafikan sisi tertutup yang Kau titipkan pada ciptaan-Mu yang tak pernah terpisah dari kata indah. Hanya aku memang perlu mendaki dan mendaki untuk menjadi lebih bijak.

Rhetor, 14 April 2014
17:15

Thursday, March 27, 2014

Alangkah Unyunya Negeri Ini

Sumber Gambar: indonesia.ucanews.com

Mainstreaming Intoleransi dan Agenda Pemerintahan Baru
Catatan Kecil Diskusi Malam Reboan di Pendopo LKiS Sorowajan oleh Sarjoko (@jejakpelamun)

Ketika mendengar pemateri Malam Reboannya Pak Ahmad Suaedy, saya langsung bergegas menyusun jadwal untuk meluangkan waktu. Ada beberapa alasan mengapa saya begitu ‘ngebet’ ingin datang ke acara tersebut. Pertama, saya sudah beberapa kali mendengar nama Ahmad Suaedy tapi urung lihat orangnya. Kedua, dia merupakan orang Wahid Institute yang notabene sealiran dengan saya sebagai anak Komunitas Pemikiran Gus Dur. Ketiga, saya tengah menggarap buku di mana Ahmad Suaedy menjadi salah satu penulisnya. Sekalian kenalan.
Keluar dari alasan-alasan pribadi tersebut, tema yang diusung sangat menarik. Gerakan intoleran memang semakin menampakkan taringnya. Aksi mereka lebih mirip aksi orang mabok yang tidak bisa berdialog. Beberapa kali di Yogyakarta terjadi aksi perusakan oleh oknum dengan membawa bendera agama. Sebut saja penyerangan terhadap LKiS saat menghadirkan Irsyad Manji. Padahal tidak ada satu agama pun yang mengajari umatnya melakukan kekerasan. Yang menjadi aneh, mengapa pemerintah seakan bungkam? Ini yang membuat saya semakin terpanggil, selain dalam tiga diskusi sebelumnya saya selalu hadir.
Ahmad Suaedy membuka diskusi dengan sebuah cerita. Suatu ketika, ia menghadiri sebuah acara di Praha, Ceko. Di Praha orang baru tahu ada Islam toleran di Indonesia. Dengan kata lain, citra Islam sebagai agama intoleran sangat kuat. Hal ini tentu menjadi ironi, terlebih Islam datang sebagai agama rahmatan lil’alamin. Pembawanya, Nabi Muhammad SAW menyatakan diutus untuk membenahi akhlak. Innama bu’itstu li utammima makaarimal akhlaq.
Intoleransi bukan sesuatu yang dapat dihindari. Banyak yang sangat alergi dengan istilah ini. Padahal makna intoleran sangat luas. Ketika seseorang mempunyai kebenaran lalu menyalahkan kebenaran lainnya, maka orang tersebut dikatakan intoleran. Tidak semua intoleran bermakna buruk. Bahkan ada intoleran yang (menurut saya) diwajibkan. Itu paling tidak jika kita memakai pendapat Suaedy yang membagi kata intoleran dalam tiga bentuk.
Pertama, intoleran pribadi. Intoleran pribadi itu menyatakan sebuah kebenaran dengan menyalahkan kebenaran lain tetapi tidak disertai tindakan. Intoleran ini digunakan untuk mendefinisikan hal-hal yang ada sangkut pautnya dengan persoalan akidah. Misalnya, menganggap agama Islam paling benar dan menyalahkan kebenaran agama lain. Dalam tataran ini sangat wajar. Orang Kristen pun harus bisa menyalahkan kebenaran agama lain demi imannya. Yang penting tidak saling memusuhi.
Kedua, intoleran sosial. Tataran ini dibagi menjadi dua. Intoleran dengan kekerasan atau tidak dengan kekerasan. Untuk kekerasan kita semua sudah sangat hafal bagaimana kelompok-kelompok ini memerangi orang-orang yang tidak sepaham. Mereka kerap melakukan aksi perusakan dan bahkan melancarkan ancaman pembunuhan. Yang tidak banyak disadari ialah adanya intoleransi sosial tanpa kekerasan. Contoh yang banyak ditemui adalah adanya perumahan khusus golongan tertentu. Mengapa intoleran? Karena perumahan semacam ini menjadikan masyarakat terkotak-kotak. Dampaknya bisa saling curiga. 
Saya punya pengalaman di kampung nun jauh di Riau sana, di sebuah desa terdapat satu lokasi khusus rumah-rumah Islam A. Mereka sangat eksklusif sampai menutup diri dari kebiasaan orang kampung kebanyakan. Kelompok ini mendirikan masjid sendiri tanpa mau bergabung dengan masjid desa. Jadilah Islam versinya itu menjadi Islam pemecah belah. Padahal aspek sosial terbangun dari adanya kebersamaan.
Yang menjadi kajian malam kemarin ialah intoleran jenis ketiga berupa kebijakan yang dibacking oleh pemerintah dengan menggunakan pasal hukum. Hal ini yang menjadi tren di Indonesia beberapa tahun belakangan. Indonesia sebagai negara majemuk, plural, yang seharusnya dalam bahasa Suaedy disebut civil nation, seakan bergeser menjadi religious nation. Pemerintah tunduk pada lembaga yang dilegitimasinya sendiri dalam soal agama. Intoleran kedua dan ketiga ini yang masuk kategori 'berbahaya'.
Kita coba sebentar refleksi ke belakang. Di saat ada kasus kekerasan atas nama agama seperti Ahmadiyah dan Syiah Sampang, di mana peran pemerintah, aparat hukum dan staf-stafnya dalam membela korban? Mereka justru diam, bungkam dan seakan tak mau tahu dengan dalih sang korban adalah pengikut aliran sesat! Sungguh sebuah kisah memilukan di tengah semangat toleransi yang semakin terdegradasi. Sesat seakan menjadi cap untuk menghalalkan penganiayaan atau bahkan pembunuhan.

Agama dan Pemerintah
Di Indonesia, institusi agama yang dilegalkan secara hukum ada enam, yaitu Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha dan Kong Hu Cu. Namun yang dianggap benar-benar legal adalah Islam. Mengapa? Karena orang akan menganggap benar jika sudah Islam. Pemimpin yang baik adalah beragama Islam. Ketika Ahok akan jadi gubernur DKI, banyak yang menentang dengan alasan ambigu. Dia bukan Islam! Penilaian di sebuah kepemimpinan demokrasi bukan dilihat dari sejauh mana kapasitas dia sebagai pemimpin.
Lupakan paragraph di atas. Mari kita bersama-sama melihat bagaimana pemerintahan Indonesia dalam 10 tahun terakhir menjelma sebagai hantu bagi golongan minoritas. Ada empat alasan yang dikemukakan oleh Ahmad Suaedy:
1. Pemberian legitimasi terhadap Lembaga Keagamaan sebagai Monopoli Kebenaran (MUI)
2.Penunjukkan orang-orang terpercaya yang memiliki paham konservatif agama (All the  President’s Men)
3. Penyusunan regulasi yang bersifat intoleran terhadap kelompok tertentu.
4. Ketidakmampuan untuk melindungi korban/ minoritas.
Saya mencoba menjabarkan dengan versi saya alasan-alasan di atas.
Pertama, legitimasi kebenaran diberikan kepada MUI. Artinya selain MUI dianggap tidak punya wewenang. Artinya pula, apa yang dikatakan MUI sebuah kebenaran mutlak. Awal mula petaka ini terjadi pada saat MUNAS MUI tanggal 26 Juli 2005. Saat itu presiden berpidato meminta MUI menjadi lembaga yang sentral. Pemerintah ikut terhadap keputusan-keputusan MUI. Setelah pidato itu, ada 11 fatwa yang dikeluarkan MUI. Yang paling ‘horror’ adalah penyesatan terhadap Ahmadiyah dan larangan terhadap SIPILIS (Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme). Untuk yang kedua, mereka menafsiri sesuai kemauannya. Setelah fatwa ini, MUI daerah ramai-ramai mencari-cari kelompok yang disesatkan. Perusakan terhadap masjid-masjid pun terjadi tanpa bisa diadili oleh pemerintah. Mengapa? Anda tahu sendiri.
Poin kedua tidak jauh berbeda dengan poin pertama. Pemerintah terlanjur tunduk pada paham konservatif yang membahayakan. Untuk yang ketiga dan keempat, ini yang patut diratapi bersama. Bagaimana mungkin institusi negara tidak menjamin keamanan setiap warganya hanya karena pahamnya tidak sama? Bahkan yang dianggap ‘legal’ pun sebenarnya tidak sama. Kita ambil contoh: NU dan Muhammadiyah. Yang satu bilang tahlilan boleh, yang satu bid’ah. Tetapi mengapa keduanya tetap dianggap legal? Beda perlakuannya dengan Syiah dan Ahmadiyah. Padahal Syiah merupakan salah satu aliran tertua dalam sejarah sekte Islam.
Penetapan kembali UU No.1/PNPS tahun 1965 tentang penodaan agama juga menjadi faktor terpenting dalam tumbuh-suburnya gerakan intoleran. Pasalnya, kata ‘penodaan agama’ sendiri tidak jelas maknanya. Ketika orang berbeda dianggap menodai, tapi mengapa orang yang membuat kerusuhan justru tidak disebut sangat amat jelas menodai?

MUI dan Pemerintah
Ada dinamika unik perihal sikap pemerintah terhadap organisasi bernama Majelis Ulama Indonesia (MUI). Di era Soeharto dan Habibie, MUI berfungsi sebagai pelayan pemerintah. Ketika pemerintah memerlukan dalil tentang A, MUI berfungsi untuk mencarikannya. Misalnya fatwa tentang kodok. Agar masyarakat mau berbudidaya kodok, MUI mencari dalil tidak dilarangnya budidaya kodok.
Di era Gus Dur, MUI menempatkan diri menjadi oposisi. Hal ini terkait pernyataan presiden yang menginginkan MUI menjadi ormas independen yang tidak ‘menyusu’ pada pemerintah. Karena berseberangan, saat itu ada ‘pertengkaran’ antara MUI dan Gus Dur mengenai hukum Ajinomoto. MUI mengatakan haram, presiden berpendapat halal.
Di era SBY, MUI beralih menjadi lembaga yang dilayani pemerintah. Apapun yang dikatakan MUI menjadi kebenaran dan didukung penuh pemerintah. Wajar saja kekerasan yang disebabkan fatwa-fatwa MUI tidak digubris bahkan (mungkin) didukung penuh. Amir Ahmadiyah sampai mengatakan sejak 2005 kekerasan yang dialami kelompoknya sangat masiv. Perusakan-perusakan masjid Ahmadiyah pun seperti menjadi suatu perubuatan yang dilegalkan. Padahal, hal ini belum pernah terjadi sebelumnya.
Ada cerita menarik yang disampaikan Bung Suaedy terkait fatwa ini. Di sebuah tayangan, seorang komandan diwawancarai terkait kekerasan atas nama agama. Si komandan tersebut menjawab, nunggu fatwa MUI. What???
Begitulah ketika negara menjadi religious/ethnic nation, bukan civil nation building. Ketimpangan demi ketimpangan menjadi sebuah keniscayaan yang seakan dimaklumi. Karena ane mayor, ente minor. Sudah sepatutnya pemikiran seperti ini dihilangkan. Gerakan civil nation building menjadi tugas semua warga negara.
Untuk agenda pemerintahan baru idealnya minimal mencakup tiga hal ini.
1. Mengembalikan Visi Indonesia ke Civil nation building VS Religious/Ethnic nation building 
2. Mengembalikan posisi MUI sebagai organisasi masyarakat  Ormas atau LSM
3. Mengembalikan tugas penegakan HAM dalam isu agama ke tugas citizenship.
Caranya? Dalam membangun koalisi penguasa dengan minimal kriteria:
1. Penghapusan UU No 1 PNPS 1965
2. Penghapusan Bakorpakem
3. Penghapusan pasal-pasal dalam UU yang menempatkan MUI sebagai penentu kebijakan.

Wallahua’lam.


Tulisan ini merupakan rangkuman penulis dari diskusi Malam Reboan di LKiS, 25 Maret 2014 bersama Ahmad Suaedy, M.Hum. Direktur Abdurrahman Wahid Center Universitas Indonesia.