Monday, November 7, 2016

JADI ORANG GOBLOK ITU LEBIH AMAN

"Gus, mengapa Kiai Soleh kalau memberi contoh Ja'a Zaidan? Seharusnya kan Ja'a zaidun?" tanyaku kebingungan. Waktu baca buku nahwu, contoh ja'a harus rafa'. Alamat rafa' dlommah. Mengapa harus fathah? Bukankah fathah itu alamat nashab?
"Kamu bingung?" tanyanya. "Baguslah kalau bingung. Berarti mau mikir," sambungnya lagi.
"Kalau seperti itu Kiai Soleh salah, Gus? Berarti menyesatkan murid-muridnya?"
"Astagfirullah... Jadi orang kok ceplas-ceplos seperti itu. Mbok ya kalau sinau masih sampai bab i'rob jangan nyalah-nyalahkan yang sudah faham satu kitab. Kiai Soleh itu orang yang 'alim dalam ilmu nahwu."
"Tapi sealim-alimnya ulama masih tetap manusia yang bisa salah, Gus?"
"Setiap ulama punya kode etik, Dia ndak boleh mengatakan sesuatu tanpa pertimbangan ilmu. Kalau ulama asal njeplak, apa bedanya sama koruptor? Korupsi ilmu itu tanggungannya dunia akhirat, lho."
"Tapi mengatakan sesuatu tanpa dasar ilmu, walau pun ulama sepuh, tetap salah, lho, Gus..." Gus yang bobotnya hampir seratus kilo itu menghela nafas.
"Kamu tahu nama ibu penjual dawet itu?"
"Tentu, Gus. Saya langganan di sana. Namanya Hindun."
"Sekarang, coba buat kalimat dalam bahasa Arab, saya berjalan bersama Hindun."
"Gampang, Gus. Marortu bi Hindun."
"Lha, kok Hindun? Dlommah kan alamat rafa'? Mengapa kamu baca untuk Jer? Alamat jer kan kasrah? Di situ ada huruf jer berupa "ba". Berarti kamu membuat kalimat tanpa ilmu!" ucap Gus dengan suara lantang.
"Mbok jangan marah-marah, Gus. Hindun kan nama orang? Mana bisa nama orang dii'robi?"
"Lha kalau Kiai Soleh memberi contoh si Zaidan itu nama orang, apakah kamu akan ngotot menyalahkan dia? Di dunia ini, menjadi goblok lebih aman daripada kamu jadi orang yang ngerti. Orang yang ngerti sering diserang ama orang bodoh yang gak mau belajar, atau belajar setengah-setengah."
Aku pun terdiam. Oh iya, ya...



Postingan ini adalah dialog imajiner. Insyaallah berseri. 

AHOK TAK PERLU DIBELA

Aksi 4 November tak pelak membuat banyak orang saling hujat. Di media sosial, golongan yang membela aksi itu dan yang tidak saling beradu argumen. Saya sebagai pengguna medsos pun merasa ndak nyaman karena kata-kata makian membanjiri beranda saya. Media yang harusnya jadi alat bersosial, malah jadi bibit perpecahan.
"Gus, menurut panjenengan, aksi 4 November itu bagaimana?" tanyaku pada Gus, ingin mengulik. Ia hisap rokok dalam-dalam kemudan menghembuskan sekuat-kuatnya.
"Ya ndak papa. Bagus malahan sebagai pembelajaran masyarakat."
"Tapi bagi Gus sendiri, Ahok menista agama apa enggak?" tanyaku.
"Ya tanya Ahok. Masak tanya saya?" Jawaban Gus membuatku nyengir.
"Ya kan njenengan sudah lihat videonya."
"Lha kamu sudah lihat?"
"Sudah, Gus."
"Menurutmu menistakan apa ndak?"
"Saya ndak berani komentar, Gus. Nunggu hasil keputusan dari polisi."
"Ya saya juga kayak gitu," ujarnya, lalu menghisap rokok dalam-dalam, membuatku kebingungan lagi.
"Tapi orang-orang mempermasalahkan penghilangan kata 'pakai' di transkrip Buni Yani. Menurut njenengan, Buni berniat memecahbelah umat apa enggak?"
"Ya tanya Buni Yani sana," kata Gus membuatku kembali nyengir.
"Lalu sikap kita bagaimana, Gus?"
"Yasudah kita pasrahkan sama yang berkewajiban. Gitu aja kok repot."
"Tapi yang demo kemarin agendanya membela agama Allah, Gus," kataku memburu pernyataan beliau.
"Yang tidak ikut apakah tidak membela agama Allah?" Ia menanya balik. Aku kembali tidak bisa berkata-kata.
"Lalu, menurut njenengan, Ahok perlu dibela apa tidak? Banyak yang menilai dia dizalimi."
"Ahok kok dibela. Dia orang besar dan punya kekuatan lebih untuk bertahan di situasi paling sulit sekali pun. Minimal untuk saat ini."
"Tapi dia dizalimi dengan penghilangan kata 'pakai' itu?"
"Yang harus diperjuangkan ya penegakan hukum itu, bukan pembelaan pada satu sosok. Bahaya kalau yang kamu bela orangnya, bukan keadilannya."
"Tapi bagaimana bisa membela keadilan tanpa membela korban?"
"Dalam menegakkan hukum, kita tidak boleh jadi fans. Kita harus memposisikan diri sebagai advokat," katanya lagi. "Kalau yang kamu bela Ahok, dan suatu saat dia melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan, apa mau terus kamu bela?"
"Ya tidak, Gus."
"Nah, itu..."
Gus menghisap rokok yang sudah sangat pendek, kemudian meninggalkan sisanya di asbak. Ia pun berjalan menuju masjid, lalu menunaikan salat sunah tahajud.

KAFIR!

"Gus, bukannya di Islam jelas disebutkan adanya muslim dan kafir?" tanyaku, mempertegas apa yang aku baca di sebuah buletin Jumat.
"Saya tidak mau jawab kalau arah pertanyaanmu ke politik. Saran saya, silakan kamu baca buku yang banyak, jangan hanya selebaran di masjid. Dunia ini luas. Ilmu tak terlihat batasnya, seperti kau memandang cakrawala."
"Maksudnya, Gus? Saya masih awam soal ini."
"Tapi janji tidak diarahkan ke politik?"
"Iya, saya janji."
"Kamu muslim?"
"Saya meyakini bahwa saya muslim dan insyaallah menjalankan perintah sebagai seorang muslim sebagaimana ketentuan syariat Allah."
"Walau pun kamu muslim, kamu bisa saja kafir jika tidak menyukuri nikmat Allah. Kafir adalah sebutan bagi orang yang kufur."
"Apa itu kufur, Gus? Saya semakin bingung."
"Beruntunglah jika kau bingung karena kau masih berfikir. Silakan cari jawabannya sendiri."
Sosok gempal itu berjalan menuju pengimaman, kemudian bertakbiratul ihram untuk salat sunah. Sementara aku masih terus bertanya-tanya. Tapi saya sudah terlanjur berjanji untuk tidak menyeretnya ke wilayah politik.
Dan setiap janji adalah hutang.


Postingan ini adalah dialog imajiner. Insyaallah berseri.

Monday, August 22, 2016

Dialog Tanpa Senjata

“Maaf, boleh saya minta air putih saja?” kata Felip Karma, saat diberi segelas teh hangat untuk menemani diskusi. “Saya bernazar untuk tidak meminum selain air putih, sampai Papua merdeka,” sambungnya lagi. Sebuah nazar yang menunjukkan betapa kuat dan gigihnya ia dalam berjuang.

Sebelum 22 Agustus kemarin, nama Filep Karma sangat asing di telinga saya. Beberapa kali mengikuti berita soal penangkapan pejuang OPM, saya tidak menghafal nama-nama tokohnya. Bahkan saya tidak menyadari bahwa Filep Karma adalah salah satu dari lima tahanan politik yang dibebaskan oleh Jokowi tahun 2015 lalu. Ia ditahan karena turut mengibarkan bendera kejora di Jayapura tahun 2004. “Setelah saya dibebaskan, saya tetap akan berjuang. Selama Papua belum merdeka, berarti perjuangan saya belum selesai!” tegasnya.
Ia menceritakan latar belakang gerakan yang diperjuangkannya ini. Menurutnya, mengapa Papua ingin merdeka dari Indonesia adalah karena keadilan belum mereka terima sepenuhnya. Banyak sekali diskriminasi, pelanggaran hak-hak asasi manusia, serta pemberangusan hak-hak kebebasan berpendapat, yang keseluruhannya membuat warga Papua merasa terkurung dalam negaranya sendiri. “Sikap yang kami terima di sana membuat kami merasa masih terkurung di negara Indonesia.”
Perjuangan Non-Violence
            Perjuangan OPM selama ini dianggap sebagai perjuangan kaum sparatis yang merongrong kedaulatan NKRI. Namun Filep mempertanyakan sikap pemerintah kepada wilayah lain seperti Aceh yang berbeda dengan apa yang diperlakukan kepada Papua. Katanya, di Aceh, komandan GAM bisa jadi wakil gubernur. Tetapi mengapa di Papua berbeda? Bahkan untuk menyuarakan keadilan saja dianggap sebagai pemberontak dan seringkali harga yang harus dibayarkan adalah nyawa.
            Suatu ketika, Filep pernah berada dalam situasi aksi yang panas. Ia kaget karena tepat di samping wajahnya terdapat lubang yang masih memercikkan api. Ia yakin bahwa itu adalah peluru tembak yang hampir saja menembus kepalanya. Ia menanyakan kepada temannya yang seorang anggota BRIMOB. Apakah peluru itu hanyalah untuk menakut-nakuti? Temannya menjawab, “Kalau sudah seperti itu, Anda adalah sasaran tembak.” Filep tersenyum dan berujar, “Berkat Tuhan, hari ini saya masih hidup.”
            Baginya, kepercayaan terhadap perlindungan Tuhan adalah kunci dari perjuangannya. Karena ajaran kasih Tuhan pula, ia tidak menggunakan cara-cara kekerasan dalam melakukan perjuangan. Dalam ajaran yang dianutnya, membunuh orang adalah dosa besar. “Sudah di dunia kami tidak mendapat kebahagiaan, masak di alam sana kami tidak masuk surga lagi. Ruginya dobel,” ujarnya bercanda. Ia mendapatkan banyak inspirasi perjuangan tanpa kekerasan saat melakukan studi di Manila, Filipina. Inilah yang ia suarakan kepada rakyat Papua.
            Ia mengakui, perjuangannya tidak akan pernah mudah karena sebagian besar warga Papua merasa terancam apabila menyuarakan pendapatnya. Sebagian lagi masih terlalu dini berdebat soal pimpinan dan rebutan kekuasaan. Namun apapun itu, ia siap menjadi martir sejarah demi kesejahteraan masyarakat Papua.
Gus Dur dan Papua
            “Dulu, kami mengaku orang Papua saja sudah dianggap sebagai pemberontak,” kenang Filep. Ya, sejak era presiden Sukarno, nama wilayah tersebut diganti menjadi Irian Jaya. Kata IRIAN sendiri konon merupakan singkatan dari  Ikut Republik Indonesia Anti Netherland. Namun saat presiden Abdurrahman Wahid memimpin, nama Irian Jaya dikembalikan lagi ke nama awalnya, Papua. Gus Dur sekaligus membentuk Presidium Dewan Papua (PDP) yang mewadahi ratusan suku di Papua. Pembentukan ini merupakan perwujudan pemerintahan Gus Dur untuk memberikan hak otonomi penuh terhadap wilayah Papua.
            Ada kisah saat Gus Dur diberi laporan bahwa warga Papua mengibarkan bendera bintang kejora. Ia bertanya pada sang jendral. “Lha, ada bendera merah putihnya ndak?” Sang jendral mengatakan ada. “Masih tinggi yang merah putih atau bintang kejora?” Sang jendral mengatakan merah putih. “Ya, sudah tidak ada masalah. Gitu aja kok repot,” cetus Gus Dur. Ia bahkan berujar jikalau masih menganggap itu masalah, anggap saja seperti bendera-bendera di dalam stadion. Bagi banyak kalangan, presiden Gus Dur adalah satu-satunya presiden yang memahami cara berkomunikasi dengan warga Papua.
            Filep sendiri memiliki kenangan bersama Gus Dur. Suatu ketika, ia bertemu Gus Dur di sebuah kampus di Jakarta. Filep bertanya, “Gus, kalau saya dan teman-teman melakukan aksi kemerdekaan Papua bagaimana?” Gus Dur menjawab, “Saya ini seorang humanis dan pluralis. Di sisi lain, saya seorang presiden yang terikat konstitusi. Kalau kalian melakukan aksi tersebut, kewajiban saya adalah menaati konstitusi. Saya akan meminta Anda ditangkap.”
Menurut Filep, perkataan Gus Dur mencerminkan sikap kenegarawanan seorang presiden, sekaligus sisi humanisme karena perintahnya hanya tangkap, bukan bunuh. Penangkapan akan mendapat reaksi dari dunia internasional, dan inilah yang akan membebaskan mereka kembali. Sayangnya pemerintahan Gus Dur hanya sesaat karena ia kemudian dilengserkan.
Saya mengutip sebuah artikel hasil wawancara dengan Thaha Alhamid. Tom Beanal bilang, “Bapak Presiden, selama bergabung dengan Indonesia, kita pernah diatur oleh tiga presiden. Semua mereka memiliki mata fisik yang bagus, sehingga begitu mereka datang di Papua, mereka silau melihat kemilau emas, gas bumi, hamparan hutan, dan lainnya. Mereka lupa bahwa di sana ada manusia. Mereka tidak peduli kami orang Papua. Mereka lihat kami seperti binatang. Mereka terus menerus membantai kami. Syukur bahwa saat ini Tuhan mengutus Bapak Gus Dur sebagai anugerah untuk Indonesia. Bapak memiliki kemuliaan mata nurani, sehingga mau melihat kami sebagai manusia. Kami senang Bapak memimpin kami…”.
Gus Dur pernah mengatakan, perdamaian tanpa keadilan adalah ilusi. Ketidakadilanlah yang melahirkan pergerakan-pergerakan berbagai kelompok di berbagai wilayah di Indonesia. Filep sendiri mengakui, faktor utama perjuangan dirinya adalah terjadinya ketimpangan dan ketidakadilan. Apalagi saat ia melihat kenyataan bahwa di Papua, warganya mengalami berbagai penindasan. Ia juga menyayangkan sikap ‘orang Indonesia’ yang selalu main senjata dalam menyelesaikan persoalan di Papua. Padahal, ia mengharapkan adanya solusi dalam bentuk dialog yang tidak saling menyakiti antara Indonesia dan Papua.

Semoga ke depan ada solusi terbaik dalam penyelesaian konflik di Papua. Jalan seperti apapun yang akan ditempuh, haruslah menempatkan kemanusiaan pada posisi paling puncak. Kata Gus Dur, yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan. Syukur-syukur ada jalan tengah yang membuat Pak Filep bisa kembali merasakan nikmatnya teh hangat dan seduhan kopi sembari menyanyikan lagu ‘Dari Sabang Sampai Merauke.’ (Tulisan ini disusun dari dinamika diskusi bertema Indonesia dan Papua bersama Filep Karma. Timoho, Senin, 22 Agustus 2016).

Thursday, June 30, 2016

Mudiknya Calon Sarjana Kampus Digital

sumber gambar
Sengaja tidak saya umbar nama lembaganya di sini, demi kemaslahatan bersama. 
Sebut saja namanya si Dul. Mahasiswa asal Sumatra itu hanya bisa tertunduk lesu sesaat setelah menerima telfon dari keluarganya. Kapan pulang? Begitu tanya keluarganya via telfon. Ia hanya bisa menjawab secepatnya. Kapan? Tidak tahu.
Ceritanya panjang. Si Dul merupakan mahasiswa akhir di sebuah kampus ternama. Ia baru saja mengikuti pendadaran skripsi beberapa hari yang lalu. Setelah pendadaran, masih banyak prosedur lain yang harus dilaluinya demi menghadiri wisuda beberapa bulan lagi. Selain revisi yang masya Allah muter-muter, ia juga harus melalui tahap administratif, mulai menggandakan skripsi beserta 'bonus-bonus' lampiran, hingga mendaftar yudisium sebagai pintu awal masuk ke gedung wisuda.
Untung baginya, di kampusnya itu, sistem yang digunakan menggunakan online alias berbasis internet. Jadi, ia bisa mengakses kapan pun dan di mana pun berada. Asal gak fakir kuota, urusan selesai. Tapi yang membuat dirinya tertunduk lesu justru sistem digital yang menundanya untuk mudik. Lha kok bisa? Syarat mendaftar yudisium di kampusnya itu ribet. Terutama syarat memberikan bundelan skripsi ke perpustakaan utama yang harus melewati prosedur pengunggahan file skripsi dalam bentuk bookmark ke laman perpustakaannya.
Nah, di sinilah titiknya. Ia sudah tiga hari berusaha mengupload skripsinya ke laman yang dimaksud. Tapi selalu gagal karena sistemnya error bin down bin troble. Sementara itu, di situs trapeloca dan agen tiket, harga pesawat kian membumbung tinggi layaknya Apollo trayek Jakarta - Bekasi yang penuh bahan bakarnya. Padahal, lebaran sebentar lagi, dan Si Dul sejatinya belum beli baju lebaran untuk dipakai di hari raya. Hari-harinya dihabiskan di emperan jurusan, sembari menanti sistem segera beres. Yang bikin sedih, Dul selalu ditanya kapan balik? Ya, kapan? Aku juga belum tahu! Begitu kira-kira jawaban si Dul.
Saat saya temui, Dul tampak masih otak-atik smartphonenya untuk mengecek harga pesawat ke rumahnya di sebrang pulau sana. Waktu saya tanya, Dul, apa sebaiknya kamu gak pulang dulu terus besok syawal ke sini lagi? Dul hanya menjawab dengan senyuman. Ia kemudian menjelaskan bahwa di kampusnya itu, batas akhir yudisium sekitar H plus seminggu setelah lebaran. Aku tanya lagi, njuk kenapa? Pada akhirnya, jawaban si Dul membuat saya hanya bisa mengiba.
Dul menjelaskan, di tanggal tersebut, tiket pesawat mahal, tiket bis mahal, jalanan padat, bandara penuh, dan segala kesulitan lainnya. Kalau pun naik bis, itu tidak menjamin berkasnya bisa didaftarkan secara offline karena masih menunggu sistem onlinenya bisa berjalan benar atau tidak. Ya, kampusnya kali ini dirasa tak ramah pada mahasiswa luar pulau.
Saya ikut membatin, ketika digitalisasi justru memperlambat, lalu kenapa terus dibela?
Ah, embuh. Aku gak mau ikut-ikut komentar soal kampus digitalnya si Dul. Semoga kisah si Dul gak nular di kampusku yang sama-sama menggunakan sistem digital.

Monday, May 9, 2016

Belajar dari Paus

sumber gambar jpnn
Di hari Paskah kemarin,  Paus Fransiskus mencuci kaki dua belas migran yang di antaranya adalah muslim, Kristen, dan Hindu. Tidak hanya mencuci, sang Paus bahkan mencium kaki para migran tersebut. Hati siapa yang tidak bergetar?
Peristiwa tersebut tentu sangat mengharukan. Terlebih dilakukan beberapa hari selepas tragedi bom Brussels yang menewaskan 34 orang dan membuat ratusan lainnya terluka. Ketika beberapa kalangan menggunakan isu terorisme tersebut untuk mengembangkan islamophobia, Paus justru memberikan pesan bahwa terorisme tidak terikat dengan agama apapun di dunia.
Tindakan Paus dalam menghormati pemeluk agama lain hendaknya menjadi teladan bagi semua orang, tak terkecuali umat Islam. Kaum muslimin mendapat tugas untuk berjihad dalam arti sesungguhnya, yakni memberikan rasa aman bagi semesta alam. Apalagi Allah SWT menegaskan dalam AlQur’an bahwa tugas manusia di bumi adalah untuk menjadi khalifah (QS 02:30) dan menyeimbangkan segala sendi kehidupan.
Dari asal katanya, Islam berarti kedamaian. Mengatasnamakan agama Islam berarti menampilkan unsur-unsur perdamaian. Pengakuan teroris bahwa mereka berjuang di jalan Allah tentu saja tidak bisa dibenarkan, karena hal itu sangat tidak berdasar. Bahkan bertentangan dengan agama, seperti yang diutarakan Gus Dur, “Kita butuh Islam ramah, bukan Islam marah’.

Rasulullah dan Kisah Bersama Yahudi
Mengobarkan semangat toleransi dan mengasihi pengikut agama lain adalah ajaran Rasulullah dan para sahabatnya. Hal ini ditunjukkan oleh Nabi dalam berbagai kesempatan. Misalnya adalah tentang pelayanan Rasulullah kepada seorang Yahudi yang buta.
Setiap hari ada hal yang tidak pernah beliau ditinggalkan, yaitu pergi ke pasar dan menyuapi si Yahudi buta. Ketika menyuapi orang tersebut, Rasulullah acap mendengar sumpah serapah darinya menjelekkan Rasulullah Bukannya marah, beliau justru semakin menunjukkan keramahan dan rasa sayangnya. Ketika beliau wafat, hal tersebut dilanjutkan oleh Abu Bakar.
Merasa ada yang aneh, si Yahudi berkata bahwa seseorang yang menyuapinya saat  ini bukanlah orang yang biasa memberikan makan kepadanya tersebut. Sahabat Abu Bakar pun mengiyakan, dan menjelaskan bahwa yang biasa menyuapinya adalah Muhammad, sosok yang selalu menjadi bahan cacian si Yahudi. Penjelasan Abu Bakar itu membuat hati si Yahudi tersebut tersentuh, dan kemudian ia menemukan hidayahnya.
Kisah pelayanan Rasulullah kepada orang Yahudi itu menjadi contoh yang tak terbantahkan bahwa Islam mengajarkan toleransi, bahkan kepada orang yang sangat membencinya.
Kebencian ibarat bara api. Jika kebencian dilawan dengan kebencian, yang terjadi justru kobaran api yang sangat dahsyat. Dan yang mampu memadamkan api kebencian adalah salju bernama kasih sayang.
Peristiwa teror di Brussels dan banyak tempat lainnya adalah buah dari kebencian yang terus dipelihara oleh sebagian orang. Ia akan terus membesar apabila disikapi dengan kebencian yang lain. Sebagai agen muslim yang baik, sudah menjadi kewajiban kita untuk memadamkan bara api itu dengan ajaran agung sang Rasulullah yaitu ajaran damai yang berasaskan cinta, kasih, dan sayang.
Rasulullah telah mencontohkan, saatnya kita meneruskan. Pertanyaanya kemudian, siapkah kita menjadi agen muslim yang baik?

Tulisan ini pernah dimuat di islami.co http://islami.co/belajar-dari-paus/

Surat Cinta untuk Adikku Calon Mahasiswa

sumber gambar: rumahukm
Tabik!
Beberapa saat lagi kampus-kampus akan disibukkan dengan beragam agenda yang berhubungan dengan anak didik baru: SNMPTN, SMBPTN, seleksi mandiri, Ospek dll. Seperti biasa, para calon mahasiswa akan datang dengan segenggam asa, sepercik harapan untuk menjadi manusia yang lebih baik. Salah satu orang yang berada di kerumunan itu mungkin kau, adikku. Seperti katamu dahulu, kau ingin membanggakan orang tua. Masuk kuliah tentu menjadi salah satu caramu, bukan? Tapi aku ingin menyampaikan beberapa hal padamu, adikku.
Kau pasti melihat, ada berita demonstrasi beberapa waktu yang lalu, bukan? Ya, demo di salah satu perguruan tinggi terkenal di kota kakakmu ini menimba pengalaman. Ada banyak tuntutan yang hampir seluruhnya berhubungan dengan uang. Uang. Iya, uang. Banyak yang menilai, biaya pendidikan di negara kita sangat mahal. Apalagi setelah diberlakukannya sistem pembayaran bernama uang kuliah tunggal (UKT). Kelak, jika kau jadi masuk ke perguruan tinggi negeri akan mengetahuinya. Saat ini, simak surat kakakmu ini terlebih dahulu.
Terkait dengan uang, sampaikan kepada orang tua kita jika biayanya memang tidak sedikit. Untuk itu, tidak semua orang bisa masuk perguruan tinggi. Apakah pendidikan hanya dikhususkan bagi orang kaya? Ah, sama sekali tidak, adikku. Ini tinggal bagaimana cara kita memaknai pendidikan. Jika kau memaknai pendidikan sebagai sebuah interaksi antara guru-murid atau mahasiswa-dosen dalam satu ruang kelas, maka pemaknaanmu terlalu sempit. Sangat sempit.
Sedikit bocoran, adikku. Kakakmu ini adalah salah seorang mahasiswa yang ogah-ogahan masuk kelas. Ya, seringkali kakakmu merasa bosan berada di ruang kelas, mendengar presentasi kelompok lain dan tak jarang presentasinya membuat kakak menjadi jenuh. Walhasil, kakak lebih sering piknik. Lihat saja akun instagram kakakmu ini. Mulai gunung, laut, sampai dinding rumah orang jadi latar menarik. Walau pun begitu, nilai kakakmu tidaklah buruk. Masih di atas 3.5 IPK-nya dari nilai maksimal 4.0.
Kakakmu ini lebih sering berkegiatan di luar, berinteraksi langsung dengan masalah yang sepele. Mungkin sebagian besar mahasiswa ogah mengurus hal-hal sepele karena namanya "maha". Jadi kakakmu tidak seidealis mahasiswa yang saban hari bergelut dengan Plato dan Marx serta tokoh lainnya. Kakakmu tidak secanggih mahasiswa pada umumnya yang ngobrol ngalor ngidul soal wujud negara ideal, kapitalisasi global, hingga revolusi total yang membuat otak ingin meledak. Kakakmu lebih suka ngobrol soal kiai kampung atau pol mentok sedikit-sedikit ngutip Ibnu Sina yang gak masuk radar bacaan mahasiswa pada umumnya.
Kembali lagi ke soal biaya, adikku. Kakak ingin mengutip perkataan salah seorang teman kakak yang menuntut pendidikan murah dan inklusif alias terbuka bagi siapa saja. Pendidikan saat ini disebutnya masih sangat eksklusif karena hanya bisa diakses oleh sebagian kecil orang dan biayanya sangat mahal. Ia bercerita jika demi kuliahnya, orang tuanya sampai menjual 4 ekor kambing dan sebidang tanah. Ia tidak ingin hal yang sama terjadi pada orang lain. Nah, perkataan teman kakak inilah yang mendorong kakak menulis surat ini. Kakak perlu menyampaikannya sebelum kau benar-benar memutuskan untuk masuk ke perguruan tinggi.
Pertama, ruang kelas sangat terbatas. Kau harus berpikir realistis peluang masuk perguruan tinggi, lebih-lebih negeri, sangat tipis. Kakak pernah mendengar ceramah rektor jika dari 90.000 pendaftar di kampus kakak, hanya 3000 orang yang berhak masuk ke universitas. Jumlah tersebut dari tahun ke tahun semakin dibatasi karena jumlah anak didik yang masuk tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa yang keluar. Ya, kampus bukan seperti SMA yang dibatasi waktu 3 tahun harus selesai. Di kampus kakak banyak sekali mahasiswa yang sudah sangat lama kuliah. Tapi kakak tidak mengatakan gara-gara mereka, kuota masuk perguruan tinggi jadi dibatasi. Mahasiswa boleh-boleh saja dong mau lulus kapan. Toh, yang penting sudah bayar. Mahal lagi. Soal peluang adik-adiknya makin kecil ya bukan urusan mahasiswa. Di sini perjuanganmu akan sangat berat.
Kedua, soal biaya mahal, jangan khawatir. Di kampus kakak dan juga kampus lainnya ada banyak tawaran beasiswa. Modelnya pun beragam, ada yang seleksinya sangat mudah, sampai yang sulit. Kakak juga pernah merasakan dapat tunjangan dari perusahaan berupa beasiswa selama satu tahun dengan perjuangan yang warbyasah. Dari puluhan ribu yang mendaftar, hanya 500an orang yang menerima. Ya, inilah persaingan, dik. Kelak, jika kau jadi masuk perguruan tinggi dan mendapat beasiswa, gunakan biaya dari pemerintah atau perusahaan itu untuk mendukung belajarmu. Jangan seperti teman kakak yang dapat beasiswa malah digunakan untuk beli gadget. Padahal itu jenis beasiswa miskin yang diambil dari pembayaran pajak masyarakat. Bahkan seorang pemulung juga membayar pajak untuk rumahnya. Masak kau tega, jika bayaran mereka digunakan untuk foya-foya?
Tak kalah penting, jika kelak kau masuk perguruan tinggi, bergabunglah di organisasi. Apapun organisasi itu, yang penting tidak melupakan tujuan awalmu masuk kuliah. Biarkan jika ada yang bertanya, "lulus cepat buat apa?". Kalau berani, tanya balik, "Lulus lama buat apa?". Bukannya kakak melarangmu untuk mengikuti jejak Pak Seno yang sekarang jadi gubernur dan mengatakan kalau dulunya ia kuliah 10 tahun. Lha wong dulu belum ada S2 dan minat masuk kampus belum seramai sekarang.
Sekarang kalkulasi saja berapa biaya yang harus dibayar orang tua jika kau menunda kelulusanmu. Katakanlah dalam satu bulan kau habis 1,5 juta untuk bayar kost, listrik, bensin, dan jatah makan. Satu bulan menunda kelulusan, sama dengan menambah biaya 1,5 juta. Bagaimana jika setahun? Kau bisa beli motor. Ya, aneh saja kalau kau akan protes biaya semester mahal. Di kampus kakak, biaya semester paling mahal 2 juta. Satu tahun berarti 4 juta. Nah, 4 juta dengan 18 juta mahal mana? Padahal biaya semester kakak 'cuma' 600 ribu. Tidak sampai separuhnya kebutuhan hidup kakak di sini.
Jika kelak kau masuk ke perguruan tinggi negeri dan bergabung di organisasi, berjuanglah untuk jadi leader. Berjuanglah untuk menjadi pemimpin yang amanah. Ingat, seluruh biaya berasal dari kita sendiri. Biaya mahal adalah karena kebutuhan kita meningkat. Jika dana untuk organisasi tidak digunakan sebagaimana mestinya, sama saja kita mengkhianati diri sendiri. Tuhan sangat benci pada pengkhianat. Jangan ragu-ragu turun ke jalan untuk berdemonstrasi jika memang perlu. Tapi jadilah demonstran yang cerdas. Jadilah demonstran yang tidak merugikan orang lain demi eksistensi diri sendiri. Tak perlu memasang wajah serius, berorasi, mengutuk pemerintah tapi minta difoto oleh temanmu menggunakan iPhone yang dibeli dari dana beasiswa, untuk diupload di media sosial. Karena hal itu bisa bikin riya' dan mereduksi nilai-nilai perjuanganmu.
Ah, surat kakak malah ngelantur ngalor ngidul. Yang jelas, ini pesan kakak padamu, jangan sekali-kali merelakan sebidang tanah dijual untuk biaya kuliah. Jika itu dilakukan, sungguh besar tanggung jawab yang kau emban pada orang tua. Mengecewakan mereka adalah dosa yang sangat besar. Kau tentu ingat bahwa doa orang tua sangat tajam. Kalau merasa biaya kuliah sangat mahal, cari beasiswa yang bisa membayar penuh. Kalau tak mampu menembus beasiswa karena gagal seleksi dan tidak mau bayar mahal, tak perlu kuliah. Beli saja buku di toko-toko. Soal peluang kerja? Ah, kuliah sama sekali tak menjamin. Banyak kok sarjana yang menganggur sampai-sampai Iwan Fals pernah membuat lagu sarjana muda yang bagian liriknya berbunyi:
Engkau sarjana muda
Resah mencari kerja
Tak berguna ijasahmu
Empat tahun lamanya
Bergelut dengan buku
Sia-sia semuanya
Setengah putus asa dia berucap
"maaf ibu..."
Toh, di bangku kuliah, kau akan banyak menemukan orang-orang yang berkata bahwa kuliah tidak penting. Saking enggak pentingnya, mereka menganggap tabu orang yang rajin ngampus. Tapi pada akhirnya jika hidayah datang, semua mahasiswa akan menyelesaikan 144 SKSnya. So, daripada menunda-nunda, lebih baik penuhi segala kewajiban.
Kuliahlah pada bidang yang kau inginkan. Jika gagal, dan kau mau mengambil bidang lain, jangan gengsi untuk mengubah rencana hidupmu. Tak perlu menjadi orang yang idealis untuk urusan pekerjaan. Asal halal dan mampu kau kerjakan, lakukan! Kakak dulu juga ingin jadi pilot.
Sekian dulu, ya adikku. Kapan-kapan kakak sambung lagi.
Wassalam...