Thursday, June 30, 2016

Mudiknya Calon Sarjana Kampus Digital

sumber gambar
Sengaja tidak saya umbar nama lembaganya di sini, demi kemaslahatan bersama. 
Sebut saja namanya si Dul. Mahasiswa asal Sumatra itu hanya bisa tertunduk lesu sesaat setelah menerima telfon dari keluarganya. Kapan pulang? Begitu tanya keluarganya via telfon. Ia hanya bisa menjawab secepatnya. Kapan? Tidak tahu.
Ceritanya panjang. Si Dul merupakan mahasiswa akhir di sebuah kampus ternama. Ia baru saja mengikuti pendadaran skripsi beberapa hari yang lalu. Setelah pendadaran, masih banyak prosedur lain yang harus dilaluinya demi menghadiri wisuda beberapa bulan lagi. Selain revisi yang masya Allah muter-muter, ia juga harus melalui tahap administratif, mulai menggandakan skripsi beserta 'bonus-bonus' lampiran, hingga mendaftar yudisium sebagai pintu awal masuk ke gedung wisuda.
Untung baginya, di kampusnya itu, sistem yang digunakan menggunakan online alias berbasis internet. Jadi, ia bisa mengakses kapan pun dan di mana pun berada. Asal gak fakir kuota, urusan selesai. Tapi yang membuat dirinya tertunduk lesu justru sistem digital yang menundanya untuk mudik. Lha kok bisa? Syarat mendaftar yudisium di kampusnya itu ribet. Terutama syarat memberikan bundelan skripsi ke perpustakaan utama yang harus melewati prosedur pengunggahan file skripsi dalam bentuk bookmark ke laman perpustakaannya.
Nah, di sinilah titiknya. Ia sudah tiga hari berusaha mengupload skripsinya ke laman yang dimaksud. Tapi selalu gagal karena sistemnya error bin down bin troble. Sementara itu, di situs trapeloca dan agen tiket, harga pesawat kian membumbung tinggi layaknya Apollo trayek Jakarta - Bekasi yang penuh bahan bakarnya. Padahal, lebaran sebentar lagi, dan Si Dul sejatinya belum beli baju lebaran untuk dipakai di hari raya. Hari-harinya dihabiskan di emperan jurusan, sembari menanti sistem segera beres. Yang bikin sedih, Dul selalu ditanya kapan balik? Ya, kapan? Aku juga belum tahu! Begitu kira-kira jawaban si Dul.
Saat saya temui, Dul tampak masih otak-atik smartphonenya untuk mengecek harga pesawat ke rumahnya di sebrang pulau sana. Waktu saya tanya, Dul, apa sebaiknya kamu gak pulang dulu terus besok syawal ke sini lagi? Dul hanya menjawab dengan senyuman. Ia kemudian menjelaskan bahwa di kampusnya itu, batas akhir yudisium sekitar H plus seminggu setelah lebaran. Aku tanya lagi, njuk kenapa? Pada akhirnya, jawaban si Dul membuat saya hanya bisa mengiba.
Dul menjelaskan, di tanggal tersebut, tiket pesawat mahal, tiket bis mahal, jalanan padat, bandara penuh, dan segala kesulitan lainnya. Kalau pun naik bis, itu tidak menjamin berkasnya bisa didaftarkan secara offline karena masih menunggu sistem onlinenya bisa berjalan benar atau tidak. Ya, kampusnya kali ini dirasa tak ramah pada mahasiswa luar pulau.
Saya ikut membatin, ketika digitalisasi justru memperlambat, lalu kenapa terus dibela?
Ah, embuh. Aku gak mau ikut-ikut komentar soal kampus digitalnya si Dul. Semoga kisah si Dul gak nular di kampusku yang sama-sama menggunakan sistem digital.

Monday, May 9, 2016

Belajar dari Paus

sumber gambar jpnn
Di hari Paskah kemarin,  Paus Fransiskus mencuci kaki dua belas migran yang di antaranya adalah muslim, Kristen, dan Hindu. Tidak hanya mencuci, sang Paus bahkan mencium kaki para migran tersebut. Hati siapa yang tidak bergetar?
Peristiwa tersebut tentu sangat mengharukan. Terlebih dilakukan beberapa hari selepas tragedi bom Brussels yang menewaskan 34 orang dan membuat ratusan lainnya terluka. Ketika beberapa kalangan menggunakan isu terorisme tersebut untuk mengembangkan islamophobia, Paus justru memberikan pesan bahwa terorisme tidak terikat dengan agama apapun di dunia.
Tindakan Paus dalam menghormati pemeluk agama lain hendaknya menjadi teladan bagi semua orang, tak terkecuali umat Islam. Kaum muslimin mendapat tugas untuk berjihad dalam arti sesungguhnya, yakni memberikan rasa aman bagi semesta alam. Apalagi Allah SWT menegaskan dalam AlQur’an bahwa tugas manusia di bumi adalah untuk menjadi khalifah (QS 02:30) dan menyeimbangkan segala sendi kehidupan.
Dari asal katanya, Islam berarti kedamaian. Mengatasnamakan agama Islam berarti menampilkan unsur-unsur perdamaian. Pengakuan teroris bahwa mereka berjuang di jalan Allah tentu saja tidak bisa dibenarkan, karena hal itu sangat tidak berdasar. Bahkan bertentangan dengan agama, seperti yang diutarakan Gus Dur, “Kita butuh Islam ramah, bukan Islam marah’.

Rasulullah dan Kisah Bersama Yahudi
Mengobarkan semangat toleransi dan mengasihi pengikut agama lain adalah ajaran Rasulullah dan para sahabatnya. Hal ini ditunjukkan oleh Nabi dalam berbagai kesempatan. Misalnya adalah tentang pelayanan Rasulullah kepada seorang Yahudi yang buta.
Setiap hari ada hal yang tidak pernah beliau ditinggalkan, yaitu pergi ke pasar dan menyuapi si Yahudi buta. Ketika menyuapi orang tersebut, Rasulullah acap mendengar sumpah serapah darinya menjelekkan Rasulullah Bukannya marah, beliau justru semakin menunjukkan keramahan dan rasa sayangnya. Ketika beliau wafat, hal tersebut dilanjutkan oleh Abu Bakar.
Merasa ada yang aneh, si Yahudi berkata bahwa seseorang yang menyuapinya saat  ini bukanlah orang yang biasa memberikan makan kepadanya tersebut. Sahabat Abu Bakar pun mengiyakan, dan menjelaskan bahwa yang biasa menyuapinya adalah Muhammad, sosok yang selalu menjadi bahan cacian si Yahudi. Penjelasan Abu Bakar itu membuat hati si Yahudi tersebut tersentuh, dan kemudian ia menemukan hidayahnya.
Kisah pelayanan Rasulullah kepada orang Yahudi itu menjadi contoh yang tak terbantahkan bahwa Islam mengajarkan toleransi, bahkan kepada orang yang sangat membencinya.
Kebencian ibarat bara api. Jika kebencian dilawan dengan kebencian, yang terjadi justru kobaran api yang sangat dahsyat. Dan yang mampu memadamkan api kebencian adalah salju bernama kasih sayang.
Peristiwa teror di Brussels dan banyak tempat lainnya adalah buah dari kebencian yang terus dipelihara oleh sebagian orang. Ia akan terus membesar apabila disikapi dengan kebencian yang lain. Sebagai agen muslim yang baik, sudah menjadi kewajiban kita untuk memadamkan bara api itu dengan ajaran agung sang Rasulullah yaitu ajaran damai yang berasaskan cinta, kasih, dan sayang.
Rasulullah telah mencontohkan, saatnya kita meneruskan. Pertanyaanya kemudian, siapkah kita menjadi agen muslim yang baik?

Tulisan ini pernah dimuat di islami.co http://islami.co/belajar-dari-paus/

Surat Cinta untuk Adikku Calon Mahasiswa

sumber gambar: rumahukm
Tabik!
Beberapa saat lagi kampus-kampus akan disibukkan dengan beragam agenda yang berhubungan dengan anak didik baru: SNMPTN, SMBPTN, seleksi mandiri, Ospek dll. Seperti biasa, para calon mahasiswa akan datang dengan segenggam asa, sepercik harapan untuk menjadi manusia yang lebih baik. Salah satu orang yang berada di kerumunan itu mungkin kau, adikku. Seperti katamu dahulu, kau ingin membanggakan orang tua. Masuk kuliah tentu menjadi salah satu caramu, bukan? Tapi aku ingin menyampaikan beberapa hal padamu, adikku.
Kau pasti melihat, ada berita demonstrasi beberapa waktu yang lalu, bukan? Ya, demo di salah satu perguruan tinggi terkenal di kota kakakmu ini menimba pengalaman. Ada banyak tuntutan yang hampir seluruhnya berhubungan dengan uang. Uang. Iya, uang. Banyak yang menilai, biaya pendidikan di negara kita sangat mahal. Apalagi setelah diberlakukannya sistem pembayaran bernama uang kuliah tunggal (UKT). Kelak, jika kau jadi masuk ke perguruan tinggi negeri akan mengetahuinya. Saat ini, simak surat kakakmu ini terlebih dahulu.
Terkait dengan uang, sampaikan kepada orang tua kita jika biayanya memang tidak sedikit. Untuk itu, tidak semua orang bisa masuk perguruan tinggi. Apakah pendidikan hanya dikhususkan bagi orang kaya? Ah, sama sekali tidak, adikku. Ini tinggal bagaimana cara kita memaknai pendidikan. Jika kau memaknai pendidikan sebagai sebuah interaksi antara guru-murid atau mahasiswa-dosen dalam satu ruang kelas, maka pemaknaanmu terlalu sempit. Sangat sempit.
Sedikit bocoran, adikku. Kakakmu ini adalah salah seorang mahasiswa yang ogah-ogahan masuk kelas. Ya, seringkali kakakmu merasa bosan berada di ruang kelas, mendengar presentasi kelompok lain dan tak jarang presentasinya membuat kakak menjadi jenuh. Walhasil, kakak lebih sering piknik. Lihat saja akun instagram kakakmu ini. Mulai gunung, laut, sampai dinding rumah orang jadi latar menarik. Walau pun begitu, nilai kakakmu tidaklah buruk. Masih di atas 3.5 IPK-nya dari nilai maksimal 4.0.
Kakakmu ini lebih sering berkegiatan di luar, berinteraksi langsung dengan masalah yang sepele. Mungkin sebagian besar mahasiswa ogah mengurus hal-hal sepele karena namanya "maha". Jadi kakakmu tidak seidealis mahasiswa yang saban hari bergelut dengan Plato dan Marx serta tokoh lainnya. Kakakmu tidak secanggih mahasiswa pada umumnya yang ngobrol ngalor ngidul soal wujud negara ideal, kapitalisasi global, hingga revolusi total yang membuat otak ingin meledak. Kakakmu lebih suka ngobrol soal kiai kampung atau pol mentok sedikit-sedikit ngutip Ibnu Sina yang gak masuk radar bacaan mahasiswa pada umumnya.
Kembali lagi ke soal biaya, adikku. Kakak ingin mengutip perkataan salah seorang teman kakak yang menuntut pendidikan murah dan inklusif alias terbuka bagi siapa saja. Pendidikan saat ini disebutnya masih sangat eksklusif karena hanya bisa diakses oleh sebagian kecil orang dan biayanya sangat mahal. Ia bercerita jika demi kuliahnya, orang tuanya sampai menjual 4 ekor kambing dan sebidang tanah. Ia tidak ingin hal yang sama terjadi pada orang lain. Nah, perkataan teman kakak inilah yang mendorong kakak menulis surat ini. Kakak perlu menyampaikannya sebelum kau benar-benar memutuskan untuk masuk ke perguruan tinggi.
Pertama, ruang kelas sangat terbatas. Kau harus berpikir realistis peluang masuk perguruan tinggi, lebih-lebih negeri, sangat tipis. Kakak pernah mendengar ceramah rektor jika dari 90.000 pendaftar di kampus kakak, hanya 3000 orang yang berhak masuk ke universitas. Jumlah tersebut dari tahun ke tahun semakin dibatasi karena jumlah anak didik yang masuk tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa yang keluar. Ya, kampus bukan seperti SMA yang dibatasi waktu 3 tahun harus selesai. Di kampus kakak banyak sekali mahasiswa yang sudah sangat lama kuliah. Tapi kakak tidak mengatakan gara-gara mereka, kuota masuk perguruan tinggi jadi dibatasi. Mahasiswa boleh-boleh saja dong mau lulus kapan. Toh, yang penting sudah bayar. Mahal lagi. Soal peluang adik-adiknya makin kecil ya bukan urusan mahasiswa. Di sini perjuanganmu akan sangat berat.
Kedua, soal biaya mahal, jangan khawatir. Di kampus kakak dan juga kampus lainnya ada banyak tawaran beasiswa. Modelnya pun beragam, ada yang seleksinya sangat mudah, sampai yang sulit. Kakak juga pernah merasakan dapat tunjangan dari perusahaan berupa beasiswa selama satu tahun dengan perjuangan yang warbyasah. Dari puluhan ribu yang mendaftar, hanya 500an orang yang menerima. Ya, inilah persaingan, dik. Kelak, jika kau jadi masuk perguruan tinggi dan mendapat beasiswa, gunakan biaya dari pemerintah atau perusahaan itu untuk mendukung belajarmu. Jangan seperti teman kakak yang dapat beasiswa malah digunakan untuk beli gadget. Padahal itu jenis beasiswa miskin yang diambil dari pembayaran pajak masyarakat. Bahkan seorang pemulung juga membayar pajak untuk rumahnya. Masak kau tega, jika bayaran mereka digunakan untuk foya-foya?
Tak kalah penting, jika kelak kau masuk perguruan tinggi, bergabunglah di organisasi. Apapun organisasi itu, yang penting tidak melupakan tujuan awalmu masuk kuliah. Biarkan jika ada yang bertanya, "lulus cepat buat apa?". Kalau berani, tanya balik, "Lulus lama buat apa?". Bukannya kakak melarangmu untuk mengikuti jejak Pak Seno yang sekarang jadi gubernur dan mengatakan kalau dulunya ia kuliah 10 tahun. Lha wong dulu belum ada S2 dan minat masuk kampus belum seramai sekarang.
Sekarang kalkulasi saja berapa biaya yang harus dibayar orang tua jika kau menunda kelulusanmu. Katakanlah dalam satu bulan kau habis 1,5 juta untuk bayar kost, listrik, bensin, dan jatah makan. Satu bulan menunda kelulusan, sama dengan menambah biaya 1,5 juta. Bagaimana jika setahun? Kau bisa beli motor. Ya, aneh saja kalau kau akan protes biaya semester mahal. Di kampus kakak, biaya semester paling mahal 2 juta. Satu tahun berarti 4 juta. Nah, 4 juta dengan 18 juta mahal mana? Padahal biaya semester kakak 'cuma' 600 ribu. Tidak sampai separuhnya kebutuhan hidup kakak di sini.
Jika kelak kau masuk ke perguruan tinggi negeri dan bergabung di organisasi, berjuanglah untuk jadi leader. Berjuanglah untuk menjadi pemimpin yang amanah. Ingat, seluruh biaya berasal dari kita sendiri. Biaya mahal adalah karena kebutuhan kita meningkat. Jika dana untuk organisasi tidak digunakan sebagaimana mestinya, sama saja kita mengkhianati diri sendiri. Tuhan sangat benci pada pengkhianat. Jangan ragu-ragu turun ke jalan untuk berdemonstrasi jika memang perlu. Tapi jadilah demonstran yang cerdas. Jadilah demonstran yang tidak merugikan orang lain demi eksistensi diri sendiri. Tak perlu memasang wajah serius, berorasi, mengutuk pemerintah tapi minta difoto oleh temanmu menggunakan iPhone yang dibeli dari dana beasiswa, untuk diupload di media sosial. Karena hal itu bisa bikin riya' dan mereduksi nilai-nilai perjuanganmu.
Ah, surat kakak malah ngelantur ngalor ngidul. Yang jelas, ini pesan kakak padamu, jangan sekali-kali merelakan sebidang tanah dijual untuk biaya kuliah. Jika itu dilakukan, sungguh besar tanggung jawab yang kau emban pada orang tua. Mengecewakan mereka adalah dosa yang sangat besar. Kau tentu ingat bahwa doa orang tua sangat tajam. Kalau merasa biaya kuliah sangat mahal, cari beasiswa yang bisa membayar penuh. Kalau tak mampu menembus beasiswa karena gagal seleksi dan tidak mau bayar mahal, tak perlu kuliah. Beli saja buku di toko-toko. Soal peluang kerja? Ah, kuliah sama sekali tak menjamin. Banyak kok sarjana yang menganggur sampai-sampai Iwan Fals pernah membuat lagu sarjana muda yang bagian liriknya berbunyi:
Engkau sarjana muda
Resah mencari kerja
Tak berguna ijasahmu
Empat tahun lamanya
Bergelut dengan buku
Sia-sia semuanya
Setengah putus asa dia berucap
"maaf ibu..."
Toh, di bangku kuliah, kau akan banyak menemukan orang-orang yang berkata bahwa kuliah tidak penting. Saking enggak pentingnya, mereka menganggap tabu orang yang rajin ngampus. Tapi pada akhirnya jika hidayah datang, semua mahasiswa akan menyelesaikan 144 SKSnya. So, daripada menunda-nunda, lebih baik penuhi segala kewajiban.
Kuliahlah pada bidang yang kau inginkan. Jika gagal, dan kau mau mengambil bidang lain, jangan gengsi untuk mengubah rencana hidupmu. Tak perlu menjadi orang yang idealis untuk urusan pekerjaan. Asal halal dan mampu kau kerjakan, lakukan! Kakak dulu juga ingin jadi pilot.
Sekian dulu, ya adikku. Kapan-kapan kakak sambung lagi.
Wassalam...

Saturday, March 26, 2016

Ngaji Kemanusiaan

Catatan Nobar Film Noble
cncf.org

Tentu bukan sebuah kebetulan jika kemanusiaan (humanity) diletakkan sebagai salah satu poin nilai utama perjuangan Gus Dur oleh para sahabat dan muridnya. Bukan sebuah kebetulan pula jika sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menjadi sila kedua Pancasila. Baik poin kemanusiaan atau pun sila kemanusiaan, keduanya diletakkan setelah asas ketuhanan. Dalam nilai utama perjuangan Gus Dur, nilai pertama adalah ketauhidan (spirituality). Sementara sila pertama adalah Ketuhanan yang Maha Esa.
Dalam ajaran agama Islam, dikenal tiga jenis hubungan yang harus dijalin oleh manusia. Ketiganya adalah: hablun minallah (hubungan dengan Tuhan), hablun minannas (hubungan dengan manusia), dan hablun minal alam (hubungan dengan alam). Lagi-lagi, hubungan dengan manusia diletakkan di nomor dua, setelah hubungan dengan Tuhan yang sifatnya vertikal.
Pertanyaannya adalah, mengapa? Untuk menjawabnya, ada dua quote menarik yang pernah disampaikan oleh Gus Dur:
“Tuhan perlu dibela. Ia sudah maha segala-galanya. Belalah mereka yang diperlakukan tidak adil.”
“Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya. Sebaliknya merendahkan dan menistakan manusia, berarti merendahkan dan menistakan penciptanya pula.”
Jika ada seseorang yang mengaku ingin membela atau memuliakan Tuhan, bisa dilihat usahanya dalam membela atau memuliakan manusia. Jika ada orang yang mengaku beriman pada Tuhan yang esa, maka dilihat pula bagaimana ia memperjuangkan keadilan bagi umat manusia.
Di dunia ini telah banyak tokoh yang memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan. Mahatma Gandhi misalnya, ia melakukan perjuangan tanpa kekerasan dalam memerdekakan India dari penjajah. Di Indonesia, kita mengenal banyak tokoh seperti Romo Mangun yang melakukan pendampingan bagi warga Kedung Ombo yang terzalimi oleh pembangunan di masa orde baru. Gus Dur sendiri memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dengan membela kaum minoritas.
Perjuangan tersebut haruslah menjadi teladan bagi siapa pun yang merasa beriman dan berjuang di jalan Tuhan. Dan hendaknya perjuangan atas nama manusia tidak tersekat oleh faktor kedekatan semata. Akan menjadi luar biasa apabila perjuangan kemanusiaan yang dilakukan berada di tempat di mana kita tidak memiliki ikatan sama sekali, baik ikatan darah, atau pun daerah. Hal inilah yang ditunjukkan oleh Christina Noble, seorang warga Irlandia yang mengabdikan dirinya untuk kemanusiaan di Vietnam.
Kisah perjuangan Noble digambarkan secara apik dalam film besutan Stephen Bardley berjudul “Noble” yang dibintangi oleh Deirdre O’Kane. Noble yang mengalami masa lalu pahit; hidup keras sebagai anak jalanan, dipisah dari orang tuanya, menjadi korban perkosaan, tergerak untuk melepaskan penderitaan yang sama bagi anak-anak di Vietnam. Ia kemudian mencari bantuan kepada para bos minyak di sana untuk mendirikan sebuah pusat kegiatan dan kesehatan bagi anak-anak jalanan Vietnam, khususnya kota Ho Chi Minh. Pada Jumat 25 Maret 2016 yang lalu, Komunitas Santri Gus Dur Yogyakarta mengadakan nonton bareng sekaligus diskusi film tersebut dalam rangka ngaji kemanusiaan.
Film ini berlatar tahun 1989, empat belas tahun pasca perang Vietnam. Sisa-sisa perang masih begitu terasa. Kecurigaan dan ketatnya pengawasan pada orang asing masih berlaku di negara tersebut. Tetapi Noble terus berupaya melakukan kerja kemanusiaannya. Ia tidak tega melihat anak-anak Vietnam hidup dalam kehidupan jalanan yang keras. Di kemudian hari mendirikan Christina Noble Children’s Foundation. Pada saat dirilis pada tahun 2014, yayasan tersebut telah mengerjakan ratusan proyek dan membantu sekitar 700.000 anak di Vietnam dan Mongolia.
Sebuah kerja sosial yang luar biasa. Bahkan ketika ditanya mengapa Vietnam, Noble mengaku tidak tahu. Ia hanya mengenal Vietnam melalui layar kaca televisi, melalui berita perang yang menyengsarakan jutaan warga Vietnam.
Perjuangan Noble menginspirasi bahwa kedekatan secara geografi bukanlah faktor utama seseorang untuk melakukan gerakan kemanusiaan. Bahkan ia yang tak memiliki kedekatan khusus dengan negara Vietnam malah melakukan hal besar yang tidak terpikirkan oleh penduduk negara tersebut.
Apakah Noble adalah bentuk pencitraan Barat untuk menutup-nutupi kekejaman Barat? Pertanyaan ini muncul dalam diskusi setelah pemutaran film selesai. Jangan-jangan Noble hanyalah anomali yang sengaja diciptakan untuk mencitrakan baik barat. Seperti halnya film produksi Hollywood berjudul Ramboo. Akan tetapi kecurigaan itu sepertinya terlalu jauh. Apalagi jika melihat latar belakang Noble yang seorang Irlandia. Irlandia sama sekali tidak terlibat dengan perang dahsyat di Vietnam. Kecurigaan tersebut semakin terbantah ketika misi kemanusiaan tersebut tidak hanya dilakukan di Vietnam, tetapi juga di Mongolia.
Terlepas dari kemungkinan faktor politisasi tersebut, film Noble memberikan contoh konkret bagaimana seorang manusia berjuang untuk manusia. Sekali lagi untuk manusia, semua manusia. Bukan untuk sesama warga negara tertentu. Jika seluruh manusia memiliki jalan pikir yang sama dengan Noble, maka penindasan dan pemiskinan serta kelaparan tidak akan terjadi.

Namun dunia tampaknya belum siap untuk melihat keharmonisan dan perdamaian. Masih banyak manusia-manusia egois yang tidak peduli pada kesusahan orang lain. Menjadi tugas bagi para pejuang kemanusiaan untuk membuat penduduk bumi ini siap dengan indahnya damai dan harmoni...

Saturday, January 30, 2016

Kapan Jadi Teknisi UIN, Mark?

leadinvestor.com
Melihat beranda facebook beberapa terakhir ini membuatku ingin protes sama si empunya, Kang Mas Mark Zuckerberg. Lha gimana enggak? Situs jejaring yang dibangunnya itu berisi spam-spam yang berasal dari wilayah yang sama: Yogyakarta. Mau nulis UIN Jogja gak enak, takut nanti jadi masalah di belakangnya.
Aslinya aku pengen report as spam pada status-status yang isinya mengkritik sistem Online KRS-an. You know KRS? KRS itu akronim dari Kartu Rencana Studi yang wajib ada di setiap kampus. Kalo nggak ada KRS ya nggak bisa kuliah. Penerapan input KRS ini bisa secara Online ataupun offline.
Sejak pertama kali aku kuliah di kampus yang disebut termurah sedunia ini, sistem input KRS-annya Online. Sangar, tho? Kuliah gak sampek sejuta (belum UKT) udah bisa nggaya input via leptop atau smartphone. Waktu itu aku sempet ngece temanku yang kuliah di salah satu kampus swasta. Kalo masa KRS-an, temanku itu harus pergi ke kampus. Ngantri beberapa jam, baru kemudian dapat jadwal kuliah. Oh pity...
Waktu itu aku sampe nanya, berapaan sih semesteranmu? Dia jawab 80ribu satu SKS. Kalo satu semester ngambil 20 SKS, biayanya 1,6 juta. Itu belum termasuk biaya-biaya lain jika ditotal jumlahnya sampe 3 juta persemester. Lha duit segitu di kampusku bisa bayar 5 semester. Nyaris wisuda! Biaya setahun di kampusnya bisa buat bayar kuliah di kampusku sampe lulus, sekaligus wisudanya. Pantes di kampusku banyak banget anak yang ogah lulus. Lha murahe pol...
Temenku langsung tanya soal sistem Online yang diterapkan di kampusku. “Enak, ya. Gak harus capek-capek ngantri. Bisa disambi udud dan ngopi.” Dengan bangga aku praktekkan gimana cara input yang asyik. Satu leptop dibuat ngakses laman Sistem Informasi Akademik (SIA), satu leptop lagi dipake main PS.
Ya perlulah disambi PS soalnya loadingnya lumayan lama. Input satu matakuliah bisa 15-30 menit. Bayangin kalo nginput 8 mata kuliah. Bisa berapa lama? Setelah satu matakuliah terinput, ngikutin gaya Damian, aku bilang ‘sempurna...’
Temanku itu iri. Sangat iri. Ia bercerita ngalor ngidul mengenai susahnya input KRS secara offline. Katanya jadi gak bisa garap hal-hal produktif selama 3-4 jam gara-gara ngantri. “Terus kenapa SPP mahalnya gitu tapi pelayanannya kacau?’ gerutu temanku. Ia mengungkit SPP di kampusku yang cuma 600ribu, tapi pelayanannya oke. ‘Ya agak lelet dikit ndak apa-apa wong bayarnya juga segitu.’ Justru malah temanku yang memaklumi keleletan ini.
Namun semua berubah setelah negara api menyerang. Keleletan dalam input sudah menjadi-jadi. Kalo dulu masalahnya hanya lola alias loading lama, sekarang sistem mulai doyan fitnah.
Aku sendiri jadi korban fitnah sistem yang pernah membanggakanku itu. Mulai dari difitnah belum bayar SPP, sampe dibilang NIM enggak valid. Hellow... Sakit tahu difitnah gitu!
Salah satu meme yang beredar

Tapi aku gak mau nyalahin sistem. Mereka hanyalah robot yang hidup dari perawatan empunya. Aku juga gak mau nyalahin teknisi. Karena mereka hanyalah manusia yang tak luput dari khilaf. Apalagi tim teknisi sudah melakukan segala daya dan upaya agar sistem input gak down. Mulai dari membagi jadwal input perfakultas sampai membuat sistem tandingan. Namanya pun keren, balance. Teknisi ini sampe membagi secara rinci waktunya. Fakultas A dari jam 07.00-12.00. Fakultas B dari jam 13.00-16.00 dan seterusnya. Mungkin harapannya agar bisa mengurangi beban server.
Ya, nyatanya lelet ini gak terobati justru menjadi-jadi. Di spam beranda facebook ada yang curhat habis uang nyaris 100ribu untuk ngenet dan hasilnya nihil. Ada lagi yang misuh-misuh gak jelas. Tapi gak enak nulis salinan pisuhannya di sini. Wong dia nulis kata BAJINGAN. Kan gak etis.
Aku juga gak bisa nyalahin temen yang misuh-misuh. Lha aku sendiri ngalamin betapa waktuku terkuras habis untuk nginput satu mata kuliah aja. Cuma satu mata kuliah, lho! Gimana perasaan teman-teman yang nginput sampe 6-8 mata kuliah.
Yang patut disalahkan adalah kenapa Mark Zuckerberg gak jadi teknisi sistem KRS online UIN. Aku membayangkan jika sistem input online ala UIN anti lelet kayak facebook. Betapa tujuan onlinenisasi sistem benar-benar bisa membantu orang banyak. Ibaratnya facebook itu untuk gantiin model pacaran anak UIN dari surat-suratan ke chat-chatan.
Semoga Mark di sana membaca keluhan anak UIN yang singgah ke dinding ratapan miliknya. Syukur-syukur karena anak UIN tidak lagi hobi curhat di laboratorium agama, tetapi malah di wall facebook, membuat si Mark tergugah dan mau jadi sukarelawan teknisi sistem online UIN. Atau aku perlu buat petisi di change.org untuk meminta Kang Mark mau jadi teknisi sistem UIN?
Asal Kang Mark tahu, facebook itu masih ada dan hits karena anak-anak UIN! Anak-anak UGM udah pada hijrah ke Path yang punya Bakrie itu, Snapchat dll yang anak UIN belum banyak punya. Buktinya yang ngelove ama ngelaugh statusku di Path anak-anak luar kampus semua. Sedih gak, Mark? Eh, ada beberapa ding yang mulai kenal Path. Karena anak UIN, facebook masih tenar sampe sekarang. Ini fakta lho, Mark!

Kapan mendengar ratapan kami dan datang ke Indonesia untuk jadi teknisi UIN, Mark? 

Thursday, January 28, 2016

Bajrangi Bhaijaan: Kekuatan Cinta dan Ketulusan


Pertama-tama aku harus ucapin KAMFRED kepada Kabir Khan, sutradara film berjudul Bajrangi Bhaijaan. Film tersebut mampu membuatku mewek. Padahal daku bukanlah orang yang mudah untuk menangis. Bahkan saat teman-teman menuduh aku sebagai jomblo (akut lagi), aku cuek dan berusaha bersikap biasa. Padahal pelabelan jomblo adalah fitnah yang kejam. Lebih baik aku dibunuh daripada difitnah sebegitu kejinya.
Kembali ke topik.
Film yang dibintangi Salman Khan ini dirilis pada tahun 2015 lalu, tepatnya tanggal 17 Juli, seminggu setelah perayaan Idul Fitri. Sambutan penonton luar biasa. Pada Minggu pertama setelah dirilis, film ini meraup pemasukan hampir 700 milyar rupiah! Film ini memecahkan rekor box office di India dan luar negeri. Tentu ada alasan mengapa film ini begitu luar biasa. Dalam tulisan ini, saya tidak akan mengulas alur ceritanya. Karena bagi penikmat film, spoiler lebih kejam daripada kehilangan sandal di masjid. Silakan tonton film tersebut di sini.
Pertama kali aku mendengar film ini dari tetangga kamar. Saat berbincang-bincang mengenai film, ia mengatakan ada satu film yang membuatnya terisak-isak. Aku hampir tidak percaya kalau teman yang satu ini menangis. Sebab wajahnya terlihat seperti tampang kriminal, lebih kriminal dari sosok Joker sekali pun. Namun aku adalah orang yang mudah penasaran. Karena terus ditekan untuk menonton, walhasil malam ini aku buka youtube dan mencari judul filmnya. Alhamdulillah, dapat!
Seperti kebanyakan film India, durasi film ini cukup panjang, sekitar 2,5 jam. Tetapi durasi lama itu tidak terbebani karena alur film ini mengalir seperti kali code saat hujan turun. Beberapa scene nyanyi dan joget yang menjadi khas film bollywood semakin menyegarkan mata karena aksi Kareena Kapoor (sebagai Rasika), pujaan alam fantasi.
Sedikit ulasan mengenai film ini (dan bukan spoiler, loh!). Film ini mengambil setting India dan Pakistan, dua negara yang berseteru secara politik. Sentimen kedua negara begitu melekat pada diri masing-masing warganya. Sejarah masa lalu kedua negara membuat hubungan antar warga juga kurang harmonis, bahkan hingga sekarang. Di tengah ketidakharmonisan hubungan kedua negara, seorang gadis bisu Pakistan berusia 6 tahun bernama Shahida (diperankan Harshaali Malhotra)  tersesat di India.
Pada awalnya ia dan ibunya tengah melakukan perjalanan pulang dari India menuju ke Pakistan setelah mengobati bisunya. Ia turun dari kereta api ketika kereta berhenti sejenak karena melihat anak domba. Sial baginya karena kereta tak lama kemudian bergerak. Saat kereta jalan, ia tidak bisa mengejar kereta tersebut. Takdir dari penulis skenario kemudian membawanya bertemu dengan Pawan atau Bajrangi (diperankan Salman Khan).
Bajrangi adalah seorang yatim yang tengah berusaha menebus syarat untuk menikahi mbak Rasika di Delhi. Saat ia membawa anak kecil itu ke rumah orang tua Rasika yang Hindu, permasalahan mulai muncul. Terlebih saat ayah Rasika mengetahui bocah cilik itu warga negara Pakistan dan beragama Islam. Ia pun menuntut Bajrangi untuk mengembalikan gadis cilik ke negara asalnya. Bajrangi menyanggupi. Tapi sial baginya, seluruh agen gas tidak ada yang mau membuatkan paspor Pakistan! Tetapi ia berjanji pada dewa Hanoman untuk mengantarkan bocah cilik itu ke orang tuanya. Bagaimana pun caranya!
Karena janji pada dewa Hanoman, Bajrangi nekat memasuki Pakistan tanpa menggunakan paspor dan visa. Karena Bajrangi adalah seorang pengikut dewa Hanoman yang menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, ia memasuki kawasan berbahaya itu dengan modal kejujuran pula. Kejujuran inilah yang membuatnya nyaris terbunuh. Tetapi cinta membuatnya tetap setrong. Lika liku perjalanan Bajrangi menuju rumah orang tua Shahida inilah yang sangat menarik dan membuat kedua bola mata dihiasi air mata.
Permusuhan pemerintah India dan Pakistan digambarkan begitu menyengsarakan warga kedua negara. Bagaimana pun, rakyatlah yang menjadi korban. Agaknya film ini memberi pesan kepada warga India dan Pakistan untuk berdamai. Layaknya sejoli yang sepakat untuk berpisah, lebih baik berteman daripada terus memendam kebencian, apalagi saling teror. Lebih-lebih memposting gambar senonoh atau membuat status sadis via facebook mantan sebagai ekspresi kekecewaan. Jika tak bisa bersama, lebih baik bersahabat daripada terus bermusuhan.
Duh, malah gak jelas...
Selain aku, beberapa artis lainnya juga mengalami nasib yang sama, banjir air mata. Sebut saja kakak kelasku Amir Khan. Bahkan beredar gambar jika Kakak Amir matanya berkaca-kaca saat keluar dari gedung bioskop setelah menonton film ini.
NDTV.com
Memang KAMFRED sih. Adu akting Salman Khan dengan Harshaali Malhotra begitu natural. Aku sampai gemas melihat bagaimana sosok Shahida diperankan secara ciamik dan yahud oleh bocah enam tahun itu. Kutunggu dewasamu, dek!
Film ini mengemas kisah percintaan yang tidak biasa. Bumbu isu politik dan agama membuat film ini menjadi lebih kuat nilainya dan membuat aku berani menggaransi uang kembali seratus persen jika ada yang kecewa. Insya Allah waktu 2,5 jam untuk menonton film ini tidak akan sia-sia, minimal tidak sesia-sia nonton film bokep feminisme yang diperankan Miyabi. Bagi yang jomblo (dalam arti sebenarnya), film ini mengajarkan bahwa cinta tidak sesempit memberi bunga seseorang yang disukainya. Ada banyak cara untuk mengekspresikan cinta kita, terlebih jika cinta itu melibatkan nilai religiusitas dan humanisme.
Overall, okelah... Jika diangkakan, aku kasih nilai 8.5 untuk film ini.

Akhirnya aku ucapkan selamat menonton. Siapkan tisu yang banyak. 

Menristek, Turing, dan Sikap Kita


Alan Turing/bbc

Beberapa hari lalu menteri riset dan teknologi (Menristek) M Nasir membuat pernyataan yang menghebohkan publik. Ia melarang lesbi, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) masuk kampus! Alasannya karena LGBT tidak sesuai dengan nilai-nilai asusila bangsa. Pernyataan itu menanggapi adanya sebuah lembaga kajian di kampus Universitas Indonesia bernama Support Group and Resource Center on Sexuality Studies (SGRC) yang didirikan sejak tahun 2014 lalu. Lembaga kajian itu salah satunya membahas soal LGBT.
Pernyataan menteri tersebut mendapat tanggapan beragam dari berbagai kalangan. Sebagian menganggap pernyataan menteri tersebut sudah tepat, sebagian lagi menyayangkan dan bahkan menghujatnya. Bagi yang mendukung menteri, mereka membenarkan bahwa LGBT bukanlah budaya bangsa ini. LGBT disebut sebagai penyakit moral yang harus disembuhkan. Sebaliknya, bagi yang menentang pernyataan sang menteri, ucapan tersebut dianggap melecehkan. Karena bagaimana pun, LGBT adalah orientasi seksual yang muncul dari alam bawah sadar. Seseorang tidak pernah memilih dirinya untuk menjadi LGBT.
Pernyataan kontroversial sang menteri kemudian diklarifikasi beberapa saat kemudian. M Nasir menyebut yang dilarang di kampus adalah perilaku seksualnya, misalnya mengumbar kemesraan di depan umum. Sementara kegiatan lainnya, M Nasir memperbolehkan dengan dalih berserikat dan berkumpul adalah hak seluruh warga negara Indonesia.
LGBT memang menjadi topik sensitif karena melibatkan banyak hal, termasuk ajaran agama dan hak asasi manusia. Namun pernyataan M Nasir yang spesifik menyebut LGBT dilarang masuk kampus, atau pun LGBT dilarang bermesraan di kampus, hal ini perlu dikaji ulang.
Jika benar LGBT dilarang masuk kampus, jelas saja sang menteri mencederai kebebasan di ruang akademik. Ruang akademik adalah ruang yang sangat bebas, tidak dibatasi pada persoalan pribadi. Terlebih jika melibatkan hal pribadi yang menjadi hak privasi, atau malah persoalan yang sifatnya intim seperti orientasi seksual.
Kalau pun Menristek sudah melakukan klarifikasi bahwa yang dilarang adalah perilaku yang mengarah pada kegiatan seksual, seperti bercumbu, bermesraan dan lain sebagainya, apakah yang dilarang hanya LGBT? Bagaimana pernyataan sang menteri terhadap prilaku mengarah pada kegiatan seksual yang dialami pasangan non-LGBT? Apakah dilegalkan? Saya rasa klarifikasi dari sang menteri membuat pernyataannya semakin absurd. Jika sudah wilayahnya adalah tindakan mengarah pada perilaku seksual, maka seruan tersebut etisnya disampaikan kepada seluruh orang, bukan hanya LGBT. Sebab hal tersebut sudah masuk wilayah kesopanan umum, tidak hanya golongan tertentu.
Kalau pun Menristek sudah melakukan klarifikasi bahwa yang dilarang adalah perilaku yang mengarah pada kegiatan seksual, seperti bercumbu, bermesraan dan lain sebagainya, apakah yang dilarang hanya LGBT? Bagaimana pernyataan sang menteri terhadap prilaku mengarah pada kegiatan seksual yang dialami pasangan non-LGBT? Apakah dilegalkan?
Dalam konteks pelarangan LGBT masuk kampus, apakah sosok yang sama, atau siapa pun yang menentang keberadaan LGBT di kampus, berani mengatakan ‘seluruh produksi yang melibatkan LGBT dilarang masuk kampus!’? Jika berani maka tinggalkan saja perangkat komputer! Karena sejarah awal komputer diciptakan oleh sosok yang masuk dalam kategori dihinakan itu.
Alan Mathison Turing, penemu mesin komputer, adalah seorang gay. Karena statusnya itu, Alan dikebiri oleh otoritas Inggris, kemudian mati bunuh diri karena depresi, menggunakan racun sianida. Inggris saat itu masih menganggap LGBT sebagai kriminal. Namun dari kerja kerasnya, seluruh aktivitas manusia modern saat ini menjadi lebih ringan dengan keberadaan mesin komputer. Apakah ada teks yang menjelaskan Alan Turing pernah bermesraan di depan umum saat kuliah? Sepertinya tidak. Pada 2009 lalu, otoritas Inggris meminta maaf secara terbuka dan mencabut dakwaan kriminal seksual yang dialamatkan kepada Turing.
Sosok Alan Turing hanyalah satu dari sekian orang yang memiliki orientasi seksual berbeda, tetapi jasa mereka bisa dinikmati oleh seluruh orang di dunia. Belakangan Paus Fransiskus, pemimpin katolik Roma, tengah menggodok aturan agar LGBT diterima sebagai jemaat, walau pun pilihan hidupnya tidak perlu didukung. Sebab banyak kaum LGBT yang telah memberi jasa bagi peradaban. Alan Turing adalah contoh yang paling nyata.
Sebagai seorang yang belajar agama, seseorang boleh saja tidak setuju dengan perilaku LGBT. Tetapi hal tersebut tidak lantas menjadi alasan melakukan tindakan diskriminasi yang melanggar prinsip kebebasan, keadilan, dan hak asasi manusia. Utamanya bagi agamawan, yang bisa dilakukan ialah memberi edukasi kepada masyarakat. Bukan malah memberikan sentimen terhadap pelaku LGBT dengan dalil-dalil, atau bahkan menghukumi sesat. Menggunakan dalil agama sebagai penguat klaim sesat justru melegalkan perbuatan diskriminasi kepada mereka.

Sebagai seorang akademis, maka wajib bagi kita mempertahankan kebebasan berpendapat dan berpikir di ruang akademik. Jangan sampai ada pihak yang mengebiri kebebasan dengan alasan tidak sesuai dengan standar pihak tertentu. Sebab pada dasarnya ruang akademik akan terus hidup jika asas kebeasan ini dijamin. Tentu saja bebas yang bertanggung jawab. Wallahua'lam.