Wednesday, March 1, 2017

Gagal Fokus Tuan Putri Arab Saudi

lensakita
Indonesia memiliki tokoh sejarah bernama Kartini, seorang anak bangsawan yang mendobrak tabu kebudayaan. Ia yang konon merupakan santriwatinya Kiai Soleh Darat, salah seorang ulama nusantara, melakukan perlawanan terhadap kondisi perempuan di Indonesia yang termarjinalkan. Saat itu perempuan dianggap sebagai orang kelas dua. Jika kini para perempuan sudah merasa memiliki hak setara, itu disebabkan salah satunya karena perjuangan Kartini.
Bertolak ke budaya negara lain, beberapa tahun yang lalu dunia sempat digemparkan berita tentang dilarangnya wanita di Arab Saudi untuk menyetir mobil. Di negara kerajaan itu, kehidupan perempuan masih sangat jauh dari kata setara alias sangat dibatasi.
Adalah Ameera Al-Taweel yang berperan sebagai ‘Kartininya’ Arab Saudi. Ia yang berada di lingkaran kerajaan memperlihatkan kehidupan yang sama sekali kontras dengan kebanyakan perempuan di wilayahnya. Di saat hak-hak perempuan sangat dibatasi, ia justru melenggang berkarir dengan menjadi CEO di sebuah perusahaan media dan teknologi. Ia sekaligus mengkritik praktik subordinatif terhadap perempuan dan menggelorakan semangat perjuangan keadilan bagi kaum hawa di kerajaannya. Dan uniknya, sang tuan putri tidak berhijab!
Terkhusus soal hijab, di Indonesia sendiri narasi hijab syar’i sedang menguat. Terlebih saat banyak selebriti ibu kota turut menyerukan penggunaan model hijab lebar yang menurutnya paling sesuai dengan ajaran Islam. Kampanye berhijab syar’i pun luar biasa, sampai-sampai memvonis neraka bagi yang tidak mengenakannya.
Apakah mengenakan ‘hijab syar’i’ salah? Tentu tidak. Yang tidak tepat adalah memvonis neraka bagi yang tidak mengikuti penafsirannya. Sebab, perintah  berhijab dalam surat An-Nuur 24:31 itu sendiri memiliki banyak tafsir dilihat dari perspektif bahasa dan asbabun nuzulnya.
Apa itu hijab syar’i? Di akun-akun media sosial penyeru hijab syar’i, banyak pendapat dari para aktivis dakwah yang dikemas dalam bentuk meme dan video yang sangat menarik. Setidaknya ada dua pengertian hijab syar’i yang didengungkan sebagaimana saya amati.
Pertama, pakaian lebar yang tidak memperlihatkan aurat dan lekuk tubuh. Pengertian ini lazim diikuti oleh sebagian besar muslimah. Kedua, pakaian yang menutupi seluruh bagian aurat perempuan.
Aurat yang dimaksud di sini adalah batas-batas sahnya salat perempuan, yaitu seluruh bagian tubuh kecuali telapak tangan dan muka. Ada pula yang mengatakan wajah dan telapak tangan pun aurat sehingga hanya kedua bola mata yang boleh terlihat. Bahkan suara pun termasuk aurat sehingga perempuan dilarang mengucap sepatah kata pun di hadapan lelaki bukan mahromnya.
Lalu pendapat mana yang paling benar dan harus diikuti? Wallahua’lam. Inilah indahnya Islam yang menerima berbagai perbedaan pandangan. Sabda Rasul, perbedaan adalah rahmat.
Melihat sejarah pun, kerudung atau jilbab mulai populer di kalangan muslimah Indonesia pada tahun 80-an. Sebelum itu, kerudung atau jilbab hanya dikenakan oleh kalangan santri sebagaimana sarung.
Beberapa kesaksian yang saya dapatkan, mengenakan jilbab pada masa itu ibarat seorang muslimah berjilbab di negara Barat. Banyak mata yang mengawasi dan menaruh curiga. Salah seorang dosen saya misalnya, ia bercerita hanya ada 3 orang di SMA seluruh Yogyakarta yang berjilbab. “Dan salah satunya saya,” ujarnya.
Perdebatan mengenai hijab ini pun saya rasa tidak akan ada habisnya, sebagaimana perdebatan apakah basmalah itu termasuk ayat dalam surat Al-Fatihah atau bukan. Jika iya, wajib dibaca ketika salat. Meninggalkannya berarti salatnya tidak sah. Sementara jika bukan termasuk ayat, membaca ketika salat berarti menambahi ayat. Dan ini tidak sah. Bagaimana menyikapinya? Hormati perbedaan pendapat.
Hari ini adalah hari kedua raja Arab Saudi menikmati cuaca tropis Indonesia. Tak perlu mengolok-olok pakaian sang raja sebagai daster karena itu merupakan bagian dari budaya negaranya. Tak perlu pula menuduh perempuan Arab Saudi sebagai orang yang terbelakang karena sosok tuan putri Ameera sendiri cukup untuk membungkam pendapat tersebut.
Perlu dicatat bahwa tuan putri yang menyeru keadilan pada perempuan itu memiliki total kekayaan 300-an trilyun. Sementara orang terkaya di negeri ini ‘hanya’ memiliki 200-an trilyun.
Aku padamu lah tuan putri...

0 comments:

Post a Comment