Tuesday, February 25, 2014

Alqur'an Bukan Kitab Primbon Eps.3

AKU DAN SANG GURU
Dialog Imajiner antara Aku dan Sang Guru

Malam itu, tepatnya tanggal 13 Februari 2014 gunung Kelud yang baru beberapa saat ditingkatkan statusnya menjadi AWAS, meletus. Sontak media sosial ramai membicarakan fenomena alam ini. Berbagai analisis mengemuka, mulai dari siklus letusan Kelud hingga mengatakan bahwa itu merupakan azab Allah Swt. Beberapa mengatakan itu azab Tuhan di malam valentine. Na’udzubillaah...
Tepat ketika aku tengah melamun, Sang Guru hadir. Ia datang bersama suara gemuruh yang terdengar dari tempatku berada, di jalan Kaliurang Yogyakarta. Kata banyak tweeps, itu merupakan gemuruh Kelud.
Sang Guru (SG): Mengapa kau tampak gusar?
Aku (A): Ini, guru. Aku membaca tanda-tanda.
SG: Apa yang kau baca?
A: Aku terlebih dulu bertanya kepadamu, apa yang kau pikirkan tentang bencana gunung Kelud ini?
SG: Bencana? Kelud hanya menuntaskan tugasnya menjaga keseimbangan alam.
A: Lho, tapi letusannya membuat banyak warga kesusahan? Bukankan setiap yang membuat susah adalah bencana?
SG: Kau terlalu dangkal dalam menilai sebuah peristiwa. Sekarang aku bertanya, berapa lama mereka kesusahan?
A: Ya, paling tidak satu bulan.
SG: Aku tidak melihat selama itu. Mereka hanya beberapa hari meninggalkan kampung halamannya, dan dengan sedikit kesabaran ladang-ladang mereka akan lebih subur dari sebelumnya.
A: Ah, aku tidak bisa mendebatmu, guru. (Guru mendekat, melihat ke layar leptopku. Aku tengah membaca beberapa tulisan lepas seorang teman yang mengatakan peristiwa gunung Kelud sudah diramalkan di dalam Alqur’an).
SG: Siapa yang menulis itu? (Suara guru agak meninggi. Aku tak tahu, mengapa mereka mendadak bersikap seperti itu).
A: Umm... Ini teman kuliahku. Menurutku tulisannya sangat menarik. Ternyata kejadian Kelud sudah ada di Alqur’an, kitab yang lebih seribu tahun usianya. Subhanallah...
SG: Apa yang kau maksud dengan ucapanmu itu?
A: Begini guru, meletusnya gunung Kelud terjadi pada tanggal 13-02 pukul 22:49 WIB. Banyak yang mengatakan seperti ini: Hari/tanggal 13/02 berarti surat Ar-Ra’du ayat 2 yang artinya: “Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ´Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Tuhanmu”.
(Guru hanya merespon dengan satu kata “HMMM”. Lalu aku melanjutkan tulisan yang baru kubaca). Sementara jam 22:49 menunjukkan surat Al-Hajj ayat 49 yang artinya: “Katakanlah: "Hai manusia, sesungguhnya Aku adalah seorang pemberi peringatan yang nyata kepadamu.”
SG: Memang kau berada di masa yang sulit.
A: Apa yang kau maksudkan dengan masa yang sulit?
SG: Ya, setelah umat Islam pernah berjaya dengan ilmu pengetahuannya, perlahan umat Islam tidak begitu bijak dalam menilai kebijakan Tuhan.
A: Sebentar guru (aku menyela ucapannya). Bukankah mempercayai kitab suci adalah salah satu dari rukun Iman?
SG: Kau benar
A: Lalu apa yang salah ketika semua peristiwa kita kait-kaitkan dengan kitab suci ini?
SG: Semoga saja tidak banyak manusia yang berfikir dangkal sepertimu.
A: Aku tidak paham maksudmu, guru.
SG: Orang-orang yang hanya memahami sesuatu dari kulitnya tanpa diimbangi pengetahuan luas. Kau harus mulai memahami ayat-ayat yang lain. Ayat-ayat Tuhan yang diturunkan berupa kata-kata merupakan sebagian kecil dari ayat-ayat-Nya yang bertebaran di alam ini. Kau tidak akan mampu menemukan ayat tentang bagaimana membangun jembatan yang kokoh, pesawat yang canggih dan menanggulangi banjir di dunia tanpa mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan itu. Yang jelas, Al-Qur’an bukan kitab primbon yang hanya kau buka ketika ada suatu peristiwa dahsyat. Alqur’an itu harus dipelajari dan diresapi maknanya. Maka kau akan menemukan apa yang disebut para ulama’ bertambah keimanannya.
A: Aku tidak mengerti.
SG: Kau akan segera mengerti.
(Dan setelah kata khas itu, guru pergi begitu saja. Sementara aku masih terpaku pada layar leptop yang sibuk dengan pelbagai ramalan Qur’an tentang peristiwa meletusnya Kelud, si tukang sapu).


Baca juga:
NYARIS SEMUA WARTAWAN MASUK NERAKA EPS. 1
NYARIS SEMUA WARTAWAN MASUK NERAKA EPS. 2

Monday, February 24, 2014

Nyaris Semua Wartawan Masuk Neraka Eps. 2

AKU DAN SANG GURU
Wawancara imajiner aku dan Sang Guru

Guru selalu hadir di saat yang tidak dapat dinyana. Kedatangnnya ibarat kehendak hati yang bisa tiba-tiba berbicara. Namun terkadang ia seperti angan yang sulit untuk diwujudkan. Aku memberi istilah ini sebagai takdir. Entahlah! Mungkin tafsirku mengenai takdir kurang tepat. Namun sampai saat ini aku belum bisa menemukan kosakata yang lebih tepat daripada itu. Ia tak segan-segan mendatangiku dalam kondisi paling buruk sekalipun.
Pernah suatu ketika ia datang saat aku tengah memikirkan hal-hal bodoh. Ia membawa gambar orangtuaku dan membisikkan kata-kata yang membuat ngilu hati. Seketika aku hanya bisa meringis, bahkan terisak tenggelam dalam tangis. Itulah Sang Guru, yang hingga kini belum kukenal wajahnya.
Aku (A): Guru, aku masih belum mengerti apa yang kau maksudkan bahwa wartawan nyaris semuanya masuk neraka. Sudikah kau memberiku keterangan?
Sang Guru (SG): Kau akan segera mengerti. (Jawaban ini sudah bisa kutebak sebelumnya)
A: Terimakasih, guru. Jawabanmu sangat diplomatis dan memancing diriku untuk berpikir
SG: Hahahaha...
A: Mengapa guru tertawa?
SG: Hahahaha...
A: Guru? Bisa berikan aku penjelasan? Jangan membuatku semakin bingung
SG: Hahahaha... (Aku berpikir agar guru berbicara dengan jelas. Sebagai orang yang pernah belajar psikologi komunikasi, pengantar jurnalistik, jurnalistik cetak, bahasa Indonesia hingga seabreg teori kewartawanan, aku harus mampu membuat guru berbicara)
Dalam rumus wartawan yang paling sederhana (5 W + 1 H), seharusnya berita bisa tersaji. Okelah, target realistisku bisa membuat minimal berita straight news.
A: (Aku menyiapkan pertanyaan WHAT) Apa yang guru lakukan?
SG: Hahahaha aku tertawa
A: (dilanjutkan dengan WHO) Siapa yang guru tertawakan?
SG: Hahahaha aku menertawakanmu
A: (Fakta baru harus dimunculkan dengan WHY) Mengapa guru menertawakanku?
SG: Hahahaha karena kau aneh
A: (Hah, kapan aku mulai aneh? WHEN) Kapan guru melihatku aneh?
SG: Hahaha...
A: Kapan dan di mana (WHERE) tepatnya aku terlihat aneh?
SG: Hahaha... (Aku merasa pertanyaan-pertanyaan yang kuberikan tidak membuatnya terbuka. Lalu aku mencoba untuk meluncurkan pertanyaan pamungkan, HOW)
A: Bagaimana aku bisa mengerti kalau kau masih sibuk dengan tawamu, guru?
SG: Hahaha kau akan segera mengerti...
AKU TIDAK MENGERTI! Hatiku menjerit karena kedatangan guru justru membuatku semakin bingung. Aku masih bertanya-tanya, mengapa wartawan nyaris semua masuk neraka? Tapi guru tidak memberikan jawaban yang memuaskan.
A: Okelah guru. Aku mencoba untuk memahami isyarat yang kau munculkan. (Ketika aku berkata demikian, guru terdiam. Tawanya yang sejak tadi pecah mendadak hilang). Aku tahu, kau menertawakanmu karena aku tidak bisa membuatmu memberikan fakta kepadaku. Aku tahu kau menertawakan ketidakmampuanku ini.
SG: KAU! (Suaranya meninggi. Seperti biasa, aku menggigil dibuatnya). ITULAH MENGAPA ORANG-ORANG SEPERTIMU MASUK NERAKA! KAU HANYA BISA MENGARANG TANPA ADA FAKTA YANG KAU GALI. TUGAS WARTAWAN SEBENARNYA BUKANLAH MENGARANG, TAPI MENYAMPAIKAN!
Aku terhenyak. Inikah yang dimaksud dosen-dosenku di kelas? Bu Nadhiroh selalu mewanti-wanti agar wartawan tidak beropini. Jangan sampai mengarang berita tanpa didasarkan fakta. Wartawan memang sebuah profesi mulia apabila dilakukan dengan cara-cara mulia. Ibarat tukang pos, ia harus menyampaikan surat apa adanya. Apabila ada alamat yang tidak jelas, seorang tukang pos tidak boleh lantas berijtihad menyampaikan di sembarang tempat. Semua harus berdasar fakta yang ada. Pak Amiruddin pun kurang lebih berkata demikian.
Kini aku paham mengapa guru berkata demikian. Ingin sekali aku meminta maaf karena perbuatanku ini, tapi guru sudah tidak beranjak pergi.


Baca juga:
NYARIS SEMUA WARTAWAN MASUK NERAKA EPS. 1
ALQUR'AN BUKAN KITAB PRIMBON EPS.3

Nyaris Semua Wartawan Masuk Neraka Eps. 1

AKU DAN SANG GURU
Wawancara Imajiner Aku dan Sang Guru

Di satu hari yang aku sendiri tidak hafal persis tanggal dan waktunya, sesosok misterius tiba-tiba muncul di hadapanku. Seorang yang tidak tampak rupa dan bentuknya itu mengucapkan salam. Assalaamu'alaikum. Aku menjawabnya sesuai dengan apa yang pernah aku pelajari dari bapak dan ibuku. Waalaikumsalam... Lalu terdengar batuk-batuk kecil dari ia yang hanya terlihat sebagai cahaya.
Aku (A): Siapa Anda?
Sosok Misterius (SM): Kau tidak perlu tahu siapa aku (suaranya sangat lirih. Aku bahkan nyaris tidak mendengar)
A: Ah, bagaimana mungkin aku tidak perlu mengetahui siapa gerangan Anda?
SM: Hahaha... (suaranya tiba-tiba menggelegar. Aku mundur beberapa langkah karena takut). Kau akan mengetahui siapa aku ketika kau tahu siapa kamu
A: Maaf. Perkataanmu sungguh tidak kumengerti
SM: Kau akan segera mengerti!
A: Bagaimana mungkin aku akan mengerti?
SM: Kau akan segera mengerti!
A: Aku berani bersumpah, aku sama sekali tidak mengerti!
SM: Ya, kau akan segera mengerti!
Setelah percakapan singkat yang justru membuatku semakin bingung, sosok itu menghilang begitu saja. Tanpa pernah aku undang, sosok itu terkadang hadir dan memberi wejangan-wejangan. Banyak hal yang pernah kami diskusikan yang kadang justru membuatku merinding menjalani hidup ini. Terlebih, ketika masa depan dan masa lalu dapat diceritakannya, aku menggigil tak karuan. Ia bisa datang dari masa yang tak pernah kusangka. Kadang ia mengaku habis berjalan-jalan di zaman di mana air sulit didapat. Kadang ia bercerita baru saja bertemu Ibrahim AS dan melihatnya membangun peradaban agama. Lalu aku pernah terhenyak, ia mengaku baru saja sowan di ndalem-ndalem kiai besar di nusantara.
Lalu aku memanggilnya dengan Sang Guru (SG). Ia mulai bertanya tentang kehidupan pribadiku. Aku menjelaskan saja saat ini sedang berpetualang di kota impian. Bagaimana tidak, kota ini selalu menjadi rujukan siapa saja yang mengaku berpendidikan. Lalu aku menjelaskan tengah menempuh pendidikan di jurusan komunikasi yang berkonsentrasi pada jurnalistik.
SG: Hah, kau akan menjadi wartawan?
A: Kenapa, Guru? Bukankah itu pekerjaan yang teramat dan sangat mulia? Bahkan peran wartawan kerap disamakan dengan peran ulama sebagai ahlul 'ilmi?
SG: Itu katanya.
A: Lha, memang sebenarnya bagaimana?
SG: Kau akan segera mengerti. (Jawaban ini merupakan salah satu jawaban paling membosankan. Biasanya setelah itu Sang Guru akan menghilang). Tapi kali ini Sang Guru tidak menghilang. Terdengar batuk kecil yang sangat berat.
SG: Wartawan hampir semu masuk neraka! (Guru mengucapkannya dengan suara berat namun sangat jelas dan tegas. Aku tertegun mendengar ucapannya itu. Namun aku tidak bisa berlama-lama berkutat pada ketakutan. Aku harus mengetahui alasan Guru mengatakan demikian).
Namun sebelum aku bertanya lebih jauh, sosok Guru menghilang. Jika seperti ini, aku perlu beberapa waktu untuk dapat bertemu lagi dengannya. Ya, semoga ia cepat datang dan memberiku jawaban.


Baca juga:
NYARIS SEMUA WARTAWAN MASUK NERAKA EPS. 2
ALQUR'AN BUKAN KITAB PRIMBON EPS.3

Sunday, February 2, 2014

Menghidupkan Kembali Semangat Ke-Bhinneka-an


Pasal 29 ayat (2) UUD 1945 menyebutkan bahwa “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.” Pasal ini yang menjadi pijakan kebebasan berkeyakinan di Indonesia. Akan tetapi kemerdekaan beragama dan beribadah di Indonesia belum dirasakan oleh semua penduduknya. Sebut saja kekerasan yang ditujukan kepada kelompok Syiah dan Ahmadiyah.
Sedikitnya ada tiga faktor utama yang menyebabkan terjadinya kekerasan ini. Pertama, mereka menganggap aksi kekerasan yang dilakukannya adalah jihad karena membentengi umat dari kesesatan. Syiah dan Ahmadiyah dianggap sebagai aliran sesat yang tidak sesuai dengan Islam. Kedua, ‘dukungan’ pemerintah dalam memvonis sesat dua kelompok tersebut. Hal ini dibuktikan salah satunya dengan pernyataan-pernyataan mentri agama Indonesia tentang “pencerahan” warga Syiah sebelum dipulangkan serta sejumlah komentar lainnya. Ketiga, aksi subordinatif ini dilegalkan dengan adanya UU tentang Penodaan agama No 1 tahun 1965.
Sebelum kasus Syiah mencuat, Ahmadiyah lebih dulu mengalami kekerasan serupa. Masyarakat luas seakan memaklumi dengan apa yang terjadi pada saudara sesama bangsa itu. Namun Syiah di Sampang Madura lebih ironi lagi karena mengalami pengusiran menjelang hari raya umat Islam seluruh dunia.
Di dalam Negara hukum, seharusnya hukumlah yang berkuasa. Hukum dibuat untuk seluruh masyarakat Indonesia yang majemuk, bukan hanya sebagian kelompok yang terlebih dahulu mapan. Perbedaan pemahaman agama merupakan fenomena yang sudah terjadi sejak ratusan tahun yang lalu. Bahkan ketika Nabi Muhammad masih hidup, perbedaan pemahaman para sahabat terhadap ajaran Nabi sudah ada. Akan tetapi Nabi tidak memepermasalahkannya, bahkan justru memakluminya.
Secara de jure Indonesia memiliki landasan konstitusi. Namun de facto-nya pemerintah kerap melakukan berbagai pelanggaran, sampai-sampai wakil gubernur Jakarta Basuki Tjahja Purnama (Ahok) mengatakan salah seorang menteri perlu belajar konstitusi. Blunder yang dilakukan pemerintah dalam kasus Syiah berimbas pada masyarakat luas. Pernyataan subordinatif menteri agama tentang “pencerahan” Syiah menimbulkan persepsi pembenaran bahwa Syiah merupakan aliran sesat yang harus dihilangkan. Karena itu masyarakat tidak segan-segan menghakimi warga Syiah, termasuk mengusirnya.
Sebenarnya, apa yang menjadi tolak ukur sesatnya suatu kelompok? Kita bisa berkaca pada tradisi tahlilan yang dilakukan oleh sebagian kelompok, dan diharamkan oleh kelompok lainnya. Padahal, permasalahan tersebut sudah menyangkut permasalahan akidah. Kelompok yang memperbolehkannya menganggap itu tradisi yang baik, sedang yang mengharamkan mengatakan sesat.
Akan tetapi, hubungan kedua kelompok yang berbeda tidak sampai mengakibatkan kekerasan seperti yang dialami Syiah dan Ahmadiyah. Karena pada dasarnya pertarungan ideologi ialah pertarungan pikiran, bukan fisik. Apabila perbedaan pemahaman agama dianggap suatu hal yang melegalkan kekerasan, maka hukum Negara benar-benar telah kehilangan fungsinya.
Sangat disayangkan ketika sesama warga Negara saling bermusuhan karena berbeda pemahaman. Keyakinan bukanlah hal yang mudah untuk diintervensi. Walaupun warga Syiah sepakat untuk dicerahkan, apakah ada jaminan mereka memang meninggalkan teradisi lamanya? Sepertinya tidak, karena keyakinan tersebut sudah mengakar selama ratusan tahun.
Solusi yang paling logis dalam mengentaskan kasus ini ialah dengan kembali kepada konstitusi. Negara harus tegas dalam mengambil sikap. Kasus Syiah bukanlah perkara sederhana. Dalam kasus tersebut terdapat pelanggaran HAM yang dilakukan berbagai kalangan mulai pemerintah, tokoh agama, hingga warga. Selain itu diupayakan pula menghapus UU yang bertentangan dengan konstitusi, seperti UU penodaan agama.
Sejak dulu, bumi nusantara memiliki sejarah perbedaan keyakinan. Pada masa Majapahit, Mpu Tantular menulis kitab Sutasoma yang memuat kalimat sakti “Bhinneka Tunggal Ika”, berbeda-beda tetapi tetap satu. Inilah prinsip kehidupan berbangsa yang perlu kita teladani, warisan dari leluhur negeri ini. Perbedaan keyakinan bukan alasan untuk tidak berdampingan.
Aspek toleransi merupakan kunci utama menyikapi perbedaan. Ketika ada orang yang berbeda, maka hormati apa yang menjadi keyakinannya. Apabila dianggap salah, maka sikapilah dengan cara yang bijak. Di dalam kitab suci Alqur’an (An-Nahl: 125) disebutkan tiga metode berdakwah, yaitu: hikmah (kebijaksanaan), perkataan yang baik dan dialog yang baik pula.
            Semangat ke-bhinneka-an bisa dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan tidak mengganggu aktivitas ibadah orang lain. Di Kudus bahkan semangat ini sudah ditunjukkan selama ratusan tahun lamanya. Warga setempat menaati titah Sunan Kudus yang melarang warga menyembelih sapi, demi menghormati kepercayaan umat Hindu yang menyucikannya. Tradisi tersebut bertahan hingga kini.



Menjadi Pemilih Ideal

Tahun 2014 disebut-sebut sebagai tahun pertikaian politik. Pada tahun ini, dipastikan persaingan antar partai kian memanas.  Hal ini sekaligus menjadi ujian bagi masyarakat untuk tidak terjebak dalam politik pragmatis. Masyarakat diharapkan memilih berdasar kapasitas seorang calon pemimpin.
Mahasiswa sebagai kaum intelektual harus memberi contoh kepada masyarakat dalam rangka memerangi politik pragmatis. Bagaimana caranya? Tentu bukan dengan menjadi golongan putih (golput). Mahasiswa diharapkan menjadi agen sosial yang menuntun bangsa ini menjadi pemilih yang ideal. Salah satu caranya dengan mengkampanyekan anti politik uang (money politic).
Politik uang ialah awal dari segala bencana bangsa. Seorang calon yang melakukan politik uang, ketika ia terpilih dan menjabat sebagai wakil rakyat, dipastikan ia akan mencari ganti uang yang telah dihabiskannya saat kampanye. Ini yang memicu terjadinya kasus korupsi. Untuk itulah, perlu diadakan pendampingan masyarakat dalam meminimalisir terjadinya politik uang. Bila perlu, adakan sayembara untuk melaporkan pelakunya.
Politik merupakan cara merebut kekuasaan. Dalam bahasa Arab, politik disebut siyasah yang artinya strategi. Dalam pertarungan politik, segala cara dihalalkan selama tidak melanggar konstitusi. Salah satu bentuk pelanggaran politik, selain politik uang, ialah kampanye hitam (black campaign). Banyak modus yang digunakan dalam melakukan kampanye hitam, di antaranya dengan menjatuhkan lawan politiknya dengan isu-isu SARA.
Banyak masyarakat yang memilih berdasarkan saran tokoh yang berpengaruh di lingkungannya. Hal ini sah-sah saja dilakukan. Namun, masyarakat yang seperti itu rawan dijadikan alat untuk kepentingan sesaat.  Sikap pragmatisme sangat berpotensi menjadi lahan subur kampanye hitam. Di Jakarta misalnya, modus kampanye hitam berbingkai agama pernah dilakukan terhadap pasangan Jokowi-Ahok. Seorang tokoh menghimbau agar warga tidak memilih pasangan tersebut karena berkeyakinan berbeda.
Masalah terbesar bangsa ini ialah masih berkutatnya masyarakat terhadap paham sekterian. Bagi masyarakat pragmatis, memilih bukanlah dari visi dan misi serta semangat yang ditunjukan calon pemimpin, tapi dilihat dari kesamaan dan penampilan luar. Masyarakat pragmatis juga memilih berdasarkan timbal balik yang diterimanya dari masing-masing calon. Siapa yang berani bayar lebih, maka medapat suara. Pemahaman politik semacam ini harus diluruskan sampai akar-akarnya.
Dalam sejarah Politik Islam, kemajuan dinasti Abasiyah merupakan buah dari sikap terbuka dengan budaya dan agama lain. Sikap sekterian Arabsentris yang menjadi praktik dinasti sebelumnya ditinggalkan. Bahkan khalifah, pemimpin tertinggi, memasukkan orang-orang yang berbeda agama ke dalam struktur pemerintahan. Sejarah inilah yang harus dipahami agar tidak terjebak pada pragmatisme.
Sebagai pemilih pemula, mahasiswa diharapkan tidak apatis terhadap politik. Ketika merasa panggung politik di Indonesia sudah tidak sehat, maka tugas dan kewajiban bersama bagaimana memperbaiki itu semua. Karena pada dasarnya, semua permasalahan bangsa berasal dari permasalahan politik.
Pesta demokrasi ada di depan mata. Saat-saat seperti ini, aksi sikut-sikutan antarpartai akan menghiasi kehidupan bangsa Indonesia. Idealnya, mahasiswa sebagai agen kontrol sosial turut berpartisipasi, bahkan mengawal prosesnya sejak masa kampanye hingga hari pemilihan kelak. Jangan sampai dengan apatisnya mahasiswa akan melahirkan pemimpin-pemimpin bangsa yang tidak berkompeten.

Candi Ratu Boko dan "Kegalauan" atasSejarah

Kemarin (02/02) aku dan kawan-kawan bertamasya ke candi Ratu Boko. Sudah beberapa kali aku mendengar nama ini dan setelah 4 semester di Yogyakarta akhirnya bisa mengunjunginya. Aku kurang tahu sejarah mengenai Ratu Boko, selain desas-desus yang dilontarkn oleh Fahmi Basya, bahwa Ratu Boko adalah Ratu Bilqis. Ratu Bilqis merupakan istri dari Nabi Sulaiman AS (Solomon).
Dalam cerita versinya, dulu candi ini merupakan sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang ratu nan cantik jelita. Lalu ada seekor burung yang melihat sebuah kerajaan ini dan kemudian melaporkan ke Sulaiman. Nabi Sulaiman mengirim pesan kepada ratu tersebut yang intinya sang ratu diajak mengikuti ajaran yang benar. Singkat cerita, Sulaiman menikahi sang ratu. Saat dibawa ke istana Sulaiman, sang ratu ingat pada singgasananya yang agung. Sulaiman memerintahkan kepada jin untuk memindahkan singgasana itu ke istananya. dalam satu kedipan mata, singgasana yang agung berpindah. itulah stupa yang terletak paling atas di candi Borobudur. Ya, Borobudur diperkirakan sebagai kerajaan Sulaiman.
Jika diperhatikan, sekilas memang ada 'yang hilang' di candi Boko. Dan jika dibayangkan sekilas, 'yang hilang' itu memang stupa. Tapi entahlah. Sampai detik ini aku belum pernah percaya pada sejarah yang ditulis oleh para pakar. Sejarah bagiku tak jauh berbeda dengan dongeng. Bedanya, dongeng itu menggambarkan kebesaran bangsa nusantara, sementara sejarah menggambarkan kegoblokan bangsa ini. Dongeng/legenda bercerita tentang keperkasaan. Sangkuriang menendang perahu jadi gunung. Bandung Bandawasa murka jadi Prambanan. Majapahit bersumpah, nusantara menjadi kuat. Bayangkan dengan sejarah kerajaan yang berujung pada kehancuran akibat pertikaian, korupsi, perempuan dan TANPA JEJAK! Mana bukti kebesaran Majapahit? Mana bukti kebesaran Sriwijaya? Cerita!
Inilah mengapa aku lebih suka mendengar dongeng/legenda. Ada rasa optimis ketika bangsa Indonesia pernah berjaya lewat masyarakat Mu dan Atlantisnya. Merasa kuat kala mendengar si pitung tidak mempan dibacok. Gajahmada tidak mempan dilukai. Pangeran Diponegoro dilindungi keris sakti dan cerita sejenis lainnya. Dan aku lebih suka cerita Ratu Bilqis ini daripada harus mempercayai Prambanan dan Borobudur sebagai bagian dari KOMPETISI AGAMA. Aku yakin, moyangku orang beradab dan orang hebat! Saatnya para penerus bangsa melanjutkan!!!


















Monday, December 30, 2013

Tamasya ke Gembira Loka

Alhamdulillah.... Akhirnya punya kesempatan menulis Blog lagi. Setelah sekian lama absen dari kegiatan blogging, rasanya ada yang kurang. Walau hampir tiap hari pengalaman datang, tapi kalau tidak dilukiskan dalam bentuk tulisan terkesan 'tidak sempurna'. Untuk menambah materi Blog ini, ane menambahi satu kategori lagi, yaitu fotografi. Yah, sekedar share hobi baru yang tengah ditekuni berkat mesin Canon 600D yang dibeli pertengahan September lalu. Sebelum tahun berganti, gambar-gambar yang dijepret pada tahun 2013 sebagian akan diposting. So, lihat saja ya..... Foto-foto ini ane ambil pada 28 September silam.
Pertama yang akan diposting ialah beberapa foto di kebun binatang Gembira Loka. Untuk ente yang suka traveling, tempat ini sangat cocok dibuat rujukan. Koleksi satwanya lumayan. Tapi ane sedikit kecewa karena di sana tidak ada jerapah. Padahal, ane penasaran banget sama hewan berleher panjang itu....
Di antara kamu pasti ada yang belum tahu gimana persisnya Bonbin di Yogyakarta ini. Ane tidak bisa gambarin secara persis. Untuk itu, ane copas-in dari Wikipedia.
Kebun Binatang Gembira Loka adalah kebun binatang yang berada di Yogyakarta. Berisi berbagai macam spesies dari belahan dunia, seperti OrangutanGajah AsiaSimpanseHarimau, dan lain sebagainya. Kebun Binatang Gembira Loka menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan Yogyakarta. Gembira Loka Zoo sempat rusak parah akibat gempa bumi yang mengguncang kota Yogyakarta tahun 2004. Tetapi, setelah direnovasi Kebun Binatang Gembira Loka tetap dicari para wisatawan.
Loka artinya tempat, gembira ya gembira. Syahdan, hampir setengah abad yang lalu Sri Sultan Hamengku Buwono IX mewujudkan keinginan pendahulunya untuk mengembangkan ‘Bonraja’ tempat memelihara satwa kelangenan raja menjadi suatu kebon binatang publik. Maka didirikanlah Gembira Loka diatas lahan seluas 20 ha yang separonya berupa hutan lindung. Disitu terdapat lebih dari 100 spesies satwa diantaranya 61 spesies flora.
Letaknya di daerah aliran sungai Gajah Wong. Akses menuju Gembira Loka sangat mudah dengan angkutan kota dan kendaraan. Pada awalnya dimulai dari beberapa hewan macan tutul yang berhasil ditangkap penduduk setempat karena mengganggu desa dan sebagian berasal dari lereng merapi yang hutannya terbakar akibat awan panas.
Gembira Loka Zoo memiliki koleksi satwa yang cukup lengkap. Akhir-akhir ini, dikabarkan bahwa GLZ sedang mengadakan kesepakatan dengan Singapore Zoo untuk pertukaran hewan, yakni 6 ekor Pinguin Jackass. Gembira Loka Zoo selalu berusaha memberikan yang terbaik demi kenyamanan pengunjung serta kelestarian alam. Beberapa kali didengar bahwa gajah melahirkan, burung kakatua menetaskan telurnya, serta kuda pacu melahirkan anaknya.
Satu hal yang memprihatinkan adalah banyak kondisi satwa yang kurang terurus. Banyak fasilitas yang seakan seadanya saja. Hal itu karena pendapatan dari tiket masuk sangat kecil dari sedikitnya wisatawan yang berkunjung.
Namun, sejak tahun 2010 Gembira Loka Zoo mulai merehabilitasi dan merekonstruksi kebun binatangnya. Bahkan, sampai tahun 2012 ini sedang dalam proses pembuatan untuk "Taman Burung" dan sedangkan untuk "Taman Reptil dan Amfibi" sudah dalam tahap sentuhan akhir. Beberapa pedagang asongan pun sudah mulai dibenahi, agar terkesan rapi dan bersih. Semenjak itu, GLZ mulai dikunjungi pengunjung dengan jumlah yang lebih banyak.