Friday, October 4, 2013

Makalah: Analisis Program Siaran Media Massa; Khazanah Trans 7

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Media massa adalah salah satu sarana yang sangat efektif untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat, bahkan juga sebagai sarana dakwah. Dan dewasa ini banyak ditemui media massa yang menayangkan tayangan yang bernuansa islami khususnya pada media televisi. Mereka berlomba-lomba menayangkan program-program islami guna memenuhi kebutuhan masyarakat akan ilmu keislaman dan karena adanya keresahan masyarakat tentang tayangan-tayangan yang dirasa kurang bermanfaat dan kurang pantas untuk disajikan pada masyarakat.
Media menerapkan beberapa teori dalam penayangan acaranya yang mana hal itu dimaksudkan untuk memberikan pengaruh bagi konsumen media. Dengan menggunakan teori-teori tertentu media memiliki kekuatan untuk membangun persepsi. Jika media tersebut merupakan media idealis, mereka tentu ingin menanamkan ide yang dibangunnya kepada khalayak. Begitu pun bagi media bisnis, mereka ingin mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.
Setiap media memiliki program siaran unggulan. Program itu menjadi salah satu master piece media untuk menanamkan pengaruhnya. Dalam konteks tayangan islami, “Khazanah” merupakan salah satunya. Akan tetapi tayangan yang seharusnya mampu menjawab kebutuhan umat justru menayangkan tayangan yang kontroversi dalam beberapa episodenya. Tulisan ini membahas analisa mengenai tayangan “Khazanah” terutama episode kontroversialnya dipandang dari sudut teori komunikasi massa.
2. Rumusan masalah
1.      Apa itu “Khazanah” Trans 7?
2.      Sepeti apa tayangan yang kontroversial yang meresahkan masyarakat?
3.      Bagaimana hal tersebut dapat terjadi?
3. Tujuan Makalah
Makalah analisis ini disusun untuk memenuhi tugas Ujian Akhir Semester matakuliah Komunikasi Massa yang diampu oleh Ibu Ristiana Kadarsih mengenai analisis program siaran media massa.
BAB II
PEMBAHASAN
A.  Mengenal Tayangan “Khazanah” di Trans 7
Islam merupakan agama yang dianut oleh mayoritas warga negara Indonesia. Dari sekian banyaknya umat Islam, mereka terbagi atas bermacam aliran akidah. Sebut saja Sunni, wahabi dan Syiah. Masing-masing aliran akidah memiliki pemahaman yang berbeda terhadap substansi ajaran agama yang dipahaminya. Untuk itulah sikap toleransi sangat diperlukan demi menjaga kerukunan umat sesama Islam.
Dewasa ini marak muncul tayangan-tayangan berlabelkan Islam. Mulai dari sinetron, reality show hingga program khusus berlomba-lomba menyampaikan pesan dakwahnya. Hal itu tentu menjadi kabar gembira karena umat bisa terus menyerap kandungan ajaran Islam sekalipun melalui sinetron.
Salah satu program yang dianggap sebagai program bagus bernuansa islami ialah  “Khazanah” yang ditayangkan setiap hari di stasiun televisi TRANS 7. Tayangan ini memiliki banyak dampak positif karena tayangan-tayangan yang dibawanya mengusung nilai-nilai Islam secara universal. “Khazanah” seperti menjadi oase dahaga masyarakat yang merindukan program-program bernuansa islami. Banyak dukungan yang mengalir agar tayangan ini tetap eksis. Wajar, masyarakat sepertinya merasa jenuh dengan tayangan-tayangan yang ada di televisi saat ini. Stasiun televisi disesaki tayangan gosip dan program lain yang berbau hedonis. Kalaupun ada tayangan seperti sinetron yang islami, Islam cenderung hanya menjadi daya tarik nilai jual. Bagi masyarakat awam, tayangan ini dapat dijadikan referensi dalam mempelajari Islam.
“Khazanah” menayangkan pelbagai hal yang berkaitan dengan Islam, baik sejarah, ajaran, hingga kisah-kisah inspiratif yang disadur dari Al-Qur’an dan Hadits serta buku-buku ulama. Bisa dikatakan “Khazanah” merupakan satu-satunya tayangan komplit yang mengupas tentang Islam di antara stasiun televisi nusantara lainnya. “Khazanah” adalah pelopor tayangan berkualitas bergenre religi. Jika biasanya tayangan bernuansa islami dikemas dalam bentuk pengajian, Khazanah memberi wacana baru yang mungkin cepat atau lambat diikuti stasiun televisi yang lain.
Akan tetapi beberapa kali tayangan ini memuat wacana kontroversial yang meresahkan masyarakat. Sampai-sampai stasiun Trans 7 dilaporkan ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) akibat tayangan yang meresahkan. Tayangan tersebut dipublikasikan pada 14 November 2012, 04 maret 2013, 02 April 2013 dan 04 April 2013.
B. Tayangan yang Meresahkan
Beberapa kali “Khazanah” menayangkan tayangan yang meresahkan sebagian umat muslim Indonesia. Di antaranya ialah:
-          Pada 14 November 2012 menyalahkan praktek ziarah kubur yang dilakukan oleh mayoritas umat islam nusantara sebagai perbuatan syirik
-          Pada 04 maret 2013 :  Menampilkan Art potongan surat Al Qur'an (Ali Imran Ayat 103) yang diposisikan dibawah kaki manusia serta mengajarkan pembagian tauhid menjadi 3 (inilah aqidah yang bertentangan dengan umat Islam ahlussunnah)
-          Pada 02 April 2013: menyalahkan praktek doa dan tawasul
-          Pada 04 April 2013:  Acara Khazanah Trans 7 ini menyalahkan ajaran ulama dan kyai ahlussunnah wal jamaah serta menyudutkan sosok seorang kyai sebagai sosok pelaku syirik.
Tayangan-tayangan di atas mendapat protes keras dari banyak ulama negeri ini. Karena tayangan tersebut menyudutkan kelompok Islam tertentu, dalam hal ini Nahdlatul Ulama yang memperbolehkan umat Islam melakukan praktik ziarah kubur, doa dan tawasul. MUI dan beberapa perwakilah ulama serta pengurus Nahdlatul Ulama melakukan pertemuan dengan pihak Khazanah dan Trans 7 untuk meminta klarifikasi.
Padahal merujuk pada Undang-Undang No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran ("UU Penyiaran") Pasal 7 Pedoman Perilaku Penyiaran (P3), disebutkan bahwa “Lembaga penyiaran tidak boleh menyajikan program yang merendahkan, mempertentangkan dan/atau melecehkan suku, agama, ras, dan antargolongan yang mencakup keberagaman budaya, usia, gender, dan/atau kehidupan sosial ekonomi”.
Sedang dalam Standar Program Siaran (SPS) pasal 7 dinyatakan bahwa materi agama pada program siaran wajib memenuhi ketentuan “tidak berisi serangan, penghinaan dan/atau pelecehan terhadap pandangan dan keyakinan antar atau dalam agama tertentu serta menghargai etika hubungan antarumat beragama”.
Dalam SPS poin berikutnya menyebutkan keharusan media penyiaran untuk “menyajikan muatan yang berisi perbedaan pandangan/paham dalam agama tertentu secara berhati-hati, berimbang, tidak berpihak, dengan narasumber yang berkompeten, dan dapat dipertanggungjawabkan”.
C. Analisis Program Acara “Khazanah”
Marshall McLuhan berpendapat, “Masyarakat dunia tidak mampu menjauhkan dirinya dari pengaruh teknologi. Teknologi akan tetap menjadi pusat bagi semua bidang profesi dan kehidupan.” Ia kemudian mencetuskan teori ekologi media yang banyak membahas tentang perkembangan teknologi komunikasi khususnya pada dampak sosial yang ditimbulkan oleh teknologi tersebut.
Media memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk pola pikir masyarakat. Terutama acara yang ditayangkan media audio-visual televisi. Televisi merupakan media yang paling banyak dinikmati oleh masyarakat kini. Masyarakat cenderung meyakini apa yang ada ditayangkan televisi adalah sebuah kebenaran. Karena televisi mampu memperlihatkan tayangan yang terlihat seperti sebuah realitas. Hal tersebut berlaku juga pada tayangan non-hiburan. Masyarakat yang berpikir secara pragmatis mudah mengambil sebuah pembenaran dari tayangan televisi. Tampaknya hal ini yang digunakan oleh tayangan “Khazanah” Trans 7 dalam menyampaikan pemahaman-pemahamannya.
Pada umumnya khalayak dianggap hanya sekumpulan orang yang homogen dan mudah dipengaruhi. Sehingga, pesan-pesan yang disampaikan pada mereka akan selalu diterima. Fenomena tersebut melahirkan teori ilmu komunikasi yang dikenal dengan teori jarum suntik (Hypodermic Needle Theory). Teori ini menganggap media massa memiliki kemampuan penuh dalam mempengaruhi seseorang.
Media massa sangat perkasa dengan efek yang langsung pada masyarakat. Khalayak dianggap pasif  terhadap pesan media yang disampaikan. Teori ini dikenal juga dengan teori peluru, bila komunikator dalam hal ini media massa menembakan peluru yakni pesan kepada khalayak, dengan mudah khalayak menerima pesan yang disampaikan media. Teori ini pernah memberi dampak nyata ketika siaran radio Orson Welles (1938) menyiarkan tentang invansi makhluk dari planet mars menyebabkan ribuan orang di Amerika Serikat panik.
Teori ini berkembang di sekitar tahun 1930 hingga 1940an. Teori ini mengasumsikan bahwa komunikator yakni media massa digambarkan lebih pintar dan juga lebih segalanya dari audiens. Banyak yang mengatakan teori ini sudah tidak relevan. Namun menurut kami, masih banyak media yang meggunakan teori ini dalam melakukan doktrinnya. Sebagian masyarakat masih sangat mudah terpengaruh (percaya) terhadap isu-isu yang disampaikan.
Teori ini memiliki banyak istilah lain. Biasa kita sebut Hypodermic needle (teori jarum suntik), Bullet Theory (teori peluru) transmition belt theory (teori sabuk transmisi). Dari beberapa istilah lain dari teori ini dapat kita tarik satu makna, yakni penyampaian pesannya hanya satu arah dan juga mempunyai efek yang sangat kuat terhadap komunikan.
“Khazanah” sebagai salah satu program yang paling dinantikan tentu percaya diri bahwa apa yang disampaikannya pasti diterima oleh khalayak luas. Karena sebagai komunikator mereka memiliki berita yang diyakini akan diterima begitu saja. Terlebih—sebagaimana kami jelaskan di atas—masyarakat tengah dahaga akan tayangan-tayangan pendidikan yang berbau islami. Ibarat berada di tengah padang pasir, “Khazanah” merupakan oase penuntas dahaga. Wajar apabila sebagian besar masyarakat meyakini apa yang ditayangkan “Khazanah” merupakan kebenaran ajaran Islam.
Pemilihan jam tayangnya pun sangat cerdas. “Khazanah” memberi tawaran kepada khalayak untuk melihat tayangannya dengan mengesampingkan tayangan-tayangan ‘spam’ bagi masyarakat kebanyakan. Pada jam tayangnya (05.:30-06.00), Khazanah bersaing dengan Seputar Indonesia (RCTI, 04.30-06.00), Liputan 6 Pagi (SCTV, 04.30-06.00), Mamah dan AA (INDOSIAR, 05.00-06.00), Disney Junior (MNCTV, 05.30-06.00), Metro Pagi (MetroTV, 05.00-07.05), Islam itu Indah (TRANSTV, 05.30-06.15) dan lain-lainnya[1].
Dari sini sudah terlihat kreativitas yang dibangun crew “Khazanah”. Mereka tampil di tengah-tengah tayangan yang sudah dianggap membosankan. Berita dan diskusi hanya mampu (baca: menarik) diikuti oleh kalangan intelektual. Kartun hanya dikonsumsi oleh anak-anak dan penggila manga. Sementara siraman rohani berbentuk ceramah seperti yang dibawakan Mama Dedeh (INDOSIAR) sudah sangat umum. Paling tidak hanya ibu-ibu saja yang tertarik. Kecuali orang yang sangat mengidolakan Mama Dedeh, pemirsa pasti lebih memilih tayangan baru dan menarik seperti “Khazanah”. “Khazanah” seperti memiliki agenda setting yang mengkondisikan mindset umat agar menonton “Khazanah” di jam tersebut. Dugaan kami memang tidak sepenuhnya tepat, namun melihat realitas sosial agaknya dugaan ini bisa dipertimbangkan.
“Khazanah” melakukan doktrin pemahamannya diawali dengan kalimat ‘dalam Islam...’ atau “dalam ajaran Islam...” sehingga banyak masyarakat yang percaya bahwa seperti itulah dalam Islam. Terlebih pendapat-pendapat yang dilontarkan terkadang tidak menyertakan sumber buku atau kitabnya. Namun secara umum tayangan “Khazanah” sangat bermanfaat bagi umat. Sayangnya ada beberapa episode kontroversial sebagaimana kami sebut di atas.
 “Khazanah” sepertinya mengesampingkan teori Uses and Gratification. Mereka memang bisa menembakkan peluru berita ke khalayak, namun khalayak mempunyai peran untuk menerima atau menolaknya. Khalayak memiliki standar untuk pemuasan dirinya. Ketika suatu tayangan tidak lagi menjadi kebutuhan khalayak, dengan sendirinya khalayak akan meninggalkan. Kasus SARA dengan menyerang pemahaman kelompok lain—walau tanpa menyebut nama kelompok tersebut—merupakan kesalahan fatal. Alih-alih masyarakat berpikir bahwa “Khazanah” merupakan tayangan islami, banyak masyarakat yang menganggap itu tayangan kelompok tertentu. Dalam hal ini kelompok wahabi. Karena di antara tayangan-tayangan yang dinilai kontroversial memuat ajaran aliran ini seperti pengharaman ziarah kubur, pengharaman doa dan tawasul serta pembagian tauhid menjadi tiga.
Teori Uses and Gratification memiliki asumsi dasar sebagaimana ditulis oleh pendirinya Katz, Blumler dan Gurevitch, 1974.
-          Khalayak aktif dan penggunaan medianya berorientasi pada tujuan
-          Inisiatif dalam menghubungkan kepuasan kebutuhan pada pilihan media tertentu terdapat pada anggota khalayak
-          Media berkompetisi dengan sumber lainnya untuk kepuasan kebutuhan
-          Orang mempunyai cukup kesadaran diri akan penggunaan media mereka, minat, dan motif sehingga dapat memberikan sebuah gambaran yang akurat mengenai kegunaan tersebut kepada para peneliti
-          Penilaian mengenai nilai isi media hanya dapat dinilai oleh khalayak.
Melihat asumsi ini kita akan mengerti mengapa siaran kontroversial “Khazanah” termasuk fatal dan berpotensi membahayakan diri sendiri. Sedikitnya ada tiga faktor utama.
Pertama, keaktifan khalayak dalam menilai isi tayangan membuat khalayak lebih jeli memilih program siaran. Khazanah pada awalnya merupakan tayangan favorit. Namun karena pemberitaannya menyerang khalayak, bisa jadi khalayak mulai berpikir untuk meninggalkannya. Perlu digaris bawahi sebagian besar umat Islam di Indonesia merupakan pengikut aliran ahlussunnah waljamaah yang menghendaki ziarah kubur, doa dan tawasul sebagai amalan sunnah. Sementara itu di berbagai diskusi menyatakan bahwa wahabi merupakan aliran sesat. Banyak buku-buku yang menuliskan ajaran yang tidak sesuai dalam agama Islam sebagaimana dipahami wahabi.
Kedua, khalayak memilih program siaran yang berorientasi pada tujuan. Kebanyakan kaum muslim memilih tayangan islami karena tujuannya untuk memahami agama Islam secara praktis lewat siaran media massa. Hadirnya tayangan-tayangan islami diharap mampu memenuhi kebutuhan umat. Akan tetapi serangan ajaran yang dilakukan oleh “Khazanah” membuat sebagian masyarakat ragu, sebab di tengah-tengah umat masih banyak ulama yang dapat mengklarifikasi. Seperti yang dilakukan oleh beberapa ulama yang menyeru umat berhati-hati terhadap tayangan “Khazanah” Trans 7 pasca terkuak tayangan kontroversial tersebut.
Respon di antaranya datang dari warga Nahdliyin (Nahdlatul Ulama). Atas inisiatif dari segenap warga Nahdliyin, melalui MUI mereka mengadukan temuan ini ke pihak Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Diadakanlah pertemuan antara pihak Trans 7 dan para pengadu di gedung KPI Pusat pada hari Rabu, 17 April 2013 pukul 15.00 WIB
Pertemuan dalam bentuk dialog ini adalah upaya KPI memperoleh klarifikasi dari Trans 7 sekaligus mencoba menyelesaikan masalah yang timbul akibat aduan sejumlah masyarakat yang menyatakan keberatannya pada beberapa episode dalam program acara “Khazanah”. Pertemuan tersebut juga dihadiri perwakilan sejumlah lembaga dan ormas seperti Lembaga Dakwa Nahdatul Ulama (LDNU) Pusat dan Jatim, Lainan Falakiyah NU Kota Tangerang, dan sejumlah ormas lainnya.
Di awal pertemuan, Ketua KPI Pusat, Mochamad Riyanto, dan Komisioner KPI Pusat bidang Kelembagaan, Idy Muzayyad, yang juga didampingi Wakil Ketua KPI Pusat, Ezki Suyanto, menyampaikan maksud serta tujuan diadakannya pertemuan tersebut.
KPI kemudian mempersilakan pihak-pihak yang keberatan terhadap acara “Khazanah” guna menyampaikan pendapatnya. Kyai Haji Thobary Syadzily, Habib Fachry Jamalullail, dan beberapa perwakilan dari NU Jatim ikut menyampaikan keluhan, pendapat sekaligus masukan. Secara garis besar, mereka meminta Trans 7 untuk memperbaiki apa yang mereka keluhkan dan meminta maaf atas keberatan yang disampaikan. Menanggapi keluhan tersebut, Titin Rosmasari, Pemimpin Redaksi Trans 7, menyatakan tidak ada maksud apapun dari penayangan yang dikeluhkan dan pihaknya meminta maaf atas hal itu dan segera akan memperbaikinya. “Kami membuka diri dengan ini dan ini menambah ilmu kami untuk terus belajar,” katanya[2].
Terakhir kepuasan yang didapatkan khalayak hanya dirasakan segelintir orang yang sepaham dengan tayangan tersebut. Lagi-lagi jumlah khalayak yang dikecewakan jauh lebih banyak sehingga imbasnya timbal balik (feedback) yang diterima “Khazanah” dari masyarakat kurang baik.
Persepsi khalayak mengenai suatu tayangan biasanya akan bertahan sangat lama dan sulit dirubah. Apabila sebagian masyarakat mengetahui kontroversi tayangan tersebut, bukan tidak mungkin masyarakat akan menganggapnya sebagai konspirasi kelompok tertentu. Pada akhirnya mereka lebih memilih tayangan lain yang bisa menjadi sumber ajaran Islam. Saangat disayangkan jika sampai tayangan sebaik “Khazanah” harus turun rating karena hal semacam itu.
Oleh karena itulah tayangan berlabel islami diharapkan sejalan dengan prinsip dasar berdakwah, yaitu menyeru kepada kebaikan secara universal. Jangan sampai program tayangan digunakan untuk menyerang kelompok lain yang tidak sepaham. Tayangan-tayangan yang menyerang kelompok lain tersebut tidak lantas menjadi mediasi pemersatu umat dalam pemahaman yang sama. Sebaliknya, serangan terhadap pemahaman kelompok lain akan menimbulkan gejolak yang semakin mencerai-beraikan umat Islam.  
            Namun perlu digarisbawahi pula, tayangan kontroversial yang pernah ditayangkan “Khazanah” bisa disebabkan ketidaktahuan mereka mengenai ajaran Islam yang sesungguhnya. Mengacu pernyataan pemimpin redaksi Trans 7 Titin Rosmaria yang menjelaskan bahwa tidak ada maksud tertentu dari penayangan episode yang dikeluhkan. Mereka seakan tidak mengetahui pemahaman seperti itu merupakan pemahaman yang kurang populer dalam masyarakat nusantara. Terlebih sebagian besar masyarakat melakukan apa yang disebut syirik oleh “Khazanah” tersebut. Sekali lagi ditegaskan, amalan yang dilakukan tersebut memiliki dalil yang kuat sehingga pendapat mensyirikkan hanyalah klaim kelompok tertentu dan tidak seharusnya ditayangkan di media massa. Hal ini menambah ironis karena semakin mempertegas media hanyalah mencari keuntungan lewat label Islam. Karena pembahasan Islam yang tidak sederhana dilakukan sekenanya tanpa ada pertimbangan efek samping dari tayangan tersebut.
            Lalu di mana peran lembaga sensor film? Apakah tayangan yang ditayangkan televisi tanpa melalui sensor ketat sehingga terjadi banyak kecolongan? Kalau sistem penyiaran kita seperti itu, semakin benar apa yang pernah disampaikan Yanuar Nugroho, peneliti senior bidang inovasi dan perubahan sosial universitas Manchester bahwa negara ini tidak memiliki visi penyiaran. Sampai-sampai negara terbeli oleh kepentingan bisnis. Media yang memiliki dana melimpah dengan bebas menanamkan pengaruhnya tanpa memperhatikan rambu-rambu media.
            Kalau yang terjadi benar demikian, era politik media akan segera hadir. Sekarang politik media masih dilakukan dalam sekala minor. Bukan tidak mungkin ke depannya aksi saling serang pemahaman dan politik dilakukan secara terang-terangan apabila kondisi penyiaran di Indonesia tidak segera dibenahi.

BAB III
PENUTUP
Kritik dan Saran
Tayangan “Khazanah” Trans 7 merupakan salah satu tayangan yang sangat baik karena memiliki visi dakwah. Tetapi sayangnya sempat terjadi kontroversi di kalangan umat Islam akibat tayangan yang menghukumi syirik ziarah kubur dan alaman lain mengatasnamakan Islam. Padahal kalau ditinjau dari banyak pemahaman, ziarah kubur dan amalan lain yang dilakukan sebagian besar Islam nusantara memiliki dalil yang kuat. Untuk itu tidak relevan apabila “Khazanah” mengatakan apa yang disampaikannya merupakan ajaran Islam yang sesungguhnya.
            Saran bagi pelaku media massa yang menayangkan hal serupa harus lebih hati-hati karena bisa memicu polemik. Apabila menyampaikan suatu pendapat diperlukan penyebutan sumber dan alasan. Jangan sampai tayangan episode kontroversi “Khazanah” kembali muncul di hadapan pemirsa.
            Memiliki pandangan yang berbeda merupakan suatu kewajaran dan keniscayaan. Akan tetapi jika sampai menyalahkan bahkan memusyrikkan pendapat yang berbeda merupakan kesalahan yang harus diperbaiki ke depannya. Semoga tayangan televisi di Indonesia semakin baik dan semakin mendidik.   

3 comments:

  1. PADAHAL EMANG KALO DI COCOKKAN JUGA G BAKAL DI TEMUKAN DI ZAMAN ROSUL SPRT ITU..ZIARAH KAN MNDOAKAN YG SUDAH MATI TP YG TERJADI DI MASYARAKAT MALAH MINTA2 SAMA YG SUDAH MATI..?? TAWASULKAN DIPERBOLEHKAN SALAH SATU PERANTARANYA LWAT ORG SOLEH TP YG MASIH HIDUP BKAN YG SUDAH MATI !! GA DA RIWAYAT DR SAHABAT, TABIIN.,ATO 4 IMAM MADZHAB AHLUSUNNAH MEREKA MEMINTA2 DI KUBURAN !! MEMINTA KPD ORANG MATI ??

    ReplyDelete
  2. iya sejauh mana daftar pustakanya ?

    ReplyDelete