Thursday, May 16, 2013

Bangsa Besar Itu Bernama Kita!




Peta jejak Lemuria/Mu.
Gambar diambil dari 2.bp.blogspot.com
75.000-11.000 tahun sebelum masehi diceritakan pernah ada suatu peradaban manusia yang sangat tinggi. Peradaban itu tinggal di sebuah dataran yang subur, keadaan masyarakatnya makmur dan menguasai berbagai macam ilmu pengetahuan. Para arkeolog memperkirakan letak peradaban yang diduga lebih awal (atau bersamaan) dari Atlantis ini di sekitar samudra Pasifik. Bahkan ada yang berani menyimpulkan bahwa Indonesia-lah letak peradaban yang dimaksud.

"Peradaban itu tinggal di sebuah dataran yang subur, keadaan masyarakatnya makmur dan menguasai berbagai macam ilmu pengetahuan"
Bangsa itu bernama Lemuria/Mu. Berbeda dengan bangsa Atlantean yang mengandalkan fisik dan teknologi serta gemar berperang, bangsa Lemuria justru dipercaya sebagai manusia-manusia dengan tingkat evolusi dan spiritual yang tinggi, sangat damai dan bermoral. Hal itu menjadi titik kelemahan bangsa Lemuria dan menjadi sebab keruntuhannya kemudian. Mereka kalah dalam peperangan yang dikobarkan oleh orang Atlantean. Sementara Atlantean sendiri hancur akibat sebuah bencana alam besar. Peradaban itu tenggelam dan menjadi misteri hingga saat ini. Ilmuan yang menggagas kisah ini salah satunya ialah Plato.
Walau bukti-bukti yang dikemukakan sebatas dugaan-dugaan karena kebanyakan berada di dalam samudra, tetapi ada hal menarik yang bisa dicermati. Bahwa bangsa termaju kala itu berada di wilayah yang kini disebut sebagai Indonesia. Ya, Nusantara merupakan jejak peradaban besar itu. Para ilmuwan menduga sebuah daratan di wilayah yang kini menjadi lautan Pasifik sebagai pusat peradaban dunia masa lalu. Wajar hingga detik ini warga Indonesia yang masih berjiwa Indonesia sejati mewarisi sifat bangsa Lemuria. Kelembutan, keramahtamahan, gotong royong dan saling menolong menjadi atribut tak terpisahkan walau penjajah datang dengan bermacam pengaruhnya. Selama sekitar empat abad hidup dalam jajahan, toh bangsa ini sanggup bertahan.
Cak Nun, seorang budayawan kerap mengatakan bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang sangat kuat. Tak pernah mati dalam posisi terjepit seperti apapun. Biar Belanda, Spanyol, Portugis, Inggris hingga Jepang melakukan kebengisan mereka melalui penjajahannya, yang jelas bangsa Indonesia tidak pernah mati. Ia bertahan dengan kekuatannya. Dengan segala kelembutan hatinya. Biar Amerika menjajah sebagian besar kekayaan alam Indonesia. Bangsa ini masih bisa hidup damai. Tidak banyak yang stres (kecuali gagak nyaleg). Bahkan saat krisis global, Indonesia bisa dikatakan negara paling selamat. Walau harga sawit di Sumatra sempat anjlok hingga Rp. 500/kg (awalnya Rp. 2.000-an), walau harga minyak BBM meningkat pesat, toh bangsa ini tidak berhenti menikmati keindahan karunia Tuhan. Bangsa ini setiap hari bisa melihat betapa gunung-gunung yang menjulang merupakan harta berharga. Bangsa ini bisa memaknai bahwa hamparan lautan dengan debur ombaknya sebagai estetika.
Jika bangsa Lemuria memang benar adanya sebagaimana dugaan para ilmuwan, memang hanya Nusantara yang pantas menyandangnya. Diceritakan bangsa Lemuria/Mu merupakan bangsa yang maju berkat ilmu pengetahuan dan spiritualnya. Tanahnya subur. Rakyatnya makmur. Di dunia ini, hampir tidak mungkin menemukan tempat se-surga Indonesia. Letaknya di garis khatulistiwa. Hanya dua musim. Satwanya beraneka ragam. Penduduknya bermacam-macam. Airnya melimpah dan jarang sekali kering. Bahkan ada anekdot, 'Andai saja Nabi Muhammad diutus di Indonesia, mungkin bunyi tentang surga bukan "allati tajri min tahtiha al-anhar (surga itu yang di bawahnya mengalir sungai-sungai)"'. Dengan kekayaan alam melimpah, bangsa Indonesia tidak pernah lupa pada urusan spiritual. Masyarakat Indonesia menjalankan agama secara sempurna. Inovasi pada amaliah sangat diapresiasi ulama dunia. Adanya pembid'ahan pada tradisi Islam di Nusantara adalah merupakan imbas pemikiran luar. Dan bangsa ini semakin dewasa menilai mana pendapat luar yang perlu diambil dan mana yang perlu dikaji ulang.
Bangsa ini, kini aku sebut 'kita' merupakan bangsa yang mudah menerima kebenaran. Sejarah penyebaran agama di Indonesia tidak seribet seperti di wilayah Arab yang menggunakan cara-cara peperangan. Islam sebagai agama paling banyak dianut masuk dengan kedamaian. Nenek moyang kita sadar bahwa ajaran itu mungkin diperbarui oleh Sang Hyang Widhi melalui utusan-Nya. Ketika mereka menemukan ajaran kebenaran, maka tidak perlu berpikir panjang. Segera ikuti! Sebuah fakta pula bahwa seluruh agama di Indonesia tidak menafikan unsur Tuhan. Agama Budha sekali pun! Inilah mengapa spiritual bangsa ini sangat maju.
Sebuah karunia apabila kita menyadari bahwa kita merupakan bangsa besar. Hari ini mungkin kita masih tertidur. Kita masih berpetualang dalam mimpi masa lalu tentang sejarah Majapahit dan Sriwijaya. Kita masih bermimpi bahwa Gadjah Mada beserta patih lainnya pernah menguasai dunia. Berat memang meneruskan apa yang pernah dicapai leluhur kita apabila kita tidak kunjung sadar. Kita hari ini mungkin masih melamun, "Kapan Indonesia bisa maju?" Dan kita suatu saat menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita. Kita akan mendapati Nabi Yusuf menafsirkan terulangnya mimpi yang baru kita lihat. Tentu saja. Selama kita tidak lupa pada diri kita... Insya Allah. 
Wallahua'lam.

0 comments:

Post a Comment