Sunday, November 9, 2014

Sekedar Cerita (5)

Sambungan…
 
Senyum...
Argi. Lelaki bertubuh besar dengan perut mirip bantal itu terlihat sebagai orang yang pendiam. Paling tidak itu yang ada dalam benakku sebelum talkshow berlangsung. Namun anggapan itu langsung memudar ketika dalam perjalanan ke hotel ia diberi kesempatan berbicara. “Nama saya Argi, kalau malam Argita.” Setelah itu, ia semakin berani untuk berbicara. Ah, bukan berbicara. Tapi mengoceh. Apalagi setelah NB berakhir, ia menjadi aktivis LINE yang patut mendapat penghargaan sebagai ‘gajah paling liar’.
Kedekatan memang membuang sekat segala hal. Di bus GA 3 dan tribun Meong, aku merasa menjadi satu keluarga. Pada awalnya jaim, namun seterusnya kami terbiasa mengeluarkan tingkah asli kami, yaitu suka berbicara ceplas-ceplos. Terkadang aku berpikir, apa ini wajah-wajah orang berprestasi dari seluruh penjuru nusantara yang dikumpulkan menjadi satu? Tapi kenyataannya bisa jadi iya (walau aku tak tahu apa prestasiku hahaha).
Dulu sebelum mendaftar beasiswa ini aku membayangkan—jika lolos—akan bertemu orang-orang yang pendiam, suka membaca, garing dan stereotip lainnya mengenai orang pintar. Namun semua terbantah ketika kami justru menjadi orang-orang yang sangat ceria. Kami benar-benar tidak peduli bahwa perkenalan kami baru beberapa hari. Because we are family... Bersatu dan seikat.
Setelah perjalanan cultural visit yang panjang dan melelahkan, beswan langsung diarahkan ke gedung PRPP untuk melakukan gladi. Besok sudah memasuki tahap run through. Idelanya malam ini kami harus sudah menghafal seluruh lagu. Tapi aku sendiri masih sering lupa lirik lagu janger dan meong-meong. Soalnya menggunakan bahasa daerah Bali. ...kenyumne manis...bunge... langsir lanjar pangulune ngalap gading... jalan jani mejangeran... Dan lagu yang sangat menggetarkan tentu saja ‘hymne Beswan Djarum’. Saat kami menyanyikan lagu tersebut, ada perasaan yang benar-benar berbeda. Mau menangiskah? Ah, tidak. Jangan. Aku harus mempertahankan track record kategori tidak pernah menangis di hadapan umum!
Setelah kembali ke hotel, aku, Sami dan Naufal bingung mau ke mana. Kami harus keluar untuk sekedar mengobrol. Besok adalah malam dharma puruhita. Malam dharma berarti detik-detik terakhir kebersamaan kami dengan beswan RSO Jakarta dan Bandung. Artinya aku dan Sami harus kehilangan sahabat sekamar kami, Naufal. Tanpa mempedulikan rasa lelah, kami mengajak yang lain untuk keluar ke simpang lima. Kami coba menghubungi beberapa rekan, baik lelaki atau pun perempuan. Tapi karena kelelahan, mereka tidak dapat ikut. Riska, Budel dan Putri yang berpotensi untuk ikut pun sudah tidak menjawab chatt kami. Walhasil, kami berangkat bertiga menggunakan taksi.
Membelah jalanan ibu kota Jawa Tengah di tengah malam relatif menakutkan. Paling tidak itu yang diceritakan supir taksi. Di jalanan yang sangat lengang itu kerap terjadi pembegalan, perampokan dan aksi kejahatan lainnya. Dan memang, jalanan kota Semarang berbeda dengan Yogyakarta yang relatif terus ramai. Benar-benar sunyi, sesunyi perasaan kami yang terlanjur larut dalam bayangan perpisahan.
Di simpang lima kami bertemu dengan banyak beswan, baik yang menginap di Ciputra atau pun di Grand Aston seperti kami. Cukup mudah, tinggal lihat saja sandal yang dikenakan. Bahkan kami bertemu dengan Febri, teman satu tribun asal Bali yang pada saat gladi mengeluh sakit. ‘Sudah sembuh, Feb?’ tanyaku iseng. Ia menjawab kalau ia sudah tidur. Seusai bangun tidur, temannya mengajaknya makan. ‘Mumpung perut juga lapar’. Ujarnya.
Malam terakhir ini ternyata digunakan banyak beswan untuk menciptakan kenangannya masing-masing. Aku bertemu dengan beswan Aceh, Jambi, Medan, Makassar dan lainnya. Namun aneh, selama NB ini aku belum bertemu dengan beswan Riau. Padahal aku sangat berharap bisa mengela mereka. Maklum, rumahku di sana. Aku juga bertemu dengan Dirga, LO bus kami. ‘Sudah izin?’ tanyanya. Mimik wajahnya tidak terlalu serius. Mungkin ada gurat pemakluman di sana. Aku dan kedua sahabatku menggeleng. ‘Enggak, mas. Malam terakhir...’. ‘Ya sudah, teruskan.’
Kami berjalan seperti gelandangan yang tak tahu arah dan tujuan. Mau makan? Tidak lapar. Mau masuk mall? Tutup keles! Walhasil kami duduk-duduk dan sesekali berfoto. Sialnya batrei kameraku habis. Buat apa kubawa?
Di sebuah tribun warung, kami bertemu dengan dua beswan asal Sumatra. Tio asal Palembang dan Intan asal Medan. Mereka sedang menunggu teman-temannya. Naufal bersemangat menunggu karena berharap bisa berkenalan dengan Saras, mahasiswi asal Medan yang berperan sebagai main talent drama ‘Damai Bumi Dewata’. Berselang beberapa saat, muncul rombongan Medan. Namun yang ditunggu-tunggu tidak ikut rombongan. ‘Yuk, balik.’
Kami pun langsung menghubungi supir taksi yang tadi mengantarkan kami ke simpang lima ini.


Bersambung...

Edisi sebelumnya klik di sini
Selanjutnya klik link ini

0 comments:

Post a Comment