Tuesday, November 11, 2014

Episode Terakhir 'Sekedar Cerita': Hanyalah Awal dari Segala Awal

Sambungan...
 
Hyaaattt... Melompat lebih tinggi, kawan!
Malam dharma puruhita hanyalah awal dari segala awal. Ini lembaran hidup yang baru. Ini merupakan saat di mana kami, paramahasiswa dari penjuru Indonesia, merayakan perbedaan. Bahwa perbedaan bukan untuk dikonfrontasikan. Namun perbedaan adalah anugerah yang musti bisa disejajarkan dalam senyum-senyum kebahagiaan.
Tarian demi tarian, lagu demi lagu kami bawakan bersama. Kami tidak pernah memandang siapa kamu, apa agamamu, apa sukumu. Yang kami yakini sebagai kebenaran adalah bahwa kami merupakan orang Indonesia. Kami adalah anak para leluhur yang memiliki sejarahnya masing-masing. Ya, kami adalah Islam. Kami Kristen. Kami Katholik. Kami Hindu. Kami Buddha. Kami Kong Hu Chu. Kami adalah Jawa, Bali, Sunda, Batak, Tionghoa, Melayu, Dayak dan semua suku yang menjadi kesatuan bernama Indonesia.
Kelak sejarah akan mencatat kami sebagai para pejuang keberagaman. Seperti tema talkshow tempo hari. Sejujurnya kami begitu miris melihat kekerasan. Kami menangis mendengar jerit kesakitan akibat perpecahan. Ya, kami, atau aku pribadi adalah orang yang paling menentang kekerasan atas nama agama. Lihat, tangan kami bergandengan kala menyanyikan hymne beswan. Kami bersama-sama menghayati makna indahnya perdamaian di atas bumi yang indah nan permai ini.
14.662 disaring menjadi 8.410. Jumlah tersebut menyusut menjadi 1.509. Lalu dengan berbagai pertimbangan, terpilihlah 516 mahasiswa dari seluruh Indonesia untuk mengikuti kegiatan ini. Tentu saja ini pencapaian luar biasa. Bagi aku sendiri, hal ini menjadi sebuah keberuntungan yang besar. Bukan karena ada fee yang didapat selama 12 bulan, namun mengenal orang dari Sabang sampai Merauke adalah kesempatan yang sangat luar biasa. Apalagi mereka jelas merupakan orang-orang berprestasi. Jadi sedikit banyak aku yang masih bodoh ini bisa belajar, belajar dan belajar.
Damai Bumi Dewata adalah tema yang disusung pada malam dharma ini. Kenapa Bali? Bali merupakan salah satu pulau kebanggaan Indonesia. Dari sisi pariwisata, Bali sangat dikenal di mancanegara. Bahkan tak jarang para turis lebih mengenal Bali daripada Indonesia. Keindahan alam dan keramahan masyarakatnya serta tenangnya kehidupan di Bali membuat siapa saja takjub dan ingin kembali mengunjungi pulau dewata.
Namun Bali yang indah itu pernah menjelma menjadi kota mati tatkala peristiwa bom Bali meluluhlantakkan sendi-sendi kehidupan di sana. Mencekam. Puluhan atau bahkan ratusan mayat tak berdosa bergelimpangan. Turis mancanegara menjadi takut melihat indahnya matahari terbit di Sanur. Para turis enggan memberi makan pada monyet-monyet lucu di monkey forest. Ya, semua itu karena keegoisan sebagian golongan yang mengatasnamakan kebenaran. Biadab! Tidak ada satu pun agama yang mengajarkan kekerasan. Apalagi Islam yang turun sebagai agama rahmatan lil ‘alamin. Agama yang membawa seluruh rahmat bagi alam. Bukan hanya bagi pemeluknya. Bahkan sang Rasul agung Muhammad SAW sangat menghormati keberadaan orang-orang Nasrani dan Yahudi. Di Madinah misalnya, saat membuat piagam Madinah, Rasul melibatkan warga, baik beragama Islam atau pun tidak, juga seluruh suku yang mendiami kota Yatsrib, kota yang kemudian berubah nama menjadi Madinah Al-Munawarah. Jadi kemudian menjadi ambigu jika aksi teror tersebut dilakukan mengatasnamakan agama.
Kini Bali dihadapkan pada berbagai permasalahan. Salah satunya reklamasi. Aku sendiri kurang memahami apa itu reklamasi Teluk Banoa yang saat ini gencar dilawan. SID misalnya, band asal Bali yang tak pernah jera menyuarakan penentangan reklamasi ini menganggap reklamasi mengancam keseimbangan alam di sana. Ya, apapun itu, semoga Bali tetap berada dalam garis kedamaian. Hei.. o wa e o... Kembalikan Baliku padaku...
Malam dharma puruhita berjalan dengan sangat baik dan fantastis. Nyaris tidak ada cela seperti saat run through sore harinya. Saat itu penari kera gagal melakukan atraksinya. Malam ini kami benar-benar all-out. Para penari mempersembahkan yang terbaik. Begitu juga dengan paduan suara. Pementasan yang hanya dipersiapkan selama lima hari ini benar-benar meriah. Penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Danny Malik cs. Juga Brigitta cs.
Bersatu seikat beswan Djarum
Kita semua bergandengan tangan
Membuka hati membuka harapan bawa citra harum...
Rasa sesak benar-benar memenuhi rongga dada kala kami menyanyikan lagu ini. Kami berpegang erat satu sama lain. Berharap kekeluargaan ini abadi, tak lekang oleh waktu. Ya, semakin mendekati puncak acara, semakin dekat kami dengan perpisahan. Kami harus kembali ke kehidupan kami yang sebenarnya. Dan lagu pamungkas ‘selamanya Indonesia’ benar-benar tiba. ‘Kita adalah sayap-sayap sang garuda. Di atas samudra di langit katulistiwa.’
Kami berpelukan satu dengan lainnya. Di tribun meong, kami berikrar untuk menjaga kebersamaan ini. Bagaimana pun caranya. Bersama bukan harus bersanding. Bersama adalah ketika kami tidak melupakan segala kenangan yang didapatkan. Kami tetap mengenal satu sama lain sebagai saudara.
Setelah acara di dalam ruangan, kami digiring untuk keluar. Di sana ada panggung kecil yang digunakan sebagai tempat hiburan. Setelah Project Pop, penyanyi mana lagi yang dipersiapkan Djarum untuk menghibur kami? Dan sosok Duta terlihat ketika cahaya lampu sorot menerpa wajahnya. Satu persatu personel Sheila On 7 terlihat. Para beswan semakin histeris. kami bernyanyi bersama, berjoged ria. Kami seperti melupakan semua sekat-sekat perbedaan. Lelaki atau perempuan melompat-lompat. Bahkan rekan dari Aceh tak kalah heboh. Sebuah pemandangan yang merobohkan anggapanku mengenai perempuan Aceh yang kaku dan serba tertutup.
Perlahan-lahan hujan turun. Gitaris dan basis So7 tampak gelisah dengan kondisi ini. Di panggung terbuka, sudah barang tentu hujan membuat petikan gitar mereka terganggu. Duta, sang vokalis, mengaba-aba jika pertunjukkan akan dipercepat. Sementara sebagian beswan berhamburan ke gedung Merbabu, banyak pula yang masih bertahan di bawah guyuran hujan yang semakin deras. Dan puncak dari pertunjukkan itu adalah pesta kembang api. Meriah dan semakin menambah kenangan bagi kami.
Seusai acara hujan belum menunjukkan tanda-tanda akan reda. Aku berkumpul bersama teman sekamar, Naufal dan Sami. Di situ ada pula Juanda dan dua mahasiswi asal Aceh,  Tjut Aqsha dan Ocut. Keduanya benar-benar membuatku mengubah pandangan mengenai perempuan Aceh. Ternyata mereka supel dan enak diajak ngobrol. Namun panggilan dari LO bus membuat obrolan kami terpotong. Kami harus kembali ke dalam bus.
Tidak banyak kata-kata yang bisa kami utarakan. Sepanjang jalan hanya ada gurauan-gurauan kecil yang dipaksakan. Ketika bus sudah dekat dengan hotel, barulah LO bus kami berbicara, menyampaikan rasa terima kasih dan maafnya. Dan hujan masih turun walau tinggal rintik-rintik saja. Sepertinya ia turun karena ingin menghapus air mata kami.
Ya, inilah malam yang membuat kami limbung dengan kesedihan. Kami hanya bisa menggeleng dan menghela nafas dalam-dalam. Malam ini kami melepas kepergian sahabat-sahabat dari RSO Jakarta dan Bandung. Kami melepas Naufal, Putri, genk Ponti dan lainnya. Argi si gajah liar juga ikut berpisah. Di kamar, aku dan Sami tak banyak bercakap-cakap.
Setelah sarapan pagi, banjir air mata memenuhi lobi hotel Grand Aston. Satu persatu sahabat kami melakukan check-out. Satu persatu menaiki bus yang akan mengantarkan kami kembali ke kehidupan yang nyata, yang beberapa saat terakhir kami tinggalkan. Dan lambaian tangan itu terasa sangat menyesakkan. Aku menyaksikan kegetiran pada satu episode dalam hidup yang selamanya akan kuingat sebagai sebuah pengalaman berharga ini. Terima kasih, kawan. Selamat kembali menjadi mahasiswa sebenarnya. Mari rangkai mozaik demi mozaik kisah ini menjadi pengalaman yang indah bagi kita semua. Yakinlah bahwa ini bukanlah akhir. Ini adalah awal dari segala awal.[]

Kami menciptakan kenangan terindah yang kelak menyesakkan dada kami sendiri

Selesai...

Ditulis oleh Sarjoko
Yogyakarta, 6-11 November 2014

Diselesaikan di suatu sore yang hujan sudah mereda.

Episode sebelumnya klik link ini
Untuk melihat video rekaman selama Nation Building, klik di sini

Sunday, November 9, 2014

Sekedar Cerita (5)

Sambungan…
 
Senyum...
Argi. Lelaki bertubuh besar dengan perut mirip bantal itu terlihat sebagai orang yang pendiam. Paling tidak itu yang ada dalam benakku sebelum talkshow berlangsung. Namun anggapan itu langsung memudar ketika dalam perjalanan ke hotel ia diberi kesempatan berbicara. “Nama saya Argi, kalau malam Argita.” Setelah itu, ia semakin berani untuk berbicara. Ah, bukan berbicara. Tapi mengoceh. Apalagi setelah NB berakhir, ia menjadi aktivis LINE yang patut mendapat penghargaan sebagai ‘gajah paling liar’.
Kedekatan memang membuang sekat segala hal. Di bus GA 3 dan tribun Meong, aku merasa menjadi satu keluarga. Pada awalnya jaim, namun seterusnya kami terbiasa mengeluarkan tingkah asli kami, yaitu suka berbicara ceplas-ceplos. Terkadang aku berpikir, apa ini wajah-wajah orang berprestasi dari seluruh penjuru nusantara yang dikumpulkan menjadi satu? Tapi kenyataannya bisa jadi iya (walau aku tak tahu apa prestasiku hahaha).
Dulu sebelum mendaftar beasiswa ini aku membayangkan—jika lolos—akan bertemu orang-orang yang pendiam, suka membaca, garing dan stereotip lainnya mengenai orang pintar. Namun semua terbantah ketika kami justru menjadi orang-orang yang sangat ceria. Kami benar-benar tidak peduli bahwa perkenalan kami baru beberapa hari. Because we are family... Bersatu dan seikat.
Setelah perjalanan cultural visit yang panjang dan melelahkan, beswan langsung diarahkan ke gedung PRPP untuk melakukan gladi. Besok sudah memasuki tahap run through. Idelanya malam ini kami harus sudah menghafal seluruh lagu. Tapi aku sendiri masih sering lupa lirik lagu janger dan meong-meong. Soalnya menggunakan bahasa daerah Bali. ...kenyumne manis...bunge... langsir lanjar pangulune ngalap gading... jalan jani mejangeran... Dan lagu yang sangat menggetarkan tentu saja ‘hymne Beswan Djarum’. Saat kami menyanyikan lagu tersebut, ada perasaan yang benar-benar berbeda. Mau menangiskah? Ah, tidak. Jangan. Aku harus mempertahankan track record kategori tidak pernah menangis di hadapan umum!
Setelah kembali ke hotel, aku, Sami dan Naufal bingung mau ke mana. Kami harus keluar untuk sekedar mengobrol. Besok adalah malam dharma puruhita. Malam dharma berarti detik-detik terakhir kebersamaan kami dengan beswan RSO Jakarta dan Bandung. Artinya aku dan Sami harus kehilangan sahabat sekamar kami, Naufal. Tanpa mempedulikan rasa lelah, kami mengajak yang lain untuk keluar ke simpang lima. Kami coba menghubungi beberapa rekan, baik lelaki atau pun perempuan. Tapi karena kelelahan, mereka tidak dapat ikut. Riska, Budel dan Putri yang berpotensi untuk ikut pun sudah tidak menjawab chatt kami. Walhasil, kami berangkat bertiga menggunakan taksi.
Membelah jalanan ibu kota Jawa Tengah di tengah malam relatif menakutkan. Paling tidak itu yang diceritakan supir taksi. Di jalanan yang sangat lengang itu kerap terjadi pembegalan, perampokan dan aksi kejahatan lainnya. Dan memang, jalanan kota Semarang berbeda dengan Yogyakarta yang relatif terus ramai. Benar-benar sunyi, sesunyi perasaan kami yang terlanjur larut dalam bayangan perpisahan.
Di simpang lima kami bertemu dengan banyak beswan, baik yang menginap di Ciputra atau pun di Grand Aston seperti kami. Cukup mudah, tinggal lihat saja sandal yang dikenakan. Bahkan kami bertemu dengan Febri, teman satu tribun asal Bali yang pada saat gladi mengeluh sakit. ‘Sudah sembuh, Feb?’ tanyaku iseng. Ia menjawab kalau ia sudah tidur. Seusai bangun tidur, temannya mengajaknya makan. ‘Mumpung perut juga lapar’. Ujarnya.
Malam terakhir ini ternyata digunakan banyak beswan untuk menciptakan kenangannya masing-masing. Aku bertemu dengan beswan Aceh, Jambi, Medan, Makassar dan lainnya. Namun aneh, selama NB ini aku belum bertemu dengan beswan Riau. Padahal aku sangat berharap bisa mengela mereka. Maklum, rumahku di sana. Aku juga bertemu dengan Dirga, LO bus kami. ‘Sudah izin?’ tanyanya. Mimik wajahnya tidak terlalu serius. Mungkin ada gurat pemakluman di sana. Aku dan kedua sahabatku menggeleng. ‘Enggak, mas. Malam terakhir...’. ‘Ya sudah, teruskan.’
Kami berjalan seperti gelandangan yang tak tahu arah dan tujuan. Mau makan? Tidak lapar. Mau masuk mall? Tutup keles! Walhasil kami duduk-duduk dan sesekali berfoto. Sialnya batrei kameraku habis. Buat apa kubawa?
Di sebuah tribun warung, kami bertemu dengan dua beswan asal Sumatra. Tio asal Palembang dan Intan asal Medan. Mereka sedang menunggu teman-temannya. Naufal bersemangat menunggu karena berharap bisa berkenalan dengan Saras, mahasiswi asal Medan yang berperan sebagai main talent drama ‘Damai Bumi Dewata’. Berselang beberapa saat, muncul rombongan Medan. Namun yang ditunggu-tunggu tidak ikut rombongan. ‘Yuk, balik.’
Kami pun langsung menghubungi supir taksi yang tadi mengantarkan kami ke simpang lima ini.


Bersambung...

Edisi sebelumnya klik di sini
Selanjutnya klik link ini

Saturday, November 8, 2014

Sekedar Cerita (4)

Sambungan...
Hari keempat: Cultural Visit
Praktik membatik di GOR Djarum Kudus

Orang Papua adalah orang yang unik. Pertama kali aku mengenal anak Papua hari pertama yang lalu. Aku satu bus dengan Grace. Di Merapi ballrom, aku kemudian mengenal Onny dan Paul. Grace dan Onny memiliki wajah khas Papua, tapi tidak dengan Paul. Dari wajahnya, Paul tampak bukan asli dari bumi Cenderawasih. Benar saja, dia aslinya anak Sulawesi tapi kuliah di universitas Musamus Merauke.
Kedua teman asal universitas di Papua itu nyentrik. Mereka memakai kalung yang berasal dari binatang. Onny dengan kalung bermata taring babi, sedang Paul menggunakan gigi buaya. Iseng-iseng, aku pesan satu gigi buaya kelak jika diberi kesempatan bertemu di character building (CB).
Musamus. Paul bercerita jika kata ini terinspirasi dari rumah raksasa yang dibuat oleh semut-semut. Katanya, rumah semut ini keras seperti batu. Tingginya mencapai tiga meter. Di lingkungan kampusnya banyak rumah semut semacam ini. maka kampusnya memiliki filosofi, namun aku lupa kata-kata tepatnya, tapi kurang lebih bahwa kerja keras gotong royong akan menghasilkan sesuatu yang hebat. “Semut itu tidak bisa apa-apa kalau sendiri. Tapi kalau bersama-sama mereka bisa buat itu rumah semut.”
Di hari keempat ini, aroma perpisahan semakin tercium jelas. Besok sudah malam dharma puruhita. Itu tandanya hari ini kami harus lebih akrab. Namun rasa pegal akibat joget di konser Project Pop membuat kami benar-benar lelah. Hampir seluruh penumpang bus GA 3 terkapar di bus. Bahkan LO kami, Angela, sampai tidur tertelungkup di kursi bus.
Bus membelah jalanan pantura. Jalan ini sangat akrab dengan kehidupan remajaku. Aku ingat, saat masa MA dulu sering main ke Semarang untuk sekedar menonton bioskop di Mall Ciputra. Saat melewati terminal Terboyo, bayangan manisku langsung membuncah. Dulu aku bertemu dengan penulis idolaku di dekat sini, di kantor Suara Merdeka. Ya, saat itu aku berkesempatan bertemu dan berdialog dengan Triyanto Triwikromo, cerpenis handal, yang tulisannya sudah masuk di Kompas berkali-kali. Kumpulan cerpennya Ular di Mangkuk Nabi mendapat penghargaan dari pusat studi bahasa. Berkah. Setelah pertemuan itu, cerpenku nangkring di harian Suara Merdeka. Judulnya Lembaran dari Kendeng.
Bus terus melaju kencang. Ketika menoleh ke depan dan belakang, hampir seluruh penumpang tidur. Iseng-iseng aku foto wajah-wajah kusut itu haha. Memang, saat tidur adalah saat-saat di mana orang menampakkan wajah aslinya. Natural. Karena mengantuk, aku kemudian ikut tidur.
Ketika membuka mata, bus kami sampai di pelataran GOR bulutangkis Djarum Kudus. GOR ini dikenal sebagai yang terbesar di Asia. Tapi entah mengapa, kami tidak mampir. Beberapa beswan dipersilakan buang hajat. Bus kembali melaju, melewati gedung-gedung yang sangat kukenal. Wajar, hampir tiap bulan aku selalu mengunjungi kota Kudus. Setelah melewati jalanan nan sempit, kami berhenti di pabrik pembuatan rokok kretek Djarum. SKT atau apa istilahnya, aku lupa.
Di sana, kami diberi kesempatan melihat proses pembuatan rokok kretek yang serba manual. Karena manual, ribuan tenaga kerja terserap. Ini tentu saja mengurangi jumlah pengangguran yang ada di Indonesia. Beswan juga diberi kesempatan untuk membuat kretek dengan arahan buruh yang sudah berpengalaman itu.
Oasis. Ini tempat yang membuatku tercengang. Ternyata pabrik rokok Djarum memiliki tempat pengolahan limbah yang luar biasa. Oasis tempat di mana pemandangan gunung Muria terhampar indah. Lokasinya cukup jauh, melewati universitas Muria Kudus. Di Oasis, limbah bekas pencucian tembakau dikelola, dinetralisir kembali. Airnya dijadikan air kolam yang bisa digunakan menernak ikan, endapannya bisa digunakan sebagai pupuk. Beswan boleh membawanya sekedar oleh-oleh. Di sana kami diberi kesempatan memakan ikan gurame yang dipelihara di air hasil netralisir.
Di Oasis ada banyak taman. Sungguh, aku tak pernah menyangka ada tempat semacam ini di Kudus sebelumnya. Taman-taman ini dikonsep program-program bakti Djarum Foundation. Ada replika berbagai piala yang diperoleh atlet yang disponsori oleh Djarum. Di sini pula kami mendapat banyak ilmu tentang pemeliharaan lingkungan. Djarum trees for life mengadakan program-program unggulan seperti penanaman pohon trembesi di sepanjang jalur pantura, mulai Anyer sampai Banyuwangi.
Trembesi. Pohon ini sangat berjasa meloloskanku untuk menjadi bagian beswan Djarum. Saat tes menggambar, trembesi adalah pohon yang kugambar. Aku kerap mendengar bahwa pohon nangka paling manjur. Tapi aku bergeming. Aku memiliki pohon idola yang harus kugambar ketika ujian ini.
Selanjutnya kami menuju masjid menara Kudus. Sekedar melihat makna dua bangunan yang melambangkan dua keyakinan berbeda. Aku menyempatkan diri untuk berziarah ke makam sunan Kudus yang berada di belakang bangunan masjid.
 Masjid ini wujud kerukunan umat Islam-Hindu. Arsitektur menara di masjid ini sangat identik dengan bangunan hindu. Di Kudus, sapi merupakan hewan yang tidak boleh disembelih. Alkisah, Sunan Kudus berkawan dengan tokoh Hindu di wilayah ini. Demi menghormati agama Hindu, Sunan Kudus melarang pengikutnya menyembelih hewan yang disucikan dalam tradisi agama Hindu ini. Tradisi ini berlanjut hingga sekarang. Di masjid Al-Aqsha ini, aku bernostalgia dengan berbagai kenangan yang pernah kuukir bersama teman-teman di pesantren dahulu. Di masjid ini aku bertemu lagi dengan teman satu pesantrenku. Seorang tunanetra yang menghafalkan Qur’an. Namanya Ahmad, dipanggil Mad. Sudah tiga tahun aku tidak bertemu orang ini.
“Atiqah mana?” Dirga dan Angela mencari dua penumpang bus yang urung muncul. Ah, setelah ditunggu beberapa saat, dua orang tersebut muncul. Ternyata mereka baru keluar dari kamar kecil. Inilah awal nama Atiqah dibully sebagai ‘penunggu WC’. Karena setelah dari masjid menara, ia juga telat masuk bus dengan alasan yang sama.
GOR Bulutangkis merupakan tujuan akhir kami dalam agenda cultural visit ini. Di sasana bulutangkis yang besar ini, kami mendapat kesempatan untuk mencoba membatik, corak batik Bali. Batik tulis. Ternyata memang sulit untuk ‘melukiskan’ lilin yang sudah dipanaskan ke atas kain bergambar. Pantas saja harga batik tulis sangat waw. Membatik di atas kain seukuran kurang lebih 30 x 30 cm saja sudah membuat frustrasi. So, jangan sekali-kali meremehkan budaya bangsa ini. Rencananya batik ini akan diproses dan dikembalikan pada ‘pengrajinnya’. Kelak, di kegiatan Djarum lainnya yang akan diikuti beswan Djarum.
Di hari keempat ini, kami para penghuni GA 3 saling bertukar PIN BBM, bertukar akun instagram, twitter dan lainnya. Suasana jauh lebih akrab. Sangat akrab. Kami merasa menjadi sebuah keluarga yang kenal sejak lama. Di bangku paling depan, kami menyaksikan ada sepasang orang yang terlihat sangat ‘mesra’. Ketika dikonfirmasi, orang Bali dan Pontianak menyangkal terjadi sesuatu dengan hati mereka. Tapi siapa tahu? Ya, hanya Tuhan dan mereka berdua yang tahu.
Kami menciptakan kenangan terindah yang kelak menyesakkan dada kami sendiri


Bersambung...

Edisi sebelumnya klik di sini
Selanjutnya klik link ini

Thursday, November 6, 2014

Sekedar Cerita (3)

Sambungan...
Hari ketiga
 
Keriuhan Bus GA 3
“Tribun satu.... Pong!”
Keriuhan terjadi. Kivlan atau Aang terus saja membuat sensasi. Malam tadi, ia menjadi orator untuk berpanas-ria dengan para LO. Kemarin sore, ia menggagas ‘identitas’ tribun berupa penutup kepala dari handuk. Sekarang dia mulai ribut dengan yel-yelnya. Beberapa saat dipraktikkan, yel-yel kami berubah jadi “meong-meong...pong!”
Meong-meong dan pong adalah kombinasi dari lagu yang dinyanyikan tim choir. Meong-meong adalah lagu daerah Bali, sementara ‘pong’ adalah suara tim bas saat menyanyi lagu janger. Keriuhan kami menular ke tribun-tribun lain. Dimulai dengan ‘demam’ penutup kepala sampai ada yel-yel pertribun. Di loud spot, banyak yang berselfie ria menggunakan penutup kepala ala Aang yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa.
Fafa, LO tribun kami, membuat suasana lebih hidup. Apalagi dua sahabat Andre dan Andi tampak bersemangat melihat kakak angkatannya di beswan itu. Ia terus memberi semangat dan membangunkeakraban tribun dengan berbagai cara, mulai dengan membuat ‘poster’ sampai berteriak-teriak. Walhasil, aku bisa optimis tribun kami paling berisik. Apalagi ada Paul si orang Papua dan Sam yang tidak bisa berhenti berbicara barang satu menit.
Tribun satu memang menyimpan banyak kenangan. Ya, paling tidak ini yang membuat sahabat saya Kivlan, sang orator Jakarta, meruntuhkan track recordnya. Ia bercerita kalau selama hidupnya tidak pernah menangis untuk perpisahan. Tapi suasana tribun satu membuatnya benar-benar menyesakkan dada. Aku tidak tahu, setelah malam dharma puruhita ia menangis atau tidak. Yang jelas di grup LINE dia sepertinya galau hahaha.
Kembali ke hari ketiga. Agenda kami hari ini adalah gladi kotor dan talkshow. Masing-masing tim choir harusnya sudah hafal lagu-lagu yang digembleng selama beberapa hari ini. Aku sendiri merasa aneh dengan metode mbak Brig dkk. Metode mereka membuat aku mudah menghafalkan lagu. Padahal aku bukan orang yang mudah mengingat lagu. Ya, mungkin karena mereka pelatih profesional, seorang komposer handal yang punya cara tertentu untuk membuat yang dilatih nyaman.
Lagu janger yang awalnya jadi hantu, ternyata menjadi lagu favorit. Lagu janger dinyanyikan buat bersantai, santai. Agar segar jiwa raga yang telah lunglai... Begitu sepenggal lirik lagu daerah Bali ini. Kami semakin tidak sabar untuk menantikan momen malam dharma, walau di sisi lain kami berpikir berat untuk sampai di malam itu. Malam dharma berarti hari perpisahan dengan teman-teman se-Indonesia. Setelah gladi dan shalat Ashar, kami bersama-sama naik bus untuk menuju gedung 168 converence. Hari ini kami memakai dress code kaos polo bertuliskan ‘nation building’.
Bus GA 3 mulai akrab. Lagu Krispatih mengantarkan kami larut dalam nyanyian-nyanyian. Naufal adalah penyanyi pertama. Sementara yang lain jadi ‘backing vocal’. Kami bernyanyi dan berjoget layaknya orang yang sudah lama kenal. Saling membaur. Baru kali ini kami merasa benar-benar bebas. Aku jadi ingat apa yang pernah dikatakan beberapa kakak angkatan, bahwa setelah NB beswan tidak akan mengenal kata malu. Padahal di dalam bus ada bu Popi dan admin twitter. Eh, adminnya lumayan cakep, lho... Ia foto kami melalui kamera iphone-nya. Beberapa saat kemudian muncul wajah kami di twitter @BeswanDjarum. Indra, beswan Bali yang pertama memberitahuku kalau muka kami masuk ke twitter. Oh, itu tho adminnya...
Di hari ketiga, suasana benar-benar cair. Dirga dan Angela yang sebelumnya kurang greget mulai bisa membaur dengan adik angkatannya. Sejak awal dua LO itu sebenarnya ingin membuat suasana cair. Tapi kami saja yang malu-malu hehe. Aku sendiri mulai bisa mengenal beberapa teman sebus. Walau sejujurnya aku belum banyak mengenal, kecuali beberapa saja. Terutama genk Ponti yang sejak hari kedua sudah ngobrol. Bahkan Indra, Wintara, Kumis, Budel, Riska dan lainnya baru kukenal—artinya diajak ngobrol—di hari ketiga ini. Aku semakin merasa memiliki keluarga bernama ‘mereka’. Sama dengan tribun satu yang mulai menumbuhkan benih-benih keakraban.
Didi, beswan Kalteng, diminta membuat yel-yel bus kami. Aku agak lupa bagaimana bentuk yel-yelnya. Kalau gak salah seperti ini: GA 3... Ya iyalah... GA 3... Ya iya dong... Yang lain... LEWAAAAATTTT...
Sesampainya di depan gedung sixteen 8, kami berfoto ria. Aku, Sam, dan Naufal juga mengabadikan momen ini untuk kenang-kenangan. Begitu juga dengan genk Ponti yang kebetulan satu bus semua. Mungkin akan sangat sulit untuk bertemu lagi dengan mereka kelak. Kecuali lewat media sosial... Hahaha berteman dengan hp lagi deh...
Maghrib tiba. Kami shalat di mushala dekat gedung. Saking banyaknya beswan, antrian panjang tak terelakkan. Namun kami menjemput panggilan Tuhan ini dengan kesadaran penuh. Kami adalah makhluk Tuhan yang sudah semestinya ‘sowan’ kepada-Nya di waktu-waktu yang telah ditentukan. Sebagaimana diajarkan oleh guru-guru, ulama-ulama, dan para Nabi yang kami imani.
Setelah sarapan, talkshow dimulai. Gedung 168 tidak terlalu besar. Bahkan ketika makan, suasananya panas. Seorang teman berujar, “Baru kali ini makan di hotel dengan lesehan”. Tapi kami menikmati momen ini. Seiring berjalannya waktu, aroma perpisahan juga mulai tercium. Namun kami harus menjemput momen demi momen yang sudah semestinya kami lalui. Dan kehadiran Rosiana Silalahi membuat suasana gempar. Presenter top Kompas TV itu menjadi moderator dalam talkshow bertema “Menjadi Pejuang Keberagaman”.
Yang membuatku gempar tentu kehadiran Franz Magnis Suseno. Filsuf berdarah Jerman asal STF Dwikarya itu hadir di depan panggung, berdampingan dengan Gus Nuril Arifin dan produser/sutradara Nia Daniati. Kami berdiskusi mengenai hakikat keberagaman dan lain sebagainya. Namun sejujurnya aku merasa bosan dengan jalannya diskusi ini. Tiap minggu di Jogja aku beserta kawan-kawan Gusdurian kerap berdiskusi dengan tema serupa, atau bahkan lebih radikal. Tapi aku menikmati karena di depan ada Franz Magnis Suseno.
Usai diskusi, kami dihebohkan dengan munculnya grup vokal musik Project Pop. Lagu miopi membuat para beswan berhamburan ke depan panggung untuk bernyanyi dan berjoget bersama. Semakin larut, suasana semakin menjadi-jadi. Lagu-lagu disko yang dibawakan grup ini membuat kami hilang kendali. Kami berputar dan melompat, menggeleng-geleng dan mengangguk-angguk. Berteriak sekencang-kencangnya sampai suara kami hilang. Kami kembali ke hotel. namun kelelahan membuat kami tak seheboh saat berangkat ke gedung ini.
Besok agendanya cultural visit di kabupaten Kudus. Toh, aku, Juwanda, Naufal, Sam dan beberapa teman lainnya berencana berenang. Kami sudah mempersiapkan segala kebutuhan. Tapi sial. Kolam renang ditutup jam 20.00. Walau dinego keras, pihak hotel tetap tidak mengijinkan. Walhasil, kami hanya mengintip indahnya bintang-bintang dari tepi kolam renang yang tenang. Beberapa bayangan orang terlihat dari balik gorden jendela kamar hotel di lantai atas.


Bersambung...

Edisi sebelumnya klik di sini
Next episode klik link ini

Wednesday, November 5, 2014

Sekedar Cerita (2)

Sambungan...

Di: Bus GA 3 dan Tribun 1
Matahari sudah membumbung sedemikian rupa. Pukul 06.10 WIB aku baru bangun dari tidur yang cukup panjang. Sial, belum shalat subuh! Aku langsung menuju kamar mandi untuk mandi dan berwudlu. Sambil menunggu giliran mandi Sam dan Naufal, aku menikmai seduhan teh yang disediakan hotel dengan bakpia dan krupuk ikan Lampung.
Kami turun bersama ke lantai 3 untuk menuju tempat sarapan. Seperti kemarin, seorang petugas hotel mendata anggota beswan yang hendak sarapan. Lalu kami mengantri mengambil sarapan di tempat yang berbeda dengan hari kemarin. Wah, menunya serba hijau. Aku langsung pindah haluan ke tempat yang ada dagingnya. Maklum, perbaikan gizi. Lagipula aku tak terlalu suka dengan ekstrak daging alias sosis. Sama seperti kemarin, kami kesulitan menemukan tempat untuk makan. Aku dan Naufal masuk ke ruang VIP. Di sana ada beberapa beswan perempuan yang juga sedang menikmati sarapan keduanya di hotel bintang 4.
“Ikutan gabung, ya?” kata Naufal minta izin. Setelah diizinkan kami berdua menempatkan diri di kursi kosong. Sementara Sam tak tahu di mana gerangannya. Waktu dia menuju tempat kami, bangku sudah penuh. Walhasil dia mencari tempat lain.
Sejenak aku mengamati mereka. Wajahnya tidak begitu familiar, tapi sepertinya aku pernah melihat beberapa dari mereka. Kalau yang duduk di dekat Naufal aku jelas kenal. Rifka adalah anggota beswan Jogja, juga Ermaya. Setelah dipikir-pikir, aku ingat. Mereka juga satu bus denganku di Grand Aston 3. Mereka tampak asyik mengobrol satu sama lain.
Dari logat bahasanya, sepetinya mereka berbicara dalam bahasa Melayu. Mungkin saja mereka berasal dari daerah Riau, Kepri atau lainnya. Saat kami bergabung dengan obrolan, barulah kami tahu mereka berasal dari Pontianak. Yang satu bus denganku bernama Stefani, Juni, Shella, dan Tiara. Dulu ketika mendengar nama Kalimantan, selalu saja identik dengan Dayak. Dayak identik dengan ritual-ritual tradisional. Perempuan Dayak? Banyak yang bilang ini itu. Tapi kini aku membuktikannya kalau persepsi perempuan Kalimantan tidak seperti apa yang dibicarakan orang dulu. Orang Kalimantan lumayan oke-oke juga hahaha. Namun obrolan kami tidak begitu lama karena waktu sarapan akan habis.
Aku dan Naufal mencari Sam untuk kembali ke kamar hotel. Kami hanya membawa satu kunci yang dibawa Naufal. Karena tidak ketemu, kami berdua langsung menuju ke lift. Setelah pintu dibuka, ternyata Sam sudah ada di kamar. Ia bercerita masuk menggunakan jasa petugas hotel. Karena waktu sudah sangat mepet, kami langsung berjalan cepat menuju lift untuk turun ke lantai dasar. Aku disms kalau bus segera berangkat. Ini cukup membuatku panik. Namun akhirnya kami berhasil masuk ke bus dengan selamat...
Suasana masih sepi. Hanya terjadi obrolan-obrolan kecil (untuk versi panjang GA 3 akan ditulis di edisi mendatang). Sampai ke PRPP, kami kembali disambut oleh Amel dan Ramos. Sambil menunggu waktu latihan, kedua pembawa acara itu meneriakkan kabar beswan yang langsung disamber dengan kalimat ‘luar biasa, fantastis, yes yes yes beswan beswan Djarum yes’. Saat lagu ‘sakitnya tuh di sini’ diputar, anggota beswan yang jumlahnya ratusan, dengan komando pembawa acara, berhamburan ke atas panggung untuk berjoget ria. Sepertinya kami menciptakan momen terindah untuk menjadi kenangan yang kelak menyesakkan dada bagi kami sendiri.
Waktu latihan tiba. Tim teater digiring masuk ke arenanya. Tim choir masih di dalam gedung Merapi. Hari ini pembagian tribun. Ada tribun satu sampai delapan. Aku masuk di tribun tiga. Di tribun tiga ada beswan Jogja Fajrul dan Iin. Kami berlatih di gedung yang sumpek. AC-nya tidak menyebar. Ketika mbak Brigitta menyalakan pianonya, listrik mendadak mati. Hal ini terjadi berulang-ulang. Namun kami menikmati momen ini, dalam hal kebersamaannya.
Di NB ini, Djarum menyediakan fasilitas loud spot. Loud spot adalah ajang bernarsis ria. Dua layar disiapkan untuk selfie bersama. Fasilitas ini memungkinkan member langsung mengupload foto di akun facebook dan twitter yang didaftarkan. Caranya kami harus membuat kartu terlebih dahulu di tempat yang telah disediakan. Weh, antriannya cukup panjang... Setelah mengantri cukup lama, akhirnya aku mendapatkan kartu narsis ini.
Seusai istirahat, formasi tribun ada penyesuaian. Ketidaksamaan jumlah pemain membuat beberapa anggota tribun harus digeser. Aku digeser masuk ke tribun satu. Di tribun satu, aku bertemu Sam. Di sana ada Dana, Melvin, Siraj, Andre, Andi dan lain sebagainya yang karena keterbatasan space tidak bisa aku sebutkan satu persatu di sini. Di tribun ini, kelak aku dan kawan-kawan mendapat pengalaman yang luar biasa. Sama luar biasanya dengan rumah baruku, GA 3.
Kami menciptakan kenangan terindah yang kelak menyesakkan dada kami sendiri

Bersambung...

Kisah pertama klik di sini
Episode selanjutnya klik link ini

Sekedar Cerita (1)

Tulisan ini semata-mata untuk mengenang persahabatan kita, kawan...
 
Aku bersama Juwanda, Sami, dan Naufal (kostum kera) 
Sebuah Permulaan
Di: Bus Grand Aston Tiga
Luar biasa... Fantastis... Yes yes yes Beswan Beswan Djarum yes...
Pekik koor itu masih sangat terngiang di telingaku, kawan. Perlahan-lahan teringat pula suara-suara menggetarkan kita kala menyanyikan hymne Beswan Djarum. Beberapa kali air mataku ingin tumpah karena mengingat itu semua.
Sebagian orang mengatakan bahwa meratapi perpisahan adalah sikap yang lebai, berlebihan. Oke, aku siap menjadi orang lebai kali ini. Bertemu dan bercengkrama dengan sahabat-sahabat dari berbagai wilayah di Indonesia merupakan hal yang sangat istimewa. Wajar, sebagai manusia dadaku terasa sakit ketika mendengar ucapan perpisahan dan lambaian tangan. Selamat jalan, semoga bisa bertemu lagi. Ini yang selalu kita ucapkan. Kita selalu mencoba menghibur diri bahwa suatu saat kita akan bertemu kembali. Ya, suatu saat. Entah saat kapan itu.
Hari ini belum genap waktu memisah jarak kita dalam hitungan hari. Kala menulis ini, aku teringat dua sahabatku, Sami dan Naufal. Sami orang Kendari, kuliah di universitas Hallui leo dan Naufal orang Lampung kuliah di universitas Lampung. Sementara aku? Aku lahir di Kebumen. Menurut cerita orang tua, saat aku berusia dua tahun, aku dibawa ke Riau untuk transmigrasi. Saat lulus SD, aku meneruskan studi tingkat SMP dan SMA di kabupaten Pati, Jawa Tengah. Lalu aku kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Benar-benar latar belakang gado-gado.
Di dalam program beasiswa Djarum, ada empat regional yang membawahi beberapa distrik. Jakarta, Bandung, Semarang dan Surabaya. Sam berasal dari RSO Surabaya, Naufal RSO Jakarta dan aku RSO Semarang. Kami dikenalkan dalam satu kamar, kamar nomor 807 hotel Grand Aston Semarang. Di hotel inilah aku pertama kalinya merasakan enaknya berendam di air hangat hahaha.
Beswan Jogja sampai ke Grand Aston pukul 22.00-an. Aku langsung check-in dan masuk ke kamar di lantai 8. Saat pertama kali masuk, kamar hotelnya bersih. Ada tiga spring bed yang tersedia. Aku ingat, pak Aryo, pembina kami mengatakan kalau kamar di hotel hanya ada dua kasur yang bagus. Sementara satu lainnya kasur tambahan. Kasur tambahan tidak enak dan slimutnya tipis. Makanya kami harus segera sampai jika tidak ingin mendapat bagian yang kurang bagus.
Di atas springbed, masing-masing tersedia goody bag. Aku mencari goody bag yang tertulis namaku. Ketemu! Syukurlah, aku ditempatkan di springbed yang ‘sempurna’. Di kamar memang springbednya macam-macam. Yang satunya lagi tertulis nama Sami tidak terlalu tinggi, tapi selimutnya tebal. Sementara Naufal mendapat jatah spring bed yang cukup tinggi tapi selimutnya tipisnya maxi.
Aku membuka goody bag-ku. Di sana terdapat bermacam-macam barang perlengkapan. Ada satu kemeja, satu kaos oblong dan satu kaos polo. Ada juga satu gantungan kunci, satu gantungan guide book, satu pin dan dua lembar surat. Surat pertama berisi tata tertib hotel. Yang kedua adalah surat 'langsung' dari program director bakti pendidikan, bapak Primadi H. Serad. Isi surat kedua adalah menyampaikan ucapan selamat dan penjelasan beberapa softskill yang bisa kami dapatkan.
Sam datang sekitar jam 1 malam.  Saat itu aku tengah tidur. Kedatangannya membuatku terbangun. Setelah berkenalan ala kadarnya, karena masih mengantuk, aku langsung tidur lagi. Jam 3 dinihari Naufal datang. Ia masuk dengan mengucapkan salam. Lagi-lagi aku terbangun. Sam juga terbangun. Setelah berkenalan ala kadarnya lagi, kami tertidur. Sewaktu bangun, jam sarapan sudah tiba. Kami, dalam kekikukan, bersama-sama turun.
Alhamdulillah... Makan prasmanan. Kami mencari tempat yang masih kosong. Karena datang agak belakangan, agak sulit menemukan tempat makan. Setelah menempatkan diri, seorang pramusaji menawarkan minuman, teh atau kopi. Aku memilih kopi dengan tujuan agar tidak mengantuk.
Setelah kami makan, ada dua orang datang. Mereka bernama Andreas dan Tegar, mahasiswa asal Jakarta dan Bandung. Setelah mengobrol berbasa-basi ria dan mencicipi berbagai jenis makanan, aku dan teman sekamar kembali ke kamar untuk mengambil barang-barang. Dan bus pun berjalan...
Aku berada di bus Grand Aston 3 (GA 3). Kami mendapati LO yang awalnya terkesan cukup membosankan. LO kami bernama Dirga Makassar dan Angela Jambi. Mereka belum mampu mengeluarkan potensinya untuk membuat suasana bus menjadi hidup. Aku duduk di sampung Oji, teman dari UIN. Saat menoleh ke kiri dan kanan, depan belakang, semua terlihat asing.
Hari pertama diisi dengan perkenalan. Beberapa nama mulai kuingat seperti orang Bali Wintara dan Indra. Lalu ada orang Papua Grace. Ada orang Lampung Juwanda dan lain sebagainya. Di bus tersebut juga ada beberapa anggota beswan Jogja seperti Rifka, Helen, Dina dan Kilana. Setelah melewati pelabuhan Tanjung Emas, kami sampai di kompleks gedung PRPP, tempat latihan.
Di PRPP, ada beberapa gedung yang semuanya diberikan nama-nama gunung yang ada di Jawa Tengah. Merapi, Merbabu, Perahu, Dieng, Ungaran dll menjadi nama-nama gedung. Kami ditempatkan di gedung Merapi. Hari pertama kami berkenalan dengan para pelatih, baik tim teater atau pun choir. Pelatih teater paling top tentu saja Denny Malik. Sementara choir dipimpin oleh seorang musisi Brigitta. Setelah dipisah antara teater dan choir, tim choir diposisikan menjadi beberapa kriteria, mulai sopran, alto, tenor dan bas. Aku dan teman sekamarku, Sam, sama-sama di bas. Latihan pertama kami adalah sakato (aku gak tahu tulisannya gimana. Buta musik). Intinya kami harus mendesis-desis yang suaranya ditumpukan pada dorongan diafragma.
Kami dipisah. Perempuan di gedung utama, sementara laki-laki di gedung sebelahnya yang lebih kecil. Gus Yogi yang memimpin latihan pertama kami. Di hari pertama kami langsung dihajar dengan latihan ekstra. Tujuh lagu dipelajari sekaligus, beserta not-nya. Untung saja makanan tidak telat. Aku pernah mendengar dari Fahmi, beswan 29 asal UIN Jogja yang mengatakan bahwa setelah NB biasanya kita akan alergi dengan yang namanya roti dan makanan. Namun di hari pertama ini, aku cukup menikmatinya. Bayangkan saja, pukul 07.00 sarapan, 10.00 snack, 12.00 makan siang. Pukul 15.00 snack serta pocari sweat, 18.00 makan malam. Betapa gendutnya diriku jika ini selalu terjadi setiap hari.
Dari latihan ini aku baru mengenal pembagian nada-nada. Ternyata nada untuk alto beda dengan bas dan lainnya. Makanya paduan suara kalau menyanyi terdengar bersahut-sahutan. Eh, ternyata ada teorinya. Di lirik hymne beswan pun, nada untuk bas berbeda dengan alto dan sopran. Di sopran dan alto, untuk lirik “ikrarkan tekad kebersamaa..” tapi di tenor dan bas ‘ikrar’nya hilang. Tapi kata ‘tekad’nya dipanjangkan. ‘Te....kad’.
Dari sekian lagu, aku paling suka dengan lagu janger. Lagu daerah Bali ini memang sangat susah untuk dihapal. Namun nadanya enak sekali didengar. Apalagi kalau tentornya mbak-mbak kacamata yang nyanyi. Wah... Semangat sekali kami. Ehm... ehm...

Saat perjalanan pulang, aku serasa menghitung jangkrik. Krik... krik... krik... Orangnya pada pendiem semua. Sesampainya di kamar hotel, Naufal langsung berendam. Pakaiannya sangat kotor. Ia bercerita, di tim teater, ia mendapat kesempatan belajar tari kera. Latihannya cukup keras. Makanya badannya pegel semua. Bersambung...

Episode selanjutnya klik di sini

Monday, June 16, 2014

Cinta adalah Keindahan (Bagian 1)

Catatan ini aku tulis untuk kalian para sahabat pendakian: Ubaidillah F, Roihan Asyrofi, Suhairi, Lafzee, Faradilla, Kiki, Laras dan Via

Negeri ini sangat indah. Aku bersumpah atas nama Tuhanku yang menciptakan. Kau tak akan percaya apabila belum sekali pun kau menginjakkan kaki di tanah yang menjulang tinggi di atas awan.

Hari ini tubuhku masih diselimuti pegal-pegal, terlebih di sekitar betis. Aku bersyukur karena engkelku baik-baik saja. Padahal tiga kali aku merintih karena keseleo. Namun bibirku terasa sangat perih karena pecah-pecah. Sementara rasa kantuk masih mengurung diri dalam kemalasan. Ya, semua ini adalah hadiah dari sang Lawu yang telah mengajarkanku pada salah satu keindahan yang dicipta oleh Tuhan.
Setelah membayangkan keindahan yang lalu, aku langsung berpikir untuk segera menuliskan apa-apa yang aku ingat dan rasakan ketika berada di gunung Lawu, 13-15 Juni 2014 lalu.

Edelweis dan Para Penyamun
Edelweis... (Gambar Batikimono)


Pernahkah kau melihat edelweis?
Siapapun yang pernah, kau adalah pecinta sejati (seharusnya)

Salah satu yang diburu oleh pendaki adalah bunga edelweis, bunga keabadian. Pada pemuncakan pertamaku di Merbabu (16 Januari 2014), edelweis tidak mekar karena musim penghujan. Konon, edelweis hanya mekar di musim kemarau saat dinginnya gunung sedang hebat-hebatnya. Aku sendiri kurang paham dengan gejala alam itu. Setahuku, edelweis hanya tumbuh di gunung yang tinggi.
Aku mendapat penjelasan dari Dilla bahwa edelweis tumbuh di atas batas vegetasi. Aku sendiri kurang mengerti dengan penjelasan ini. Yang jelas, edelweis memiliki batasan tertentu untuk dapat tumbuh dan memekarkan bunga-bunga ajaib.
Pertama kali aku melihat edelweis adalah di Lawu ini. Setelah berjalan dari pos 3, aku menceletuk, “Itu edelweis?” Dilla kurang yakin dengan apa yang kulihat. Tapi setelah kutunjukkan letaknya, ia kemudian menjelaskan bahwa edelweis bisa saja tumbuh di pos 3 ini. Tapi kemungkinan mekarnya sangat sedikit. Dan memang aku hanya melihat edelweis yang malu untuk mekar. Hanya saja di kejauhan terlihat banyak edelweis yang tampak mekar bagus. Sayangnya posisinya sangat jauh, tidak mudah didekati. Mungkin edelweis mengerti bahwa keserakahan manusia bisa membuatnya menjadi tumbuhan mitos.
Saat aku berjalan menuju pos 4, aku melihat seorang pria menggenggam bunga edelweis dan membawanya seakan tidak memiliki dosa. Bagi pecinta alam, memetik edelweis sama saja merusak alam. Itu salah satu dosa terberat bagi pendaki selain membuang sampah seenaknya. Dalam batin aku merasa sakit. Aku mencoba merangkai kata-kata yang tepat untuk pelanggar HAT (Hak Asasi Tumbuhan) seperti itu. Sehari kemudian tercipta puisi sederhana ini:

Demi bunga edelweis yang sungkan untuk bermekaran
Demi para pecinta sejati sang alam yang agung
Demi Tuhanku yang menciptakan keharmonisan Lawu
Demi semua yang terluka atas pengkhiatan kata cinta alam
TERKUTUK kau para pemetik bunga keabadian!

POS 3 Gunung Lawu,
-Karanganyar-Magetan (15 Juni 2014)

Di Lawu memang tidak ada penjagaan khusus. Tidak ada polisi alam yang memeriksa barang bawaan pendaki. Tapi memetik edelweis memang sebuah perusakan yang nyata. Memetik edelweis adalah bukti sebuah keserakahan. Dan pecinta alam tidak akan merusak apa yang dicintainya. Bahkan seorang Rahwana yang dicap antagonis tidak pernah menyentuh Shinta walau dia menculiknya dari Rama yang kurang memberi kebahagiaan batin kepada sang Dewi. Karena cinta sejati bukanlah untuk dimiliki, tapi untuk dirasakan sebagai sebuah KEINDAHAN.